Galaksi

Galaksi
Episode 32 Chapter 29 | Diburu musuh


__ADS_3

Hampir seminggu, Orzie terus berurusan dengan Lis setiap paginya. Dipaksa keramas tiap hari, dandan menjelang pagi, badan dikempesin. Pokoknya dia jadi linglung sendiri, mau jalan aja rada-rada segan. Apalagi ketika naik angkot, pandangan yang biasanya meliriknya 'ogah' jadi terasa 'wah'.


 


 


Belum lagi ketika ikut-ikutan main bola sama anak Legion, dia malah diketawain. Rambutnya terbang sana-sini karena gak diikat. Jadinya cewek itu dongkol. Pulang sekolah saat matahari lagi membakar ia menghirup napas berulang kali.


 


 


"Sembilan." Galaksi menggumam ketus, menghitung berapa kali Orzie menghirup napas. Abu jalan menghampiri mereka yang tengah menunggu angkutan umum. "Banyak masalah gue, Gal. Salah satunya elo."


 


 


Seakan gak peduli, Galaksi hanya memerhatikan kelengangan jalan. Jam hampir menuju angka tiga sore, karena Galaksi harus rapat Osis dulu saat pulang sekolah.


 


 


"Hah... Lama amat sih, panas, ck!" jengkelnya saat itu, bukan hanya otaknya panas tapi udara juga ikut memanas.


 


 


"Biasa aja tuh," kata Galaksi duduk di halte bus. Orzie menilik tepat pada bola mata cowok itu. "Lo kenapa sih? Seminggu ini jadi pulang pergi naek angkot? Mobil lo kan gak rusak, Gal..."


 


 


"Ya terserah gue. Yang punya mobil gue. Mau apa lo?" jawab Galaksi dengan ekpresi tak suka bercampur galak.


 


 


Orzie mendengus. "Masalahnya ongkosnya gue mulu yang bayarin kampret!"


 


 


"Gak ikhlas lo?"


 


 


"Gak!!"


 


 


"Yaudah." Galaksi menjawab lempeng tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya. Orzie meremas jarinya emosi, napasnya naik turun dari tadi. Hingga Sebuah angkot berhenti, Orzie segera naik tanpa memberi tahu cowok itu.


 


 


"Jalan pak!!" perintah Orzie panik, semoga Galaksi gak ikut di sampingnya.


 


 


"Mana uang ongkosnya?" ujar seseorang di hadapannya, Orzie mengerjapkan mata melihat Roh Jahat itu kini duduk adem di depannya.


 


 


"Ya Allahu Ya Rabbi... Pas turun aja kasih ongkosnya Gal..."


 


 


Orzie membuang mata ke luar jendela sembari kipas-kipas wajah dengan tangan.


 


 


Napasnya terasa memanas, seperti matanya sekarang. Mendadak Orzie jadi pusing, dengan tingkah kayak ayam lagi nyari-nyari kandang.


 


 


"Lo lagi kena gejala penyakit ayan?"


 


 


"Tanam tanam ubi... Tak perlu dibaje..."


 


 


"Beneran ayan." akhirnya Galaksi mendapat satu kesimpulan, ditontonnya Orzie yang tengah pening itu dengan air  muka serius.


 


 


"Bacot kau Galaksi... Kita baku hantam saje!" nyanyinya dengan gaya Kak Ros, galak. Tapi tampang datar Galaksi jauh lebih menyeramkan.


 


 


"Gue kepanasan, nyet!" seru Orzie jengkel, memijit pelipisnya perlahan. Galaksi hanya tercenung dengan alis naik sebelah.


 


 


"Kipasin kek!"


 


 


Galaksi terlihat ogah-ogahan, kalau bukan karena ongkos angkot masih di tangan Orzie dia gak akan mau ngambil kipas. Bisa aja tuh cewek mampus di angkot, terus Galaksi dipaksa bayar. Kerugian pembelanjaan negara baginya.


 


 


Galaksi mengeluarkan laptop.


 


 


"Buat apa laptop, tong?!"


 


 


"Kan lo mau berkipas. Nih, kipas laptop!"


 


 


"Lo ngasih gue kipas laptop Gal, bukannya adem malah tambah emosi gue!" jengahnya kesal setengah mati. Antara terlalu kreatif atau terlalu ngirit si cowok bergelar Roh Jahat ini.


 

__ADS_1


 


"Gak jadi nih, baguslah."


 


 


"Iya, gak jadi Gal! Tiba-tiba jadi dingin banget udaranya. Dingin....banget! Kek di neraka! Apalagi liat muka lo, penuh dengan dosa!"


 


 


Wajah Galaksi yang tadinya kayak patung Roma berubah menjadi malaikat.


 


 


Malaikat pencabut nyawa.


 


 


Ia  memandang Orzie dengan wajah gak terima, mau menyahut pun mulutnya malas. Ngehabisin tenaga, lebih baik dia merem.


 


 


"Gal! Gal! Liat tuh, anak Bhakty Jaya dipalakim ama antek-anteknya si Guntur!" ucap Orzie sambil menatap kengerian di luar jalan sana. Ada seorang cowok cupu dipalakin.


 


 


"Woi, kok lo nyante sih? Kalo kita dipancang terus dihajar gimana Gal?" protesnya lagi, Galaksi terlihat mendengus terganggu. "Iya. Gue lari lo dihantam. Sukses besar."


