
" suara apa itu ? "
aku mendengar suara mendesis dari lorong gelap yang ada dihadapanku
seketika tubuhku jadi terasa merinding hebat.
" vinn apa yang sedang kamu lakukan disana ?? " terdengar suara rara yang memanggilku dari kejauhan
aku mulai menutupi wajahku dengan kedua tangan, menekan keningku.. lalu melepaskannya. hal yang biasa kulakukan untuk menenangkan diriku disaat rasa penat memenuhiku..
" vinn ?? kamu baik-baik saja ?? " tanya rara mendekatiku " sepertinya kamu tampak lelah sekali "
benar.. pasti aku sedang kelelahan. mendengar desisan seperti itu pasti cuma halusinasiku saja
" humm. ya aku pikir memang begitu.. oh ya apa kamu baik-baik saja setelah kejadian penyerangan monster tadi ? "
" umm.. aku baik-baik saja vinn " jawab rara dengan senyuman tipis diwajahnya. dia tampak terlihat seperti memikirkan banyak hal
" vinn.. "
" ya ? "
" kalau aku mati. apakah bebanmu akan berkurang ?? "
mendengar kata yang tak biasa itu keluar dari mulut rara, membuat aku membuka mataku lebih lebar menatapnya.
siapapun pasti akan terkejut dan tidak terima mendengar seorang yang dekat dengannya mengatakan hal seperti itu
" ra..? apa maksud dari perkataanmu ?? "
" aku hanya berpikir.. jika aku tidak ada. mungkin kamu akan lebih mudah menghadapi semuanya.. "
ah.. aku benar-benar tidak tau harus mengatakan apa dihadapan wanita yang dalam keadaan seperti ini
" kalau aku tidak ada..
" kalau kamu tidak ada bersamaku lagi. mungkin aku akan kesepian " ucapku memotong perkataanya yang menyesakkan dada itu..
dia hanya terdiam berdiri menatapku tanpa sepatah kata apapun. dan kemudian aku melihat air mata mulai merembes keluar dari bulu matanya yang cantik itu..
" hiks.., "
ha.. lagi-lagi aku ditempatkan dalam keadaan seperti ini..
apa yang harus kulakukan sekarang. haruskah aku memeluknya untuk menenangkan ?? aku tidak bisa melakukan hal itu.
" ra.., apa yang terjadi?? kenapa kamu berpikiran sampai seperti itu. " ucapku sambil mengelus kepalanya yang berdiri di hadapanku
" aku hanya tidak kuat melihatmu terus-terusan terluka .. dan yang lebih menyakitkan lagi. aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu.. hingga saat kejadian tadi.. aku benar - benar frustasi mendengar teriakan kesakitanmu.. aku sungguh tidak ingin melihatmu mati di hadapanku.. hikss "
__ADS_1
aku tertegun mendengar perkataan rara itu..
aku tidak tau dia sampai menderita seperti ini karena melihatku yang terus-terusan hampir mati.
" begitu juga denganku. aku pasti akan benar - benar frustasi kalau kamu meninggalkanku "
rara hanya memandangku dengan matanya yang dipenuhi air mata, sebelum dia benar-benar menangis lebih keras lagi dalam pelukanku.
benar. membayangkannya saja aku tidak ingin.. itu pasti akan menyakitkan bila aku tidak dapat melihat senyumanmu yang indah itu..
dilihat berapa kalipun aku masih takjub melihat ruangan yang besar ini. tinggi ruangan ini mungkin sekitaran sembilan meter dengan empat tiang penyangga berwarna emas berbentuk bulat menjulang tinggi keatas menembus langit-langit.
dengan lampu obor seperti ini di setiap dinding dan tiangnya menambahkan rasa sensasi yang menakutkan..
aku mulai mengumpulkan yang lainnya bersamaku. memeriksa ruangan yang besar itu dan mencari jalan keluar..
akan tetapi kami tidak menemukannya diruangan ini. aku juga beberapa kali mencoba menggunakan kalung giok merah yang ada ditanganku untuk membuka pintu besar itu. namun tidak berhasil..
sepertinya jalan satu-satunya hanya meneruskan perjalanan ke sebuah lorong yang gelap di ujung ruangan ini.
