
Sapaan hangat di koridor kelas satu menyambut Orzie dari kalangan junior cowok. Mereka bisa dibilang keluarga baru dalam Legion yang kini berdiri diam-diam tanpa sepengetahuan pihak sekolah, namun tidak seperti dulu, wara-wiri mencari musuh.
Tapi senyum keramahan itu pudar, berganti wajah kecut saat Galaksi melewatinya. Entah kenapa Galaksi jadi menghindarinya, walaupun sudah lama sejak tawuran berdarah itu namun cowok itu gak berubah. Seperti menyalahkannya atas kejadian itu.
Jarak semakin tercipta di antara mereka berdua. Dan tanpa sadar Orzie mengepal tangan erat ketika hendak berpas-pasan dengan cowok bermanik mata gelap itu. Ia tertegun beberapa saat ketika bahu cowok itu tidak sengaja tersenggol.
Lagi. Galaksi tidak peduli akan kehadirannya. Selama apapun itu, baginya Orzie hanya objek sepintas yang lewat di ujung mata.
Orzie mencoba menutup mata.
"Oji..." panggil Audrey ke sekian kalinya, Orzie masih tetap melamun. Menatap ke luar jendela, melihat pohon-pohon bergoyang tertiup angin.
"Ji! Lo kenapa sih?!" seru Audrey emosi, sebenarnya dia capek dari tadi curhat tentang Mike yang tidak pernah tersenyum lagi padanya. Oxy tidak masuk sekolah, jadilah Audrey bingung menanggapi sikap Orzie yang tidak seperti dulu. Murung. Entah kenapa cowok itu menjauh darinya.
"Gak! Ngapain gue mesti ngerasa bersalah sama si roh jahat?" Batinnya kesal. Daripada itu, bayangan Doni yang saat itu bersimbah darah masih terekam jelas di ingatannya.
"Maafin gue Don... Seandainya gue ngelarang anak-anak tawuran hari itu..."
Audrey yang dari tadi memperhatikannya angkat bicara. "Lo harus move on Ji... Gak selamanya manusia hidup, kan?"
Orzie memejamkan mata, pikirannya carut marut. Memang sudah cukup lama mereka kehilangan sosok Doni, tapi hal itu masih berbekas jelas.
Tiba-tiba Teuku menyerobot di belakang. "Adalah Ji. Lagian kan, yang ngebunuh Doni udah di penjara! Kalo bisa sih hukuman mati aja!"
Orzie tidak menanggapi. Memilih tidur di tasnya, seperti yang dilakukan Gamaliel selama kelas tiga ini. Cenderung menutup diri meskipun dunia terus berputar.
"Doni pasti sedih ngeliat lo berdua jadi pendiam. Bukannya dia pernah bilang, jangan pernah kalah dari musuh atau mimpi-mimpi kita? Lo gak ada niat gitu buat nerusin kata-kata dia?" iris mata cewek itu sayu, beralih menatap Teuku.
"Gue gak tahu kenapa gue bisa kacau kayak gini."
"Itu karena lo terus jalan di tempat, Ji! Coba lo pikir, emang lo bisa mencegah hal-hal buruk menimpa kita?"
Setelah memandang Teuku, Orzie kembali menelungkupkan wajah menyadari matanya mulai basah.
"Gue juga sama... Sama-sama kehilangan, tapi cara bersikap kita beda. Lo terlalu egois, ngeyakinin diri lo kalau Doni masih di sini," ujar Teuku pelan, terdengar nada suaranya tenggelam. Meski memejamkan mata, Orzie bisa mendengarnya, sekarang entah kenapa dia jadi lebih sensitif.
"Lo lagi banyak masalah, Ji. Selesaiin satu-satu, termasuk sama Galaksi. Dan katanya lo mau jadi dokter? Apaan nih? Kok lesu sih?"
Mata Orzie kembali terpejam, terdengar helaan napas panjang dari mulutnya. "Kayaknya gue harus bergerak. Udah terlalu banyak masalah terbengkalai. Bentar lagi UN dan gue malah malas-malasan, arrgh pening!" rungutnya jengkel. "Gitu, dong," timpal Audrey bersemangat seraya menepuk bahu Orzie pelan.
Orzie tersenyum kecil, ia terlalu banyak membuang waktu. Mungkin, langkah pertama untuk bangkit adalah mengembalikan semangat Gamaliel. Dia bergerak menuju meja Gama, menepuk pundak cowok itu pelan.
__ADS_1
"Gam..."
Seperti biasa. Gamaliel tertidur.
"Woi nyet.."
Orzie mengembus napas berat sambil menampol kepala cowok itu. "Gama, mau sampe kapan lo ngelariin diri dari masalah?"
"Woi Gama!"
Tetap tidak ada tanggapan. Orzie memilih duduk di sebelahnya sembari memerhatikan lurus ke depan. Teringat masa-masa kelas dua, ketika semuanya masih terasa menyenangkan. Doni yang memainkan rol sambil berlagak menjelaskan rumus, lalu tertawa renyah saat yang lainnya melemparinya.
"Gue juga pengen kayak Doni."
Terlihat Gamaliel bergerak, menegakkan punggungnya dengan bersandar di kursi. Memeluk tas dan memejamkan mata. Namun tetap tidak berbicara.
