Gavin- Survive On The Terrible Island

Gavin- Survive On The Terrible Island
Chapter 30


__ADS_3

" duduklah disini.. " ucapku menepuk lantai yang beralaskan daun talas disebelahku


" umm.., "


marissa tampak ragu dan kemudian perlahan duduk di sebelahku


" kenapa..? apa kamu masih marah karena perkataanku mengenai perompak yang mengancammu waktu itu ? "


marissa yang sebelumnya tampak sedikit enggan menatap wajahku, ketika mendengar aku bertanya seperti itu lantas langsung menoleh tanpa ragu untuk mengarahkan pandangannya padaku.


" jadi benar kamu marah ?? apa kamu sangat kesal padaku sekarangg ?? "


" alasan..., " marissa menggerakan tubuhnya lebih mendekat padaku sebelum dia menatapku dengan wajah lebih serius " berikan aku sebuah alasan untuk itu.. kenapa kau mengatakan hal yang kejam begitu mudahnya.. ??"


dia sampai sebegitunya memikirkan hal ini ?? ..


ya wajar sih. tapi aku suka dengan caranya yang secara terang-terangan meminta penjelasan.. masalah ini jadi tidak akan semakin berlarut-larut


" aku.."


saat aku ingin menjawab pertanyaan dari marissa. dia memasang wajah yang cemberut dan terus menatapku dari dekat..


" hey, bisakah kamu bertanya dengan sedikit lebih tenang?? "


" tidak.., aku tidak akan bisa tenang sebelum kamu menjawab pertanyaan besar dalam pikiranku ini "


" hoo.., apa itu masalah besar ?? "


" sangat besar.., hingga aku tidak bisa berhenti memikirkannya.. "


" hoo.. apa itu berarti kamu terus memikirkanku ?? "


" ya jelas. " marissa mengatakannya tanpa berpikir. namun setelahnya dia tersadar dengan ucapannya kemudian menjadi malu dan mulai salah tingkah memalingkan wajahnya dariku


" hen..hentikan memasang wajah aneh seperti itu. sudah jawab saja pertanyaanku..! "


padahal dia yang sedang memasang wajah aneh sekarang..


" humm.., ya baiklah aku akan mengatakannya sekarang.. "


" hum. katakan secepatnya.. "


" kamu ini tidak sabaran..


" hey... cepat....! "


dengan ekspresi menahan tawa. aku mulai menjawab pertanyaan dari marissa sebelumnya.


" sebenarnya aku tau perompak itu tidak akan mungkin untuk membunuhmu "


" ooh benarkah ?? "


" iya, mungkin "


" mu..mungkin ?? kamu..


" tenang dulu.. aku belum selesai menjelaskannya.. "


" uh ooke.. humm.. haaa" ucap


marissa tampak menahan nafas di dadanya dan membuang nafas yang panjang " ayo jelaskan "


" ada suatu alasan kenapa mereka tetap memburu kita di hutan yang berbahaya ini. padahal jika dibiarkan, mungkin kita akan mati dengan sendirinya "

__ADS_1


" umm.. "


" mereka bahkan sampai rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk mengejar kita di hutan penuh misteri ini"


" terus ? "


" apa kamu belum mengerti juga ?! "


" hummm ?? mengerti apa..?? "


" cih. itu berarti mereka sedang berusaha untuk menangkapmu hidup-hidup.. mungkin untuk dijadikan sandra atau semacamnya. "


" ya terus ? "


" huh ?.. terus apanya ?? kan sudah jelas mereka tidak akan berani untuk membunuhmu. karena kamu adalah orang yang penting untuk dijadikan tawanan hidup-hidup "


" bukan itu yang ingin aku dengar. aku sudah mengerti tentang perampok yang tidak akan membunuhku "


" humm ??.. jika sudah mengerti lalu apa lagi yang ingin kamu dengar.. "


" kamu bukan orang bodoh.. kamu tau maksudku.. " tanya marissa bertopang dagu dengan ekspresi bosan


" aku tidak mengerti.. apa salahnya tinggal bilang ?? "


" cih..., "


" jangan hanya bilang cih.., "


" yang aku tanya dari awal.. kenapa kamu tega berkata " kau pikir aku perduli dengan dia " dengan tatapan dingin sewaktu aku di ancam dengan sebilah pedang di leherku ?? "


" humm?? "


aku tertegun dengan mulut yang rapat. aku tidak bisa mengatakan apapun untuk menjawab pertanyaan dari marissa.


apakah aku punya sebuah alasan??


tidak. alasan apapun tidak akan cukup untuk memperbaiki ucapanku itu..


