Galaksi

Galaksi
Episode 38 Chapter 38 | Pernyataan Audrey


__ADS_3

"Ada yang harus gue jelasin ke lo..." ujar Audrey takut, Orzie menghampirinya lambat masih dengan wajah jengkel.


Ia mendengus samar. "Apa Rey?"


"Janji lo jangan bilang ke Galaksi, yah?" ucap cewek itu berbisik sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Orzie menyambut sambil mendekatkan wajah. "Kenapa sih?"


Setelah memastikan Galaksi  tertidur di mejanya, Audrey mulai bercerita.


"Jadi gini...Ji, pas elo sakit dua hari itu gue lihat si Galaksi didempetin sama Gisel mulu!" kesalnya masih setengah berbisik.


"Apaan sih gak penting amat," sungut Orzie berdecak sebal namun dilihatnya Audrey memelototkan matanya seram. "Denger dulu," ucapnya.


"Lo tahu kan, Galaksi ogahan banget nanggepin tuh nenek lamvir. Jangankan ngejawab, ngelihat si Gisel aja ogah dia!"


"Yah terus intinya apaan nyet?" selak Orzie mulai tidak sabaran. Audrey kembali berbisik ria.


"Pas habis rapat OSIS si Galaksi balik ke kelas. Kebetulan waktu itu cuma ada gue sama dia di kelas, gue nanya dong kenapa tuh anak gak mau deketin cewek lain selain lo."


Terlihat Orzie mengembus napas lelah. Tahu jawabannya pasti,


"Dia itu babu gue!"


Tiba-tiba Audrey berbicara, "Iya! Dia bilang lo cuma babu dia!"


Jelas Orzie makin kesel sama sahabat kampretnya itu. "Udah? Itu aja? Mending gue ngemeng sama bangku lagi,"


"Denger dulu Ji..."


"Mang dari tadi lo ngira gue ngapain Rey? Makan spanduk?" mendengar lontaran sebal itu Audrey nyengir lebar.


"Gue kepo dong Ji, yaudahlah gue nanya gini, 'lo kayaknya suka sama Oji yah? Gue tahu, kok, gak usah ngelak. Kalian cocok, lo mau nanya gue tahu dari mana? Dari wajah lo aja gue bisa nebak!'"


Orzie menepuk jidat sambil menggeram, sahabatnya satu ini benar-benar menggoda tangannya untuk sekedar menampol dengan kekuatan Madara.


"Lo goblok atau udah habis paramex sih di rumah?!"


"Salah ya? Kan niat gue baik, Ji."


"Baik pale kau melayang! Gara-gara lo tuh anak marah-marahin gue di kantin tadi, yah gak mungkin amat dia suka sama gue, apalagi gue yang suka sama dia, hiiih!" Orzie bergidik ngeri.


"Biasanya kalo dia emang suka pasti dia bakal ngehindar Ji..."


"Yah dia canggunglah geblek!"


"Orang kayak Galaksi canggung?"


Sekarang Orzie terdiam.

__ADS_1


"Udahlah gak usah dibahas, ngebul nih kepala gue," katanya sambil menggelosor malas menutupi wajah dengan buku.


Ada yang aneh dalam dirinya.


Kenapa dia berharap apa yang dikatakan Audrey benar?


Orzie kembali memejamkan mata, kali ini dia berniat untuk tidur hingga di sampingnya terlihat Doni datang membawa buku catatan.


"Oji, ajarin Fisika lu, gue pening nih!" adunya dengan tampang berkerut. Orzie menegakkan punggungnya menatap Doni dan Teuku duduk di meja belakang dengan mulut mengumpat-ngumpat.


"Gila! Nih yang buat rumus perasaan sentimen amat sama gue? Pake nanya kecepatan mobil lagi! Kalo ditanya warna ** Doni mah gue tahu!"


"Warna apa emang Ku?" tanya Orzie bercelutuk, moodnya mulai naik saat mahkluk kampret seperti Teuku memulai perkara.


"Ijo belalang sembah!"


"HAHAHAHAH!!" tawa berderai mengisi kelas.


"Tumben banget lo berdua belajar?"


"Gue dipaksa si Doni nih!" kata Teuku gak terima, Doni menyengir bodoh sambil menggaruk tengkuk. "Yah, gue kan mau pinter juga, minimal kayak lo Ji."


"Tumben amat lo Don, biasa juga garukin pintu kost-kostan anak cewek lah sekarang tiba-tiba udah niatan belajar?" timbrung Zaki aneh, Teuku menjawab enteng. "Kesambar geledek dia semalem abis nyolong ** nenek-nenek!"


"Omongan lo kampreeet!" kesel Doni.


"Emang betul, hahahah!!" tawa meledak dari mulutnya. Wajah Doni berangsur serius dengan bola mata menatap Orzie mantap.


