
Duatahun kemudian...
Fersya sedang liburan semester dan gadis itu sudah berada di Jakarta sore ini. Keluarganya tidak tahu-menahu tentang kepulangan gadis itu. Karena Fersya memang sengaja merahasiakan kepulangannya agar mereka terkejut saat gadis itu sudah sampai rumah nanti.
Terlebih Fersya ingin mengerjai orang yang sudah dua tahun lamanya tidak bertatap muka secara langsung. Yaps, siapa lagi sih kalau bukan Aries. Hubungannya dengan Aries sejauh ini baik-baik saja, walau terkadang ada momen dimana mereka bertengkar karena hal sepele.
Misalnya seperti, Fersya yang lupa mengabari kalau akan pulang malam karena kerja kelompok, Aries yang merahasiakan kaki cederanya dari Fersya agar gadis itu tidak kuatir, atau mereka berdua yang pernah saling diam karena rutinitas yang padat.
Dua tahun lalu mereka berdua pernah berjanji akan saling menjaga komunikasi, tapi seperti yang Aries bilang bahwa masa depan tidak pernah bisa diprediksi. Pesepak bola bernomor punggung sembilan itu juga bilang, nikmati proses dan melakukan yang terbaik untuk hubungan mereka.
Dan itulah yang mereka lakukan selama dua tahun belakangan. Menikmati proses dari hubungan mereka dan melakukan yang terbaik untuk hubungan mereka. Terkadang pasangan itu mesra sekali saat sedang bersua via telepon dan terkadang pasangan itu saling mengambil sikap dingin karena ego masing-masing. Dari semua peristiwa yang pasangan itu lewati, mereka berdua dapat belajar dan sampai akhirnya di titik ini.
Yaaah, seharusnya Fersya mengingat pertengkaran-pertengkaran mereka sebelumnya dan menghubungi keluarga ataupun Aries sekarang juga. Tapi karena rencananya sudah bulat dan lagipula ia sudah sampai di Jakarta dengan selamat, jadi Fersya harap Aries dapat mengerti bila nanti pesepak bola itu terkejut saat melihat dirinya di Jakarta. Apalagi di tempat latihannya.
Fersya tahu semua jadwal Aries, begitu pula sebaliknya. Dan hari ini Aries ada jadwal latihan dan biasanya akan selesai selepas maghrib. Maka dari itu, Fersya buru-buru sampai rumah dan menyapa keluarga lalu istirahat sebentar. Dan semoga saat itu Fersya masih memiliki waktu untuk melihat latihan Aries.
Saat Fersya mengucap salam kencang-kencang dari luar pagar rumahnya, orang tua serta kembarannya langsung tergopoh-gopoh keluar rumah. Tidak menyangka jika salah satu anggota keluarga mereka yang sudah dua tahun tidak ditemui pulang. Ini memang pertama kalinya Fersya pulang ke rumah. Alasannya karena selama liburan semester itu, Fersya gunakan untuk Klub Pencinta Alamnya. Tapi untuk semester ini saja, Fersya izin tidak mengikuti. Tentu saja, karena Fersya rindu mereka yang ada di Jakarta.
"Kok nggak bilang-bilang kalo pulang?" Mamanya berkata sambil memeluknya penuh rindu. Fersya balas dengan hal serupa.
Dilanjutkan dengan Farsya, "Bawa oleh-oleh nggak?"
Berlanjut lagi ke Ayah, "Masuk dulu yuk, pasti capek."
"Yuk." Fersya menggandeng lengan Ayahnya dan masuk ke rumah.
"Kok yang dibales Ayah doang, dasar." Fersya masih dengar perkataan kembarannya itu, dan gadis itu hanya tertawa saja.
"Eca sengaja nggak kasih tau kalian, biar jadi surprise."
"Pantesan beberapa minggu sebelum UAS nggak bilang-bilang mau pergi kemana, tahunya mau pulang." Ayahnya membalas.
"Dan buat Aca, tenang gue nggak lupa kok buat bawa oleh-oleh."
