
Hari ini adalah hari ulang tahun si kembar, lebih tepatnya hari ulang tahun Farsya, maka dari itu rumah si kembar ramai orang saat ini. Hal ini sudah menjadi sesuatu yang biasa untuk si kembar karena saat hari ulang tahun Farsya adalah hari untuk perayaan atau syukuran, sedangkan hari ulang tahun Fersya adalah hari family time atau biasanya keluarga mereka akan jalan-jalan ke suatu tempat.
Acara syukuran ini akhirnya dimulai karena semua teman-teman si kembar dan tetangga yang diundang sudah datang. Pak Ustadz memimpin dengan doa semoga si kembar selalu sehat, selalu berbakti kepada orang tua, selalu menjadi anak yang membanggakan untuk kedua orang tuanya.
Setelah pembacaan doa dan tadarus bersama selesai Mama si kembar sibuk mengantar makanan dari dapur ke ruang tamu yang semua sofa dan mejanya sudah dipindahkan, yang tersisa hanya karpet merah saja untuk dijadikan alas duduk.
Si kembar sudah ingin membantu Mamanya itu, tapi malah ditolak. Mama si kembar bilang, "Hari ini dan besok adalah harinya kalian jadi kalian berdua diam saja sambil berbincang dengan teman-teman. Lagi juga ada tante Rosi yang bantuin Mama."
Jika kalian belum tahu, tante Rosi itu adalah sahabat baik Mama si kembar. Tante Rosi memang jarang main ke rumah mereka tapi kalau ada acara penting seperti ini pasti tante Rosi diundang, lebih tepatnya diajak untuk membantu Mama mereka mempersiapkan segala sesuatunya.
Si kembar berpisah ke tempat teman mereka masing-masing karena baik Farsya maupun Fersya berada di kelas berbeda, jadi otomatis pertemanan mereka juga berbeda. Tapi bukan berarti Fersya tidak tahu tentang temannya Farsya ataupun sebaliknya.
Teman-teman yang diundang si kembar hanyalah teman sekelas mereka, itupun tidak semua hanya yang dekat saja, karena kalau semuanya berkumpul dan disatukan rumah si kembar tidak akan muat. Pengecualian untuk satu orang karena orang ini tidak sekelas dengan si kembar tapi tetap diundang.
Kalian tahulah ya siapa orang yang dimaksud.
Siapa lagi kalau bukan Aries.
"Udah habis berapa lo Ris?" tanya Fersya begitu dirinya tiba di samping cowok itu.
Aries yang baru ingin mengambil bolu cokelatnya yang keempat jadi terhambat sedikit. "Baru empat nih Fer."
"Buset, empat dibilang baru." kata Fersya sambil tertawa. Aries hanya cengar-cengir sambil memakan bolu cokelat keempatnya.
Fersya membiarkan Aries memakan bolu cokelatnya, kali ini sudah yang keenam. Kenapa cowok ini kalau soal bolu makannya cepat sekali. Fersya berbincang-bincang dengan teman kelasnya yang lain, tak jarang Fersya juga ikut nimbrung dalam pembicaraan teman-temannya Farsya.
Hari mulai malam, satu-persatu teman-teman si kembar sudah pamit pulang ke rumah masing-masing. Pak Ustadz yang tadi memimpin doa juga sudah pulang beberapa menit yang lalu. Tante Rosi pun juga sudah pulang tadi karena ada panggilan mendadak dari Rumah Sakit yang mengharuskannya stay di sana tepat waktu. Fyi tante Rosi ini seorang dokter.
Yang tersisa hanyalah para tetangga dan dua teman si kembar, yaitu Niko dan Aries. Mereka berdua membantu si kembar membereskan sisa-sisa acara.
Farsya dan Niko kebagian tugas mencuci piring, sedangkan Fersya dan Aries kebagian tugas membuang sampah dan membereskan ruang tamu. Orang tua si kembar sebenarnya tidak menyuruh mereka untuk membereskan sisa acara tapi mereka memang berinisiatif untuk membereskannya.
Aries melihat Fersya yang masih sibuk mengumpulkan sampah makanan, ia sudah selesai dengan tugasnya beberapa detik yang lalu. Aries diam-diam merogoh kantung jeansnya. Di dalam sana tersimpan kado ulang tahun untuk Fersya. Aries bingung harus memberikannya sekarang atau tidak karena walaupun acara syukuran ini untuk ulang tahun si kembar tapi Fersya ulang tahunnya besok bukan sekarang.
Aries takut kalau ia memberikan kado ini sekarang, Fersya akan sakit hati. Tapi tidak mungkin ia berikan kado ini besok, karena Aries tahu kalau besok Fersya akan pergi bertamasya bersama keluarganya.
"Kalo mau kasih, ya kasih aja sih Ris. Orangnya di depan lo ini." ucapan Fersya itu membuat Aries kaget. Buru-buru ia mengeluarkan sebelah tangan yang ada di saku jeansnya, rasanya ia seperti maling yang kepergok mencuri.
"Lo pikir gue nggak liat kado lo yang panjang dan kotak itu di saku jeans lo?" kata Fersya menyindir sambil menekankan kata panjang dan kotak.
Kalau sudah begini lebih baik Aries mengeluarkannya saja kan? Dengan sedikit jengkel ia mengeluarkan kado itu dari saku jeansnya.
"Ambigu banget sih bahasa lo."
"Emang panjang dan kotak dalam bayangan lo itu yang kayak gimana?" tanya Fersya dengan nada meledek.
