
Judika-Jikalau Kau Cinta🎵
Sebuah petir terdengar keras mendengung di telinga, pohon-pohon tinggi bergerak liar tertiup angin. Seekor burung gagak bertengger di tiang lampu taman disertai cahaya matahari yang kelihatan sendu. Pertanda buruk. Gamaliel berkali-kali menoleh ke Galaksi dan Orzie cemas.
Perasaan yang waktu itu sama seperti hari ini. Ketika terakhir kalinya cowok itu melihat Doni. Bara mengunci pergerakannya dari segala sisi membuat cowok itu tak bisa apa-apa selain melawan.
Guntur berlari menenteng katana' ke arah Galaksi, dalam sekali hentakan senjata saling beradu.
Traaaanggg!!
Belum habis di situ, beberapa antek-antek Guntur turut menyerang dari arah belakang mencelakai Orzie di berbagai sisi.
Kedua punggung mereka saling membelakangi untuk saling melindungi. Lambat laun para iblis Taruna dan STM 02 berhasil memukul mundur pasukan kelas satu, membuat rombongan mereka pecah di ruas jalan.
"JANGAN LARI WOIII!!" teriak Teuku kasar, seragam yang tadinya putih kini bercampur darah dan lumpur. Berkali-kali mereka mundur, dihantam telak oleh dua sekolah mengerikan itu.
Keadaan menjadi semakin gawat saat Irham berteriak keras, Mahesa jatuh dengan kepala bocor mengeluarkan darah kental.
"Dibantai habis kita Gam!!!"
"Anjeeengg!!!" Umpat Gamaliel tidak terima, ia berusaha menguatkan pijakan.
Di sisi lain Galaksi dipukul mundur, senjata miliknya beradu keras dengan Guntur. Tubuhnya huyung membuat golok dari tangannya terlepas.
Sialan! Batin Galaksi dengan perasaan getir. Keadaan jadi semakin gawat saat itu, baru beberapa detik ternyata cewek yang di belakangnya sudah tidak ada. Sekarang ia bisa memastikan, semua anak buah Guntur selalu mengincar Orzie. Galaksi mundur beberapa langkah. Menatap Orzie yang berdiri sangat jauh darinya.
Jantung Galaksi terasa berhenti seketika.
Tatapan itu kembali terpampang jelas di muka Orzie. Wajah penuh putus asa, kosong dan... Mati.
Sekilas senyum tipis terumbar di kedua sudut bibirnya, angin hujan menggoyangkan helai rambutnya kencang.
"Ji...?"
Musuh mengincar di belakang Galaksi.
"Lo kenapa...?" gumam Galaksi pelan. Hingga dalam detik-detik itu Gamaliel berseru kencang.
"MUNDUR WOIII MUNDURIIINN!!!"
Cekatan, Galaksi berlari menghampiri cewek itu. Musuh mengejarnya dari belakang. Namun ketika mereka tepat di belakangnya, tidak ada satu pun senjata yang mengenai Galaksi. Cowok itu bingung, namun rasa bingung itu terjawab saat melihat arah lari mereka.
Menuju Orzie.
"JI... LARI JI!!!" seru Gamaliel kencang.
Orzie bergeming di tempatnya berpijak.
Galaksi berlari semakin kencang, cewek itu menunggunya. Galaksi membabatkan senjata ke segala arah membuat musuh menghindar dan memilih berhenti.
Namun Galaksi sadar, seperti ada yang membuntutinya dari belakang. Segala firasat buruk menggerayangi pikirannya namun dalam situasi genting seperti ini ia tidak bisa berpikir jernih.
"Gue pernah mimpi, Gal. Suatu saat nanti, kita bakal ketemu di tempat dan situasi paling buruk..."
Jangan hari ini, Ji. Jangan. Batinnya cemas.
Di lain sisi sebuah lonceng kecil di kamarnya berdenting kecil dengan irama pelan.
Kring... Kring...
Semeter lagi Galaksi bisa menjangkau tubuh cewek itu, entah kenapa dalam situasi itu–atau hanya halusinasinya saja, Galaksi dapat merasakan seseorang mengejarnya dari belakang.
__ADS_1
"Maaf..." Lirihnya kecil. Dalam sekejap mata, Orzie menarik baju Galaksi ke belakang. Lalu berdiri tepat di belakang cowok itu dengan tangan merentang.
Sreeeett!
Mata Galaksi membeliak lebar. Napasnya tercekat dalam detik-detik itu. Semuanya berjalan begitu lambat.
Tubuh Orzie huyung ke samping setelah dibabatkan parang panjang yang bersarang melintang melewati lehernya hingga ke pinggang. Seketika darah mencuat ke berbagai arah tanpa jeda. Galaksi berbalik cepat, pundaknya seperti menghantam ke aspal. Tulang-tulangnya terasa jatuh berserakan ke bumi.
