Gavin- Survive On The Terrible Island

Gavin- Survive On The Terrible Island
Chapter 49


__ADS_3

" crash ! " bersamaan dengan suara tebasan itu. kepala monster terjatuh ke lantai tepat dihadapan nico berdiri


" jreb ! " aku menggerakan pedangku sekali lagi untuk menancapkannya ke kepala monster yang tergeletak di tanah itu.


" hehe.. " sensasi menyenangkan mulai menjalar di setiap aliran darahku..


satu.. .. dua.. tiga.. enam.. sebelas.


lagi.. lagi... lagi... !!! lebih cepat lagi. keluar semuanya.... !!


" jrash !, jreb..! crash !!


ini begitu menyenangkan.. aku bisa merasakan energi yang deras mengalir melalui setiap pembuluh darahku. aku bisa meluapkan semua emosiku pada monster - monster yang ada di hadapanku.


" kreaggghh ! " jeritan monster itu mulai terdengar begitu nikmat masuk kedalam telingaku..


" oh... sudah habis ?? "


" ahhh ! " teriakan terdengar dari arah belakangku.. itu adalah teriakan marissa yang sedang didekati oleh monster lainnya.


sekali lagi aku berlari lurus ke depan.. memaksimalkan adrenalinku, mengambil belati yang ada di pinggangku.. kemudian melemparkannya dengan kuat menuju tepat ke kepala monster yang sudah aku targetkan..


" jrezh ! " belati itu melewati marissa dan mengenai tepat ke kepala monster yang akan menyerangnya


" kreaghh ! " bersamaan dengan teriakan monster yang jatuh ke lantai itu. aku berjalan dan mengambil belati yang ada di kepala mayat monster itu..


ini menyenangkan. hehehehe


humm ?? ada apa dengan ekspresi mereka yang seperti ketakutan melihatku ??


" uh ?? "


aku sedang menyeringai..??


aku mulai berdiri setelah mengambil belati dari kepala mayat monster itu.


seketika aku tertegun. melihat pemandangan di hadapanku..


lorong yang gelap itu kini telah di penuhi oleh mayat-mayat monster yang bergelimpangan tanpa kepala.


aku berdiri dengan memandangi tangan kananku..


satu pertanyaan muncul di benakku.


apa semua ini perbuatanku sendiri??


jika benar. apa aku masih manusia normal ??


tapi entah kenapa ini membuatku merasa lega dan tenang. perasaan yang membuatku emosional kini menjadi lebih stabil..


" haaah.. " sekali lagi aku mengambil nafas yang dalam sambil memejamkan mataku.


bau busuk ini... sepertinya aku telah terbiasa..??


" ayo kita lanjutkan. " ucapku sambil memberikan isyarat untuk melanjutkan perjalanan pada yang lainnya.


" jrash.. "


satu demi satu monster bermatian di hadapanku


kehehehe...


aku tidak perduli lagi...


jadi manusia ataupun bukan.. yang penting dapat bertahan hidup bukan ??

__ADS_1


" kalian.. dengar.. " sambil menyeret pedang yang berlumuran darah monster. aku berdiri didepan memberikan arahan pada marissa dan yang lainnya yang ada di belakangku


" kalian tidak perlu memikirkan keadaanku. sekarang kalian hanya perlu fokus pada monster yang akan menyerang kalian... itu pun jika ingin hidup "


" umm.. o.oke bro... "


" ya vinn... "


" baik vinn.. "


" ya kak "


saat ini aku tidak ingin melihat ekspresi mereka. tapi dari nada bicara mereka aku tau, mereka sedang memikirkanku..


" urusan pembantaian serahkan saja padaku..


" ta.tapi vinn.. " ucap marissa yang ingin mengatakan sesuatu setelah memotong perkataanku


" humm ?? " aku hanya menoleh sedikit ke belakang tanpa menghadap ke arah mereka..


" kalian jangan khawatir. aku tidak akan mati.. kalian jangan terbebani hanya karena memikirkanku.. aku ini kuat " ucapku menunjukan jempol tangan kananku pada mereka tanpa ekspresi..


benar. kalian tidak perlu terbebani hanya karenaku. beban itu biar aku saja yang menanggungnya untuk kalian.. karena aku itu... kuat.


saat ini aku berhadapan dengan tiga lorong di sekitarku..


ini bukanlah lorong yang biasa.. , ini lebih mirip dengan terowongan karena bentuknya. ukuran dari setiap lorong-lorong ini mungkin setara dengan ukuran truk kontainer. bahkan mungkin lebih


" sekarang ada tiga lorong di hadapan kita.. " ucapku berdiri di hadapan lorong-lorong raksasa yang diselimuti kegelapan itu..


berdiri sambil mengerutkan dahi.. aku menelan rasa takutku kedalam tenggorokan..


jangan bercanda. hal seperti ini bahkan tidak pernah aku lihat meskipun hanya dalam mimpi..


" kak "


akan tetapi.. semua orang terlihat semakin cemas. aku bisa melihat ketakutan tergambar jelas diwajah mereka.


" apa pilihanmu sekarangg kak ?? "


haruskah aku jawab jujur.??


dalam keadaan seperti ini sepertinya harus..


