Genap & Ganjil

Genap & Ganjil
01


__ADS_3

Jalanan itu ramai oleh lalu-lalang siswa berseragam putih abu-abu. Bel pulang sekolah telah di bunyikan 10 menit yang lalu, jelas saja jalanan itu sekarang ramai. Ada yang keluar sendiri ada yang bersama temannya. Ada yang ingin langsung pulang, ada yang ingin main dulu kerumah teman, atau mungkin ke tempat tongkrongan. Biarlah itu jadi urusan mereka.


Di sini, Fersya sedang menunggu kembarannya yang sedang membereskan alat tulisnya. Sembari menunggu ia memainkan handphone-nya untuk menghilangkan sepi. Tetiba ada yang duduk di sampingnya, ah melihat ujung sepatunya ia sudah tahu siapa orang yang duduk di sampingnya ini. Tak perlulah ia menoleh atau menyapanya, terlalu basa-basi.


"Kenapa nggak nunggu di dalem?" tanya orang di sampingnya ini.


"Biasa juga nunggu di sini." jawabnya cuek, dan tak ada balasan lagi.


Rupanya setelah ia menoleh ke sampingnya, orang itu sudah tidak ada. Pasti masuk ke dalam bantuin Farsya, batinnya. Tak mau ambil pusing, ia lanjutkan saja main gawainya itu. Sampai mereka berdua keluar dari kelas.


Dilihatnya jam pada gawainya, sudah 15 menit sejak bel pulang berbunyi. Melihat saudara kembarnya yang keluar bersama orang di sampingnya tadi, ia langsung jalan duluan meninggalkan mereka.


"Fer, sabar dikit dong! Masa saudara kembar lo ditinggalin." gerutu Niko yang dibalas pukulan kecil dipundak oleh Farsya. Ya, dia orang yang duduk di sampingnya tadi, dia adalah sahabat kecil si kembar.


"Gue keinget mau mampir ke suatu tempat dulu, jadi duluan." bilangnya pada mereka yang dibelakangnya tanpa menoleh sedikitpun. Tetiba, ia berhenti dan menoleh kebelakang.


"Oh ya, Far. Bilang Mama, gue pulang mungkin habis maghrib. Nanti biar gue bilang sama Mama langsung gue mau kemana," jeda beberapa detik, karena ia melihat wajah saudara kembarnya itu pucat sekali.


Apa asmanya kambuh lagi? Pikirnya.


Hal itu membuat Fersya merasa bersalah karena sudah cuek sama Farsya.


"mending lo langsung istirahat pas sampe rumah, nggak usah tungguin gue." lanjutnya. Selepas itu ia berbalik lagi dan jalan menuju gerbang sekolah.


Setelah Fersya hilang dari pandangan mereka, Niko bertanya, "Lo lagi marahan sama Fersya?" Farsya hanya tersenyum sebagai balasannya. Ia tahu kenapa sikap Fersya bisa seperti itu padanya, yaitu karena ia yang tak bisa leluasa memilih keinginannya sendiri karena dirinya.


Minggu depan ada acara sekolah, yaitu Persami. Seumur-umur Farsya tidak pernah ikut Persami dikarenakan penyakit asma akutnya ini. Sebenarnya itu tidak menjadi masalah kalau Farsya tidak terlalu lelah saat kegiatan berlangsung. Tapi, kata teman-temannya Persami itu banyak sekali kegiatannya dan yang pasti bikin capek. Itulah kenapa Mamanya selalu tidak mengizinkan Farsya untuk ikut, karena takut terjadi suatu hal kepadanya.


Dan itu berimbas juga pada Fersya. Alasan Mamanya tidak mengizinkan Fersya ikut adalah agar dirinya tidak merasa sendiri saat hari Sabtu dan Minggu, agar dirinya tidak merasa iri pada Fersya yang bisa ikut Persami.


Sejujurnya ini memang tidak adil buat Fersya, tapi bila Fersya diizinkan untuk ikut, mungkin Farsya akan berpikiran sama bahwa ini juga tidak adil untuknya. Maka dari itu, saat Mamanya tidak mengizinkan ia hanya bisa diam saja, walau dalam hati ia terus-menerus meminta maaf pada saudara kembarnya itu.


Mungkin terdengar simple untuk orang lain, bahkan teman-temannya lebih memlilih untuk tidak ikut Persami. Walau sudah diceritakan beribu kali oleh temannya kalau Persami tidak se-asik yang dibayangkan, tapi tetap saja Farsya tidak akan puas kalau dia belum merasakan sendiri bagaimana rasanya ikut Persami.


