Galaksi

Galaksi
Episode 44 Chapter 44 | Remuk Redam


__ADS_3

"Gal..." panggil Orzie pelan. Galaksi tidak menoleh seinci pun, malah membuang pandangannya.


"Galaksi, gue mau ngomong sama lo."


Perlahan helai rambut Orzie jatuh, menundukkan kepalanya dalam. Cowok itu bukan lagi menjauh malah tidak mengenalnya sekarang. Senyum paksa terkembang di kedua sudut bibirnya menggambarkan seberapa hancur perasaannya siang itu.


"Boleh lo gak bicara sama gue lagi. Selamanya, cuma sekali ini aja gue... mau bicara."


Galaksi berhenti berjalan, dengan sebelah tangan di saku dan satu lagi melepaskan earphone. "Omongan lo emang ada pentingnya buat gue?" sarkasnya. Hening sesaat. Kata-kata pedas itu menohok pas di jantung Orzie.


"Gak ada pentingnya sih buat lo... Tapi penting buat gue," selanya dengan nada kesal. Galaksi menaikkan alisnya sebelah dengan wajah meremehkan. Gisel yang berdiri di sebelah Galaksi tersenyum kecil, sekarang lihat aja apa yang bakal keluar dari mulut cowok itu.


"Elo gak penting lagi sekarang."


Jlebb.


Orzie hanya bisa mengepal tangan erat, Galaksi memutar tubuhnya lanjut berjalan melewati setiap kelas.


"Gue jadi gak penting selama dia datang yah? Gak apa, Gal. Lo juga gak penting lagi buat gue."


Galaksi menoleh sebentar, menatap Orzie yang kini tersenyum hambar di belakangnya. Ada nada tidak terima dalam kalimatnya yang justru membuat Gisel menang.


"Udah... Gak usah dipentingin kali, Gal. Cewek serampangan juga," Gisel memprovokasi di sampingnya sambil menggandeng lembut tangan Galaksi.


Galaksi melototkan matanya ke Orzie. Cewek bersurai sebahu itu tidak melunturkan senyumnya, malah ia tersenyum sampai menampakkan deretan giginya lalu berbalik menuju ke kelas.


Galaksi mengusap wajah putihnya perlahan kemudian menghempas kasar lengan Gisel yang bergelayut di tangannya.


"Minggir lo!"


***


Orzie berjalan melewati perpustakaan. Memilih duduk di sana memerhatikan lalu lalang yang tidak habis-habisnya melewatinya tidak peduli. Hingga sebuah suara mengacaukan lamunannya.


"Sendirian aja," tegur seseorang. Orzie mendongakkan kepalanya melihat Mike yang belakangan ini sering menjumpainya datang membawa gitar.

__ADS_1


"Mau gue nyanyiin sesuatu gak?"


"Gak usah."


"Kenapa?" tanya Mike pelan. Orzie sudah muak dengan siapa pun, mungkin Mike yang dulunya seperti pangeran menjadi semut rang-rang di matanya. Tidak ada yang menggebu-gebu dalam hatinya seperti dulu. Semua terasa menyebalkan. Merasa pertanyaannya diacuhkan Mike memilih memetik senar gitar.


Semua cewek berbisik-bisik, bahkan ada yang sampai memvideokan aksi panggung cowok itu.


Belum menyelesaikan lagunya, Orzie buru-buru berdiri meninggalkan puluhan pasang mata yang mendeliknya sinis. Membuat idola mereka–Mike memasang wajah kecewa. Memang sudah yang ke empat kalinya cewek itu pergi tanpa sebab, berjalan mengelilingi sekolah sampai dua kali dengan mata kosong. Tidak ada yang bisa menjelaskan perubahan sifat cewek itu hingga hari ini.


Bel pulang berdering cepat membuat pelajar-pelajar berhamburan keluar kelas dengan gembira apalagi kalau yang masuk pelajaran Sejarah atau Matematika. Setidaknya bel pulang menjadi penyelamat mereka di saat bosan.


Pepohonan yang tadinya berdiri tegak bergoyang kencang tertiup angin badai, cuaca yang dari tadi panas bukan main ternyata menandakan akan hujan. Banyak siswi mengeluh lupa membawa payung, apalagi Orzie yang kini mencak-mencak kesal. Baju seragam tidak akan ampuh untuk melawan dinginnya angin hujan sederas itu.


Kasak-kusuk terjadi, banyak siswa-siswi yang memilih berjalan di teras kelas dari pada melewati lapangan sekolah. Setelah sampai di halte bus Orzie menyipitkan matanya.


Di sana ada roh jahat!


