
Hari sabtu membuat cewek dengan penampilan urakan itu gerah di kelas, anak cowok pada sibuk main ludo dengan rusuh. Daripada mabar ntar malah kena razia hape.
Dari deretan para siswi banyak yang baca novel atau sekadar menggosip ringan. Oxy dan Audrey nampak serius membicarakan tukang bubur depan yang keganjenan, jangankan nampak jablay, ngelihat kambeng lewat di depan aja udah dicolek sama dia.
Dasar gak faedah.
"Jih! Coba kemari sini!"
Orzie menghampiri Erlan yang sering dipanggil Batak oleh anak-anak kelas. Wajahnya sangar, tapi paling bisa membaur dengan orang-orang. Jangankan sama orang, keong di pinggir pantai aja dianggapnya sodara.
"Apaan lu Tak manggil gue? Mau ngajak muja-muja kerang ajaib kek kemaren?"
"Yeeh, sejak kapan pulak aku ngajakin kau muja-muja?!" marah Erlan tiba-tiba walaupun dari wajahnya sedikit bercanda. "Weets, tahan ucapan Bapak!" potong Teuku si pemuda asal Aceh yang hobi banget bikin Erlan sakit hati. Doi siswa yang paling sering ngerusuh di jalan Malaka sama anak Legion, gaya tengil dengan tampang ustadz cukup membuat orang paham.
Jadi ini, ya yang namanya penipuan publik?
"Apa pula kau suruh aku diam?"
"Istigfar Lan, istigfar..... Nanti dapat sepeda..."
"Sepeda gigi kau aku tancap knalpot gimana?"
"Aelah nih bocah ember pada berantem, ngapain lo manggil gue tadi Lan?"
"Aku mana bisa kerjakan soal matematika, pusing tujuh keliling ini! Bantu aku selesaikan lah Ji!" ajak atau lebih tepatnya perintah Erlan yang kini bete, wajahnya mengkeret kayak pasukan Israel kena lempar batako mesir.
"Aelah... Kirain ngapa tadi," dengus Orzie mulai menjelaskan sekaligus mencatat jawaban di buku Erlan. Orzie termasuk peringkat tiga di kelas, peringkat satu udah pasti direbut Galaksi. Yang menjadi peringkat dua Clarie. Cewek blasteran jerman yang memiliki sifat mengerikan.
Lihat aja Clarie yang lagi tertawa bengis sambil bermain dengan boneka-boneka mengerikan di sekeliling mejanya. Sekali-kali ia menatap Orzie remeh, Orzie langsung buang muka. Pokoknya Clarie salah satu siswi aneh dan misterius dengan rambut panjang tergerai menutup wajah pucatnya.
Pagi ini Galaksi gak membuat ulah, cowok itu sedang tertidur pulas di meja dengan beralaskan tas sebagai bantal. Telinganya disumpal earphone dengan alunan musik pelan.
Bel berbunyi nyaring pertanda dimulainya pelajaran, siswa-siswi 11 Ipa 1 saling memasang wajah tegang. Karena mereka harus perang otak dengan rumus-rumus yang dibuat oleh penemu handal ratusan tahun lalu.
Matematika!
Lembar soal dibagikan, saat menerima kertas itu yang bisa dilakukan Teuku hanya megang kepala dengan tangan bertumpu di meja abistu geleng-geleng kepala.
Hana meuphom ke. Batin Teuku pasrah.
Ditatapnya Orzie penuh harap, bagaikan sebuah kilat menyambar desa begitu juga dengan hati Orzie saat ini.
__ADS_1
Bujug! Perasaan yang kemaren diajarin Mister Gundul gak kek gini!! Jeritnya dalam hati.
Ia menatap guru matematika itu penuh dendam.
Kayaknya yang buat nih soal sentimen nih ama gue. Oh Gundul kampret emang!
Belum sampai dua puluh menit Galaksi mengumpulkan kertas jawaban, matanya lurus menatap ke depan. Di sampingnya Orzie memasang wajah ngarep saat cowok itu lewat.
Beri aku jawaban! Beri aku jawaban! Wahai manusia budiman!
Taiii!!!!
Galaksi tersenyum mengejek.
"Apa Ji? Lo mau minta contekan? Tuh, jawaban gue di atas meja guru!" cecar Galaksi membesarkan suaranya. Orzie malu bukan main, menutupi wajah dengan lembar soal sambil mengumpat kesal.
"Emang dasarnya roh jahat! Gak ada baik-baiknya!"
