
Galaksi menariknya masuk ke gang-gang kecil, membuat cewek itu mengumpat penuh emosi. Setelah dirinya dipermalukan di depan Gisel sekarang apa lagi? Apa Galaksi ingin menghinanya pembunuh lagi di perumahan orang?
"Gak usah salah paham lo. Tuh liat anak Taruna pada ngincar, lo berhenti lo tewas hari ini!" hardik cowok itu mengusap wajahnya yang basah oleh rintik air hujan.
"Lo pergi sana gih! Biar gue kena pancang aja, kan lo bilang gue kambing hitamnya! Kalo gue meninggal 'kan semua jadi baik-baik aja."
"Jaga omongan lo!"
Orzie terkesiap mendapati wajah penuh amarah itu, menarik tali tasnya kemudian hendak kembali ke jalan raya.
Kembali ia dicegat. Galaksi menarik tangannya kasar hingga punggungnya menabrak dinding gang, Orzie menyumpah di dalam hati dengan kepala menunduk agar Galaksi tidak melihatnya, dia menangis.
"Gue bukannya mau Doni meninggal.... Dia sahabat gue, paling sejalan mendukung mimpi-mimpi gue.. Dan lo malah menyalahkan gue? Itu semua di luar kendali gue, Gamaliel dan anak-anak Legion!"
Keberisikan air hujan yang jatuh di atap membuat suara isakannya tertelan derasnya tangisan sang awan.
"Lo udah bubarin Legion, bikin kita pulang sampe jam tiga sore, dimaki, ditampar, ditendang sama Pak Umar sampe sore, apa kurangnya lagi, Gal?!!"
"Lo bisa aja mulai kerusuhan lagi, kan?"
"Kenapa lo malah menuduh, ha?! Gak semua orang bodoh, gue bisa belajar dari kesalahan! Apa sesulit itu cuma minta dimaafin?! Apa sesalah itu diri gue sampe gak pantas hidup kayak biasanya?! Apa gue sepenuhnya bersalah?! Gamaliel juga udah–"
"Jangan.ungkit-ungkit anak itu lagi!"
"Dia adek lo Gal!" seru Orzie naik pitam, Galaksi jauh lebih emosi dibanding dirinya. Urat di dahinya menonjol dengan gigi yang merapat. "Lo udah tahu salah nyolot lagi!"
"Gue memang salah, tapi gak selamanya salah! Apa selamanya lo bakal ngemusuhin gue? Oke, kalau itu mau lo! Gue bakal pergi dan gak akan nampakin muka lagi habis ini! Senang lo?!"
Tidak ada jawaban. Orzie memilih menjauh memasuki gang-gang kecil itu yang entah akan membawanya ke mana.
Galaksi mengejarnya, mendorong tubuh Orzie ke dinding mengunci pergerakannya seraya menukikkan alis kencang.
"Apa gara-gara Gama lo berubah?! Sejak lo dekat sama dia, lo jadi senang tawuran, senang main sama Legion, sampai ngebacok anak orang. Mulai hari ini gue gak mau lo dekat sama dia!"
"Apa hak lo ngatur-ngatur gue nyet!?"
"Lo masih hak milik gue!"
Orzie melebarkan pupil matanya, menatap aneh ke wajah Galaksi yang kini basah terguyur air hujan. "Gue bukan boneka lo Gal!"
__ADS_1
"Lo bukan boneka, lo milik gue!" tegasnya kedua kali. Seakan tidak percaya Orzie mengedipkan matanya beberapa kali.
"Lo kenapa, sih," ucapnya memelan, untung aja hujan lagi deras-derasnya, kalau tidak Galaksi bisa dengar suara detakan jantungnya.
"Gue bilang sekali lagi. Mulai hari ini, lo jangan keganjenan lagi sama dia," desisnya tajam dengan mendekatkan muka. Orzie merapatkan kepalanya di dinding.
"D-dia sahabat gue Gal, gue gak bisa ninggalin Gama dan Legion! Terus apa maksud lo ngatain gue keganjenan hah? Lo bicara mikir dulu gak sih?!"
Kedua mata mereka saling menumbuk menimbulkan jeda berkepanjangan. Entah apa yang ada di kepala Galaksi, Orzie tidak mengerti. Tiba-tiba meng-claim dirinya milik cowok menyebalkan itu apalagi sampai menyuruhnya meninggalkan Legion.
"Gue gak ngerti jalan pikiran lo, Gal."
Tiba-tiba Galaksi menarik tangannya, membalikkan badan membelah derasnya hujan.
"Mulai hari jangan pernah nampakin wajah lo di depan gue."
Jlebb.
Terasa seperti bom meletup hebat di dalam dirinya, Orzie terdiam cukup lama dengan emosi berkecamuk kacau di dalam.
Pundaknya merosot, berjongkok kemudian menangis pelan.