" aku tidak punya. " mendengar jawabanku itu ekspresi mereka lebih kuat lagi menunjukan bahwa saat ini mereka benar-benar sangat ketakutan.


melihat tiga terowongan raksasa tepat dihadapanmu, dengan kegelapan pekat yang menyelimutinya.. reaksi apa yang biasa dilakukan manusia ?


benar..


itu adalah rasa takut..


aku juga manusia. aku pun merasa takut seperti mereka... tapi tidak ada jalan lain...


tidak ada..


kau harus menelan rasa takutmu itu bulat-bulat ke dalam perutmu. dan biarkan ketakutan itu larut dalam keberanian jiwamu...


" jujur aku katakan pada kalian. saat ini.. dihadapan lorong-lorong yang mengerihkan ini.. kalian harus membuang naluri manusia kalian " tegasku dihadapan mereka tanpa ekspresi


" maksudmu.. kami harus membuang sisi kemanusian kami ?? aku tidak gila sepertimu.. ! " ucap nico meninggikan suaranya padaku


sepertinya dia menjadi benar-benar tidak stabil.. dia sudah memendam ini berapa lama ?


perlahan. aku berjalan mendekati nico dengan menyeret pedang di tangan kananku.

__ADS_1


" apa !!? kau ingin membunuhku ?? bunuh ! bunuhlah !! aku juga sudah tidak kuat lagi.. aku sudah tidak kuat lagi melewati ini semua ! " dia mengatakan itu dengan suara lantang.. tapi dia juga melangkah mundur ketika aku semakin dekat padanya


" k.. kak ?? " clara menarik tanganku untuk mencoba menahanku. aku hanya melepaskan tangan clara itu tanpa ekspresi


" vi..vinn?? apa yang ingin kamu lakukan ?! hey !! " teriak marissa dari sampingku tanpa berani menyentuhku


" ssttt " begitu pula dengan marissa aku hanya memberikan isyarat untuk diam padanya. dan terus berjalan mendekati nico


aku melihat tubuh nico yang semakin gemetar hebat saat aku sudah sampai ke dekatnya..


" bruk ! "


nico yang sudah tidak kuat menahan gemetar di kakinya akhirnya jatuh ke lantai. dan aku berdiri di hadapannya dengan tanpa ekspresi


" kelang "


aku menjatuhkan pedangku ke arah samping kananku..


" hiihh ! " teriak kecil nico memasang ekspresi pucat diwajahnya


" tenangkan dirimu. bukankah kau ingin hidup lebih lama.. ?? bukankah kau ingin mengejar cinta sejatimu " dengan tatapan tegas aku mengatakan padanya sambil memegang bahunya


" uuhh.. aku benar-benar frustasi... aku benar - benar tidak dapat menahan rasa ketakutan ini lebih lama lagi. dan kau.. kau malah semudah itu mengatakan buang naluri manusiamu ?? yang benar saja .. "


" kau pikir kenapa aku bertahan hidup di dalam hutan ini sampai sekarang. padahal aku bisa dengan mudah menyerahkan diriku ke bajak laut itu.. dan menyetujui permintaan mereka.


aku yakin aku tidak akan dibunuh. aku sudah mengetahui semua ini adalah rencana besar para penjahat itu yang ingin merusak dunia..


aku bertahan hanya untuk menjaga rasa kemanusiaan dalam diriku. hingga aku rela menderita sampai seperti ini. dan kau.. kau malah dengan mudahnya mengatakan buang naluri manusiaku ?? aku lebih baik mati !! "


" kupikir kau salah paham nico .. "


" hah ?? "


" siapa yang mengatakan padamu untuk membuang rasa kemanusianmu ?? "


" uuh ja..jadi ?? "


" aku mengatakan tentang naluri manusiamu. dan itu tidak ada hubungannya dengan rasa kemanusiaan dalam dirimu "


" mak.. maksudnya ?? "


" aku mengatakan untuk membuang naluri bertahan hidupmu atau bisa diartikan buang semua rasa takut dalam dirimu..rasa takut itu bagian dari naluri manusia. "


" didepan sana. instingku mengatakan bahwa sesuatu yang lebih menakutkan akan terjadi.. matikan rasa takutmu itu jika ingin tetap hidup.. "


" oo..h "


" sepertinya kalian tampak sangat ketakutan. bahkan untuk berpikir jernih saja sudah tidak bisa.. " ucapku berjalan mengambil pedangku kembali


" lalu. apakah kita harus beristirahat disini ?? " tambahku lagi sambil bersandar ke salah satu dinding lorong itu menatap kosong ke arah depanku..


" uh. ma.maafkan aku bro.. "


" tidak. tidak apa.. kurasa kalian juga pasti mulai ketakutan melihatku yang seperti orang gila "


" uh. bu..bukan begitu vinn " ucap marissa yang sekarang berani kontak mata denganku.


" jangan mengelak. aku juga menyadari perubahan dalam diriku.. mungkin benar aku telah menjadi gila. tapi aku sudah tidak bisa kembali lagi.. " ucapku sambil memerhatikan tanganku yang telah meninggalkan banyak bekas luka dan bercakan darah monster.. " aku juga telah membunuh banyak manusia.. "


" bruk "


marissa memelukku dengan kuat hingga aku terasa terhempas ke dinding.


" tidak.. hentikan itu vinn.. maafkan aku.. maafkan kami. kami hanya sedang ketakutan. kamu tidak gila.. kamu itu penyelamat bagi kami.. hikss.. "

__ADS_1


setelah itu semua keadaan menjadi tenang kembali. dan ketegangan diantara kami seakan menghilang terbawa angin...


dan diantara tiga lorong itu. kami memilih yang ada di sebelah kanan.. itu bukan insting.. melainkan pilihan karena berpikir kanan itu hal yang benar.


__ADS_2