Galaksi

Galaksi
Episode 39 Chapter 39 | Memudar


__ADS_3

Hampir seminggu, Doni hilang tanpa kabar. Gamaliel berupaya mengerahkan sebagian anggota Legion untuk mencarinya namun tetap tidak ketemu. Hal itu tentu membuat mereka cemas dengan keadaan Doni yang kini hidup seorang diri.


Tiba-tiba Teuku berdiri dengan mata memicing.


"DONIII!!!" serunya berlari ke arah cowok yang kini berjalan sempoyongan dengan penampilan urakan. Doni memakai baju kaos hitam serta celana SMA tanpa menenteng tas. Matanya kosong menatapi jalan.


Orzie yang melihatnya menyusul Teuku sembari merangkul Doni hangat. "Udah, duduk dulu Don."


Sudah jadi peraturan, jika salah satu dari mereka terluka tidak ada yang boleh menanyakan 'lo baik-baik aja?' karena justru itu akan mengoyak hati temannya. Bukan kata baik-baik aja yang menjadi penyemangat, justru dengan ledekan mereka bisa menjalin kesetiakawanan.


"Sembab banget itu mata Don! Lo mau nangis yaudah ke sini ke depan gue, biar gue ketawain!" ujar Gamaliel membuat Doni membuka mulutnya lebar-lebar. "Anjeng lu!"


"Hahahahaha!!" tawa Gama meledak, paling tidak Doni masih mau berbicara walaupun mengumpatinya.


"Don...gak usah ngerasa kesepian, kita semua keluarga lo! Dan lo tahu? Kenaikan kelas tiga anggota kita bakal bertambah banyak! Legion udah terkenal ke mana-mana, man...! Gila!" Zaki mulai memancing obrolan. Doni tidak menanggapi.


"Kalo Legion bisa sampe tujuh puluh, gue traktir deh lo makan mie ayam Buk Yani sampe kelas tiga!" usul Oge penuh semangat, Doni menatapnya pelan. "Beneran lu?"


"Iya! Suer, demi ** jingganya Zaki!"


"Ah ***, ngumbar ae lu Ge, gue siram jadi duyung lo!"


"Gue mau," kata Doni. "Mangkanya, lu gak usah sok kalem gitu kali...semua orang pasti bakal ketemu Tuhan. Mungkin besok jadwal elo dipanggil," celutuk Mahesa membuat Doni melotot.


"Ke mana aja lu Don seminggu gak balik-balik udah kek Bang Toyib?" kata Orzie. Doni menggeleng pelan seraya menunduk. "Gue... Nyari kerja sambilan, gak ada yang nafkahin gue lagi. Kalo bergantung sama Bang Adrian gak enak."


"Keren lu bisa survive vro! Salut gue sama lo Bang!" seru Irham dengan wajah kagum, Doni tersenyum tipis.


"Makanya, mulai hari ini gue mau ngajakin lo pada. Biar kita gak ditinggal dan mati konyol, kita harus beradaptasi... Maksud gue yah, kejar mimpi-mimpi kita biar kelak bisa banggain orang yang kita sayang," ucapnya pelan.

__ADS_1


Gama tertegun mengingat kedua orangtuanya, penyesalan datang menghampiri cowok bersurai cokelat itu. "Betul, Don, gue juga ngerasa yang kita lakuin selama ini salah.."


Nampak Doni menarik napas dalam, menyembunyikan air mata yang bertumpuk di ujung matanya. "Gue...terlambat banggain Ibu..., dan yang gue rasakan cuma kehampaan."


Semua terdiam terhanyut dalam pikiran masing-masing yang melayang kian ke mana. Hingga dari pintu seseorang menyahut lantang.


"GAMAA!!"


Gamaliel mendongak, terlihat Afif yang datang dengan seragam amburadul. "Anak-anak yang nongkrong di warung depan habis diacak-acak! Gila, mereka rame banget sumpaah!!" seru Afif hingga Gama berdiri.


"Sialaan! Kemaren Oji yang kena, gak ada puas-puasnya mereka, anjiing!!" marahnya sembari mengacak rambut kesal. Zero datang dengan raut judes.


