
Gedung-gedung pencakar langit dibasahi tetesan air yang kian deras membasahi bumi, uap air mengembun di jendela pertokoan hingga akhirnya kaca itu pecah terkena lemparan batu.
"Gimana nih Gam?!" panik Afif di belakangnya, Gamaliel sama paniknya.
Padahal dia sudah tahu akan bentrok, tapi tidak menyangka mereka akan langsung menyerang.
Cowok bermata cokelat itu melirik ke Orzie, kecemasan yang sama kembali menghampiri dirinya. Seperti saat melihat Doni waktu itu, Gamaliel menggelengkan kepalanya cepat. Bukan saatnya untuk berpikir yang tidak-tidak.
"Gam! Mahes udah siapin BR, maju atau mental dulu nih?" tanya anak kelas satu di baris kanan.
"Ji, gimana?" Perlahan wajah Orzie terangkat, menampakkan tatapan kosong. Gamaliel tertegun, sekilas wajah Doni mampir di ingatannya menimbulkan rasa trauma yang luar biasa.
"Gue gak tahu," lirihnya pelan. Wajah Orzie terkena rintik air hujan yang perlahan-lahan berubah deras, tatapannya masih sama. Hampa.
"Ji, lo gak apa? Balik aja sana!" suruh Afif merasakan kekhawatiran sama yang dirasakan Gamaliel.
"Gue ngerasa...hari ini hari pembalasan..." ia bergumam kecil, anak rambutnya jatuh terkena hembusan angin.
"Ji, lo balik ke sekolah aja..."
"Gak bisa."
Gamaliel menatap cewek itu lama. "Gue harus jagain lo semua."
"Tapi–"
"Musuh di depan. Lo ingat 'kan kata Doni? Jangan pernah kalah dari musuh atau mimpi-mimpi kita."
Senyum terkembang tipis di kedua sudut bibirnya, Orzie memejamkan mata sambil menaikkan klewang di tangannya.
"Hari terakhir kita sebagai Legion, Gam, jangan sampai kita kalah. Kita harus mengemban mimpi-mimpi Doni di setiap langkah kaki kita."
Afif, Mahesa, Oge, Zaki dan puluhan pelajar lainnya yang sempat dilanda ketakutan kini ikut tersenyum.
"KITA MENANGIN HARI INI!!" sorak Gamaliel buas, kaki-kaki yang tadinya bergetar sekarang berpijak kuat ke bumi. Tidak ada ketakutan dalam diri mereka. Puncak dendam semakin membakar hati, membuat bola mata mereka melebar penuh kilat kemarahan. Bendera tengkorak hitam berkibar lantang dipegang Teuku. Menggertak bendera merah milik STM 02 dan menggentarkan musuh bebuyutan mereka, Taruna.
"MAJUUIIINN!!!!"
"JANGAN KASIH KENDOR!!" seru Gamaliel kencang, dia tahu, keadaan terburuk saat ini pasti akan datang nanti. Dengan atau tanpa persiapan.
Batu berterbangan di langit menghancurkan fasilitas kota.
Sabuk gear menari-nari siap menghantam kepala.
Seorang anak STM melempar bom molotov ke tengah-tengah mereka membuat pasukan berpencar.
"Sini lo gue matiin!!" teriak Guntur penuh dendam, berlari menerjang Gamaliel di tengah pusaran. Kata-kata kotor terdengar cepat secepat batu yang lewat di atas kepala mereka.
"Jangan banyak bacot lu banci!"
Guntur yang disebut banci semakin naik pitam, katana panjang yang ditentengnya digebuk liar menebas udara. Gamaliel menghindar gesit, ia sadar dalam hal bertarung Guntur memang juaranya. Bahkan untuk mencari celah bahkan dia kesusahan. Mungkin saat ini pilihan paling tepat bagi Gama adalah mundur, menunggu teman-temannya bisa mem-backing dirinya.
Anak-anak dari SMA Bhakti Jaya turut meramaikan suasana, cowok-cowok yang tidak pernah tawuran bahkan ikut-ikutan melempar batu, balok atau bata.
__ADS_1
"Pecun woi pecun! Hahaha, pemimpin Legion tukang salon sekarang??!" hina seorang cowok dengan baju merah STM.
Gamaliel tahu benar siapa cowok dengan batang hidung berbekas sayatan itu. Bara. Seorang **** kelas atas yang entah bagaimana caranya masih bersekolah padahal seharusnya dia mendekam di penjara karena membunuh anak Bhakty Jaya saat hari kelulusan tahun lalu.
"Sini lo gue matiin *****!" gertak Gamaliel tak kalah garang seraya berlari mendekat ke serigala buas itu.
Celurit berukuran sedang mengibas udara hampir mengenai dadanya, ia menghindar cepat. Semakin jadi saja, bahkan kelompok yang digerakkan Afif terpecah di ruas jalan diterjang oleh Guntur.
"SIALAAN! GAK USAH NGEBANCI LU SEMUA!! BALIK WOI BALIK!!!!" maki Oge kesal melihat pasukan yang dibawanya mundur. Namun Mahesa segera datang membantu menggebuk pedang membuat anak Taruna mundur.
Keadaan sama sekali tidak imbang. Tidak hanya tahun ini STM 02 dan Taruna membuat gabungan, jauh dari beberapa tahun silam. Yang parahnya, setiap tahun ada saja korban yang tewas akibat tawuran itu.
Sekilas, bayangan Doni yang terkapar di jalan besar menghampirinya.
"Gam..."
Gamaliel tersentak. Itu seperti suara Doni, sangat jelas. Jantung Gama berpacu kencang seakan suara itu menjadi sebuah peringatan baginya.