"Jadi oleh-olehnya buat Aca aja?" goda sang Ayah.
"Lah, 'kan yang tanya oleh-oleh cuman Aca."
Ayah dan Mama si kembar misuh-misuh tidak terima, Farsya hanya tertawa saja dan menunggu oleh-olehnya.
Fersya membawa oleh-oleh makanan khas Malang dan kerajinan tangan khas Malang pula. Keluarganya sedang asik membuka setiap buah tangan yang Fersya bawa dan Fersya sunggung minta maaf karena sudah mengintrupsi mereka.
"Ma, Yah, Ca. Aku izin keluar dulu ya."
"Lhoo, kenapa sayang? Kamu baru sampe lho, nggak capek emangnya?"
Farsya mengerti kenapa kembarannya ingin keluar, apalagi kalau bukan untuk bertemu sang kekasih.
"Mau ketemu Aris itu Ma."
__ADS_1
Ayahnya ikut nimbrung, "Ooohh begitu. Ya udah, besok kan bisa istrahat sampe malem juga nggak apa-apa."
Fersya hanya nyengir saja dan tatapannya beralih ke Mamanya. Hubungan Ibu dan anak tersebut semakin baik tiap harinya dan Fersya percaya akan keputusan Mamanya.
Fani mengangguk, mengizinkan putrinya yang baru beberapa menit sampai rumah untuk pergi bertemu pujaan hati. Fersya sudah menduga itu.
"Makasih Ma."
Menepuk punggung kecil putrinya, Fani membalas. "Udah gih sana, udah sore banget ini takut macet dijalan."
"Biar Ayah yang anter."
Fersya mengangguk dan bersiap untuk pergi bertemu Aries. Semoga saja Aries masih berada di sana saat dia sudah sampai nanti dan semoga saja Jakarta bisa sedikit berbaik hati hari ini.
Aries,see you there!
***
Seharusnya Fersya sadar kalau Jakarta jarang sekali ingin berbaik hati di jam-jam krusial seperti ini. Ayahnya dari tadi terus-terusan bilang kalau hubungi saja Aries langsung dan pastikan apakah Aries masih ada di tempat latihannya atau tidak. Tapi berulang kali juga Fersya menolak. Karena rencana Fersya, yaitu ingin membuat Aries terkejut karena kedatangannya. Dan Fersya tidak ingin mengubah rencananya ini.
Seharusnya lagi, Fersya memiliki rencana B, tapi karena sudah kepalang tanggung seperti ini. Ya sudah, jalani saja dulu, bagaimana nantinya biarkan saja semesta yang menjawab.
Fersya sampai dan segera berpamitan pada Rido, "Ayah tunggu di sini. Kalau udah ketemu sama Aris langsung hubungin Ayah ya. Kalo nggak ketemu, balik lagi ke sini."
"Siap Ayah!"
"Eeehh, lo!" teriak Fersya memanggil seseorang yang kebetulan lewat beberapa meter di depannya. Dan kebetulannya lagi, orang itu pernah ia lihat di salah satu foto yang dikirim Aries kepadanya. Dari banyaknya foto yang pernah Aries kiri, orang ini selalu ada di sana. Sepertinya orang ini adalah teman dekat Aries di sini.
Fersya langsung menghampiri orang itu dan meminta maaf karena kelihatannya ia kaget karena teriakan Fersya. Belum sempat Fersya bertanya, seseorang yang ia cari malah nongol. Bagus sih, tapi kan jadinya Fersya yang terkejut karena gadis itu belum siap dengan persiapannya.
Kalian pikir Fersya pulang dan ingin bertemu Aries sang pujaan hati dengan tangan kosong? Oh tentu tidak. Fersya ada sesuatu yang ingin diberikan kepada Aries, tapi melihat sang pujaan bertanya memanggil namanya, memastikan apakah benar ini Fersya membuat gadis itu pasrah saja.
"Fersya? Beneran Fersya nih?"
