
—Kamis, 02 Mei—
Senyum Gabriel merekah lebar saat tahu nilai UAS si anak tengil yang biasanya bikin ayam kesayangannya pada teler itu meningkat naik walau tidak drastis.
"Haha, kan Gamaliel juga pinter. Cuma males aja! Suka bikin pusing lagi!" cerocos Gabriel mendaratkan tangannya di jidat Gama. Cowok itu mengaduh kesakitan. "Sakit, Mak!" Gerutunya kesal.
"Eh, eh, tunggu."
"Tunggu apa Mak?"
"Setelah pesan-pesan berikut ini."
Gamaliel mendongkol.
Papanya muncul dari ruang tamu, menoleh tipis ke arahnya. Sebelumnya Gamaliel memang sempat ngasih tahu ke Elang, tapi karena sibuk yah dia cuma bisa maklum.
"Lagian gue gak sehebat Galaksi yang bisa bikin Papa bangga." Batinnya merunduk.
Elang menuangkan air dingin ke gelas, senyum terbit dari kedua bibirnya. Kemudian ia mengatakan sesuatu yang mampu membuat Gamaliel bahagia bukan main. Senyumnya semakin melebar.
"Bagus, nanti ke depannya yang rajin lagi ya, Gama."
"Makasih, pa, hehehe iya aman tuh."
"Jangan senang dulu, kita lihat nilai kamu yang lain."
"Ashyap!"
Lagi. Gabriel geleng kepala lihat anaknya yang satu ini. Dia senyum aja gusinya sampai pada nongol, memang anak ajaib. Makin kesel Gabriel lihatin tuh gusi, minta digamparin!
"Secara gak langsung berarti ketawa gue gitu juga dong? Dah lah, goblok."
<>
Kring! Kring!
Dua buah lonceng yang tergantung di dekat balkon kamar Galaksi berdenting ditiup angin malam.
Galaksi memetik senar gitar mengiringi suaranya yang kini bernyanyi mengusir sepinya malam. Menengadahkan wajahnya ke langit luas, membentang bertabur bintang, bulan dan planet-planet lainnya. Tidak sehari pun dilewatkannya tanpa duduk memerhatikan semesta. Selaras dengan namanya, Galaksi.
Seluruh pikirannya tercurah ke berbagai masalah. Tugasnya sebagai mantan ketua OSIS masih berlanjut karena Ketua Osis yang menjabat tahun ini terlibat masalah dengan Kepsek dan terancam di drop out, terpaksa dirinya yang mengorganisir segala urusan mempersiapkan hari kelulusan sekaligus pengumpulan dana, ia mendengus gusar . Mengapa masalah yang ditimpakan padanya begitu banyak?
__ADS_1
"Halahh! Segitu aja ngeluh lu! Gak semua orang hidupnya senyaman elo, Gal. Elo belum pernah ngerasain aja gimana rasanya hidup dalam tekanan!"
Ucapan Orzie siang itu mendengung, ketika dia masih dengannya saat pulang sekolah untuk mengerjakan tugas. Galaksi hanya duduk manis, Orzie sendiri yang ngerjain semua tugasnya. Entah kenapa semua kata-kata cewek itu seperti mendengung di telinganya. Mungkin kalau Orzie ada di sini semua gak akan jadi seberat ini. Mungkin.
Galaksi buru-buru menepis pemikirannya itu.
Apa karena gak pernah bersama dia Galaksi malah jadi sering memikirkannya?
Meskipun saat itu dia belum sadar. Masih terlalu bodo amat dengan banyak quotes yang diciptakan cewek itu secara spontan. Tapi sekarang ucapannya justru mampu membuat dadanya lebih lapang.
"Semisalnya lo capek dan masih aja ngeluh, bukannya Allah udah sampaikan? 'Aku ciptakan tidurmu, untuk istirahatmu?'"
"Dasar cerewet," gumam Galaksi membiarkan angin malam menggoyangkan kaos hitamnya. Di belakangnya seseorang menyahut.
"Siapa cerewet?"
Galaksi melirik Papanya kaget.
"Gak, bukan siapa-siapa." Ia memalingkan muka menyembunyikan wajah terkejutnya.
Elang duduk di samping Galaksi pelan, membuang tatapannya ke langit malam dengan keheningan yang tercipta di antara mereka.
Manik mata gelap Galaksi bergulir ke arah Elang, mencari-cari maksud omongan Papanya itu.
"Hidup bakal terus berubah, begitu juga orang yang di sekitar kita. Jangan sampai waktu yang menyadarkan kamu."
.
