Gavin- Survive On The Terrible Island

Gavin- Survive On The Terrible Island
Chapter 34


__ADS_3

para monster semakin mendekat.. !


rekan-rekanku sudah terlihat kehabisan nafas. mereka tidak akan sanggup berlari lagi..


bagaimana ini..?


apa aku tinggalkan saja..


tidak..tidak..


aku bukanlah orang yang bisa meninggalkan rekan-rekanku dalam menghadapi kematian. lebih baik mati bersama daripada berkhianat..


tapi... aku tidak ingin mati


kepanikan mulai melanda..


semua mata tertuju pada satu tempat, para monster mengerihkan yang semakin mendekat.


clara yang semula terduduk di tanah. membuka matanya lebar-lebar menyaksikan kerumunan monster yang merayap memenuhi pandangan matanya.


" aku tidak.. aku tidak mau menjadi mayat hidup " ucap nico berdiri lemas dengan kulit putih pucat mengarahkan pandangannya perlahan ke arahku.. " bro. aku tidak ingin mati "


mendengar perkataan nico yang begitu menyedihkan.. tatapan marissa mulai terlihat kosong melihat ke arah para monster yang ada di depannya..


keputusasaan mulai tergambar jelas dari raut wajah rekan seperjuangan yang ada di sekitarku..


rara mendekat memegangi tanganku dengan erat. terlihat dia seperti ingin mengatakan sesuatu padaku ?


tapi bibir yang telihat gemetaran itu. seakan terkunci rapat, enggan untuk berkata-kata. aku tau dia sedang ketakutan hebat...


harus tetap tenang...,


menoleh kiri dan kanan.. dibalik kabut dan kegelapan malam itu aku melihat dua batu besar berdiri tegak tak jauh dari pandangan mataku..


" hey, ayo ikut aku "


bersamaan dengan teriakan kecil itu aku mencoba untuk memberikan harapan sekali lagi pada mereka.. sontak nico, marissa dan rara bergerak mengikuti langkahku..


tapi tidak dengan clara. dia tidak bergerak sama sekali, dia hanya terduduk menundukan pandangannya ke arah bawah


" clara ayo pergi dari sini " ucapku menarik tangan clara ke atas kemudian perlahan mengangkat tubuhnya ke punggungku. kakinya terasa gemetar hebat saat menyentuh tanganku


tidak ada waktu lagi..,


aku menggendong clara di belakangku. kemudian membawanya berjalan menuju batu yang kulihat sebelumnya..


" ayo cepat., jangan diam saja dan menunggu kematian "


dihadapan dua batu yang berdiri tegak dengan tinggi sekitar empat meter aku menggantungkan harapan hidupku bersama yang lainnya..


" clara apa kamu sudah bisa berdiri ? "


ucapku perlahan menurunkan clara yang begitu lemas dari punggungku


" umm.., a..aku bisa kak.. " jawab clara berdiri terhuyung disampingku


" marissa peganglah clara sebentar "


" oke.. "


aku dengan seksama mulai mengamati lingkungan sekitar berharap jika ada sebatang kayu yang cukup tinggi untuk digunakan sebagai pijakan menaiki batu yang berdiri tegak itu..

__ADS_1


setelah beberapa waktu aku mencari..,


" tidak ada.... "


dimanapun aku mencari sebatang kayu yang cukup besar di sekelilingku aku tetap tidak menemukannya


bagaimana ini?? lagi-lagi aku tertipu oleh harapan.. bukankah mereka yang ada di dalam novel selalu menemukan keberuntungan untuk bertahan hidup dari kejaran musuhnya?


tidak..tidak.. aku saja yang bodoh.. mana mungkin di kehidupan nyata bisa berharap kepada keberuntungan yang tidak masuk akal.


gawat... jantungku mulai berdebar semakin cepat. keringat dingin bercucuran mulai membasahi wajahku..


jika mereka melihat raut wajahku yang ketat dan gugup ini. pasti mereka akan semakin putus asa...


apakah aku sudah berakhir ??


dimalam yang gelap dan dingin itu, aku mulai melangkah tertatih sambil mendundukan pandanganku ke arah bawah. berjalan menghampiri wajah-wajah rekanku yang sudah terlihat putus asa..


jika melihat ekspresiku saat ini. siapapun tau.. kalau aku datang tidak dengan membawa harapan apapun..


semua mata yang terlihat begitu menyedihkan menatap ke arah satu tujuan. itu adalah aku... raut wajah itu seakan ingin mengatakan " apakah kita sudah berakhir ? " tergambar jelas di wajah mereka..


mengepalkan kedua tangan sambil menggigit bibir dengan keras aku mulai memukul batu besar yang berada tepat di sampingku.


akan tetapi..,


" humm apa ini ?? "


ekspresiku seketika berubah saat menyaksikan pecahan tanah membentuk sebuah pola yang terukir di batu besar disampingku setelah aku memukulnya.


dengan tanpa keraguan aku secepatnya mulai menggali tanah dan lumut yang menutupi pola ukiran tersebut..