Galaksi berjalan santai dengan wajah datar, sedikit rasa puas terasa dalam dirinya.
"Gimana mau nyontek, baru ngintip doang pasti udah bapak kinclongin rambut saya!"
Tawa menggema mengisi ketegangan dalam ruangan itu, saat Pak Arji–guru matematika mereka menjawab panggilan telepon maka dimulai lah drama kapal pecah yang dikoordinir oleh Letnan Teuku. Ia itu mengarahkan pasukan sebelah kanan mencari jawaban nomor satu sampai lima belas, karena di barisan sebelah kanan ada Irma, Rey, dan Dino yang merupakan bagian dari peringkat sepuluh besar. Di bagian kiri ada trio Penyelamat andalan para pecontek. Robert, Christina, dan Kenzou walaupun jawaban mereka gak selalu akurat paling enggak masih bisa menjawab benar.
"Rey! Nomor tiga belas kok beda sama yang dibilang Dino?!" tanya seorang cewek ngegas. "MANA GUE TAHU, GUE NYONTEK!!"
"NGEGAS LO PLASTIK INDOMARET!"
"ENAK AJA LO BUNGKUSAN FIESTA!"
"APAAN DAH JADI RIBUT LU BERDUA KEK ORANG KAMPUNG!"
"MAK BAPAK GUE ORANG KAMPUNG YAH! LO NGEHINA GUEEE??!" teriak Rey gak terima.
"NGAJAK BERANTEM LO? SINI HAYOK, BIAR ROBERT GEBUKIN!"
"Ngapa malah bawa-bawa gue lo?"
"Heh! Jadi selama ini lo yang suka ghibahin gue di depan Mesjid?"
__ADS_1
"Ohhh... Selama ini lo kan yang suka nyuri jambu aer Enyak gue?!"
Puluhan suara menyahut-nyahut gak nyambung.
"Kawan-kawan... Tidak baik saling menyalahkan, daripada saling berpikir buruk ada baiknya kita saling mensucikan hati..." lerai Teuku sambil memasang peci di kepalanya.
"Bacot! Gaya lu kek sempak!"
"Orang gila makan tomat, bodo amat," jawab Teuku langsung memancing puluhan tangan anak Ipa 1 menimpuknya dengan bermacam-macam barang. Hampir aja Irma khilaf ngelemparin softex ke Teuku.
Tapi cara Teuku cukup ampuh menstabilkan keadaan yang cukup ricuh tadi. Pak Arji kembali memasuki ruangan yang kini tenang. Dahinya mengkerut keras.
"Kesurupan massal apa gimana nih?" tanyanya.
"Tahan berak massal Pak!" celutuk Teuku membuat seisi kelas ribut.
"Yeuh serbet Pak Tarno mah," celutuk Oxy. Teuku mengkerutkan dahinya heran, entah kenapa cewek itu selalu sewot asal ia bicara. Apa-apa dikomen udah kayak di instagram. Pikirnya.
"Ribut ngajak ribut!"
"Yakin lo ribut ama gue? Badan tinggal selembar gitu doang! Ditiup angin terbang!"
"Wah! Meragukan gue ini! Woi biar badan tinggal dibalut kulit gini sekali sangshot bisa mati meragan elu!" ejeknya dengan lagak preman pasar barusan nyuri daun kol.
Tubuh cowok itu termasuk kategori kurus jangkung dibanding teman-temannya. Mungkin karena telat ikut imunisasi cacingan pas masih ingusan. Rencana beli obat cacing malah beli obat nyamuk. Besoknya disuruh beli obat sirup malah kebeli sirup marjan. Kan tai.
"Weeez, bae-bae Bang. Tulangnya pada bunyi gemeretak tuh..." timpal Dino ketawa terjungkal. "Tiati lo Ox! Kalo mau hajar jan kena kulit, ntar gak ada harta lagi tuh anak hhahahaha!!!"
Perdebatan hari itu diakhiri dengan omelan Teuku yang makin terdzolimi berkat anak-anak kelas, padahal dia ketua kelas. Yang maju paling depan ketika yang lainnya berseteru, sekarang ntah kenapa malah dia yang jadi objek pembullyan. Hingga akhirnya cowok itu capek ngomel sendiri.
Teuku memepet dinding sambil memukul-mukulnya pelan.
"Emaakk... Teuku diejekin Mak..."
"HAHAHAHAHA!!!"
Dan Pak Arji semakin geleng-geleng kepala dibuatnya.
<><><><>
__ADS_1