
Hampir seminggu Orzie telah pulih, bahunya telah diobati meskipun masih terasa perih. Oxy mengajaknya ke kantin sedangkan Audrey masih sibuk bermain hape di kelas.
Kantin padat oleh keramaian, Orzie sibuk menyelusup di antara para gerombolan itu sambil sesekali memaki, menghujat, tanpa lupa istighfar.
Cewek itu bahagia, kalau Galaksi lagi ngambek berarti uang jajannya selamat hari ini. Niatnya pengen ditabungnya uang jajan demi beli buku wattpad yang baru saja terbit sebelum Trisa memutuskan mimpinya.
"Oji! Uang kas lo minggu ini mana? Bayar!"
Ditatapnya uangnya seakan terdengar lagu,
Aku merasa orang termiskin di dunia, yang penuh derita bermandikan air mata, itulah diriku kukatakan padamu, agar kau tahu siapa aku~
"Nih! Lo makan tuh uang!" kesalnya memberikan uang lalu melongos pergi. Tubuhnya terdorong saat menabrak seseorang.
"Gak punya mata lo?!" seru cowok itu dengan intonasi tinggi, Orzie membulatkan mata lebar menyadari yang ia tabrak adalah Galaksi. "Selo lah kalo ngomong! Gue aja ogah sentuhan sama lo!" serunya ikut naik darah.
"Udah kali Ji," lerai Oxy pelan. Galaksi memicingkan mata kepadanya hingga bibirnya mulai berbicara.
"Memang dasarnya perusuh, bar-bar."
Orzie terhenyak beberapa saat menyadari mulut pedas itu kembali memancing emosinya.
"Apa-apaan lo nuduh gue perusuh?! Masalah lo sama gue apa sih, kalo kesel yah bilang gak usah nyindir!"
"Gue gak nyindir, gue bilang kenyataan."
Cewek itu mengatup mulutnya kuat, ingin menghujat lebih keras lagi. Namun Galaksi duluan menyela.
"Gara-gara lo, sekolah kita jadi bulan-bulanan Taruna. Legion jadi makin liar karena lo selalu membantu mereka. Satu lagi, gue denger tadi pagi anteknya si Guntur ngacak bus anak Bhakty Jaya," Galaksi memasukkan dua tangan di dalam saku sembari tersenyum sinis. "Dan lo...? Nyantai aja di sini?"
Dada Orzie naik turun. Darah berpacu cepat naik ke ubun-ubun kepala membuat tangannya mengepal kuat. "Gue tawuran lo anggap salah juga! Bukannya elo yang kemaren maksa gue ikut tawuran, setaaan!!?" maki Orzie dengan mata menyala-nyala. Buku-buku jarinya memutih karena dikepalnya erat-erat, bahkan giginya merapat dengan kuat.
"Memang gue nyuruh lo nyari perkara? Sekarang anak OSIS banyak yang kena pancang di depan sama mereka. Sumber masalahnya itu lo. Scapegoat."
Telinganya semakin panas melihat ekspresi merendahkan cowok itu, ditarik napasnya tiga kali untuk meredakan emosi namun amarahnya malahan semakin membludak. Memang menjadi tanggung jawab Galaksi atas keselamatan anak sekolahnya, tapi merendahkannya di hadapan orang banyak cukup membuat harga diri Orzie dikoyak-koyak.
"IYA! GUE PERUSUH, ORANG GAK BERGUNA! MAU APA LO HAAH?!!"
__ADS_1
"Oji, udah. Balik kelas yuk," ajak Oxy menggandeng tangannya, Orzie menepis cepat sembari mengacungkan telunjuknya di hadapan Galaksi.
"Jangan pernah nyuruh-nyuruh gue lagi habis in-"
"Gak butuh."
Galaksi balik badan meninggalkannya. Orzie semakin naik pitam, menyepak kaki meja dengan kasar.
"Sialan!"
Mata lasernya mengitari seisi kantin membuat seluruh tatap mata membuang muka takut berhadapan dengannya.
