
"Iya, dia yang tadi pagi ngolok-ngolok kita kan di depan SMA Bhakty Jaya?" timbrung yang lainnya. Reo melotot garang sampai-sampai Orzie melihatnya jadi gregetan sendiri. Matanya pias menatap Benua.
"Mata lo kemasukan kumbang kali... Mana ada cewek Bhakty Jaya secantik dia...kan cewek-cewek Taruna yang paling cakep! Nomor duanya baru SMA Tangguk!"
Mereka tertawa mengejek. "Bulukan sih mereka. Di rumah mainnya sama knalpot bajay!"
"Hahaha, apalagi makanan mereka dedak bebek!" seru yang lainnya dengan nada menghina. Benua paham bagaimana rasa benci semakin membutakan mata teman-temannya.
"Kenalin bro, nama gue Jessy. Yang di sebelah gue Robi. Salam kenal lu semuanya!" kata Orzie yang disambut mereka dengan senyum merekah.
"Gue Rizky oi! Salken!"
"Inget Jes, nama gue Qori! Siapa tahu jodoh kita ye gak?"
Puluhan suara dibarengi siulan menyahut-nyahut di belakang, Orzie tersenyum paksa mencoba menenangkan kakinya yang masih terasa gemetaran.
"Kapan-kapan main ke tempat kita ya lu berdua. Lu Robi...kok dari tadi diem sih?"
Sebelum Galaksi menjawab dengan kata-kata yang mutlak pedas itu, Orzie lebih memilih angkat bicara. "Sesak boker dia nih, hahaha! Udah di ujung katanya!"
"Kasian lo Rob, nih batu. Manjur buat nahan berak!"
__ADS_1
"Hahahahah!!"
"Lo bubar aja deh mending, ntar lagi polisi dateng bisa diseret ke Kapolsek kita," instruksi Benua membuat mereka bubar menuruti perintahnya.
Saat teman-temannya sudah pecah berhamburan di sepanjang jalan baru Benua berbicara. "Rupanya lo yang ngebacok Guntur? Sialan gak habis pikir gue, Ji!"
Orzie tersenyum hambar. Di sampingnya Galaksi kelihatan jengah, cowok itu memilih berdiri di pinggir jalan.
"Gue... Kelepasan waktu itu, Ben. Thanks udah nyelametin kita berdua." Orzie menunduk, Benua menatap ke arah Galaksi lama. "Pacar lo?"
"B-bukan kampret!" kilah Orzie cepat, Benua tersenyum miring. Lalu kembali dengan wajah seriusnya.
"Gue gak bisa jamin, habis ini bisa nyelametin lo. Ini udah termasuk parah, Ji. Guntur sampe kritis dan anak Taruna bukan main ngerasa terhina!"
"Anak-anak Taruna juga sama kek anak Legion. Kita sampai mati pun bakal ngejaga harga diri dan jati diri sekolah sendiri... Kalo udah begini, pasti bakal ada nyawa yang harus dikorbankan."
Memejamkan matanya perlahan, rasa takut semakin menekan jiwa Orzie hingga bagian terdalam. "Terus gimana nih Ben?"
"Jaga diri lo baik-baik. Jangan sampai penampilan lama lo diliat sama anak Taruna. Lo pasti minta didandanin sama Lis yah?"
"Iya, hehehe. Thanks sekali lagi Ben."
__ADS_1
Kini Orzie berjalan linglung menghampiri Galaksi, bibirnya kelu dengan pandangan buram. "Lo gak apa-apa Ji? Muka lo pucet banget."
Terdengar suara Benua di belakangnya, Orzie hanya mengangkat jempol pertanda ia baik-baik aja. Angkot yang mereka tumpangi sudah pergi, terpaksa harus memberhentikan angkot lain.
Brukh!
"Lo ngapain sih pake nabrak gue segala?!" ketus Galaksi naik darah, Orzie semakin pusing mendengarnya. "Sorry Gal.." nada bicara cewek itu melemah, sekilas wajah Galaksi melunak.
"Lo kayaknya butuh aqua."
"Gak usah."
"Atau butuh gue?"
Orzie mendongak mencoba memastikan yang berbicara itu Galaksi, cowok itu memandangnya datar.
Dia gak menjawab lagi, napasnya terasa semakin memanas disertai dengan bersin berulang kali. Tanpa peduli apa Galaksi habis kesetrum colokan setrika atau colokan nasi yang jelas kepalanya seperti diputar-putar sekarang.
Perlahan Orzie memasuki angkot, pening semakin hebat terasa di keningnya. Membuat napas cewek itu terdengar berat.
"Kalo pening nyandar aja." Terdengar Galaksi berbicara datar, memang, ekspresi wajahnya dingin. Tapi entah kenapa hati Orzie menghangat.
__ADS_1
Walaupun dia Roh Jahat namun Galaksi masih memikirkan kondisinya. Perlahan kesadaran cewek itu menipis membuat pandangannya buram. Hingga suara berat itu terdengar menenangkan di bawah alam sadarnya.
"Cepat sembuh, Ji."