
"Ji!"
"Oji!! Woi gue manggil Ji!" seru Audrey menggoyang-goyang bahu cewek itu, hingga ia tersentak menatapi kedua temannya.
"Eh, lo pada sejak kapan di sini?"
"Sejak om Limbad nyanyi lagu frozen. Lo sih! Ngelamun mulu, kek orang banyak utang!"
Orzie ketawa ngenes dengan ekspresi, 'kenyataan mbak'.
"Lo lagi demam Ji?" tanya Oxy mencopot headset sembari duduk di pinggiran kasur. Orzie menjawab malas. "Gak, lagi manjat pinang gue."
"Lo mah gak serius, becanda mulu."
"Tadi di sekolah gimana? Pak Arji gak ngehukum anak kelas gegara gak ngerjain PR?" Orzie memperbaiki posisi tidurnya menjadi duduk. Kerongkongannya masih terasa kering sampai sekarang.
"Pak Arji gak masuk, digantiin sama guru honorer, Ji! Serem sumpah!" Audrey memelototkan matanya dengan tampang ngeri.
"Seriusan?" tanggap Orzie ikut takut.
"Beneran! Lo tahu, kan mulut Clarie termasuk paling pedas se-Indonesia? Tadi dia adu hujat sama guru itu!"
"Gimana?" Audrey menjawab sambil bergidik ngeri. "Tuh guru nyuruh si Clarie hapus papan tulis, dia nya ogah disuruh. Eh, tuh guru naik darah. Lo tahu? Mereka adu bacot! sampe ngehina fisik!"
"Udah, itu aja? Apaan kurang mempan."
Lagi-lagi Audrey mengerlingkan matanya, khas seorang Audrey ketika sedang antusias menggosip.
"Bukan cuma itu, lo tahu? Boneka santet si Clarie dipake ama tuh guru buat lap papan tulis!"
Orzie tercengang bukan main.
"Parah!" komentarnya tidak percaya. Oxy kelihatan mengangguk setuju. "Galaksi gimana? Dia kan mulutnya pedes juga tuh," tanya Orzie.
"Oh, dia mah sibuk molor."
"Dia gak jajan hari ini?"
"Kelihatannya enggak deh," timbrung Oxy lempeng. "Lo ada liat Ox, dia pulang naik apa?" sekali lagi Orzie bertanya membuat Audrey dan Oxy curiga.
"Lo kenapa sih, nanya Galaksi mulu?"
"Eh–kan dia selama ini terus bergantung ama gue, yah gue penasaran aja dia..." Orzie bingung harus menyambung kalimatnya.
__ADS_1
"Bilang aja lo khawatir, cieee cieee!" goda Audrey sembari menyolek kening kawannya itu. "Enggak, hih! Dia tuh sejenis mamak tiri, Rey! Bikin makan hati!"
"Bilang aja lo suka. Tadi ngelamun pasti mikirin Galaksi, kan?" Oxy menyipitkan matanya genit, lalu tertawa renyah.
"Enggak!"
Pipi Orzie bersemu merah.
"Hahahah! Tingkah lo mudah banget ditebak!" ejek Oxy masih tertawa-tawa, Orzie cemberut. Menampol kepala cewek itu penuh dendam, hingga di sampingnya Audrey bercelutuk.
"Lo...suka sama Galaksi, Ji?" tanyanya to the point, Orzie tersedak mendengar pertanyaan frontal itu.
"Kan gue bilang enggak!"
"Tapi pipi lo merah tadi?"
"Gue lagi demam dodol!!"
Audrey dan Oxy mencermati wajah temannya setiap jengkalnya. Dari ujung ke ujung. "Pipi lo cuma merah pas kita nyinggung Galaksi, sekarang udah kayak biasa."
Tanpa tahu harus menjawab apa, lagi-lagi Orzie cuma bisa diam membiarkan temannya berspekulasi. "Ji," panggil Audrey. Yang dipanggil menoleh.
"Apa?"
"Gue saranin lo jangan sampai suka sama Galaksi."
Dua temannya menautkan alis bingung, Audrey menatap mereka dengan tampang lesu. "Dia...psikopat."