Dan dia rasa, itu juga yang dirasakan Fersya. Apa untuk kali ini saja ia biarkan Fersya ikut Persami, meninggalkan dirinya sendiri di hari Sabtu dan Minggu, membiarkannya iri pada saudara kembarnya sendiri? Atau ia bersikap egois saja seperti sebelum-sebelumnya?


***


Apa Fersya bilang tadi? Mampir sebentar, mampir kemana? Dia saja tidak tahu mau kemana, mana pake bilang habis maghrib baru pulang, sedangkan ini masih jam setengah empat. Mau nunggu dimana sampe maghrib? Bodoh memang Fersya ini.


Sekarang yang dia lakukan hanyalah jalan, yah ikuti jalan saja. Ia akan ikuti nalurinya ingin bergerak kemana, biarlah ia jalan sejauh-jauhnya. Sampai kakinya lelah untuk melangkah.


Sudah setengah jam ia jalan, dan ia tidak tau sekarang ada dimana. Beberapa langkah di depannya ada sebuah taman, beruntunglah karena kaki Fersya juga sudah lelah, ia memutuskan untuk masuk ke taman itu dan duduk di salah satu gazebo.

__ADS_1


Taman itu cukup ramai anak-anak. Ada yang bermain jungkat-jungkit, ayunan, perosotan dan sebagainya. Mungkin dengan melihat anak-anak bermain bisa menjadi alternatif untuknya menunggu sampai maghrib tiba. Oh, dia lupa untuk menghubungi Mamanya kalau ia akan pulang terlambat.


"Assalamualaikum, ma? Eca pulang habis maghrib ya, soalnya ada urusan sebentar sama temen."


Nama panggilan Fersya sama orang tuanya memang Eca karena dulu saat masih kecil susah sekali untuk menyebut nama Fersya dan untuk nama panggilan Farsya, yaitu Aca. Dan tidak ada yang memanggil si kembar dengan panggilan tersebut kecuali orang tuanya.


"Waalaikumussalam, ya udah. Tadi Aca juga udah bilang kok sama Mama. Nanti pulangnya hati-hati ya, sayang." balas Mamanya.


Tidak adakah pertanyaan untuknya? Satu saja, pintanya dalam hati.


"Hm, iya. Oke deh ma, udah dulu ya. Assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam."


Fersya menghela napas setelah Mamanya menutup telponnya. Tidak bisakah Mamanya bertanya lebih banyak soal dirinya, entah ada urusan apa, dengan siapa, dimana dan sebagainya. Apapun itu, tapi tidak satupun pertanyaan itu keluar dari mulut Mamanya tadi. Makin malas saja ia pulang ke rumah.


Sebenarnya alasan utama kenapa Fersya malas untuk pulang adalah izin untuk ikut Persami. Kemarin di sekolah saat ada pemberitahuan kalau Persami akan diadakan satu minggu lagi membuat Fersya senang, siapa tahu ini kesempatan yang akan terwujud berhubung ia sudah kelas 12. Kesempatan terakhirnya.


Tapi semua berjalan seperti yang sudah-sudah, mau alasan apapun Mamanya tetap tidak berubah pikiran dan akhirnya membuat ia merajuk sampai sekarang. Entah Mamanya tidak tahu beneran atau pura-pura tidak tahu kalau ia sedang merajuk.


Tidak bisakah Mamanya peduli pada pendapat dan perasaan Fersya sedikit saja? Fersya jarang sekali bisa melakukan hal-hal sesuai keinginannya. Mamanya hanya peduli pada Farsta seakan anaknya hanya satu. Padahal anaknya kembar begini.


Apa Fersya harus seperti Farsya dulu baru Mamanya peduli padanya?


Perutnya sekarang berbunyi, ia lapar. Tetapi terlalu malas untuk mencari tukang makanan atau mampir ke warung di depan sana. Sudah terlalu capek untuk berjalan lagi, walau hanya beberapa langkah.


Kemudian, ia melihat anak kecil yang sedang berdiri di belakang gazebo tak jauh darinya. Anak kecil itu sedang menatap anak-anak yang sedang bermain. Ia melihat anak itu membawa sebuah plastik yang berisi makanan.


"Dek! Adek yang bawa plastik!" panggil Fersya. Semoga plastik itu berisi makanan dan dijual, batinnya.


