
"*Cari siapa...? Cari... Rudi...?"
"Atau... Ira... Khekhekhe*.."
Orzie dan Gama saling pandang, mereka sama-sama merinding sebelum akhirnya pemilik suara itu menepuk pundak Orzie pelan.
"Allahuakbar!"
Orzie terkejut kaya orang kena prank.
"Terkejut, ya?"
Orzie mengedipkan matanya, tiba-tiba seorang pria tua yang tidak dikenalnya datang. "Haha..iya," Orzie ketawa canggung.
"Tapi boong," Lanjut nya datar. Gama yang tadi hampir copot jantungnya terkekeh paksa, wajahnya bener-bener gak bisa dikondisikan.
"Kalian ngapain ke sini?" Tanya kakek dengan keriputan dalam itu, mungkin usianya udah satu abad kali.
Galaksi dan teman-temannya mendekat dengan wajah kebingungan. Mereka penasaran dengan apa yang dibicarakan Orzie, Gama dan kakek tua itu.
"Kita pada nyari setan pak.." jujur Orzie menggaruk tengkuknya dingin, ia tak mau berbohong dengan pria tua itu.
Kakek itu tertawa lebar, bahkan sampai membuat orang yang mendengarnya saling menatap. Tuh kakek tua kalo ketawa kayak gitu tulangnya pada geser semua kaga.
"Ini nih si Gama, kek. Pake ngajak-ngajak cari setan buat ilmu hitam," tuduh Oge mulai nyari perkara. Gama bisa merasakan aura-aura penuh dendam kesumat Oge.
"Itu kalo moyong lu dikasi nyawa bisa jadi Dajjal kaga? Fitnah mulu perasaan. Ngapain gue nyari setan, orang muka lu udah kek setan."
Mendengarnya Oge hanya menahan dongkol, Mahesa pun bodo amat Oge dikatain. Mamaknya dikatain juga bodo amat, asal jangan ngatain istrinya yang kacang-kacangan aja. Bisa diterbalikkannya ini satu sekolah.
"Kakek ngapain malam-malam di sini?" kata Orzie memerhatikan lelaki tua itu seksama, sama sekali bukan orang mencurigakan pikirnya. Kakek pun itu tersenyum tipis, "kakek lagi nyari sesuatu..."
"Nyari apa kek?"
"Kalian gak perlu tau," ujarnya tenang. Namun Orzie mencekal kakek itu sebelum ia pergi. "Kita bisa bantu, kok."
Teman-temannya nampak tidak setuju, tapi perintah Orzie juga tidak bisa mereka sangkal. Kakek itu mengulas senyumnya sedikit.
"Kalian tengah malam mau bantu nyari?"
Bodohnya, Orzie sama sekali gak ngeh kalau itu tengah malam dan justru malah ingin membantu lelaki asing itu. Ia seperti akrab dengannya, tapi seingat Orzie ia pun tak pernah berjumpa dengan Kakek itu.
"Benda yang kakek cari itu pasti berharga, kan?"
Mendengarnya Kakek itu seperti terkejut, namun senyumnya tak pernah mengendur, justru semakin terasa bersahabat. "Iya, itu cincin pernikahan saya yang udah hilang sepuluh tahun di sini."
"Sepuluh tahun?!" Batin mereka terkejut. Galaksi sebenarnya tidak ingin ikut, ia ingin segera pulang namun dia sendiri gak punya alasan.
Setelah menjelaskan kalau mereka berjanji akan membantu kakek itu pergi, mereka sempat kebingungan namun janji tetaplah janji.
"Seriusan kita nyarinya tengah malam gini?"
"Tau tuh si Oji, bikin repot aja dah."
Mereka memprotes jengkel, Orzie yang tengah fokus mencari di semak-semak dibuat buyar oleh ratapan mereka.
"Hes, Ge, lo bedua jangan bikin malaikat Atid gue kerja lembur gegara ngehujat lu pada."