"Ehehehe, tapi gue serius Ji. Gue punya feeling gak enak...entahlah, gue juga gak ngerti. Tapi–"
"Iya, iya, Rey! Gue janji gak bakal suka sama Roh Jahat!" sahutnya memutus alur perdebatan. Gak lama kemudian, terdengar grasak-grusuk di pintu kost-an.
"WOI OJI!! ANAK LEGION NIH!"
Mereka tersentak kaget, Oxy segera bangun membuka pintu. Melihat Teuku udah mejeng sok ganteng di depannya.
"Gue mencium bau-bau keburiqan..."
"Tandon air diem aja deh! Awas! Orang ganteng mau lewat, yang buriq tiarap!"
"Lo Ku mau dateng gak bilang-bilang, kan bisa gue siapin sesajen dulu."
"Lo kira gue setan?"
"Lah, situ gak nyadar?"
Teuku memasang tampang sewot.
__ADS_1
Di belakangnya anak-anak cowok menyahut rusuh, Orzie yakin pasti para penghuni kost-an mengira anak-anak ini bakal tawuran di daerahnya.
"Lo ngapain bawa rombongan Ku? Mau dikira tawuran?"
"Yah, mereka rusuh minta ikut." Teuku mendengus pasrah, Irham masuk memberikan buah-buahan. "Cepet sembuh Kak Oji, gabung sama kita lagi ye. Kalo mau makan buah jangan lupa makan bijinya!"
"Iya! Seklaian plastiknya gue makan! Kalo bisa elo gue makan bocil!"
"Yaudah deh kita cuma mau ngasih buah sekalian liat kondisi lo aja, Ji. Gue sama anak-anak pulang dulu ya," ujar Teuku kalem. "Gama mana Ku?"
"Masih masa skorsing, Ji."
"Oh yaudah, tiati nyet! Jalan jangan lupa liat kanan kiri, siapa tahu ketemu jodoh!"
"Apaan jodoh Ji! Di komplek lo nenek-nenek jomblo semua isinya! Masa jodoh orang ganteng kayak gini nenek reot sih?"
"Hahahaha," tawa cewek itu, hingga akhirnya Teuku pamit kembali dengan temannya menggunakan motor gede.
"Oji."
Orzie menoleh ke arah Oxy.
"Ini demi kebaikan lo Ji, gue gak mau lo terlibat tawuran... Lo itu cewek, dan gak pantes gabung sama cowok berandalan kayak mereka." nasihatnya pelan, raut khawatir tergambar di wajahnya.
Orzie tercenung lama, hingga senyum terbit di bibirnya.
"Gue gak bisa, Ox."
Audrey dan Oxy diam mendengarkan.
"Lo pasti pernah dengar gue dipalakin anak Taruna pas pulang naik bus, kan?"
Oxy nampak pundung mendengarkan, dia tahu pasti Orzie gak akan rela kalau dipaksa berpisah dengan teman-temannya.
"Mereka susah payah ngejar bus, sampe malah kena pancang sama STM 02. Dan gue diselamatin sama mereka, jadi... Pantes gue ninggalin Legion yang selalu ngelindungin gue?"
"Iya gue tahu, tapi lo gak bisa terus sama mereka Ji..."
"Kalau mereka ninggalin gue , dan musuh malah datang gimana? Lo tahu? Legion bisa aja bubar tanpa Pak Umar paksa, tapi mereka sadar. Keadaan gak akan sama. Kalo mereka bubar, musuh merajalela."
Oxy menutup matanya lelah, berdebat dengan orang seperti Orzie cuma menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran.
"Terserah lo aja deh sekarang. Mau denger apa enggak. Gue mau balik dulu nih, orang rumah udah pada nungguin." Audrey bangkit melampirkan tasnya di pundak lalu melambaikan tangan pada Orzie.
"Gue juga mau balik. Lo Ji, jaga diri baik-baik yah," gumamnya halus sembari menepuk pundak sahabatnya. "Iya, Ox. Khawatir banget sih sama gue, hwehehehe..."
"Au ah!"
__ADS_1
"Hahahahhaha!"
******