"Gue mau belajar, kan bentar lagi kenaikan kelas 3. Hari ini pun ada ulangan Fisika, lu bantuin gue pat! Ibu gue ngidam banget nih gue dapet nilai bagus," kata Doni penuh semangat.


"Iya, lo belajar gini emang mau jadi apa Don? Jadi tukang panjat kelapa lu?"


"Dikata gue monyet?! Jadi pengusaha dong... gak liat lo muka ganteng gini? Lo sendiri, Ji?"


"Jadi dokterlah Don, ntar kalo elu semua sakit gak usah ke klinik orang, datang ke gue aja biar sekalian gue mampusin elu pada, hahahaha!!"


"Yah si kampret! Inget nih baik-baik! Gue bakal jadi aktor paling kece!" seru Teuku lantang.


"Ke mana-mana yang cocok itu gue, Ku!" timpal Gamaliel. Zaki, Mahesa, Afif dan yang lain juga ikut berdebat merebutkan profesi aktor paling kece yang belum tentu mereka dapatkan. Tukang ngarep, dasar.


"Lihat aja Ji, habis lulus dari SMA Bhakty Jaya gue bakal buktiin ke semua orang kalau gue juga bisa jadi orang sukses! Mimpi-mimpi kita bakal terwujud mulai hari ini, dan gue mau kita semua berjuang!!!" seru Doni dengan kencang, yang lainnya ikut bersorak gembira.


"Aelah gaya doang lo Don! Cepet belajar lu, jangan bolos-bolos lagi, abistu tugas kerjain! Kalo lo kesusahan tinggal nanya ama gue aja!" ujar Orzie lalu mengembangkan senyum, bahagia rasanya melihat para berandalan itu menemukan jati diri mereka.


"Siyaap kapten!" Doni memberi hormat sambil membungkukkan badan, Orzie ketawa ngenes menabok kepala anak itu.


"Bawaannya udah kek gue buyut lo setan!"

__ADS_1


"Hahahah!!"


*****


Hampir setengah jam Orzie dibuat gondok dengan tabiat para cowok dekil and the buluk itu, mereka banyak bertukar canda tawa. Sebagiannya menyimak, selebihnya malah mengomentari materi dengan hal-hal gak masuk akal yang cukup memancing tertawaan seisi kelas.


Guru Fisika masuk lengkap dengan laptop ditenteng di tangannya, guru itu menatap barisan cowok aneh.


"Tumben kalian masuk. Biasanya lari-larian di lapangan minta ibu kejar," ujarnya mengundang tertawaan seisi kelas. Memang kalau urusan menyuruh mereka masuk kelas udah kayak masukin anak ayam ke kandang. Kadang harus dibarengi dengan maki-memaki, hujat menghujat, dan tabok-menabok.


"Kita mau ikut ulanganlah buk!" sahut Doni antusias.


"Bagus, bagus, sekarang keluarkan kertas selembar, kita ulangan."


Selama ulangan berlangsung mereka tetap fokus karena tidak ada bacotan aneh dari deretan para cowok yang kini diam meratapi soal sambil menengadah menatap langit, berharap jatuhnya cahaya Ilahi.


"Semoga nilai fisika gue bagus. Bu, doain Doni ya." batin Doni lalu tersenyum tipis, lanjut menyelesaikan soal listrik statis di hadapannya.


"Lima menit lagi waktu habis!" peringat guru Fisika itu. Doni mengumpulkan lembar jawabannya lega, mungkin tidak benar semua tapi paling tidak itu murni hasil kerja kerasnya.


Guru Fisika itu tersenyum memandang Doni. Cowok itu tersenyum kikuk lalu kembali ke mejanya, di saat bersamaan sebuah langkah derap kaki berjalan cepat menuju pintu kelas.


"Don...."


Doni mendongak melihat Adrian–sepupunya– yang kini dalam balutan almameter kampus berdiri di sana dengan wajah pias dan mata sembab.


"I-ibu Don..." ucapnya bergetar seraya berusaha menegarkan Doni dan dirinya sendiri.


Doni berdiri cepat dengan jantung berpacu cepat, wajahnya berubah tegang.


"Gak, Ibu ..."


Tiba-tiba Doni berlari sampai menabrak keras bahu Adrian, sepupunya itu terhempas jatuh. Ia berusaha berdiri melihat Doni berlarian di koridor kelas.


Orzie berdiri mematung, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"I-ibu Doni kenapa Bang?"


"Ibu...meninggal..."


Brukkh!


Terdengar bunyi terjatuh dari kejauhan, Teuku berlari ke sumber suara melihat Doni terjatuh sambil menangis perih.


"Ibu.....!!!!!!"


*****

__ADS_1


__ADS_2