 


 


"Ck! Gak usah becanda nyet! Lo gak liat tuh, serem anjir!"


 


 


"Iya gue lihat. Rusuh lo."


 


 


"Ngelihat gimana Gal, orang mata lo ketutup gitu. Ngeliat pake mata batin lo?"


 


 


"Berisik."


 


 


"Mereka liatin angkot kita, anjir! Abis diacak-acak kepala kita sama parang...woi Gal! Bangun kek lo!"


 


 


Galaksi membuka matanya muak, sembari menyipitkan matanya sinis ke arah Orzie. Gak lama memecahkan keheningan tadi.


 


 


"Lo berisik mereka malah makin curiga. Nih pake jaket gue."


 


 


 


 


"Nutup simbol Bhakty Jaya."


 


 


Gak lama Galaksi melepas kancing seragamnya, menyisakan baju kaos hitam. Para penumpang tersipu-sipu melihat pemandangan gratis itu. Kadang bisik-bisik terdengar halus dengan bunyi dentuman ban yang terkena lubang jalan.


 


 


"Berhenti! Berhentiin!"


 


 


Segerombolan anak geng motor memberhentikan laju angkot, memalang dari arah depan. Sedangkan puluhan anak Taruna yang tadi membanjiri tengah jalan kini bergerak ke arah mereka.


 


 


Keringat dingin membanjiri kedua remaja dalam kesialan itu, Orzie mengambil tas lalu buru-buru memakai liptint sesuai yang dikatakan Lis ketika mereka akan menghajar dirinya.


 


 


"Percuma lo dandan. Mereka ngincar anak Bhakty Jaya buat dicelakain."


 


 


Orzie menelan ludah kasar, terasa betisnya gemetaran memijak lantai angkot. Hari ini pasti akan sangat mengerikan melihat buasnya tatapan cowok sadis di luaran sana.


 


 


"Gal... Gimana nih??"


 


 


"Tenang. Kalo lo panik gue juga ikut mati."


 


 


Di ujung pintu seorang cowok menancap senjatanya di lantai angkot. "Anak SMA nih broh!" celutuknya membuat yang lainnya mengerubungi.


 


 


"Turun lo turun!"


 


 


Orzie dan Galaksi tetap diam di tempat, hingga sebuah tangan kasar meraih pergelangan tangan Orzie keluar angkot.


 

__ADS_1


 


"Lo anak Bhakty Jaya kan?!"


 


 


Orzie yang dituduh langsung itu mengelak gelagapan. "Enggak, suer!"


 


 


"Alah, takut lo nyet!"


 


 


"Kita mampusin di sini aja nyok!"


 


 


Mereka tertawa-tawa bengis, Galaksi juga ikut dipaksa turun. "Sombong banget muka lu ye!" seru seorang cowok mendorong dada Galaksi kesal.


 


 


"Bilang aja lo ngiri."


 


 


Orzie melotot kesal di sampingnya.


 


 


"Berani amat lagak lu jing! Lo tahu siapa gue?!"


 


 


Galaksi membalas tatapan sengit cowok itu, sangat menantang. "Bodo amat sama nama lo. Liat muka lo aja mau muntah gue."


 


 


"Anjing! Gue kepruk juga pala lo!"


 


 


Cowok itu mengangkat stick golf tinggi-tinggi, Orzie mencoba melerai dengan suara keras. "Woi santai, santai!"


 


 


"Lo minta dihajar juga?!!" mata buas itu menyala-nyala menyoroti Orzie, tingkah cewek itu berubah gelagapan. Salah jawaban bisa membuat tubuh mereka jatuh di aspal dan dihantam puluhan senjata tajam.


 


 


"Enggak bang! Damai aja kali, pake hajar-hajar segala lo!"


 


 


"Songong amat lu ye!"


 


 


Stick golf yang semula turun kembali diarahkannya ke kanan hendak menggebuk Orzie.


 


 


"Woi, Reo! Tahan!" sergap seseorang yang tertutup di balik banyak siswa yang mengerubungi mereka.


 


 


"Mereka bukan anak Bhakty Jaya! Mereka tuan rumah kita tanding futsal nanti, SMA Tangguk Barat!"


 


 


Sejenak iris mata Orzie menajam, melihat Benua menyembul dari celah-celah keramaian itu. Dia merasa diselamatkan kali ini.


 


 


"Yang bener lu? Kenapa gak bilang dari tadi sih, kalo tahu sama pentolan mereka udah digebuk gue kali, hahahah!"


 


 


Benua ketawa canggung, sedangkan cowok yang dipangil Reo kini menjulurkan tangannya.


 


 


"Kenalin, gue Reo. Bandar bocah nakal SMA Taruna. Pimpinan kita lagi kritis di Rumah Sakit dan kita di sini buat ngasih pelajaran sama anak Bhakty Jaya."


 


 


Seketika rasa was-was kembali hadir, Orzie hampir terbatuk dibuatnya.


 


 


Separah itu kah?


 


 


"Hehehe, iya."


 


 


"Eh tunggu, gue kayaknya pernah ngeliat dia tadi pagi!" celutuk cowok bertudung merah itu.


 


 


Jantung Orzie berpacu cepat, sedangkan Galaksi yang dari tadi datar terlihat cemas.


 


 


******

__ADS_1


__ADS_2