Gavin- Survive On The Terrible Island

Gavin- Survive On The Terrible Island
Chapter 42


__ADS_3

humm . kepalaku terasa berat..


sepertinya aku benar-benar habis ambruk.


luka-luka ditubuhku masih terasa sakit... kupikir aku sudah mati. hampir tidak pernah beristirahat membuatku lupa bahwa aku bukanlah manusia super. cih..


dan ketika aku mencoba untuk membuka mataku..


dibawah pohon yang besar itu aku melihat semua orang sedang terlihat terduduk lesu sambil meneteskan air mata mereka.


" apa yang sedang kalian tangiskan ?? aku belum mati.. "


" gavinn...?! "


" vinnn.. ! " teriak kecil rara secepatnya mendekap tubuhku yang terbaring di tanah itu " syukurlah.. syukurlah "


" kamu sudah siuman vinn...? syukurlah.. hiks.. aku pikir.. aku pikir.. aku tidak bisa melihatmu lagi. hiks " ucap marissa berdiri sambil mengusap kedua matanya yang terus mengeluarkan air mata


cih. aku ini payah sekali.., sampai - sampai menghawatirkan para gadis seperti ini


" tenanglah. luka seperti ini bukan apa-apa kok.. "


" kamu selalu seperti itu vinn.. " jawab marissa lagi. dan rara masih belum mau melepaskan dekapannya dari tubuhku, aku sampai terasa sesak..


" bro. ? "


" oh. kau sudah baikan nico ? "


" bro maafkan aku.. " ucap nico menahan air mata dengan satu tangannya yang menutupi kedua matanya


" apa yang kau katakan nico?? kau tidak harus meminta maaf padaku. kau tidak melakukan kesalahan apapun "


" tapi karena aku kau sampai seperti ini bro.., huu..u "


" hey hentikan itu. tangisanmu sangat tidak enak untuk didengar .. "


" bagaimana dengan luka di kakimu nico ?? " tanyaku lagi


" ini sudah tidak apa. aku baik-baik saja. coba lihat.. " jawab nico menunjukan kakinya yang terbungkus daun talas dan menggoyang-goyangkan kakinya dihadapanku


" oh. kau mengatakan baik-baik saja. padahal aku bisa melihat mukamu yang sangat ketat menahan rasa sakit itu ketika kau menggerakan kakimu "


" oh kau tau bro.. "


" semua orang juga tau jika memperhatikan .. "


" ehh !?? berarti.. " gumam nico sambil menatap ke arah ke clara yang ada disampingnya. dia seperti memastikan bahwa dirinya tidak berhasil membohongi clara

__ADS_1


" jangan sok kuat. " ucap clara dengan melirik ke arah nico " lukamu bisa saja terbuka lagi dan mungkin akan di amputasi "


" ehhh benarkah.. sampai segitunya ?? " tanya nico dengan wajah pucat menghadap ke clara


" hahaha. kalian memang selalu terlihat lucu.. "


setelah tertawa lepas. aku melihat ke arah mereka, tetapi mereka tampak seperti menahan senyuman dengan wajah sedih


" ini pertama kalinya aku melihat kakak tertawa begitu lepas " ucap clara tersenyum kecil memandang ke arahku " aku senang..., hiks "


ternyata dia juga sedang menahan air matanya untukku. aku benar - benar tidak suka suasana ini


" bisakah kalian semua tidak memasang wajah seperti itu ?? aku sangat tidak nyaman dengan suasana ini. luka ini bukan apa-apa. sebentar lagi juga akan pulih. "


ah.., lagi-lagi aku merasa sok kuat. padahal aku bisa merasakan kaki kiriku yang sepertinya terluka cukup parah.


Menyedihkan.. ! mungkin aku akan berjalan pincang dari sini dan seterusnya..