__ADS_1
"Lah weh emang saban ari dia kerja lembur nyatat dosa lu yang kek air terjun itu."
"Punya temen sebiji kek lu nambah-nambahin dosa gue aja, Ge," dumelnya sambil mengikat rambutnya. Orzie menoleh ke samping dan mendapati Galaksi sedang melihat ke semak-semak.
"Heh!"
Galaksi menoleh datar.
"Cari! Jangan clingak-clinguk mulu kek kebo lu!"
Galaksi menurunkan alisnya tanda tak suka, ia menatap dengan mata hitamnya yang pekat.
"Selagi ada tangan lo ngapain gerakin tangan gue?"
"Ya jadi fungsi tangan lu buat apa sih??" Gemasnya sembari berjingkat, kalo bisa udah daritadi dia salto jungkar balik, tapi dia gak mau disangka binatang sirkus.
"Yang nyiptain Tuhan, bukan gue. Lo tanya sama Tuhan aja sana." Nada cowok itu semakin datar, ucapannya yang gak masuk akal itu yang selalu ngebuat Orzie hypertensi.
"Kek mana ceritanya gue tanya sama Tuhan, Gal!"
"Lo mati dulu, ntar kan ketemu sama Tuhan."
"Arrrghhh! Belum-belum aja udah qoid duluan gue jadi arwah penasaran gegara lu!"
Orzie berniat ke dalam gudang sekolah mencarinya, dia juga sadar tidak masuk akal mencari cincin yang sudah hilang sepuluh tahun itu. Bisa jadi udah dicuri, atau tertimbun tanah. Tapi dia tetap tidak bisa mengingkari janjinya, kalau tidak ketemu yasudah. Yang penting usaha dulu.
"Ckkkk!"
Orzie mendecak kesal luar biasa. Dia daritadi udah pengen makan tiang sekolah gara-gara manusia bergelar Roh Jahat itu.
"Lo sendiri ngapain pergi sendirian."
"Gue gak takut setan, jadi kaga perlu lu temenin! Gak ada untungnya lu temenin, Gal. Yang ada berbusa mulu mulut gue bacot mulu!"
Alasan sebenernya dia bukan pengen nemenin Orzie, justru Galaksi takut sama hantu. Kalo hantunya datang, Orzie bisa jadi alternatif buat melarikan diri. Biar Orzie jadi umpan, Galaksi tinggal lari.
"Oit gue ikut!" Gama berseru pada mereka, Cowok berambut cokelat itu setengah berlari, ia menatap lurus ke depan. "Nyok, berangkat. Lu di belakang gue, kita maen kereta api tut tut tut... Siapa hendak turun.."
"Astagfirullah seekor jomlokiawan dari mana lagi ini," tawa Orzie ngenes. Bisa gak sih dia sehari aja gak ngumpat gitu, mungkin kalo bisa resign Bang Atid pun ogah nyatat dosa anak itu.
"Aman lu kalo ada gue. Setannya datang biar gue ajak tawuran dah... Hahahaha," tawa anak itu pecah. Orzie menimpali. "Sama tingkap jendela aja kelahi lu, apalagi sama setan ye?"
"Hooh!"
Duo sejoli itu bertos riang, Galaksi menggendikan bahu cuek. Bagus. Nambah satu umpan nih.
Mereka berputar-putar kebingungan, bahkan Oge tidak terlihat lagi. Mereka berpencar. Gama juga memilih mencari sendiri setelah setengah jam tidak menemukan apapun. Tinggal Galaksi dan Orzie di halaman belakang sekolah, teman mereka pada gak mau ke sini karena tempat ini angker. Jarang ada orang yang mau datang, karena letak sumur itu juga di halaman belakang sekolah.
Galaksi mulai tak nyaman, ia menggenggam tangan Orzie memaksa meninggalkan tempat itu. "Apa sih Gal?"
"Jangan di sini."
"Kali aja cincinnya ada di sini."
