
Tongkrongan ribut setiap saat, kadang suasana pecah ketika Gamaliel naik ke meja untuk joget-joget menyalurkan stressnya. Karena pelajaran Matematika dua jam dari Pak Arji ditambah paksaan Orzie menyuruhnya menyelesaikan soal Kimia. Cowok itu sampai mau muntah sekebon melihat rumus-rumus bergajulan itu.
Oge sembunyi di bawah meja, hingga sebuah buku Matematika tersodor padanya. "Nih Pak, bukunya dibaca dulu."
Hidung Oge kembang-kempis. "Kalo lo kasih majalah bokep ke gue mah boleh! Ini buku cetak Matematika, bukannya pinter yang ada mampus gue!" kesal Oge akhirnya. Dia menunjuk Gamaliel. "Noh, lo liat noh temen lo udah gila! Gara-gara Kimia!"
"Kan Matematika enggak," jawab Orzie sembari tersenyum mengecam. "Thidaakkk!!!" tangis Oge dramatis, bukan cuma air mata, air ludahnya sampai berhamburan ke mana-mana.
"Plislah... Lo suruh gue gombalin si Shark Boys mending deh, timbang belajar gini! Bukannya selamat masa depan gue, yang ada gue nih yang habis ini mesti diselamatkan!" omel Mahesa gak kalah sewot, hampir sepuluh bungkus kacang-kacangan habis dia makan, kadang Teuku sampe salah makan kulit kacang.
"Pasutri yang ternistakan," gumam Teuku. Oge dan Mahesa ngegas serentak. "Bacot!"
"Inilah kawand-kawand pentingnya wajib belajar 9 tahun, agar tidak goblok seperti mereka.." ejek Teuku menunjuk ke teman-temannya, Gamaliel langsung darah tinggi.
"Eh, muka beruk!" Kata cowok itu, "Kek otak lu bener aja! Coba sini kasih tau ke gue udah sampe level mana otak lu !"
"Khem!"
Cowok tengil sedusun itu berpose sok cakep, Mahesa berdo'a dengan khusu' supaya tiba-tiba petir ngenyambar dia. Wajah Teuku emang gelagat-gelagat minta ditampol. Kalo Gama baca dari ekspresinya, dia malah tambah gondok.
"Terpesonalah wahai jiwa-jiwa misquin," batinnya dengan wajah bersinar-sinar.
"Hukum Newton 1 mengajarkan kita bahwa saat tubuh kita tertidur maka akan sulit untuk bangun, tul gak?"
"Ha?!"
"Ey, ada yah hukum kek gitu? Kok gua kagak pernah dengar sih?" timbrung Afif. "Mangkanya lu Pip, pas guru jelasin berantem mulu sih ama cicak! Lah mending tuh cicak demen ama elu!" tuding Teuku.
"Tengil lu!"
"Dapet dari mane sih itu rumus Ku? Cak sini gue liat!" Gamaliel menyerbu buku Fisika di tangannya.
Tapi yang dilihat Gamaliel cuma; benda yang diam akan tetap diam, kecenderungan untuk tetap diam dan wajah buapake dengan wajah legend sedang nyengir bahagia kek nenek-nenek dugem jadi top trending yuktube.
"Lah masuk akal juga si *****." Orzie gantian liatin buku. "Gue sampe bingung Ku, otak lu emang setelan pabriknya goblok apa emang kutukan dari Tuhan?"
Teuku cengengesan.
"Alaah, sok pinter lo nyet!" kesal Gamaliel.
"Emang elu, sok cakep! Gue tahu, kemaren lo godain nenek-nenek di kompleks gue kan? Hiii, ama yang reyot ae masih demen lu, barang abis kendor juga!"
"Hey boys, kenyataannya kegantengan gue itu kutukan sejak lahir, emang gue tanya, cewek mana yang gak takjub ngelihat wajah gue? Emang muka elu, kusem-kusem gitu udah kek meja prasmanan," sombongnya.