" pukul 00.20 am. sepertinya keadaan kita tidak seperti diluar.. tidak ada penyerangan monster di pertengahan malam diruangan ini "
" bukankah itu bagus " jawab nico semangat sebelum menunjukan rasa takut setelah aku menatapnya " emm.. apa kau masih marah padaku bro ?? "
" tidak. aku bukan orang yang menyimpan amarahku berlarut-larut untuk hal kecil "
" ooh. baguslah hehe "
" lalu. apa yang kau maksud dengan bagus setelah aku mengatakan tidak ada penyerangan monster ?? "
" ermm.., bukankah bagus kalau tidak ada penyerangan monster. kita bisa beristirahat dengan tenang disini.. "
" humm.. benar juga " sambut marissa yang bergaya layaknya seseorang yang sedang berpikir
" haahh.. "
aku menghela nafasku mendengar jawaban dari nico itu. dan mulai berbalik mencari jalan keluar lainnya..
" b.. bro? apa aku salah..?? "
" aku lagi malas untuk menerangkannya padamu.. "
" haah ?? "
" nico bodoh. berpikirlah lebih dalam.. " ucap clara bernada jengkel pada nico
" kenapa aku bodoh ? itu jawabanku setelah berpikir.. "
" kalau begitu berarti kamu memang bodoh.. " tambah clara lagi menekan nico
__ADS_1
" ehh ?? coba jelaskan dong. salahku dimana ?? "
" cih. kamu pikir jika kita terjebak disini lebih lama lagi. bagaimana kamu mendapatkan makanan dan minum ?? "
" ahh.. itu. aku tidak berpikir sampai kesitu "
" dasar nico bodoh ! " ucap marissa mendukung penjelasan clara dan menekan nico
" hah !? bukannya tadi kamu mendukungku marissa !? kenapa sekarang malah menindasku. kamu juga bodoh dong "
" hah !? kau menghinaku.. !! "
" ti..tidak.
dua orang ini benar-benar tidak ada obat.
" berarti jika kita tidak menemukan jalan keluar. sama saja dengan mati dong ?? "
" ya. itu jauh lebih menyakitkan daripada mati di penggal.. karena kau akan mati perlahan menahan rasa lapar dan haus " jawabku menjawab nico yang baru tersadar itu
" hihhh ! "
mati dipenggal mungkin akan terlihat sadis dan membuat semua orang menganggap itu adalah hal yang sangat mengerihkan.
padahal jika dipikirkan itu adalah kematian yang instan, jika dibandingkan dengan mati perlahan-lahan dengan rasa haus dan lapar.
orang itu akan kehilangan kemanusiaannya sebelum kematian datang. begitu juga jika seseorang mati setelah berubah menjadi mayat hidup.. aku tidak bisa membayangkan penderitaan yang dia rasakan..
" aku jadi tidak ingin beristirahat sekarang. " ucap nico yang berada di belakangku
" disini tidak ada jalan keluar.. kita harus menyusuri lorong yang gelap itu.. " ucapku sambil mengambil satu obor yang berada di dinding sebelahku..
" uh..? vinn apa kamu yakin ?? " tanya marissa yang terlihat mengusap lengan kirinya memasang ekspresi cemas..
" sudah aku katakan bukan ?? kematian paling mengerihkan adalah kematian karena haus dan lapar. dan kita juga belum tau jika tetap berada disini akan tetap aman ? "
" benar.. "
" jangan memasang ekspresi seperti itu.. " ucapku melihat raut wajah cemas marissa,nico dan rara yang menundukan pandangan mereka ke bawah
" dengar ini. " ujian bagi keberanian bukanlah berani mati, melainkan berani hidup " "
" kalian harus mengerti. aku yang berani menghadapi semua musuh bukan karena aku yang berani untuk mati. tetapi aku yakin aku akan tetapi hidup "
setelah mendengar perkataanku. mereka jauh lebih baik. mereka berani mengangkat pandangannya ke atas dengan mata dipenuhi semangat.
" umm oke vinn. "
" siap bro ! "
__ADS_1
" umm "
itu adalah kata yang pernah di ucapkan oleh ayahku. " jika kau menghadapi situasi yang sangat sulit sekalipun hingga nyawamu di pertaruhkan. hadapilah..! berani untuk mati bukanlah pilihan.. lawanlah agar tetap hidup ! "