Derap langkah kaki perlahan menjauhi Galaksi yang kini tercenung, sesuatu mengganggu dirinya. Semalaman suntuk dia habiskan hanya untuk berpikir maksud omongan Papanya tadi hingga cowok itu terdiam lama. Mengingat suatu hari ketika semuanya masih sama, ketika Orzie masih berjalan bersamanya.
"Lo tahu, Gal. Ada satu hal di dunia ini yang gak bisa kita prediksi, dan yang datang paling akhir. Penyesalan."
Kring! Kring!
Lagi-lagi lonceng pemberian Mamanya itu berdenting kecil. Galaksi memutar tubuh aneh, padahal tidak ada angin. Bukan waktunya memikirkan setan angka delapan itu, Galaksi rada-rada takut. Namun perlahan suasana hatinya memburuk menandakan firasat buruk setelah lonceng itu berbunyi.
"Lonceng itu barang kesukaan Mama pas kecil."
Cerita Mamanya saat siang tadi, entah dalam rangka apa menceritakan hal itu. Entahlah... Terlalu banyak hal rumit yang susah ia pikirkan.
"Kamu tahu, fungsi lonceng? Bisa dibilang sebagai pengabar berita. Berita buruk atau baik. Sebagai pertanda."
__ADS_1
"Dulu pas kecil, Mama suka perhatiin lonceng itu. Kalau dia bunyi 'kring kring' bakal ada sesuatu yang buruk terjadi."
Galaksi seketika terkesiap.
Bukankah dari tadi lonceng itu terus-terusan berbunyi?
Lagu Judika - jikalau kau cinta mengalun pelan di telinganya, entah kenapa lirik-lirik itu seakan tengah berbicara padanya bersama angin malam yang kian mendingin.
Diraihnya ponsel menggulir layar perlahan. Tertera nama Budak Jajahan di layar membuat senyum kecil terukir di wajah tampannya. Galaksi membiarkannya begitu saja. Linglung, rasa gugup menghantuinya.
Tinggal telepon aja. Batin Galaksi tenang. Namun jarinya tak kunjung menuruti keinginannya bahkan Galaksi malah menekan kembali ke layar utama dengan tangan mengusap wajah gusar.
Besok hari perpisahan.
Galaksi menengadahkan wajahnya cemas.
Ucapan Raka beberapa bulan lalu mungkin saja bisa berakibat buruk namun cowok itu yakin ia telah mengamankan situasi dibantu dengan seluruh organisasi sekolah.
Namun hatinya tetap tidak tenang dari tadi. Apalagi karena lonceng itu. Omongan Mamanya memang selalu benar, seratus—bahkan sejuta persen benar. Kalau Gabriel bilang gak boleh pasti bakalan ada sesuatu yang terjadi jika melanggar. Makanya, anak paling bandel seperti Gama aja bisa patuh.
Ia mencoba mengingat-ingat lagi ucapan Mamanya itu.
"Tapi.. selain pertanda lonceng juga punya arti lain.."
"Pertemuan. Kalau bunyinya tiga kali, berarti pertemuan. Dua kali, pertanda buruk. Itu yang Mama tahu, karena.."
Mamanya terdiam saat itu, ketika menceritakannya. Galaksi yang ketika itu dengan fokus mendengarnya menatap aneh.
"Dua kali lonceng berbunyi, sebelum Mama diculik sama om-om mesum. Dan tiga kali berbunyi, sebelum bertemu Papa kamu di..."
Gabriel tidak melanjutkan ucapannya setelah itu, meninggalkan anaknya dalam kebingungan. Dia sendiri tidak mungkin menceritakan bahwa gara-gara insiden Om mesum itu membuatnya hampir sakit jiwa. Tapi, itu benar-benar terjadi. Berulang kali. Pertemuan dan pertanda buruk.
Jam menunjuk ke angka 23.09 memasuki tengah malam, hawa dingin dan sepi memang menjadi situasi paling nyaman bagi seorang Galaksi. Ia memetik senar gitar, mendadak lupa lirik lagu yang akan dinyanyikan. Bahkan cowok itu sampai pening menyari ponsel yang sebenarnya ia letakkan di dalam saku.
"Gal..."
Galaksi mendadak terdiam. Suara milik Orzie seakan menggema di telinganya. Cowok itu memejamkan mata, kembali rasa cemas menghantuinya saat bayangan cewek itu memenuhi seluruh pikirannya.
"Sial!" Kesal Galaksi melempar gitarnya lalu beranjak ke kamar. Mengacak-acak rambut hitamnya frustrasi.
<>
__ADS_1