" semua karena salahku. gara-gara aku kalian jadi terluka. kalau saja aku lebih hati-hati saat mengambil air untuk minum... "


" tidak clara. ini salahku.., karena aku yang lemah hingga dengan mudah bisa tergigit dengan buaya itu " sambut nico menjawab ucapan rara " jika saja aku bisa menolongmu tanpa terluka "


" bodoh. apa yang kalian sebenarnya katakan ?? "


sesaat, semua menjadi diam setelah aku mengatakan hal itu.


ya, karena aku juga sedang merasakan hal itu. aku terus mengingat kejadian tentang adit yang mungkin mati akibat kecerobohanku. tapi.., itu tidak boleh. kata-kata maaf dan menyalahkan diri sendiri hanya akan memuaskanku untuk sementara . dan beban akan terus memenuhi tubuh serta pikiran..


" DENGAR. dari sekarang tidak ada yang boleh menyalahkan dirinya sendiri seperti itu. aku tidak mau tau alasan apapun. lakukan saja apa yang bisa kalian perbuat untuk membantu kita keluar dari neraka ini. mengerti ?? "


" me.. mengerti... bro "


" meng..erti kak "


" umm. ya vinn "


benar. kalian harus seperti itu.., biarkan aku saja yang memikul semua beban itu sendiri. karena aku cukup kuat untuk hal ini.. mungkin.


" sepertinya langit semakin gelap dan udara terasa begitu lembab.. mungkin akan turun hujan. sebaiknya kita mencari tempat untuk berlindung "


" apakah maksud kakak kita pergi ke bangunan istana itu ? "


" ya. tidak ada tempat yang lebih baik dari itu "


" meski kau berkata seperti itu bro. tapi aku merasa tempat itu sangat buruk untukku "


" itu hanya perasaanmu saja nico. tidak ada tempat yang tidak buruk di hutan ini. kau harus ingat itu "

__ADS_1


" humm... ya itu benar. "


" baiklah ayo "


" apa kamu bisa bangkit berdiri vinn ? " tanya rara menatap dekat ke arah wajahku


aku pun menoleh ke arahnya dan mengatakan


" apa aku terlihat seperti orang yang sekarat ?? " jawabku dengan senyuman kecil. maksudku dengan senyuman miris ini aku menyambung perkataanku " aku bahkan tidak merasakan sakit lagi. jadi tenanglah "


sekali lagi aku memaksa tubuhku untuk bangkit. ini terasa sangat sakit dan begitu sulit untuk bergerak.


tapi...,


" arghhh ! " bersamaan dengan teriakan paksaan itu aku berhasil mengangkat tubuhku yang terasa begitu berat dan mulai memaksa untuk berjalan


melihat aku yang tampak kesulitan rara mendekap tubuhku sekali lagi dari samping kiriku untuk menuntunku


" biarkan aku bantu juga " ucap marissa yang datang meletakan lenganku ke bahunya dari samping kanan


" tidak apa sa. biarkan rara saja yang menuntunku sendiri.. "


" humm ? ooh.. baiklah.. "


perlahan marissa melepaskan lenganku dari bahunya. matanya enggan untuk menatap ke arahku. raut wajahnya menunjukan seperti orang yang sedang kecewa.


" aku..


" yah. biarkan aku yang menuntun jalan di depan. nico juga sedang terluka.. hehe " ucap marissa memotong perkataanku. dia berjalan cepat ke depan tanpa melirik sedikitpun ke arahku


perasaan aneh ini. aku seperti merasa bersalah padanya.., apa karena aku tidak membiarkannya menuntunku juga ?


tapi aku merasa akan lebih sulit jika berjalan dituntun oleh dua orang. dan itu berbahaya karena jalan kami akan semakin lambat..


kami pun mulai melangkahkan kaki untuk berjalan ke arah bangunan istana yang terlupakan itu..


entah kenapa perasaanku semakin bertambah tidak enak..


tapi apa yang bisa kami lakukan sekarang ??


aku dan nico sedang terluka. mengharapakan para gadis untuk melindungi kami di dalam hutan seperti ini sama saja bunuh diri.


aku tidak boleh putus asa. jika putus asa sama saja dengan pasrah menerima kematian.


ah.. enaknya kehidupan orang yang diluar sana. mereka seenaknya bisa putus asa kapanpun dan berbaring nyaman di kasurnya


huh... baru kali ini aku iri dengan kelemahan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2