Galaksi

Galaksi
Penutup


__ADS_3

Tiga tahun berlalu sejak hari itu...


Hari di mana hujan yang seharusnya menyejukkan hati terasa mencekik sampai ke jantung. Benci, penyesalan, air mata, kecewa, semuanya..


Angin bertiup kencang. Embun mengalir di kaca jendela. Pepohonan bergemerisik ribut saling menyahut. Semesta, boleh gue minta sesuatu?


Sesuatu yang mustahil.


Untuk orang yang paling gue sayang, orang yang sering gue kecewakan, orang yang kehilangan segala mimpinya demi manusia menyedihkan seperti gue...


Tolong, hamba minta tolong dengan sangat.


Pertemukan kami kembali, entah itu di mana. Di mimpi? Di alam lain? Atau di tempat antah berantah, untuk meminta maaf.


Kring kring kring!


Sebuah lonceng yang gue sangkutkan di jendela apartemen berdenting pelan tertiup angin yang masuk. Seharusnya lonceng pemberian Mama itu sepasang, entah di mana gue menjatuhkannya.


Bayangan masa lalu terus menyerobot di balik layar, menghantui terus-menerus dalam penyesalan.


Belum lagi beberapa hari lalu Papa bakal menjodohkan gue buat sebuah kepentingan bisnis.


"Yang tadi itu sahabat Papa, om Jedi."


"Kamu ingat, kan? Pas Papa bangkrut dua bulan lalu? Rumah kita sampai hampir dijual gara-gara hutang perusahaan. Belum lagi bayar uang kuliah kamu sama Gama.."


"Sebagai bayarannya, Om Jedi minta supaya kamu mau tunangan sama anak sulungnya, Chelsea."


🕖


Author's POV


Galaksi mencoba menarik napas dalam-dalam. Tangan putihnya mengepal erat menunjukkan urat-uratnya. Jam menunjukkan angka 07.01, ia tidak bisa tidur. Hari ini hari pertunangannya dengan Chelsea.


"Sialan!!!!" teriaknya penuh kekesalan. Kamar serba gelap miliknya sudah berantakan sejak subuh tadi. Jejak air wudhu dari wajahnya seakan tidak menyembuhkan rasa apa-apa.


"Kenapa hidup gue bisa sehancur ini sih?!!" sesalnya sambil mengacak-acak rambutnya, ia menunduk.


Ji, seharusnya lo ada di sini....


Lo tahu? Gue bakal menikah, dengan orang yang gak pernah gue suka. Demi apapun itu, gue gak rela.


Berulang kali mengusap wajahnya kasar. Bergantian sekarang mata Galaksi mulai menghangat. Entah kenapa, setiap berbicara pada Orzie di dalam pikirannya sendiri ia merasa lebih lega. Tidak ada seorangpun yang mampu membuatnya selega ini. Rasa aman ketika bersama seseorang, ketika bersamanya semua berjalan seperti 'semua akan baik-baik aja'.


Galaksi merapihkan rak buku sambil mencari sesuatu. Dapat. Sebuah buku berbatik yang sangat tua. Buku yang belum sempat ia berikan ke pemiliknya sebelum cewek itu mengembuskan napas terakhirnya di bawah tangisan sang hujan.


Ia membuka lembar terakhir, terlihat rentetan tulisan rapi yang seseorang tulis dengan begitu bahagianya.

__ADS_1


Oji ❤️Corbyn


Pikirannya terbang jauh, saat hari pertama Orzie menjadi budaknya. Galaksi merampas buku itu dengan tega sambil membacakannya di depan kelas. Hari itu cewek itu menangis. Galaksi pikir itu menyenangkan, menyiksa mahkluk lemah sepertinya. Bisa dipastikan, setelah itu Orzie lebih berhati-hati padanya bahkan sampai menyalin surah An-Nas di setiap lembar terakhir bukunya.


"Emang lo pikir si Corbyn-Corbyn itu mau sama cewek bentukannya kek lo?"


"Biarin! Kan gue cuma ngehalu Gal! Lagian kalo emang jodoh gak akan ke mana! Wleekk!!"


Kalo jodoh, ya?


Hari itu sebenarnya gue sempat berpikir. Apa Tuhan menjodohkan gue untuk lo? Walaupun setelah itu gue langsung terbahak dan geli sendiri.


"Gue percaya setiap kata-kata lo, Ji. Ya, kalo jodoh gak akan ke mana. Pasti."


🕤


"Lo gak apa?"


Galaksi tersentak kaget. Seorang cowok dalam balutan kemeja hitam sedang mengerutkan alisnya khawatir, dia adiknya, Gamaliel.


"Gue tahu lo sebenarnya gak mau, Gal." Gamaliel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia melihat jelas wajah frustasi Abangnya. Galaksi tanpa sadar mengepalkan tangan erat.


