Gavin- Survive On The Terrible Island

Gavin- Survive On The Terrible Island
Chapter 48


__ADS_3

dilorong yang gelap dan dingin itu.. kami mulai berjalan menyusuri tempat yang lainnya untuk mencari jalan keluar.


hening. hanya terdengar suara langkah kaki kami yang berjalan menyusuri lorong itu.. dan juga... suara gemertak gigi nico yang merapat.


" brrr.. i..ini semakin terasa dingin " ucap nico memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya


itu wajar.. nico adalah orang yang biasa hidup nyaman. berjalan di tempat seperti ini tanpa memakai baju pasti sangat sulit untuknya..


tempat ini memang memiliki suhu yang dingin. kulitku bisa merasakannya.. akan tetapi ini bukanlah masalah untukku


aku mempunyai ayah yang gila berlatih...


cih. aku jadi ingat bagaimana dia melatihku disungai yang membeku saat musim dingin di islandia.. merendam tubuhku tanpa pakaian sama sekali. umurku masih sepuluh tahun.. ku pikir aku akan mati..


" bro. bagaimana caranya menjaga tubuhmu agar tetap hangat " tanya nico yang mendekat di belakangku..


" humm?? "aku yang mendengar pertanyaan nico.. menoleh ke arahnya sebentar lalu berbalik mengarahkan pandangaku ke depan kembali " tidak ada. "


" hum?? kau tidak punya metode ?? lalu bagaimana kau bisa tahan dengan rasa dingin ini tanpa memakai baju ? " tanya nico sambil menggosok dan memberikan nafas ke tangannya. dia terlihat sangat kedinginan..


" tubuhku sudah terlatih.. jadi tidak terlalu merasakan dampaknya sepertimu "


" uh.. oh begitu. "


tidak hanya nico. aku juga melihat rara, marissa dan clara yang sedang menggosk tangannya karena kedinginan..


" lebih baik kau yang membawa api obor ini ditanganmu " ucapku menyerahkan api obor yang ada ditanganku kepada nico


" oh. ya terimakasih bro.. "


" ya..., kalau begitu sekarang kau yang memimpin jalan " ucapku pada nico dengan menepuk bahu kirinya


" hah ?? ka.. kalau begitu lebih baik aku tetap di belakang.. "


" tidak. jika kau menggigil dan pingsan karena kedinginan itu akan merepotkan "


" lagipula. lebih baik diantara kalian yang memegang obor itu. jika aku yang memegangnya.. akan telat jika terjadi sesuatu "


" uh..., ya. ba..baiklah kalau begitu.. "


ucap nico setelah menelan paksa air liur ke tenggorokannya


" tenang saja. aku ada di dekatmu.. "


" terima..kasih " jawab nico yang terlihat menelan rasa takutnya.. sambil memulai satu langkah di depanku..


tidak beberapa lama setelah itu..


" jreb ! " satu monster bertangan panjang muncul dari arah samping kiri lorong itu.. dengan cepat aku menusuk tepat di kepalanya. hingga cairan hijau yang busuk itu memuncrat ke wajah nico yang berada di depanku " kreaggggh ! "


" hi..iihh ! "


" lorong ini mempunyai beberapa lubang pintu disampingnya ? " ucapku sambil memeriksa lubang pintu yang berada di samping kiri lorong itu...


lubang tanpa pintu yang gelap ini pasti menuju ruangan lainnya. sial.. ini semakin membuatku kebingungan..


berbahaya sekali. jika begini kami tidak akan tau monster akan muncul dari arah mana..

__ADS_1


" b.bro biarkan aku tetap di belakang saja.. " ucap nico yang terduduk di lantai dengan wajah dipenuhi darah monster..


si pengecut ini.


" cih. " aku yang melihat nico dengan wajah pucat ketakutan. membalikkan padanganku dengan tidak senang lalu mengambil obor yang jatuh di sampingnya " pegang ini ! "


" b.. bro aku tak..


" sekali lagi aku mendengar kau ucapkan kata takut. aku akan meninggalkanmu disini "


sesaat semua menjadi hening.


" v..vinn ??.. " terdengar marissa memanggilku dengan ragu..


" humm ?? " aku menoleh menghadap ke arah marissa... tetapi dia hanya diam dan perlahan mulai menundukan pandangannya ke arah bawah.


aku yang tidak menyadari sesuatu, mulai mencoba melihat ke arah yang lainnya.


tetapi yang aku lihat adalah.. mereka tampak begitu tegang..


