
sudah tiga hari berlalu sejak terperangkap dalam tempat yang gelap dan rumit ini. selama itu juga aku dengan sendirian masih mencari jalan untuk keluar.
melawan monster bertangan panjang yang tidak ada habisnya. kupikir jika terus begini aku akan benar - benar menjadi dingin.
" crash ! "
" kraghh ! "
entah sudah berapa banyak aku membunuh para monster ini.. pergelangan tanganku mulai terasa linu akibat terlalu banyak mengayunkan pedang.
aku tidak mengerti. bagaimana bisa ada orang yang merencanakan pembuatan lorong bawah tanah yang rumit dan seluas ini. dan untuk apa ?
aku harus menelan rasa lelahku untuk hari ini juga... tanpa menemukan jalan keluar.
lorong - lorong yang telah kulewati ini seperti labirin. jika aku tidak pandai untuk mendandai jalanku. mungkin aku sudah tersesat.
terkadang ada segerombolan monster bertangan panjang yang terlalu banyak dalam satu tempat. disaat aku menemukan hal yang seperti itu.. aku hanya perlu berlari sekuat tenagaku.
beruntung tidak ada jebakan apapun selama aku menelusuri lorong - lorong yang gelap ini.
cih. beruntung ya ?
aku harus kembali..
sekali lagi aku menelan mentah - mentah daging kelelawar dihadapan yang lainnya.
wajah mereka kini semakin kusut dan mulai mengurus.. apa aku harus benar - benar memaksa menelankan daging mentah ini kedalam mulut mereka ?
tapi, kalau aku memaksa. aku khawatir mereka akan memandangku orang yang kejam...
dan lagi perut yang sudah lama kosong harus diisi secara perlahan. memaksa hanya akan membuat mereka semakin kesakitan..
aku benar - benar tidak tau lagi.
" vi..nn " seseorang memanggilku yang sedang duduk memakan potongan daging kelelawar mentah di lantai gua
" ya ra ? " jawabku menoleh ke arah rara.
dia menatapku dengan menelan air liur ketenggorokannya sambil memegangi perutnya. wajahnya terlihat semakin pucat dan lesu..
dari awal aku sudah memperingatkan mereka. bahwa, sakit perut karena memakan daging mentah lebih baik daripada tidak makan sama sekali.
" apa memakan daging itu baik - baik saja vinn ?? " tanya rara duduk disampingku " sepertinya daging itu terasa enak saat kamu memakannya ?? "
" humm ? uh. ini memang enak.. "
ya sangat enak seperti memakan sampah yang terburuk. hingga aku mengeluarkan air mata setiap menelannya..
" kamu ingin mencobanya ? " ucapku pada rara yang duduk mendekat dengan tatapan penuh selera
" humm boleh aku mencobanya satu potongan kecil ? "
" tentu. "
aku mulai memotong daging mentah itu seukuran ujung kelingkingku.
" kamu sudah siap memakannya ra ? " tanyaku menatap wajah rara dengan potongan kecil ditanganku
" ya. aku sudah sangat lapar " jawab rara menelan air liurnya sekali lagi dihadapanku
" tapi kamu harus berjanji.. "
" berjanji ?? "
" hu. um.. "
" apa itu vinn ?? untuk kamu aku tidak keberatan berjanji dalam hal apapun "
" oh ya ? "
__ADS_1
" ya.. sungguh.. " ucap rara menunjukan senyuman dengan wajah lesunya
" kalau begitu bagus. kamu harus ikutin kata-kataku ya "
" umm. tentu "
" pertama pejamkan matamu "
" umm. "
" kedua.. tutup hidungmu. dan bernafaslah melalui mulut "
" ya..
" aku akan menyuapimu "
" waah. senangnya disuapin hihi.. "
kenapa melihat responnya yang seperti itu membuatku jadi malu ? uh harus profesional..
" ehrm.. ehm. ketika potongan kecil daging ini menyentuh lidahmu. kamu harus cepat menggigitnya tiga kali lalu dengan cepat menelannya ya.. jangan rasakan daging ini menggunakan lidahmu "
" okee... vinn "
" sekarang.. aaa "
" aaaa. "
rara mulai membuka mulutnya dan mengikuti instruksiku
" ummm. daging dingin yang terasa masuk kedalam perutku. ini..sudah lama kurindukan "
" bagaimana ? mau lagi.. ? "
" mauu.. vinn " jawab rara menempelkan wajahnya ke lengan kiriku.
" baiklah. lakukan seperti apa yang kubilang sebelumnya ya.. "
" aaaa "
beberapa waktu kemudian.. setelah rara menjauh untuk mengambil minum.