" bro.. apa yang kau lakukan ? " tanya nico yang mulai tergerak saat menyaksikanku menusuk dan menebas batu besar itu


nico yang berdiri. dengan cepat mendekapku dari belakang lalu berusaha menghentikan pergerakanku


" bro aku tau kau sedang putus asa.. tapi bukan harus seperti ini. kita akan mati bersama-sama "


apa yang orang gila ini katakan..?


" hey lepaskan tanganmu atau aku akan menendangmu dengan keras nico! "


" tidak..! "


" cih.tidak ada waktu.. minggir ! "


" bruk! " bersamaan dengan bunyi jatuh itu nico terlempar ke tanah akibat dorongan dari tanganku..


" aww.. bro.. bahkan sampai mau matipun kau masih ingin menyiksaku..!"


" diamlah.. ! kalau kau ingin mati.. mati saja sendirian.. "


" huh ? "


nico yang terjatuh, tertegun mulai mengamati apa yang aku lakukan di batu besar itu..


" sudah selesai ..! " teriakan kecil itu membuat semua mata yang seakan mati, mulai mendapatkan harapannya kembali.


" marissa kemarilah.. " ucapku memanggil marissa mendekat kepadaku


" umm.. "

__ADS_1


" naiklah terlebih dahulu ke atas.. lalu bantu yang lainnya ketika kamu telah sampai.. "


" ini ?? "


" ya.. tidak ada waktu untuk menjelaskan.. para monster itu akan segera datang! "


"umm.. oke "


perlahan marissa mulai memanjat pola ukiran tanah di batu besar itu yang telah ku olah menjadi sebuah tangga mendaki ke atas menggunakan pedang ditanganku..


bukan tangga yang sempurna. hanya sebuah pijakan yang hanya pas di kaki dan pegangan tangan. seperti memanjat tebing


setelah marissa sampai di atas batu itu.. kemudian aku membantu clara untuk naik selanjutnya


" hrghhh " terdengar suara para monster yang menderu semakin membuat suasana menjadi menegangkan..


" ini tidak akan sempat vin.." ucap rara memasang wajah khawatir ketika menginjakan kakinya di atas tangga tanah yang kubuat..


" tidak usah memikirkanku ra.. aku akan baik-baik saja.. "


" humm baiklah.. aku percaya padamu "


" ya. "


" hrgghhh ! "


bersamaan dengan suara mengerihkan dari kerumunan monster itu.. mereka hanya berjarak beberapa langkah saja sebelum melompat untuk menerkam kami..


" cepat naik nico ! "


" b..bro.. bagaimana denganmu ?? "


" naik saja brengsek... "


" hrrgghhh !"


" woo.. wokeh.. "


dengan nico yang sudah menaiki batu besar itu. aku memacu langkahku sekali lagi untuk berlari menjauh dari kejaran para monster bertangan panjang..


semua rekanku kini sudah berada di tempat yang aman..


lalu bagaimana denganku sekarang ??


tidak perlu memikirkanku..


aku bisa..


" wo..woaaah ! " dengan teriakan yang aneh itu aku terbanting ketanah karena jalan yang begitu licin


" jrash ! " aku menarik sebilah pedang dari belakang sebelum mengayunkan untuk menebas kepala monster yang hampir saja mengigitku bahuku..


jika dilihat dari jarak yang begitu dekat tadi. wajah mereka benar-benar menyeramkan..


bayangkan saja.. jika bertatapan muka dari dekat dengan sesuatu yang membuatmu takut.. bagaimana rasanya ?


jangan bicarakan tentang mantan, itu bukan sesuatu yang menyeramkan..


cih. padahal aku jomblo sejak lama...


menghadapi pertempuran yang menegangkan .. aku berhasil survive di waktu ini. ditempat ini.. di atas dahan pohon yang tinggi aku duduk sambil bersandar menikmati nafas yang panjang..

__ADS_1


" ini masih berlanjut... "


__ADS_2