"Fitnah itu lebih keji dari pembunuhan, Gam." Oge bersuara.
Mahesa ikutan bicara habis Oge ngomong, bener kata Teuku, mereka cuchok jadi pasutri. "Masalahnya fitnah lu udah masuk siaga empat Gam."
__ADS_1
"Siaga...siaga! Udah kek mau perang ama aja lo Hes! Dilemparin kacang malah mojok!"
"Gak usah bawa-bawa kacang lu!" celoteh Mahesa melukin kacang-kacangnya.
Saat tongkrongan lagi ribut-ributnya mendadak suasana sunyi. Terlihat Galaksi datang dari seberang sana, Orzie melirik penuh tanda tanya walaupun dia berusaha gak peduli.
Ekor matanya mengikuti langkah kaki panjang itu sampai berhenti berjalan. Galaksi duduk di hadapannya.
Rasanya Orzie pengen ambil langkah seribu setelah kejadian tempo lalu, apalagi saat itu Galaksi sendiri yang bilang buat gak nampakin wajah lagi di hadapannya.
"Gam," panggil Galaksi ke adiknya yang sibuk membolak-balik buku, kadang sampai memutarnya penuh tanda tanya bagaimana posisi yang benar membaca buku itu. Karena sama saja. Sama-sama gak kebaca.
"Gue panggil cukup sekali aja." nada bicara dingin itu berhasil mengusik ketenangan cowok bersurai cokelat itu.
"Jangan pernah lo denger omongan si Raka."
Sejurus keadaan berubah hening, tidak ada yang mau mengeluarkan suara karena suasana yang dibuat mencekam oleh kehadiran sang Galaksi. Mendadak Orzie bangun dengan cepat, melototi cowok bermanik hitam pekat itu.
"Lo mikir masih pake otak gak sih?!"
Galaksi terbangun. Menautkan kedua alisnya tersinggung. "Bukan urusan lo!"
"Yang gue bilang bener! Lo mau anak sekolahan kita mampus pas hari kelulusan? Gal! Gak selamanya otak lo itu benar. Memang kalo dipikir sekarang salah, kalo keadaannya antara nyawa sama kawan lo yang mana bakal lo pilih?!"
Galaksi diam dengan amarah memuncak. Orzie melanjutkan kalimatnya.
Pasukan cowok di belakangnya turut mendukung. Awalnya Orzie merasa menang tapi dalam sekejap mata, Galaksi menarik lengannya kasar. Menuju taman sekolah yang sepi.
"Lepasin! Lepasin gue setann!!" serunya kesal, Galaksi menghempaskan tangannya kemudian berbalik badan. Disertai wajah penuh murkanya.
"Lo tahu, selama ini yang ngegerakin Legion itu lo! Kalo omongan lo gak mendukung mereka, Gama gak bakal senekad itu untuk tawuran!" seru Galaksi to the point.
"Kok elo nyalahin gue?! Memang gue pernah nyuruh mereka tawuran? Memangnya lo pikir gue tega liat mereka mati di tengah jalan?!"
Galaksi berdecak kesal, "Memang semua gara-gara lo! Dan bang Raka nyamperin kalian kan pas ke pemakaman?! Jawab!"
Orzie menegakkan punggungnya dengan tangan mengepal erat membuat jari-jarinya memutih. Pasti ada salah satu pengkhianat di antara Legion yang memberi tahu pada Galaksi.
"Dengerin gue!" kesalnya, "Anak STM 02 sama Taruna bakal ngincer kita pas hari kelulusan! Buat apa? Buat bantai anak-anak kelas satu, supaya ke depannya mereka tambah mental! Kalo anak kelas tiga gak bantu yah abis mereka kena bacok, atau paling parah badannya mencar di jalan besar!"
Cowok itu mendengus. "Bilang aja lo dukung mereka! Gue tahu, dari awal lo emang udah terpengaruh sama Gamaliel! Gak ada baiknya lo temenan sana mereka, bikin rusuh doang kerjanya!"
