Galaksi

Galaksi
Episode 48 Chapter 48 | Hari Perpisahan


__ADS_3

—Jum'at, 03 Mei—


Lagu-lagu kekinian dimainkan penuh keceriaan, berbagai suasana haru, bahagia, sedih, dan biasa saja tergambar di wajah murid-murid SMA Bhakty Jaya. Hari ini adalah hari perpisahan, yah, hari yang membuat angkatan kelas tiga pada rempong, ketar ketir sekaligus bahagia.


Baju putih abu-abu lusuh yang mereka kenakan dalam kurun waktu tiga tahun berganti dengan baju-baju mewah dan keren. Terkecuali untuk orang-orang bodo amat yang sampai hari ini pun masih mejeng di tongkrongan Legion yang terletak dekat deretan kelas Ips.


Sepatu converse lusuh berwarna hijau, jaket abu-abu yang hampir dua bulan gak dicuci dan celana jeans hitam dikenakannya tanpa minat. Tidak ada yang bagus. Terkadang Orzie menatap kosong ke arah lapangan, udara semakin memanas sejak matahari merangkak naik, tapi canda tawa di antara mahkluk dekil itu memecahkan perasaan sunyi dalam hatinya.


Panggung yang tadinya diisi oleh penobatan senior dengan bermacam-macam nominasi itu berganti dengan nyanyian lagu yang akan dibawakan Gamaliel di atas panggung.


Cowok itu berjalan berpas-pasan dengan Galaksi, menepuk pundak abangnya pelan seraya melampirkan tas gitar.


"Gue gak tahu kenapa lo ngejauhin si tuyul itu... Yang gue tahu, dia gak akan pernah suka sama cowok berantakan kayak gue."


Galaksi memasang wajah bingung.


"Gue denger kok obrolan kalian yang paling terakhir itu, lo tahu? Sampai sekarang tuh cewek murung terus, gara-gara lo Gal."


Gamaliel melebarkan senyumnya. "Lo tahu, kan artinya apa? Jangan denger omongan si uler, berbisa."


Ekspresi di wajah Galaksi berubah aneh, dia memilih menjauhi Gamaliel yang belakangan sering mengganggunya. Ia duduk di depan kelas Ipa, mendengarkan lagu yang akan dibawakan anak-anak Legion yang nanti akan lepas dari tanggung jawabnya sebagai benteng Bhakty Jaya.


Lagu Judika-Jikalau Kau Cinta mengalun pelan, suara merdu milik Gamaliel membuat banyak orang terdiam menikmati. Galaksi menutup matanya pelan sembari menyenderkan tubuhnya di dinding. Tiba di bait reff kembali firasat aneh menyerbunya.


"Jangan sampai hingga waktu perpisahan tiba...


Dan semua yang tersisa hanyalah air mata, hanya air mata...


Mungkin saja cinta 'kan menghilang selamanya...


Dan semua yang tersisa hanyalah air mata .. hanya air mata ..."


Manik mata gelap milik Galaksi tanpa sadar menatap seorang cewek yang murung menatap sepatu Converse hijaunya. Waktu berlalu cepat dengan dirinya yang hanya menatap cewek itu dari kejauhan, mendadak Orzie mengangkat kepalanya. Galaksi segera mengalihkan pandangan.

__ADS_1


"Gue kenapa sih?!" batinnya.


"Ke mana pun kau acuh


Cinta tak pernah rapuh


Berpaling pun tak mampu hilangkan cinta


Percayalah......"


Apa sikap gue terlalu kekanakan? Tanpa sadar dirinya membatin. Galaksi ragu, meskipun wajahnya masih nampak datar seperti biasa walaupun bom meletus  di depan matanya.


"Hey!" Tegur seorang cowok, Yogi. Galaksi mengenalnya sejak cowok itu pindah ke SMA Bhakty Jaya tanpa pernah menyorengkan namanya di buku BK. Dia adalah anak dari sahabat Papanya–Nauval–dengan kehidupan sangat biasa, bahkan terlalu biasa jika dibandingkan dengan dirinya.


"Anaknya Om El tumben amat melamun, biasanya marah-marahin adek kelas," sindirnya. Galaksi acuh tak acuh tanpa melepaskan pandangannya. Yogi mengikuti arah pandang cowok itu.


"Dari tadi gue lihat lo asik perhatiin tuh cewek, lo suka sama dia?" tembak Yogi. Memang, kehidupannya sangat biasa. Kecuali mulutnya yang kelewat luar biasa, terlalu frontal.