"Mereka ngacak kita semua karena lo lembek! Kayak banci! Tahun lalu sama Raka kita semua disegani, cuma tahun ini aja. Pas elo yang mimpin Gam, Legion jadi bahan ejekan mereka."


"Diem lo!" cowok itu berteriak kencang, dadanya naik turun, amarah memuncak membakar ubun-ubunnya sampai Gamaliel menendang meja dengan keras hingga bertabrakan dengan dinding. "Gue gini demi keselamatan anak-anak Legion!"


"Kita harus balikin ini Gam! Gue gak terima nama sekolah kita diinjak-injak!" Afif menimpali, Gama jadi bingung.


"Udaah! Kita balesin mereka pulang sekolah!"


Cowok Ipa 1 yang sebagian anggota Legion bersorak setuju, hanya Doni yang terlihat ragu.


******


Kegaduhan mengisi daerah Taman Raya sepanjang jalan Malaka, daerah yang rawan dengan aksi tawuran. Bus berwarna hijau putih berhenti ketika Zaki berteriak. Rombongan pelajar dengan seragam putih abu-abu turun dari bus dengan tampang penuh dendam dan murka.


"Mana nih anak Taruna?!!" seru Zero kesal melihat tidak ada pelajar bersimbol Taruna di sekitarnya, hanya ada penduduk sekitar yang menatap mereka dengan pandangan awas.


"GAK ADA MEREKA, JEMPUT DI SEKOLAHANNYA AJA!" Gamaliel berteriak dari kejauhan, beberapa menunggu di pinggir jalan untuk memberhentikan bus. Hingga dari ujung jalan terlihat keramaian membanjiri jalan aspal. Cowok-cowok berandalan dalam balutan seragam Taruna datang membawa senjata yang diacungkan ke udara, seluruh pasukan Bhakty Jaya memasang wajah tegang.

__ADS_1


"Gilaaa! Banyak banget sumpah!" sahut Irham cemas, hampir lima puluhan cowok berseragam Taruna itu menguasai jalan Malaka.


"Gam! Gimana nih?" tanya Doni ragu.


"Lo kalo takut Don mending pulang sana!" Maki Zero kesal. Senjata dipegangnya kuat-kuat untuk menyambut musuh yang siap menerjang dalam jumlah banyak.


"Bisa kalah tanding kita nih!" celutuk anak kelas satu. "Kalo kita kompak gak bakal jebol! Makanya mental gak usah kayak banci!" balas Teuku kasar. Derap kaki semakin mendekat.


"Anak Legion yang dibawa cuma dua lima, Gam! Masih setengah, bisa mampus kita nih!" usut Orzie di belakangnya. Gama menoleh. "Kita harus balikin kalo gak mau harga diri Legion rusak! "


"Sumpah...gue..." lontar Doni kalang kabut. Zero menyela.


"UDAH GAK USAH NAKUTIN ORANG LU BANCI! KALO GAK MAU IKUT TINGGAL DIEM!" makinya.


Gama mendelik ke arah Doni, hatinya berubah-ubah. Entah kenapa, ini pertama kalinya ia ragu melawan musuh. Pikirannya carut marut, Zero terus memaksa maju sedangkan suasana sekitarnya semakin mencekam. Gamaliel tidak punya pilihan selain menyambut.


"Mungkin ini.... Bakal jadi tawuran terbesar selama hidup gue," ujar Doni pelan, Gamaliel masih bisa mendengarnya. Lagi-lagi pikirannya kosong.


"MUSUH DI DEPAN! MATA JANGAN JELALATAN!" seru Zero saat derap kaki mulai bergema dari jarak dua puluh meter.


Ada yang aneh, ketika Gamaliel menatap Doni. Cowok itu terlihat.....


Memudar?


Entahlah, ia jadi bingung. Ingin menarik pasukan sudah kepalang tanggung. Legion tidak bisa diberhentikan jika sedang buas, perasaan Gamaliel tambah ngeri lagi saat melihat Doni berdiri di sebelahnya sambil menepuk bahunya dengan senyum terpaksa.


"Gue backingin lo, Gam."


<><><><>

__ADS_1


__ADS_2