" kenapa kamu sejahat itu ? apa kamu bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaanku waktu kamu mengatakan kalimat itu ?? " ucap marissa dengan nada yang berat. matanya mulai terlihat berkaca-kaca.. dia tampak begitu sedih.


haa.. apa yang harus aku katakan..


aku memang kesal padanya waktu dia membohongiku bahwa dia dan doni telah bertunangan.


tapi sebenarnya aku tidak punya alasan untuk marah karena bagaimanapun tidak ada sangkut pautnya denganku mengenai hubungan orang lain.


" apa karena kamu marah ?? "


aku sontak terkejut menoleh kearah marissa. saat dia menanyakan hal itu..


" aku marah?? "


" ya. kamu marah karena aku telah bertunangan dengan doni ?? "


apa maksudnya aku marah dengan pertunangan mereka ?? .. ada-ada saja


tapi..


kenapa dadaku terasa sakit saat mendengar darinya langsung, bahwa dia telah bertunangan ??


apa yang terjadi??


sejak kapan aku menjadi seemosional ini ??

__ADS_1


tidak.. tidak. ini mungkin hanya perasaan takutku saja yang telah menumpuk hingga membuat perasaan pahit seperti ini.


ya. sudah pasti..


" humm ? "


aku terkejut sekaligus mematung ketika marissa mendekat kemudian memeluk erat tubuhku..


" vinn.., maafkan aku. aku tidak bermaksud membohongimu tentang hubunganku dengan doni.. "


" a.. apa yang kamu katakan sa? aku tidak mengerti. aku.. sama sekali tidak marah. kenapa aku harus marah ? "


" kamu bohong vinn.., aku masih ingat dengan jelas bagaimana kamu langsung meninggalkanku saat itu. dan juga tatapan dinginmu saat bilang tidak perduli padaku waktu aku diancam oleh perompak itu.."


" kamu salah paham sa. mana mungkin aku marah pada hubungan orang lain, aku tidak punya alasan untuk itu "


" umm ?? benarkah.. "


" ya. "


" lalu bisakah kamu jelaskan mengenai dua hal yang ku sebut sebelumnya ? "


" pertama adalah aku tidak suka di bohongi dan yang kedua adalah mungkin aku terlalu terbawa suasana dengan rasa marah yang memuncak ketika menghabisi para perompak itu. kamu lihat sendiri betapa kejinya mereka itu ?? "


" humm ? begitukah ? " tanya marissa yang mulai melepas pelukannya dariku dan mengusap air mata di wajahnya..


"umm.. tentu " jawabku dengan senyuman kecil pada marissa


aku tidak tau perasaan apa yang kurasakan ini. mungkin aku benar mempunyai perasaan yang lain pada marissa..


tapi.., prinsipku menolak keras jika harus merusak hubungan orang lain. aku tidak akan melakukannya..


mungkin..


" nah sekarang. anggap saja kita impas oke ? "


" impas ?? "


" ya. kamu yang membohongiku dan aku yang mengatakan hal yang jahat padamu. kita satu sama oke ?? "


" umm..?? "


sesaat marissa terdiam seakan membaca ekspresi dari wajahku.


" ya.. oke kita impas " jawabnya dengan tersenyum kecil seakan terpaksa membuat senyuman di wajah yang cantik itu.


aku bisa merasakan dia tidak puas dengan jawaban yang kubuat sebelumnya.


" sekarang bisakah kita bahas hal lain? " tanyaku berusaha mengalihkan suasana yang canggung itu. meski begitu ini pertanyaan yang sangat penting..


" umm.. tentu. "


" kita masih akan membahas soal para perampok.. "


" ya. kenapa dengan para perampok ?? "


" aku hanya berpikir. kenapa mereka terus memburu kita ? dan dari yang aku lihat perompak itu semacam punya daftar orang yang ingin di tangkap oleh mereka "


" benar.. mereka bahkan rela mati hanya untuk hal ini.. " jawab marissa sambil memegangi dagunya untuk berpikir


" sebagai salah satu orang yang ada di daftar itu apa kamu punya semacam musuh atau saingan perusahaan. lawan politik? apapun yang bertentangan denganmu..? "


" hummm.., "

__ADS_1


__ADS_2