
Episode 9
dua orang baya... baru tiba di sebuah bandara Soekarno-Hatta dengan di kawal oleh beberapa bodyguard.
mereka terus berjalan sampai mereka keluar dari stasiun bandara dan menuju mobil yang sudah menunggu mereka berdua. dengan segera dua baya itu memasuki mobil sebelum mobil itu di jalankan... dengan di ikuti dua mobil satu di depan dan di belakang...
"kenapa anak itu tidak menjemput kita pah, apa gadrian tidak mengetahui kedatangan kita"tanya sakura dengan kesal
"tentu saja dia tau mah, apa mama tidak lihat sekarang ini kita sedang di jemput oleh pengawas putra kita... apa mama pikir ini pengawal kita"ucap domanix kepada sang istri.
"tapi tetap saja pah, Adrian tidak menjemput kita, itu sama saja dia tidak mengetahui kedatangan ini, apa papa tidak berpikir kalau mereka pasti di suruh oleh zayyan"ucap sakura.
"ah sudahlah ma berdebat denganmu, membuat papa nyerah"ucap domanix yang lebih memilih mengalah perdebatan dengan sang istri.
"papah sama saja dengan Andrian "ucap sakura yang sekarang sedang mode ngambek.
tidak memakan 10 jam dua orang bermarga smiht sudah sampai di sebuah mansion yang lumayan besar.
"ini mansion siapa pah? apa Adrian? tapi kapan anak itu memiliki mansion di Indonesia"tanya sakura sambil menatap megahnya mansion yang berdua di depannya.
"papah juga tidak tau, apa mama pikir papah terus mengikuti Adrian seperti zayyan itu"ucap domanix. dia juga sama dengan sakura yang bertanya-tanya tentang Adrian namun dirinya tidak mengatakan secara langsung.
"tapi kan, pasti papah tau lah tentang Adrian"ucap sakura keluar dari mobil
"silahkan ikut kami tuan besar dan nyonya besar smiht"ucap bodyguard.
"apa ini mansion putra saya?"tanya sakura.
"benar nyonya smiht"ucap bodyguard.
"kapan putra saya memiliki mansion di Indonesia?"tanya sakura lagi yang kini sedang mengintrogasi salah satu bodyguard gadrian.
__ADS_1
"kalau saya tidak salah satu tahun yang lalu nyonya besar"ucap bodyguard.
"oh satu tahun"ucap sakura mengangguk.
"kita sudah sampai tuan dan nyonya besar, silahkan masuk"ucap bodyguard sambil mempersilahkan dua baya smiht itu masuk kedalam.
"selamat datang Dady mommy"sapa gadrian saat melihat kedua orang tuanya masuk kedalam mansion dirinya.
"kamu anak nakal, kenapa tidak menjemput mommy di bandara ha"tanya sakura sambil berjalan cepat kearah gadrian dan langsung memeluknya.
"sorry mommy gadrian memiliki pekerjaan tadi"ucap gadrian dengan wajah santainya. seolah dia tidak benar-benar tidak melakukan kesalahan.
"kamu ini, dan katakan pada mommy mu ini, apa yang kamu lakukan dengan perempuan itu sampai² kau ingin langsung menikahinya, apa kau menghamilinya "tanya sakura dengan tatapan curiga
"mommy aku tidak mungkin melakukan hal sebejat itu"ucap gadrian dia tidak percaya mommy menuduhnya melakukan seperti itu.
"meski dulu aku arogan dan sombong, aku tidak mungkin mele*cehkan perempuan... jika aku seperti itu sama saja aku merendahkan Harga diri bundaku sendiri"ucap gadrian menyakini sang bunda.
"lebih baik mommy istirahat, nanti aku akan memperkenalkan mommy dengan calon menantu mommy" ucap gadrian.
"baiklah tapi awas jika sampai kamu tidak mempertemukan mommy dengan dia, mama ingin lihat etika dari perempuan itu"ucap sakura.
"baik, antara orangtuaku ke kamar yang sudah di sediakan "ucap gadrian menyuruh Maid yang ada disana mengantar kedua orangtuanya menuju kamar.
"baik tuan muda"ucap para maid segera mereka mengambil alih koper yang di seret oleh salah satu bodyguard yang mengantar mereka.
melihat kedua orang tuanya menaiki tangga, gadrian segera bergegas melangkah menuju keluar dia memiliki urusan yang sedikit penting
di tempat lain halaman kampus.
Stella sedang duduk di salah satu bangku halaman sambil memperhatikan sekitarnya dengan di temani beberapa cemilan.
__ADS_1
"aku harus segera menyelesaikan ini semua. lebih cepat lebih bagus untuk menyingkirkan mereka. aku tidak tahu bagaimana masa depan nantinya karna aku sedikit merubahnya"ucap gristella
"aku juga harus segera masuk kedalam rumah Yudhoyono"ucap gristella mengepalkan tangannya mengingat kehidupan pertamanya yang berakhir tragis di tangan keluarga itu
"Stella kamu disini aku cariin juga"ucap perempuan berjalan kearah Stella dan duduk di sampingnya bahkan dia dengan berani mengambil cemilan Stella.
"ada apa?"tanya gristella tatapan malas.
perempuan di sampingnya adalah sahabatnya bernama maira. Stella memiliki beberapa sahabat namun separuh sahabatnya lebih memilih kampus di luar negeri dari pada di sini.
"gak papa, Stella kita ke restoran yuk, di restoran bintang dua memiliki menu baru loh, Lo mau kan makan di restoran sekalian mencicipi menu makan baru"tanya maira dengan mata antusias saat mengatakan itu.
"mm boleh deh aku juga sedikit penasaran dengan menu baru restoran bintang dua itu"ucap gristella.
"ok nanti setelah aku selesai kelas. kita pergi kesana. kamu tunggu aku yah"ucap maira dan di jawab anggukan oleh Stella.
"kalau begitu aku akan pergi"ucap maira setelah mengatakannya.
Stella menatap kepergian maira. dia ingat waktu itu saat dia, maira dan kekasihnya. makan di restoran bintang dua, waktu itu maira dan kekasihnya ketinggalan dompet bersama tapi dia tidak mencurigai sama sekali tentang keduanya pada akhirnya dia harus membayar semua makan yang mereka pesan.
"aku tidak akan membiarkan itu terjadi, tunggu saja pembalasanku"ucap gristella.
Di negara lain.
di sebuah rumah sakit terbesar di negara Italia.
terlihat seorang sedang terbaring di rumah sakit. tidak ada yang tahu apa dia perempuan atau lelaki karna tubuhnya di balut dengan kain perban.
beberapa alat menempel di tubuh orang itu.
"kamu harus bangun, ini sudah delapan tahun kamu hanya berbaring di berangkas, apa kamu tidak merindukanku, Aku mohon bangun sayang"ucapnya dengan air mata yang mengalir. orang itu hanya bisa menatap dari kaca pembatas dari ruangan orang yang di lihat dengan seluruh tubuh di perban itu
__ADS_1