" kak..., kenapa kamu jadi begitu dingin ?? " tanya clara yang terlihat seperti sedang memberanikan dirinya


" humm ?? "


saat itu aku menyadari, bahwa aku telah kehilangan kendali lagi.. emosiku benar-benar tidak stabil saat ini.


apa yang sebenarnya terjadi ??


aku tidak mengerti, kenapa aku jadi begitu emosional hanya karena masalah kecil..


dengan pedang di tangan kiriku yang masih berlumuran darah monster. aku mulai menekan dahiku dengan tangan kananku.. layaknya orang yang sedang sakit kepala.


kemungkinan besar ini terjadi sejak aku mengenakan kalung giok merah darah ini di leherku.


tapi.., jika aku letakkan kalung ini di saku seperti yang nico lakukan. aku tidak tau kapan akan adanya petunjuk yang mungkin diberikan benda ini..


" hah... " aku mulai memejamkan mataku untuk menarik nafas yang dalam sebelum mengeluarkannya secara perlahan.


semua mata sedang memperhatikanku.. mereka masih terlihat gugup ketika aku membuka mataku..


aku harus bisa menenangkan keadaan ini. jika tidak.. itu akan membahayakan keadaan yang lainnya. moral itu sangat penting


" nico apa kau baik-baik saja ?? " ucapku sambil memandang nico yang masih belum bangkit berdiri dari tempatnya jatuh..


" ahh.. aku baik-baik saja kok. " jawab nico yang mulai bergerak sambil pura-pura membersihkan celananya yang tidak kotor.


" sini biar aku bantu. " tambahku sambil mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri


dia tampak diam sejenak sambil menatap ragu ke arahku, sebelum meraih tanganku untuk bangkit.


" apa kau ingin berada di belakang..?? "


" tidak... tidak. biarkan aku saja yang membawa obor ini dan berada didepan.. "


nico mengatakan itu. tetapi aku bisa melihat tangannya yang gemetar memegang obor itu..


sial. kenapa situasi seperti ini harus terjadi..

__ADS_1


" lalu. kemana kita akan pergi selanjutnya ?? sepertinya ada jalan lain dari tempat monster itu keluar ?? " tanyaku kepada mereka yang ada di hadapanku.


untuk beberapa saat mereka hanya diam. seakan mereka tidak berani mengungkapkan pendapat mereka.terlebih lagi nico...


sekarang aku mengerti kenapa ayahku selalu marah karena aku yang bersifat anti sosial.


saat seperti ini aku benar-benar tidak tau harus berbuat apa untuk mengembalikan moral mereka. aku bahkan tidak pandai untuk membuat senyuman palsu..


" aku ikut dengan keputusanmu vinn " ucap rara menjawab pertanyaanku dengan senyuman di wajahnya.


ahh.., aku iri dengannya yang masih bisa tersenyum seperti itu dalam situasi yang menegangkan.


" aku juga ikut vinn " sambung marissa menatap ke arahku. namun sepertinya dia menghindari kontak mata denganku..


" aa..ku juga ikut denganmu bro " ucap nico menatap ragu ke arahku..


" clara ?? bagaimana dengan pendapatmu ?? " tanyaku sekali lagi untuk clara..


" ini situasi yang sulit. kalau kita maju terus kedepan. kita akan menghadapi monster yang datang dari arah belakang dan dari arah depan... "


seperti yang di harapkan dari clara.. dia mampu untuk mengamati situasi.


" lalu.. ? " tanyaku lagi


" menurutku kita lebih baik ke arah monster yang keluar tersebut "


" humm.. begitu ya "


" bagaimana dengan pendapatmu kak ?? "


" aku memilih untuk terus maju kedepan "


" umm ?? "


" aku mengerti dengan situasinya. tapi.., jika kita masuk ke arah ruangan lain.. kita tetap harus menjaga arah belakang bukan ?? "


" itu benar. lalu alasan kuat kakak memilih untuk terus maju kedepan?? "


" insting. "


" umm.. baiklah kalau begitu "


" kamu tidak menepisnya ? "


" tidak kak.. semua orang disini percaya padamu. jika itu merupakan insting yang di yakini oleh kakak. maka itu adalah pilihan terbaik untuk kita juga... "


mereka ini begitu percaya padaku ya..


aku jadi benar-benar merasa tidak enak..


kami melanjutkan langkah kami untuk terus maju ke lorong yang ada didepan kami..


canggung.


suasana menjadi sangat canggung dan tegang saat kami mulai melanjutkan perjalanan kembali..


mereka pasti masih kepikiran tentangku..

__ADS_1


" nico awass !! didepanmu.. " sesosok monster bertangan panjang tiba-tiba muncul dari kegelapan tepat berada dihadapan nico yang berjalan dengan tatapan kosong..


__ADS_2