*****
"Gak habis pikir gue sama Galaksi!" komentar Oxy sambil membenarkan anak rambutnya ke belakang. Orzie hanya diam dengan bertumpuk rasa kesal.
"Emang gak ada otaknya! Dia yang maksa dia yang complain! Roh jahat sialan!" dengusnya kasar sembari mempercepat langkah menuju kelas. Hingga di pintu Ipa 1 emosinya yang tadi meledak-ledak teralihkan dengan tertawaan renyah.
"Hahahahhahahah!!!" tawanya dan Oxy berderai, Gamaliel manyun dengan mata memelas.
Gamaliel ketawa getir. "Hehehe, iya. Si Teuku kampret tuh maen jepit jari gue di sini," ujarnya malu-malu. Orzie makin ketawa ngakak.
"Kok bisa sih?"
"Bantuin dulu nyet!"
Orzie menutup pintu kelas sehingga Gamaliel dengan leluasa menarik jarinya, cowok itu meniup jarinya beberapa kali. "Jari lo gak sakit dijepit apa?" tanya Orzie penasaran.
Gama nyengir kecil. "Tadi sih sakit. Lama-lama udah mati rasa, hehehe."
"Mangnya lo gak bisa apa lepasin jari lo sendiri gitu?" sekarang Oxy ikut penasaran. "Kan tadi udah gue bilang, jari gue mati rasa."
"Kan tubuh elo enggak, geblek!" seru Oxy. Gama menyahut, "Nah itu... Kan yang kejepit jari, badan gue mah gak apa-apa. Sehat wal'afiat. Kalo lo mau bawain gue ke rumah sakit boleh juga, belakangan mata gue jadi gelap kalo ditutup."
Oxy memutar bola matanya.
"Ji, Ji," panggil Oxy. Orzie menoleh tipis, "apa?"
__ADS_1
"Temen lo tuh?"
"Yang mana?"
"Yang itu dodol!" umpat Oxy menunjuk Gama, Orzie menoleh ke sana-sini dengan lagak bingung. "Gak ada, tuh."
"Kapak dibelah pinang emang lo berdua!" jerit Oxy berjalan cepat ke mejanya, dua sekongkol itu bertos ria. "Betewai, yang betul pinang dibelah kapak Ci!"
"Giliran ngomen doang bacot lo bener! Makanya di rumah gak usah kebanyakan makan oli lo!"
"Gue gak makan oli Ci! Makan sandal jepit gue sampe gondok!"
"Hahahahha!!"
"Pantes lu kek sendal jepit, Ji! Pas ditagih utang ngilang mulu!"
Lagi-lagi mereka tertawa bahagia melihat Oxy marah, hingga dari samping seseorang menubruknya.
"Ck, kek gak ada jalan laen sih lo maen nabrak aja?" rungut Orzie mulai dongkol, Galaksi tidak menoleh, hanya mengeluarkan kata-kata menusuk seperti biasanya.
"Sengaja mau ditabrak lo berdiri di tengah pintu?" Galaksi balik bertanya, hingga cewek berambut sebahu itu berjingkat kesal. "Ngeselin amat lo yah!"
Tanpa babibu lagi Orzie pergi duduk ke mejanya, entah apa yang terjadi antara dia dan Galaksi. Yang jelas cowok itu mulai berubah sejak ia sembuh dari sakit.
"Ji..." panggil Audrey
"Apa lagi?"
"Ada yang harus gue jelasin ke lo..."
****
Sorry jrg update lgi kyk dulu, udh klas 3😣
Sbenernya gw udh males nulis, gk tau kenapa. Mood gw hilang smpe sebulan lebih, bkn writerblock soalnya gw gk mood menggambar jga. Waktu gw lbih sering habis buat nonton anime, belajar dan selebihnya tidur di kelas hwehehe
Yah lucu sih, gw tipe yg gak ngerti diri sendiri, smoga klian gk kesel ama gw hehehe😂😂
__ADS_1