"Jaga omongan lo Gal!"
"Lo suka kan sama Gama?!"
Orzie tersentak dengan mulut membungkam, bola matanya bergerak intens mengamati sosok di hadapannya. Galaksi.
__ADS_1
"Maksud lo? Gue cuma mau adek lo ada di jalan yang benar, Gal! Gue gak punya rasa apapun sama dia... lo gak kasihan liat adek lo berjuang sendirian demi nyawa—"
"Gak usah ngelak lagi." Galaksi menghentikan rentetan kata yang keluar dari mulut cewek itu.
"Lo kenapa sih, Gal?!" marah Orzie akhirnya. Sepuluh jari yang dikepalnya kini nampak memerah.
Tidak ada kalimat yang keluar lagi dari mulutnya. Hanya Orzie kini berkecamuk dengan pikirannya. Apa maksud Galaksi menuduhnya suka sama Gamaliel?
Orzie menarik napas tiga kali merilekskan kedua tangan yang dari tadi mengepal kuat. Begitu kata Ibunya, cara agar emosinya cepat mereda.
"Gal... Gue–"
"Galaksi," sebuah suara menyerobot dari belakangnya, Orzie memutar tubuh menatap Gisel penuh kekesalan. Kenapa dia harus muncul di saat-saat penting sih?
"Gal, ayo, bantuin anak kelas satu latihan basket. Gue hari ini bawa bekal, lho.." rayunya dengan gaya centil.
Mata Orzie memanas, entah apa yang menekannya dari dalam. Dijauhi Galaksi sampai berbulan-bulan padahal dulu bahkan sedetik pun gak pernah lepas. Dan sekarang, Gisel yang selalu berada di samping cowok itu.
Dia membalikkan badan, menatap Galaksi yang kini dengan wajah yang sulit diartikan. "Gue mau bicara, cuma empat mata," ucapnya, Gisel tidak peduli bahkan sibuk menarik ujung seragam Galaksi yang masih bergeming di tempat.
"Gal," panggil Orzie. "Gue janji, habis ini gak bakal gangguin lo lagi."
"Kalo Galaksi gak mau gimana?"
"Gue gak nanya ke lo!"
"Yah, Galaksi mana mau sama cewek murahan kayak lo!" seru Gisel ikut tersulut emosi. Orzie kembali terbawa emosi, kedua tangannya sampai mengepal kencang. Angin bertiup membuat anak-anak rambutnya menutupi wajah.
"Gal, lo denger gak sih? Gue–"
"LO KOK NGELUNJAK SIH?! GALAKSI UDAH GAK MAU LAGI DEKET SAMA LO YAH!!!" maki Gisel mendobrak dada Orzie penuh kekesalan. Tidak habis di situ, kini kerah bajunya dicengkram dengan mata awas.
"Gisel!" seru Galaksi. Cewek itu kembali dengan sifat manjanya. "Ehehe sorry Gal, gue kebawa emosi tadi..."
Setelah itu mereka pergi meninggalkan Orzie yang kini menatap mereka dengan perasaan hancur.
Entah kenapa siang itu jadi lebih panas dari hari biasanya, udara bertiup panas. Suasana yang menyebalkan. Dan satu lagi, sebuah hati yang remuk redam.
"Ck, gue ngapain sih ngarepin dia nanggepin gue lagi ?" tanyanya pada diri sendiri. Walaupun sadar, kenapa hatinya berdenyut perih hingga saat ini. Tentu karena ucapan Audrey. Dan dia sadar, sangat sadar akan hal itu.
Orzie memilih bangkit dari jatuhnya, menatap punggung Galaksi dari kejauhan. Kemudian membuka mulutnya pelan.
"Maaf, Gal..."
Tepat saat angin membawa suaranya, saat itu juga Galaksi melirik ke arahnya.
***
__ADS_1