Galaksi tak mau membalas lagi, namun dia tetap kekeh menggeret Orzie. Tubuhnya tidak nyaman dengan aura sekitarnya, seakan-akan ada sosok yang memerhatikan mereka.
Orzie menajamkan pandangannya di sekitar sumur itu.
__ADS_1
"Itu kakek yang tadi, kan?!"
Galaksi menoleh ke arah yang ditunjuk cewek itu. Terlihat kakek yang tadi berdiri di samping sumur itu.
"Kek?" ujar Orzie ketika sampai di samping pria tua itu, ia tak bisa mengartikan tatapan kosong dari mata yang mulai kelabu itu. Sosoknya seperti menyatu dalam kegelapan bersama sendu dan kesepian.
"Banyak orang yang datang untuk mencari tau tentang Rudi dan Ira."
Suara tersebut timbul tenggelam, Orzie menyadari genggaman Galaksi semakin mengerat dengan alisnya yang menukik. Kakek itu tertawa kecil.
"Terimakasih sudah mau membantu mencarinya..."
Orzie mengalihkan tatapannya ke mulut sumur, tampak pantulan bulan purnama di atas riak airnya, ia bisa melihat pantulannya dan Galaksi di air sumur tetapi tidak dengan bayangan kakek itu. Orzie pun bisa merasakan kesedihan di balik tatapan kakek tersebut.
Sesaat Orzie berjongkok ketika mendapati kilauan di balik rumput yang tumbuh di pinggir sumur. Galaksi dan kakek itu memerhatikan dengan seksama sampai terlihat sebuah cincin di tangan Orzie.
Kakek itu menatap seolah tak percaya, barang yang selama ini dia cari-cari ada di tangan Orzie. Kakek itu langsung mengambil tanpa kata-kata, seolah barang itu lebih berharga daripada nyawanya sendiri.
"Terimakasih.. terimakasih.. terimakasih..." Kata terimakasihnya terus berulang-ulang, ia bahkan menangis. Orzie terdiam dengan raut wajah sedih. Bukan karena tangisan pilu lelaki itu, tetapi karena ia tak merasakan apa-apa ketika tangannya dan tangan kakek itu bersentuhan.
"Sama-sama kek..." ujarnya lirih.
***
Beberapa hari berlalu setelah itu, Gamaliel dan anak Legion yang sedang nongkrong dengan Bang Zero menyinggung soal sumur tua itu, anak-anak Legion menyimak penuturan kakak kelas mereka yang lebih senior.
"Sumur itu tempat bunuh diri dua pasangan yang gak dapat restu dari orang tua mereka. Yang perempuannya sebenarnya bakal menikah dengan orang Belanda,"
"Kenapa?" Timbrung Teuku penasaran.
"Perempuannya itu denger-denger sih cantik banget, bahkan sampe ngebuat orang Belanda terpaksa menghasut orang tua cewek itu dengan ancaman nyawa kalo gak menuruti permintaan dia."
Tidak ada yang berkomentar.
"Lakinya yang bernama Rudi ini terlalu sayang sama calon istrinya dan berniat bunuh diri sama-sama.."
Kisah ini membuat orang mendengarnya agak miris.
"Gue denger sih, setahun sejak kematian mereka ada banyak hal ganjil yang terjadi. Senior angkatan lama kita pernah cerita, pas mereka bunuh diri cincin di mayat perempuannya gak ada."
"Dicuri?"
"Kurang tau, dan si Rudi ini selalu gentayangan buat nyari cincin istrinya."
Napas Galaksi dan Orzie tercekat, mereka saling menatap lama.
Gamaliel yang merasa aneh pun ikut bersuara, "kenapa?"
"Lo ada nanya nama kakek itu gak?"
"Enggak." Gama menjawab anteng sebelum ucapan Orzie membuatnya mendadak bisu.
"Jangan-jangan kakek yang kemaren itu namanya Rudi?"
***
Genrenya apa nih?? W suka bgt bikin selingan humor+horor gitu😂yodah kelen baca ajalah yg penting author seneng awokwokwk
__ADS_1