"Ji....."
Di depannya terlihat Benua yang kaget setengah mati, parang panjang yang dipegangnya jatuh menitikkan tetesan darah.
"......" Benua kehilangan suara, tenggorokannya tercekat.
Teringat ucapan Guntur mengiang di kepalanya, Benua berlutut di samping tubuh seorang cewek yang kini mengerang kesakitan. Teriakan ketika akar dicabut dari tanah, ketika nyawa dicabut dari rongganya.
Pikirannya melayang mengingat perkataan Guntur saat itu di gudang. Hari ini benar-benar terjadi seperti apa yang dia katakan.
"Gue gak akan nyelakain nyawa kawan gue sendiri, kecuali buat darah musuh. Tapi lu inget nih nyet, bakal ada waktunya lo terpaksa ngambil darah anak Legion, demi adek lo sendiri."
"Demi Viola..." lirih Benua dengan mata memanas.
"Lo harus ngebunuh siapapun yang ngehalangin gue besok! Gak mau tahu gue, atau habis ini adek lo bakal gue cincang habis-habisan!"
"Ji.... K-kenapa... Lo..."
"OJIII!!!" teriakan menggema di seluruh penjuru, Benua tidak peduli lagi apa dia akan dibunuh di tempat. Satu hal yang pasti, dia melukai satu-satunya cewek yang mau bertukar tawa dengan orang sebrengsek dirinya.
Buku-buku jari Galaksi membiru, wajahnya memucat. Ia berjongkok lambat seakan merasakan dalam pergerakan kakinya, ini bukanlah mimpi.
Bibir cowok itu bergetar hanya untuk memanggil. "J-Ji... B-bangun..."
Apa ini maksud perkataan Orzie? Kesalahan fatalnya adalah mencelakai Guntur, tapi apa itu setimpal dengan yang dia alami sekarang? Galaksi tidak sanggup lagi berpikir, bahkan saat ini tubuhnya seperti tanpa tulang.
Darah merah mengalir membawa mimpi-mimpinya ke dalam selokan, gedung-gedung pencakar langit terbias cahaya sendu matahari yang turut murung menyaksikannya, dan kini burung-burung gereja berkoak di atas mereka seakan menyanyikan lagu kematian.
Perlahan-lahan hujan menjadi semakin deras, angin membawa lari harapan yang menegakkan langkah kaki mereka hingga di titik ini. Awan mengapung rendah ingin menyentuh bumi, mengelamnya langit menjadi pertanda kalau semesta sedang menangis.
Gemerisik pohon yang tertiup angin seakan berbicara; Diamlah, dengarkan kami. Duniamu terlalu sakit.
"Oi Oji..." panggil Mahesa serak, kepalanya masih mengeluarkan darah.
"Bangun nyet! Woi Oji! Lo bangun ***!!" maki Gamaliel tidak terima, air matanya kini bercampur dengan hujan.
"WOI KAMPRET, LO DENGERIN GUE GAK, BANGUN WOIII BANGUUN!!" seru Teuku lagi, tidak mau pemandangan ini terjadi dua kali setelah Doni yang tewas beberapa bulan lalu. Sama seperti Gamaliel yang kini terisak perih, jantungnya terasa ditusuk serpihan kayu. Rapuh, tapi menyakitkan. Dua kali dia merasakan firasat yang sama, dua kali pula ia kehilangan sahabat-sahabatnya.
"Lu bilang mau jadi dokter kan?! Ayok Ji... Sehari lagi woi, kita bakal masuk UI ngelanjutin mimpi-mimpi Doni. Oi Ji, bangun nyeeet... Bangunn..." Tangis Gamaliel kembali terdengar. Teuku menggoyangkan lengan cewek itu yang telah tersayat.
" Jangan bilang lo lupa apa yang dibilang Doni, dia yang bilang jangan sampe kalah dari musuh atau mimpi-mimpi kita kan Ji, ayok bangun setann!! Mimpi-mimpi kita harus tercapai bodoh..."
Di saat yang lainnya saling menguatkan, Galaksi menangis tanpa suara. Tangisan yang jauh lebih menyakitkan, menghujam dirinya dalam sampai ke ujung asa.
Seandainya gue datang lebih cepat...
Seandainya gue terus bersama lo dan ngelarang lo ikut hari ini...
Seandainya lo gak nyelamatin gue Ji...
Galaksi menundukkan kepalanya membuat tetesan air dari rambutnya jatuh mengenai wajah Orzie, dadanya semakin sesak, ingin mengangkut tubuh cewek itu ke Rumah Sakit tapi dia tidak bisa. Luka dari leher sampai perutnya menganga lebar, mencuatkan darah kental.