Ia menoleh ke belakang secepat kilat, namun Bara segera memasukkan serangan membuat cowok itu nyaris habis terkena sabetan.
"Oji mana, Oji mana?!!" teriak Gamaliel panik. Ia mundur dari Bara lalu memutar tubuhnya mencari seseorang.
Namun yang dilihatnya Galaksi berlari cepat. Gamaliel mengikuti arah langkah abangnya hingga netra cokelat miliknya melebar sempurna.
"BANTUIN OJI WOOI!!"
Gamaliel berseru panik. Lagi-lagi ingatan ketika ia susah payah menyelamatkan Doni terlintas di matanya, saat ia hanya mampu berteriak setelah dihantam lawan. Tak terasa matanya basah, melihat seorang cewek yang kini kejar empat orang dengan lengan berdarah-darah.
Galaksi merebut golok dari anak kelas satu, kemudian berdiri di belakang cewek itu menghadapi musuh.
"Maaf Gal..."
"BALIK SANA!!" perintah Galaksi ganas.
"Maafin gue..."
Galaksi menoleh singkat ke arahnya. Cewek itu menangis, ia kelimpungan saat dari sisi kanan dan kiri musuh mengepung mencelakai tubuhnya.
"Cepat sana balik!" Galaksi kembali berteriak keras.
Guntur berlari ke arah kiri melihat musuh yang dia incar beberapa bulan ini ada di hadapannya. "Ben!"
Benua menoleh kaget, mundur dari Oge lalu mendekat pada Guntur.
Wajah Guntur perlahan mengelam. "Lo matiin cowok yang ngelindungin tuh cewek!"
Benua melebarkan matanya.
"Gun... Jangan-jangan lo..."
"Gue mau bunuh tuh cewek yang ngebuat gue kritis!"
"Ja-jangan Gun!" tolak Benua. Kalau cewek itu mati, bagaimana dengan kedua orang tuanya yang mengharap dia kembali? Lagian, hanya Orzie yang bersedia menerima nya sebagai keluarga di kota yang kejam ini. Benua mencengkram stick golf dalam genggamannya. "Gue gak bisa!"
__ADS_1
"Atau Lo yang gue matiin?! Lo cukup ngecoh tuh cowok setan!" Seru Guntur penuh emosi. Urat-urat di tangannya menonjol.
Benua akhirnya bergerak menuju Galaksi, cowok itu nampak waspada meskipun empat orang yang mengepungnya telah pergi setelah diserang Gama-L. Sebutan yang dibuat anak sekolah lain untuk si Terminator jalan Malaka.
Langkah Benua mendekat, namun tidak mengangkat senjatanya. Tepat setelah Guntur dikecohkan oleh lawan saat itu juga Benua berlari ke arah lain.
Ketika berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk kabur, ternyata Galaksi salah besar. Musuh sesungguhnya baru muncul saat ini.
Guntur di hadapannya dengan tatapan membunuh, wajah mengelamnya seperti termakan hasutan iblis.
Angin badai menggerakkan baju seragam mereka, bola mata Guntur terkunci di satu titik, Orzie.
"Ji, lo tetap di belakang gue." perintah Galaksi meskipun tidak bisa dibohongi lututnya sampai kram berdiri. Dia bukan Gamaliel yang kerjanya bertarung, seandainya hari ini tidak pernah terjadi mungkin ia akan sangat bersyukur.
Traanggg!
Senjata beradu mengeluarkan suara gesekan yang membuat ngilu, Galaksi menguatkan pijakan sambil mengeratkan pegangannya.
Traaang! Kraang!! Kraangg!!!
Galaksi mundur, tenaganya hampir habis meladeni pergerakan Guntur yang luar biasa lincah. Berkali-kali serangan cowok itu hanya mengenai udara di depan Guntur. Tidak mempan sama sekali. Berkali-kali juga nyawanya hampir habis di ujung katana Guntur.
Galaksi membuang pandangannya di sepanjang ruas jalan. Cewek itu tidak di belakangnya lagi.
Orzie dikejar-kejar musuh yang menenteng katana' panjang. Entah kenapa setiap musuh selalu mengincarnya. Hingga seorang cowok berbadan gempal berhasil mengejar dan mengangkat senjatanya tinggi-tinggi.
"Ji!!!" Teriak Galaksi panik, Orzie membulatkan matanya lebar. Katana siap membelah kepalanya dalam beberapa detik lagi.
Traaaang!!!!!
Stick golf mematahkan laju katana, membuat cowok berkulit gelap itu huyung lalu mundur beberapa langkah.
Orzie menengadahkan kepalanya.
"B-Ben? Lo gila?!!"
Benua tersenyum tipis. "Lo harus selamat, Ji. Gue tahu lo masih punya banyak mimpi.. jangan sampai mereka ngambil itu semua," ujar Benua pelan. Ia berlari menjauh sebelum Guntur sadar bahwa dia berkhianat lagi.
Galaksi berlari ke arahnya cepat, menggenggam erat pergelangan tangan Orzie. "Kita harus balik!"
"Semua udah terlambat."
"Hah?! Apa sih maksud lo? Buruan balik!" kesal Galaksi menyembunyikan rasa panik walaupun ekspresi itu tetap nampak di wajahnya.
Orzie tersenyum singkat.
"Gal, ada satu hal yang dari dulu udah gue pastikan.. kesalahan fatal gue adalah ngebacok si Guntur.."
Galaksi membungkam.
"Mereka bakal tetap ngejar sebelum salah satu dari kita... Mati."
Bola mata Galaksi melebar, dia yakin, yang di hadapannya saat ini bukan Orzie. Senyum penuh keceriaan yang selama ini dia kenal agaknya asing di wajah orang yang satu ini.
__ADS_1
****