Anak itu datang menghampiri, "Eh, iya kak? Kakak mau beli?"


Mendengar hal itu membuatnya senang, karena apa yang diharapkannya berubah menjadi nyata, "Kamu jual makanan apa?"


"Keripik singkong kak, ada rasa pedes, keju, sama jagung manis kak. Kakak mau yang mana?" tanya anak itu antusias, karena mungkin saja kakak ini akan membeli jualannya.


"Hm, kakak mau yang keju dua deh."


"Ini kak." diberinya keripik singkong itu kepada Fersya. Kemudian Fersya juga memberikan sejumlah uang yang mungkin terlalu besar untuk harga keripik singkong itu. Disodorkannya lagi uang itu kepada Fersya.


"Kakak pembeli pertama aku, jadi aku nggak ada kembalian buat uang kakak. Kakak nggak ada uang yang lebih kecil?"


"Nggak apa-apa, ambil aja uangnya buat kamu. Itung-itung buat jajan kamu." jeda sejenak.

__ADS_1


"Oh iya, kalau gitu tuker aja uangnya ke warung biar nanti kalo ada pembeli lagi dan uangnya besar, kamu bisa kembaliin." lanjutnya.


"Tapi, kak..."


"Udah nggak apa-apa." balasnya sambil menepuk pundak anak itu.


Anak itu tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih. Setelahnya ia pergi dengan berlari menuju warung yang memang tidak terlalu jauh dari taman. Mungkin ingin menukar uang seperti yang dikatakannya tadi.


Saat sedang asyik memakan keripik singkong yang baru dibelinya, tetiba saja ada yang duduk disampingnya. Tanpa memedulikan siapa yang duduk disampingnya ini, lanjut saja ia makan keripik singkong, karena ia betul-betul lapar sekarang.


"Kabur dari rumah?"


"Ha?" balasnya sambil terbatuk karena tersedak keripik singkongnya. Karena bukan saja ia yang tetiba berbicara, tapi juga pertanyaan yang membuatnya speechless. Tak pernah menyangka ada orang yang baru pertama kali bertemu dengannya menanyakan hal seperti itu.


Dia hanya menaikkan dua alisnya, seakan bertanya 'apa pertanyaan gue salah?'


"Maksud lo?" tanya Fersya sambil mendengus.


"Lo Fersya kan?" apa maksud orang ini, dan kenapa ia bisa tahu namanya.


"Dari mana lo tahu nama gue?"


"Siapa yang nggak kenal sama satu-satunya murid kembar di SMA Sebangsa?"


"Lo anak Sebangsa juga?" tanya Fersya lagi yang berujung anggukan.


Karena penasaran ia bertanya lagi sama orang di sampingnya ini sambil makan keripik singkongnya lagi, "Kenapa lo bisa beranggapan gue kabur dari rumah?"


Ia tidak langsung menjawab, wajahnya menampilkan ekspresi berpikir tapi terlihat jelas sekali kalau itu dibuat-buat.


"Hm, karena ini bukan daerah rumah lo, dan satu-satunya murid Sebangsa yang tinggal di daerah ini cuman gue. Itu yang pertama. Kedua, lo pun nggak kenal gue, dan masih pake seragam sekolah pula, itu sih yang gue simpulin kalo lo kabur dari rumah." jelasnya panjang lebar. Lagi Fersya bertanya dalam hati 'dari mana dia tahu daerah rumahnya?'.


"Lo stalker ya?" pertanyaan dari Fersya membuat orang itu terkekeh geli. Setelah meredakan kekehannya ia menatap Fersya.


"Nama gue Aries. Panggil aja Aris. Gue tinggal di gang depan sana," bilangnya sambil menunjuk gang yang ada di sebrang taman.


Fersya menatapnya heran, tak dipedulikannya pandangan tersebut lanjut saja ia mencerocos, "kalo mau cari rumah gue, tanya aja sama warga sana, mereka semua kenal gue kok. Dan kalo lo nggak punya tujuan selain rumah lo, sedangkan lo lagi males buat pulang. Taman ini, gue dan rumah gue bakal terbuka buat lo. Udah dulu ya, mbak gue udah cariin gue noh di depan gang."


Jeda sebentar, orang yang namanya Aries ini menatapnya dan ia membalas dengan satu alis terangkat. Kemudian, Aries terkekeh. Makin aneh saja Fersya melihatnya.


"Bye Fersya."


Fersya melihat punggung yang berjalan meninggalkannya dengan tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2