"M-ma-maaf..." lirih Orzie pelan. Galaksi buru-buru mengangkat wajahnya, manik mata gelap miliknya memburam. "G-gue gak marah sama lo Ji... Gue..."
__ADS_1
Perlahan-lahan tangan Orzie terangkat mengusap pipi Galaksi pelan. Galaksi kaget setengah mati, pipinya terkena darah dari tangan cewek itu.
"G-gue gak suk–a.... Sa-sama Gama..." Ucapnya terbata-bata. Gamaliel menangis, tahu kenapa selama ini Orzie tidak pernah menganggapnya spesial. Tentu, karena Galaksi yang duluan bertemu dengannya.
Burung gagak berkoak, terbang di atas mereka. Cahaya redup matahari terpantul di jalan raya, air hujan membuat seragam puluhan pelajar itu basah kuyup. Lalu, dalam beberapa detik semuanya membisu.
"G-gue...suk...a sa-sama lo..., Gal..."
Tangan putih itu terjatuh dari pipi Galaksi menghantam air darah yang menggenang di sekitarnya. Kesepian menggerogoti jiwa mereka.
Galaksi terdiam kaku.
Hal penting yang sempat cewek itu katakan di koridor kelas, wajah murung yang beberapa kali muncul di pikirannya dan kenyataan bahwa hari ini, di bawah awan mendung yang semakin menangis, Galaksi telah menyia-nyiakan satu-satunya orang yang mau membuatnya berubah.
Orzie yang selalu berada di dekatnya, selalu membuat hal-hal lucu agar wajah kakunya tertawa, lalu membuat semuanya seakan berjalan baik-baik saja.
"Ji... G-gue suka sama–" ucapan Galaksi terputus bersamaan dengan tangannya yang mencengkram erat lonceng kecil di tangannya. Sebelum hari perpisahan ini ia berniat menyembunyikan barang kecil itu di dalam tas Orzie. Tapi...
Terdengar erangan panjang dari mulut Orzie, Galaksi menangis di sampingnya memegang tangan yang mulai kaku itu.
Hingga akhirnya erangan penuh rasa sakit itu terhenti.
Napasnya habis di ujung mulut. Menyisakan suasana mencekam, Galaksi melebarkan netra matanya lebar.
"Oji..."
Tidak terdengar lagi suara dari mulutnya, Galaksi menggoyang lengan cewek itu pelan.
"Ji... Gue janji bakal berubah, Ji, gue suka sama lo... Bangun Ji... Bangun...!"
"Gal... Lo tahu? Di dunia ini ada satu hal yang gak bisa kita prediksi, dia datang paling akhir. Penyesalan."
Semakin jelas di matanya, tubuh itu telah kehilangan ruhnya. Entah kenapa kata-kata yang selalu cewek itu lontarkan terus mendengung di telinga Galaksi, ketika mereka masih bersama menjalani hari-hari penuh senda gurau.
"OJIIII!!!" teriak Galaksi kencang membelah udara, di saat bersamaan gemuruh bersahut kencang dengan air hujan yang semakin tumpah.
Entah kematian dua remaja Bhakty Jaya dan Taruna itu cukup untuk memutuskan tali permusuhan di kedua kubu. Mereka tidak tahu, yang jelas penyesalan akan menengahi di tengah-tengah mereka, memberi pelajaran.
Sejak hari itu Galaksi membenci hujan. Sangat.
*****
Sad end yah?
Maaf... Banget, gw tau klian smua kecewa, benci dan kesel. It's okay, itu konsekuensinya..lagian gw up update gila-gilaan beuh capeknya astagfirullah😂
KENAPA HARUS MATI SIH KAAAK?!???!!
Karena author itu kyk orangtua buat karakternya, i mean, gw tahu apa yg terbaik buat mereka. Orzie udh brp kali kan minta maaf sama Galaksi tpi malah dicuekin?
Gama? Dia gk prnah brubah walaupun Orzie nasehatin. Jadi, apa adil buat ngebuat mereka menyesal? Adil.
Di sini gw mau ngasih tau, mngkin kalian beberapa kali nganggap org lain gk penting, ngeganggu atau bahkan bikin sial. Tpi kita gak tahu kan ke depannya bisa aja dia malah jd paling penting?
Gw pengen buat cerita yg pnya makna di dalamnya, gk selamanya ttg akhir cinta yg manis apalagi bikin guling2 heboh di kamar
Karena percaya, dunia gak semanis itu kawan.
Terakhir terimakasih buat yg selalu support gw, dan gw minta maaf buat chapter yg mengecewakan broh. Gw minta maaf yg sebesar-besarnya 🙏🙏
Btw jgn diapus dolo ye, masi ada 1 part lagi may pren.
__ADS_1
🚫 Ssstttt... Jgn ribut di kolom komentar😂😂🔪
see you ❤️