Langkah Galaksi bahkan tidak sanggup lagi dia kejar, terlihat sebuah mobil merah bergerak di depan lorong. Ketika kaca jendela diturunkan terlihat Gisel dari dalam memasang wajah penuh kemenangan.
"Dia bukan milik lo lagi."
×××
Entah yang ke berapa kalinya Orzie mengembus napas berat dengan tangan menopang dagu seraya menanti di tongkrongan. Pikirannya kacau balau saat mengingat Galaksi, lebih lagi sekarang cowok bergelar roh jahat itu tengah duduk di kantin bersama Gisel.
Keberisikan mengisi tongkrongan. Hanya anggota Legion dari kelas tiga yang datang, lagian saat itu jam kosong.
Erlan mendekatkan bukunya. "Woi! Daripada bengong macam kuda bunting mending kau ajarkan aku phytagoras! Pening ini!" sungutnya kesal.
Orzie tersentak kaget, memasang wajah penuh kecewa. Teringat saat Doni datang padanya untuk minta diajarkan hal-hal sepele, seperti cara menyederhanakan pecahan.
Dia segera membuka buku semangat, menghiraukan masalah dirinya sekarang. Mereka tidak perlu tahu.
"Nyet! Lu dengerin gue nih! Kalo sisi miring, yang depan sama samping tinggal ditambah terus dikuadratin," ujarnya menunjuk sisi segitiga. Erlan sampai melongokkan kepalanya. "Terus?"
__ADS_1
"Woi Lan! Ngapain lo?!" seru Gamaliel sambil menyeruput es teh manis.
"Makan tikar... Tak nampak kah di mata juleng kau itu aku sedang belajar? Sudahlah, orang pe'a macam kau tak paham yang beginian!"
"Eh, kampret! Gue juga jago ye! Siapa tuh ahli matematika? Sini tarung ama gue!"
"Bukan tarung nyet! Adu IQ! Bisa teler lu!" cela Teuku di ujung sana mendekat dengan jus jeruk di tangannya habis ngerampas di meja Oxy.
"Oji mana? Kok gak keliatan?" tanya Zaki.
"Eh bujug! Perasaan dia tadi di sini, kok maen ilang aja sih tuh tuyul?" bingung Mahesa melongok sana-sini, kacang di tenggorokannya membuat cowok itu mengerang. "Uhuk! Uhuk! Aer woi aeer!!"
"Kacang aja lo prioritasin! Makan tuh kacang, lama-lama punya lo segede kacang!" Oge datang dari kantin membawa teman-temannya anak Ips. "Jahat lu!"
"Pasutri berantem coy." Teuku bersuara lagi. Tangannya mencuri kacang di tangan Mahesa. "Kampret lu maen nyolong aje! Jan-jangan kolor tetangga abis lu curi juga ya?"
Teuku mendidih. "Enak aja! Tetangga gue nenek-nenek bangke!"
"Lah perasaan idup lu banyak dikelilingi nenek-nenek jomblo Ku! Hahahah!!" tawa Gama meledak, Teuku manyun. "Mending daripada elo Gam dikerubungi laler! "
"Emang dia bangke? Hahhaha!!"
Tiba-tiba seseorang memukul kepala Gamaliel dengan buku dari belakang. "Woi anak-anak kumel! Dengerin gue nih!" seru Orzie berkacak pinggang. Yang lain nampak ribut.
"Mulai hari ini, lu semua harus belajar! Gue gak mau tahu, karena ini tanggung jawab gue sebagai presiden jomblo ngenes kek kalian yang gak punya masa depan, hahaha.."
"Mulai kumat nih," ujar Mahesa males. "Wey, lu Hes jangan banyak alesan lu. Gak mau tahu gue, kalo lu gak mau ikut perintah gue, ntar gue sita tuh bini-bini lu!" tunjuk Orzie ke kacang-kacangan di atas meja.
"Lah emang bini gue kacang-kacangan gitu, sa ae lu ** fir'aun," balas Mahesa bodo amat. Dia lanjut ngemil kacang.
"Emangnya Fir'aun pakek **, ya?" tanya Gamaliel goblok, dahinya sampai berlipat tiga cuma buat mikir.
"Gue tanya, emang lu gak pake **? Kalo pakek, yah si Fir'aun tuh pake juga lah!" balas Orzie.
"Ngegas anjer." Oge bergidik ngeri melihat sorot serius cewek itu, hingga Gamaliel mengalihkan topik pembicaraan.
"Ngomong-ngomong soal yang lo bilang tadi gue setuju, Ji! Biar otak sisa cuci gudang gini, tapi kita kudu belajar! Dengan gitu kita gak akan diremehin lagi ama Pak Umar apalagi orang tua kita! Lu semua harus ngikut ye!"
"Alaahh..." erang Zaki dan Afif pasrah. Berlogika dengan ilmu alam membuat mereka tepar. Namun apa daya, kalau kapten sudah bersabda mereka cuma bisa manut.
__ADS_1
***