"Walaupun masalah makin banyak, dia bakal ngelampiasin semuanya dengan candaan. Gue juga masih belum percaya yang jatuh di jalan itu Doni. Kita berdua terlalu egois, Gam. Dia udah pergi."
Gamaliel menunduk penuh penyesalan. "Seandainya waktu itu gue denger perkataan Doni, bukan bang Zero. Pasti kita masih ketawa bareng hari ini..." Suara berat milik Gama terdengar serak, Orzie baru sadar dari tadi Gamaliel menangis.
Semua terasa seperti di neraka, semalam dia tidak tidur di rumah karena masih bermasalah dengan Papanya, Elang. Gamaliel hanya bisa pergi ke warnet Bang Atep untuk tidur tanpa selimut tanpa kasur. Guru-guru pun jadi lebih sering memarahinya seakan-akan dirinya adalah pembunuh berantai yang tak patut dimaafkan.
"Bukan cuma elo yang ngerasa bersalah, Gam. Kita semua juga jauh lebih stress, mungkin semua orang membenci kita, tapi gak satu dunia, kan?" kata Orzie lembut.
"Udah deh, biarin aja kali abang lo ngebacot! Lama-lama juga gue sodok tiang sekolahan ke mulut dia!" cerca Mahesa ikut kesal. Gama tertawa kecil.
"Yakin lo emang?"
"Emang... Gak yakin! Hahhhaha!!!"
Kelas kembali ribut. Selagi mereka masih berjalan di sampingnya, apa yang haris Gamaliel takutkan? Cowok itu tersenyum tanpa sadar. Menatap Orzie lama, lalu menunduk gelisah.
Tiba-tiba Erlan bercelutuk di belakang. "Gimana kalo kita taruhan bung? Jangan pake uang, tapi pake nilai! Yang kalah harus nurut sama yang menang!" ajak Erlan.
Anak-anak cowok yang sibuk main catur mendekat dengan tampang serius. "Maen pake nilai gimana, Lan?"
"Kan kalo kita maen judi, yang nomernya tinggi yang menang taruhan. Nah kalo ini siapa yang nilainya tinggi bisa jadi raja."
Sorak-sorai pecah di belakangnya, ada yang berencana menelanjangi lawannya yang kalah, suruh makan jengkol campur duren segerobak atau paling enggak pakai tas barbie setiap hari. Memalukan.
"Gue terima deh! Kan gampang itu tinggal minta ajarin sama Oji! Elu-elu tiati ama gue, gak usah belajar, otak lu juga gak bakal sampe hahaha!" ledek Teuku. Zaki menoyor kepalanya kesal.
__ADS_1
"Inget lu Ku! Utang lu masih sepuluh rebu ama gue! Kalo gue menang lu harus bayar seratus kali lipat!"
"Ahsyap!"
Orzie tersenyum geli melihat mereka, persis tidak berubah dalam setahun ini. Seperti layaknya bocah-bocah nakal.
"Ntar pas istirahat lu semua ke tongkrongan coy! Bawa buku jangan lupa! Minggu depan ulangan Matematika nyet!"
Sesekali mereka mengerang stress dengar kata Matematika, pelajaran yang bisa membuat puluhan ilmuwan hebat sekali pun jadi botak bercahaya!
Orzie menatap Erlan yang kini mengacungkan jempolnya dengan cengiran khas anak Medan. Anak itu mungkin yang paling mengerti situasi dan bisa mengajak para bocah nakal itu mengikuti idenya.
"Kalo gue yang menang, kalian harus turutin apapun kemauan gue!!" Seru Orzie heboh, mereka kembali mengerang.
"Kenapa sih lu harus ikut..."
***
Pak Beni memanggil Orzie ke kantor, membawa buku-buku latihan yang dikumpul kemarin lusa. Dari lorong utama, terlihat Galaksi sedang berjalan pelan. Jangan lupakan Gisel yang setiap hari menguntitinya. Orzie berusaha acuh, entah mengapa jantungnya terasa dikoyak-koyak di dalam.
Sejak Doni meninggal, semua orang menyalahkannya, Gamaliel, Legion, semuanya. Tatapan mereka awas, sesekali terdengar bisikan penuh fitnah dalam tutur katanya dan yang paling parah akan ada satu atau dua orang yang secara terang-terangan menghujat mereka.
"Makanya gue bilang! Lo jangan tawuran! Liat akibatnya!"
"Mbak Oji kenapa sih harus bergaul sama mereka! Kan harus berurusan sama polisi!"
"Ayah kecewa sama kamu Ji, ayah izinkan kamu ke kota supaya sekolah tinggi-tinggi dan jadi orang, bukannya jadi kriminal."
Terasa semua ucapan berdengung di telinganya, Ayahnya kecewa berat setelah polisi menelepon kedua orang tuanya, bahkan tidak pernah menelepon Orzie lagi kecuali Ibunya. Tidak bisa membela diri lagi, ia harus terima konsekuensi. Termasuk dijauhi oleh Galaksi.
Orzie mencoba menutup telinga.
Benar kata Audrey. Ia harus berani menyelesaikan masalah, apalagi kini ucapan Raka menggema di indera pendengarannya.
Dua bulan lagi. Akan jadi penentuan.
Gue harus selesaiin semuanya mulai hari ini.
***
jgn lupa like mhank😂
__ADS_1