Tumben amat dia mau naik bus lagi.


Air hujan jatuh dari atap halte, Orzie mendongakkan kepala sembari menadahkan tangan menampung air hujan lalu mengusapnya di wajah.


*****. Segeer.


Merasa ada yang memperhatikan Orzie menoleh ke kiri, jaraknya dengan Galaksi hanya berselang tiga orang dan benar saja Galaksi menatapnya aneh. Orzie membuang muka, menampung air lagi untuk kumur-kumur biar roh jahat itu makin pening ngelihatnya.


Saking sibuknya kumur-kumur Orzie sampai tidak sadar bus yang akan ditumpanginya pergi setelah mengangkut banyak penumpang. Air yang menggenang di jalan terciprat membuat Orzie sadar.


"W-woi gue belum naek woi!!" jeritnya. Percuma, bus gak akan berhenti, dia cuma pasrah menatap bus sialan itu.


Tuh sopir busnya gak ada otak bat sih, gue ditingggalin sendiri kek gini. Lah mending kalo ada yang nemenin—


Orzie menatap ke samping.


Si Roh Jahat juga ketinggalan bus!? Dia sengaja apa gimana sih?!!

__ADS_1


Hujan semakin deras, kecanggungan membuat Galaksi sekali-kali berdehem kecil. Orzie memeluk tasnya erat saat angin badai menerpanya, ditambah ada Galaksi yang notabenenya emang kayak balok es, jadi berasa di kutub. Dingin.


Sebuah angkot berhenti, Orzie segera naik tergopoh-gopoh namun terhenti saat seseorang mencegatnya.


"Gue duluan naik!"


Orzie terperangah. Kemudian mendongkol saat tahu ternyata dia akan satu angkot sama cowok menyebalkan itu. Hujan membasahi rambutnya, cewek itu menaiki angkot seraya berdo'a agar ia dijauhkan dari cowok menyebalkan itu.


Namun do'anya tidak terkabul, kursi yang tersisa hanya yang bersebelahan dengan Galaksi. Orzie memasang tampang cemberut mengacuhkan Galaksi di sebelahnya. Seakan tidak saling mengenal, tidak pernah dekat, dan tidak pernah bicara.


Orzie merasa orang-orang sepertinya selalu dikucilkan. Bukannya semua berjalan sesuai dengan yang Tuhan gariskan?


Keramaian membuatnya muak, banyak pasang mata meniliknya sambil berbisik-bisik seakan-akan dirinyalah yang membunuh. Mereka sibuk berkoar-koar tanpa mau mendengar, mau berpendapat namun tidak mau didebat.


Kembali rasa muak tumbuh dalam dirinya, Orzie memberi tatapan sinis membuat ibu-ibu yang sibuk menggosipinya itu terdiam. Lebih baik seperti itu, menjadi orang jahat yang kenyataannya jahat. Daripada orang yang mengaku suci padahal jauh lebih licik. Biar dunia menghukumnya seberat apapun, biarkan mereka berspekulasi dengan nada yang angkuh. Lama-lama juga meninggal.


Aroma hujan menyeruak bercampur bau-bau tak sedap, di samping Galaksi seorang pria gempal sibuk memperbaiki posisi membuat cowok itu bergeser risih.


"Ngapain sih lo ngedempetin gue mulu?!" seru Orzie marah. Galaksi membalas sinis. "Makanya gak usah naik angkot kalo didempet doang sewot!" makinya.


Orzie memelototkan mata aneh. Seperti deja vu. Sebelumnya dia yang mengatakan hal itu.


"Plagiator amat sih idup lo! Lo yang gak usah naek angkot! Hidup lo tuh di tempat elit bukan angkot kumel kek gini!" Orzie meradang, Galaksi menyipitkan matanya.


"Apa hak lo ngelarang gue?!"


Suhu yang daritadi dingin tambah dingin lagi. Kayak di neraka. Orzie menukikkan alisnya kesal kemudian memilih untuk berhenti dengan mengetuk atap angkot.


"Di sini aja Pak, nih." selesai memberi ongkos ia turun buru-buru, seragamnya mungkin akan basah. Orang-orang juga tidak akan peduli seberapa remuk redam dirinya di dalam, yang mereka lihat hanya seorang cewek biasa yang sedang kehujanan tanpa payung, berjalan sendiri di pinggir jalan.


Udara semakin mendingin. Orzie mengutuk dirinya sendiri.


Ngapain amat gue pergi udah kek gue yang bersalah?!


Namun tangan Orzie terasa menghangat saat sebuah tangan menyentuhnya.

__ADS_1


***


__ADS_2