"Lo masih belum ngelupain dia kan? Gal, jangan bekuin hati lo... Gue gak pernah mau lo jadi kayak gini," kata adiknya untuk ke ribuan kalinya. Sebenarnya Galaksi sudah muak mendengar itu. Dia sendiri tidak sadar, mungkin karena setelah hari itu seluruh dunia seperti hujan setiap waktu. Tiga tahun yang lalu, dalam sekejab, Galaksi sangat membenci hujan.


"Gue gak tahu harus gimana, bodoh!" umpat Galaksi dalam hati. Dia tidak mau bersuara lagi, justru hatinya terasa lebih sakit. Untuk saat ini, besok, atau ke depannya. Berbicara justru membuat luka lama dalam hatinya berdarah lagi.


"Dia... Masih ada."


Gamaliel mendorong punggung Galaksi, cowok itu tersenyum kecil. "Yang di sini biar gue yang urus."


"Gam...?" Galaksi menatap penuh kebingungan.


"Gue bakal gantiin posisi lo, inget? Muka kita kembar! Udah, aman tuh. Lo harus mastiin itu betul atau enggak."


"Lo tahu darima—"


"Gisel."


Setahunya setelah hari itu, seharusnya Gisel tidak ada lagi. Cewek menyebalkan itu seperti hilang ditelan bumi. Kenapa Gisel..


"Buruan dah lo! Ntar aja mikirnya, geblek!! Tuh tamu makin banyak Gal!!" seru Gama kesal.


Galaksi mengayunkan kaki panjangnya pelan, semakin cepat, bertambah cepat, berlari meninggalkan rumah. Entah ke mana dia harus mencari, apalagi dengan informasi yang sangat mustahil itu.


Mungkin saja salah. Meskipun ia berharap benar.


Tuhan, hamba minta tolong dengan sangat.

__ADS_1


Pertemukan kami. Di mana pun. Di mimpi, di suatu tempat, di dimensi lain. Hanya untuk meminta maaf.


"Hey!! Kalo jalan liat-liat dong!!" protes seorang ibu-ibu ketika Galaksi tanpa sadar menabraknya, namun wajah jengkelnya segera berubah setelah melihat wajah tampan cowok itu.


Galaksi kembali berlari. Melalui trotoar, melewati puluhan kaki, memasuki gang kecil, ke toko-toko buku, taman perkotaan sampai ia kelelahan berlari.


"Gak ada! Sialan!" kesalnya seraya meninju dinding. Napasnya terengah-engah sangat lama. Galaksi menyenderkan tubuhnya di kaca pertokoan, matanya bergulir ke arah lain.


"Bohong lo Gam!" kesalnya pada Gamaliel. Tidak ada. Omongan Gamaliel bohong. Galaksi melempar jas hitam miliknya ke tong sampah lalu memilih kembali ke rumah. Menerima kenyataan bahwa dirinya akan menikah dengan—


"Biarin! Kan gue cuma ngehalu Gal! Lagian kalo emang jodoh gak akan ke mana! Wleekk!!"


Kalau emang jodoh gak akan ke mana? Entah kenapa, gue selalu percaya ucapan lo itu.


Dan seorang cewek berambut hitam panjang yang kini memakai tas kuning minions serta lonceng kecil itu membuat Galaksi terdiam.


Kring... Kring... Kring...


Ia teringat saat-saat paling menyakitkan itu, ketika akhirnya jiwa pengecutnya hilang, ia baru bisa menghadiahkan lonceng itu sesaat setelah Orzie tiada.


Suara dentingan lonceng yang diikat di resleting tas kuning itu sama persis seperti yang setiap hari berbunyi di apartemennya. Tidak salah lagi, tapi Galaksi tidak begitu yakin apakah benar?


Bukankah hari itu semua sudah berakhir?


"Ji..."


Pepohonan yang dari tadi ribut mendadak bisu, burung-burung gereja bertengger menyaksikan, dunia terasa berhenti. Semesta seperti memerhatikan mereka, yang dipisahkan oleh keadaan dan disatukan dalam keputusasaan.


"... Siapa?"


🕙


TAMAT


_______


NYIAHAHHAHAHAHAHAHHAHA


Udh gw bilang jgn diapus dulu, kan gw belom buat epilognya mwehehe


Krna klian terlanjur gondok ama sifat ngeselinnya Galaksi, ntar deh klian bkal liat sisi lainnya di SEQUEL GALAKSI. sabar ae lah, nungguin ZAF kelar dulu aduh mak oyy!


Satu lgi ding, yg mau join ke grup gua siapa aja nihh? ini linknya cuy https://chat.whatsapp.com/JTl0TCZIfyrJBr9jqWNnsT


Plis jgn maksa gw buat bilang Oji msi idup apa nggk😂🔪


ketemu di sequel Galaksi:)

__ADS_1


__ADS_2