" vinn ? "
marissa yang sudah lama memperhatikanku dengan tatapan dingin. kini berdiri dihadapanku
" ya sa ? "
" umm.. aku juga lapar.. "
ucap marissa dengan mengerutkan wajahnya. dia seperti menunjukan ekspresinya yang sedang kesal
" ya. umm.. aku akan membuatkan potongan daging kecilnya terlebih dahulu..
" ya. "
setelah aku membuatkan potongan kecil itu untuk marissa. aku mulai menerangkan pada marissa caranya memakan daging itu agar lebih mudah.
akan tetapi. dia semakin menunjukan rasa kesalnya padaku, saat aku memberikan potongan kecil daging itu ke tangannya..
" kenapa kamu memberikan potongan daging ini ke tanganku vinn ?? " tanya marissa yang duduk di samping kananku
" humm ?? bukankah aku telah memberitahu cara untuk memakannya ?? " aku menjawab marissa dengan ekspresi bingung
" aku tidak mendengarnya... ! "
bukankah dari tadi dia menatapku saat aku berbicara ?
" oh. baik akan aku ulangi.. "
__ADS_1
" pertama.. "
" aku tidak mendengarnya... ! dan tidak mau mendengarnya.. " teriak kecil marissa memejamkan matanya sebelum menatap wajahku lebih dalam lagi..
aku mulai bertanya-tanya dalam hati..
apa wanita ini kembali ke mode sebelumnya.. ? tidak... tidak.. dia memang seperti itu. tapi belakangan ini dia telah menjadi agak tenang.. lalu kenapa sekarang?
kenapa dia marah - marah ga jelas seperti ini ? apa dia sedang kesurupan sesuatu ?
" vinn.. ? "
" ya. sa... ? "
" kamu belum mengerti juga ?? "
" humm ?? mengerti apa ?? "
" cih. menyebalkan.. "
" ?? " aku hanya memandang wajahnya yang kusut itu tanpa berkata apa - apa
" kamu.. tidak ingin menyuapiku ?? " tanya marissa memalingkan wajahnya ke arah lain.
" humm ?? "
aku terdiam sejenak melihat tingkahnya itu.. dan perasaan geli mulai menggelitiku.
" pfttt.. "
" hey kenapa kamu malah ketawa sih ?? "
" uh.. ti..tidak. siapa yang sedang tertawa sa ? itu aku sedang batuk.. uhuk.. uhuk.. " melihat marissa yang seperti ini sungguh lucu. aku sampai lupa dengan perasaan cemas yang sedang menekanku..
" hmmph !.. "
" jadi.. ehrmm ! jadi kamu mau disuapin ? " tanyaku sambil berusaha menghilangkan ekspresi tawa di wajahku
" kamu bilang sendiri kan. kalau memakannya harus pakai cara.. agar lebih enak saat di telan ? "
" humm. benar. benar.. "
tinggal bilang mau disuapin aja pun. bukankah biasanya dia orang yang blak-blakan ?? kenapa untuk hal seperti ini saja dia malah tidak bisa ?
" kemarilah. aku akan menyuapkanmu.. "
uh. kenapa aku yang jadi malu setelah mengatakan itu.. perasaan aneh macam apa yang sedang merasukiku ini sekarang?
" aaaa "
" ehem. uhuk.. uhuk.. " nico yang berjalan mendekati kami.. mulai menggoda dengan pura-pura batuk dihadapan marissa
sontak aku menarik potongan daging yang ada ditanganku dari dekat mulut marissa
setelah untuk beberapa saat marissa diam untuk menahan rasa malunya..
" nico.. ..!! aku akan menghajarmu.. " dia pun bangkit dan mengejar nico
" kak.. boleh aku minta potongan daging itu juga ? " tanya clara berdiri di sampingku..
" tentu. "
dan akupun mulai memotongkan daging kelelawar itu untuk mereka. hanya satu kelelawar untuk semua.. aku juga memperingatkan pada mereka untuk tidak memuntahkan atau membuangnya.
menangkap kelelawar bukan seperti memetik buah. itu tidak cukup mudah..
hari berikutnya..
hari ini pun masih sama. aku berjalan menyusuri lorong ini sendirian.. karena kupikir. di gua itu tempat teraman untuk mereka.
__ADS_1
jika aku membawa mereka bersamaku. itu hanya akan membuatku kesulitan. karena berjalan sambil menjaga mereka..
" humm..?? seperti ada sedikit cahaya di dalam ruangan di ujung lorong itu. "