Fersya tersenyum dengan lebarnya dan merentangkan tangan untuk memeluk Aries.
"Kok nggak ngomong-ngomong kalau pulang?"
"Surprise?"
"Gegayaan supres-supres, harusnya bilang, kalau kamu ke sini dan ternyata aku udah pulang gimana?"
"Ya aku balik ke rumah lagilah. Ngapain repot-repot."
Teman Aries yang melihat pertengkaran dua sejoli itu hanya tertawa dan geleng-geleng saja. Aries yang sadar kalau teman baiknya masih ada di antara mereka, segera saja ia kenalkan dengan Fersya.
"Kenalin, temen baik aku disini. Kevin"
"Bisa aja lo Ris. Kevin" balas teman Aries yang bernama Kevin itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Fersya.
__ADS_1
"Fersya."
"Ini toh sosoknya. Gue duluan deh, nggak mau ganggu yang udah dua tahun nggak ketemu. Duluan ya Ris, Fer" keduanya hanya mengangguk.
Aries tadi sudah mandi dan sudah menenteng tas bawaannya, bersiap untuk pulang. Lelaki itu langsung menggandeng tangan sang pujaan dan mengajaknya keluar.
"Mau kemana kita?" kata Aries dengan mengikuti gaya bernyanyian dari salah satu kartun terkenal, yaitu Dora The Explorer.
"Terserah." balas Fersya yang juga mengikuti gaya bernyanyinya Dora.
"Eh tapi, aku telpon Ayah dulu, tadi Ayah yang anterin aku dan masih nunggu di luar. Takut-takut kalau kamu nggak ada aku bisa langsung pulang bareng Ayah lagi."
Aries mengangguk dan ikut pamit serta meminta izin pada Rido untuk membawa putrinya pergi sebentar. Mereka berdua segera berjalan keluar gedung menuju jalan besar. Aries selama latihan tidak pernah membawa motor, walaupun sekarang ini ia punya motor dan bisa saja menggunakannya saat latihan. Tapi sengaja tidak digunakan karena biasanya, di jam seperti ini ia menelpon sang pujaan yang mungkin saja sedang mengerjakan tugas.
Bedanya sekarang adalah ia tidak menelpon sang pujaan yang sedang mengerjakan tugas, tapi sang pujaanlah yang ada di sampinya saat ini. Mengobrol, bercerita, dan bergurau bersama tentang apa saja.
"Kamu nggak bawa oleh-oleh buat aku?"
"Menurut kamu?"
"Bawa."
"Apa?"
"Kamu."
Fersya tertawa geli, "Gombalnya nggak ilang ya Mas Aries."
Aries juga tertawa dan makin menguatkan genggaman mereka. Ia ayunkan tangan keduanya. Mereka berdua asik saja berbicara. Tidak peduli pada sekitar mereka yang juga sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
Hidup ini tidak pernah bisa diprediksi, masa lalu adalah sejarah. Masa kini penuh dengan usaha dan masa depan adalah mimpi. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Yang bisa dilakukan saat ini adalah melakukan yang terbaik, nikmati setiap proses dan hal apa saja yang terjadi.
THE END
-----------------------------------------------------------
IIIHH MAAF BANGET AKU UPDATENYA SUKA NGGAK NENTU **
Aku tebus kesalahanku dengan update full sampe selesai, tolong terima maafku yaaa.
Makasih banget udah kasih dukungan dengan baca, like, dan comment ceritaku ^^ i really really thanks to you guys **
Kalau kalain mau tau, sebenernya cerita ini udh selesai dari berbulan-bulan yang lalu, hehe dan aku pertama post cerita ini tuh di situs oren (ku harap kalian tau) jadi mangkannya aku lebih utamain situs oren dl baru ini.
So aku harap kedepannya aku bisa lbh konsisten lagi biar para pembaca juga lbh puas baca karyaku
SEE YOU IN NEXT STORY YA ^^
note// aku spoiler dikit next storyku tuh genre fanfic^^ tunggu ceritaku selanjutnya yaaa
__ADS_1