"Hem. Macem tak betul je budak ni."


Yogi membatin dalam hati. Setahunya tipe patung museum kayak Galaksi jarang banget nampakin muka susah. Dia bahkan sudah kenal Galaksi sejak kelas dua, bisa dibilang Galaksi adalah teman pertamanya sejak pindah ke SMA Bhakti Jaya.


"Nope..." Yogi yang memiliki mata sipit itu duduk di sebelah Galaksi, berbicara pelan. "Gue pernah pacaran sama Gisel, dan gue tahu gimana sifat dia yang sebenarnya."


Pernyataan Yogi membuat Galaksi yang tadi sok menyibukkan diri menoleh.


"Maksud gue, yah. Dia bakal ngelakuin apapun buat ngedapatin yang dia mau. Menghancurkan persahabatan bahkan hubungan orang. Gak selamanya yang lo lihat sekarang bakal sesuai dengan kenyataan."


Yogi kembali menambahkan. "Lo hati-hati aja sama cewek berbisa kayak dia. Gue udah ngerasain gimana rasanya dikecewain sama dia."


Tebakan Yogi benar. Pasti cowok itu bakal berpikir. Tidak susah baginya membaca pikiran orang, mengetahui masalah orang lain bahkan menebak sesuatu yang akan terjadi selanjutnya. 


Pikiran cowok bermata gelap itu berkecamuk hebat, ketika setelah pertengkarannya di pinggir jalan raya sampai memaki-maki Orzie di hadapan banyak orang. Keesokan harinya Gisel mulai mengganggu hidupnya.

__ADS_1


/Ini plesbek/


Galaksi mendengus malas, membiarkan rambut yang tadinya rapi menjadi berantakan setelah melihat Orzie sudah kembali bersekolah. Jantungnya kembali terasa aneh, tidak seperti biasanya ketika ia dengan sengaja membuat cewek itu kesal setengah mati. Sebelum kaki Galaksi sempat berjalan sesosok cewek yang paling ia tidak suka tiba-tiba menegur.


"Galaksi!"


Cowok itu tidak membalas. Hanya dengan diam ia bisa menanggapi tanpa menghabiskan energi. "Lo kenapa sih, jutek banget sama gue? Giliran sama Orzie lo bisa senyum," sungut cewek itu sok imut. Galaksi menoleh tipis, menyangkal pernyataannya.


"Gue tahu, lo pasti suka sama dia ya? Hayoloh! Ngaku! Gue bilang ah sama dia," ujarnya. Cowok di sampingnya makin berubah kesal.


"Gue gak suka sama dia!" sangkal Galaksi membuang muka, Gisel tersenyum licik di sampingnya. Sedikit lagi, rencananya berhasil.


"Gak usah malu ah... Tapi gue punya kabar buruk lho..."


Galaksi menoleh tak suka.


"Nih." Gisel menyodorkan ponselnya, memperlihatkan sebuah foto Orzie dan adiknya–sedang duduk berdua saling merangkul dengan senyum terkembang.


Padahal foto itu ketika Orzie berusaha menenangkan Gamaliel yang hampir kabur dari rumahnya karena kematian Doni membuat cowok itu hancur sampai ke titik paling jatuh, namun ucapan beracun dari Gisel berhasil membakar sumbu dalam diri Galaksi.


"Orzie udah duluan suka sama Gamaliel kayaknya, kan dia lebih sering habisin waktunya sama Gama ketimbang lo yang sibuk organisasi sama olimpiade, yah, gue ingetin aja sih, supaya lo gak patah hati ke depannya."


Galaksi menatap nyalang ke arah tongkrongan Legion, seorang cowok yang memiliki wajah hampir sama dengannya tengah bersenda gurau dengan seseorang yang hampir dianggapnya miliknya.


Gigi-gigi Galaksi merapat dengan ritme napas berantakan, dia pergi meninggalkan Gisel yang kini tersenyum penuh kemenangan di sana.


"Gue bakal ngerebut dia dari lo, dasar ceroboh." Batin Gisel dengan senyum kecil meremehkan. Ia terdiam. Melihat sebuah gantungan kunci bergambar monyet yang diremas Galaksi di tangannya, dari kejauhan masih terlihat jelas bagaimana terbakarnya hati cowok itu.


"Lo mau ngasih kado begituan ke cewek kayak dia? Sebelum itu terjadi, gue gak akan ngebiarin lo sama dia lagi Gal. You're mine!"


"Woi! Ngelamun mulu!"


<><><><>

__ADS_1


__ADS_2