__ADS_1
Fersya sudah tahu sejak ia datang menghampiri Aries saat cowok itu sedang memakan bolu cokelat keempatnya tadi, karena tanpa Aries sadari kado itu menyembul keluar dari saku jeansnya, jadi Fersya bisa melihat sedikit bentuk kado tersebut.
Aries tak menghiraukan ledekan Fersya tadi, ia langsung mengulurkan tangan kananya yang sedang memegang kado berbungkus koran kepada Fersya.
"Nyolong koran Ayah lo ya Ris!" bukannya langsung mengambil kado pemberian Aries itu tapi Fersya malah meledek Aries.
Lagi.
Fersya sudah pernah bilang kan kalau meledek Aries itu sangat menyenangkan.
"Yeee, tau aja lo." kata Aries sambil tertawa. "Nih ambil kado dan doanya dulu, ucapannya besok ya."
Memang ucapan selamat ulang tahun tadi banyak diucapkan teman-temannya ke Farsya karena hari ini memang hari ulang tahunnya Farsya. Tapi bagaimanapun yang terpenting adalah doa, jadi Fersya tidak terlalu mementingkan ucapan selamat ulang tahun, asal selalu di doakan yang baik saja Fersya sudah bersyukur sekali.
Fersya mengambil kado itu dan tersenyum, kemudian ia menatap Aries dengan pandangan curiga. "Lo nggak ngadoin yang aneh-aneh kan?"
"Suudzon aja lo, baru didoain tadi." Fersya hanya balas dengan tawa.
"Ya ampun kenapa kalian malah beberes." tanpa Fersya dan Aries sadari ternyata orang tua si kembar sudah ada di dekat mereka.
"Hehehe, nggak apa-apa tante. Masa saya SMP, Selesai Makan Pulang." kata Aries sedikit bercanda.
"Lo mah bukan Selesai Makan Pulang, tapi Selesai Makan *****. Liat tuh perut lo ngalahin perut buncit Ayah gue." Fersya lagi-lagi meledek Aries.
"Emang perut Ayah buncit?"
Aries dan Ayah Fersya bertanya bersamaan tapi dengan intonasi berbeda. Rido bertanya dengan nada sedikit kuatir, takut-takut perutnya beneran buncit. Sedangkan Aries bertanya dengan nada sedikit kesal, kesal karena dibilang buncit.
Fersya hanya mengangkat kedua bahunya sambil cengar-cengir. Rido sudah bertanya pada istrinya apa benar perutnya buncit. Fani hanya terkekeh sambil menggeleng.
"Rame banget kayaknya, ada apa sih?" tanya Farsya yang sepertinya sudah selesai mecuci piring. Tak lama kemudian Niko muncul.
"Aca emang perut Ayah buncit?" Rido masih saja belum yakin pada jawaban istrinya tadi.
"Pasti ulah Fersya ya?" tanya Farsya sambil tertawa, ia sudah tahu kadang Fersya ini jail apalagi kalau sudah ada Aries.
Mereka masih saling meledek, mereka yang dimaksud itu Fersya sama Aries, kadang Farsya ikut dalam kelompok Fersya dan Aries untuk meledek seseorang yang saat itu targernya adalah Niko. Pembicaraan terus berlanjut hingga jam sembilan malam.
Aries pamit duluan karena sudah dihubungi Ibunya daritadi, disusul Niko. Rumah sudah bersih, semua barang sudah dirapikan ke tempat semula. Dan keluarga itu sedang berkumpul di ruang keluarga sekarang.
"Ma besok kita berangkat jam berapa?" tanya Farsya.
"Berangkat sore, nak. Jadi kalian bisa rapi-rapi baju besok pagi atau siang. Sekarang istirahat aja biar besok nggak loyo."
"Iya, bener tuh kata Mama. Sana gih tidur." usir Rido.
__ADS_1
Dengan muka kesal Fersya membalas, "Bilang aja mau pacaran."
Orang tua si kembar hanya tertawa. Kemudian, si kembar bangkit dari sofa dan menuju kamar masing-masing.
***
Si kembar bangun seperti biasa, tidak terlalu pagi ataupun siang. Mereka berdua keluar dari kamar disaat yang bersamaan, sepertinya jiwa twins mereka sudah melekat. Hubungan si kembarpun sudah jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya dan Farsya sangat mensyukuri hal itu.
Mereka berdua turun ke bawah dan langsung menuju ruang makan. Sebenarnya rumah si kembar, lebih tepatnya rumah orang tua si kembar tidak terlalu besar, tapi tidak bisa dibilang kecil juga. Keluarga si kembar memang terbilang keluarga yang mampu.
Kedua orang tua si kembar sudah selesai sarapan beberapa jam lalu dan yang ada di ruang makan hanyalah si kembar saja. Mereka makan dengan diam dan menyelesaikan makan dengan diam juga. Tak ada pembicaraan apapun.
Farsya sebenarnya bingung bukannya kemarin kembarannya itu banyak bicara kenapa sekarang kembali diam lagi. Farsya sendiri tidak berani membuka pembicaraan, entahlah padahal mereka ini saudara kembar yang pastinya sedarah tapi ia merasa sangat canggung untuk memulai obrolan duluan.
Fersya kembali ke kamarnya, sedangkan Farsya menuju ruang keluarga dimana kedua orang tuanya berada.
"Eca mana sayang?" tanya Fani.
"Balik ke kamarnya ma." Fani hanya menjawab dengan anggukan dan kembali melanjutkan pandangannya pada televisi.
Terkadang Farsya merasa sedikit ketidakadilan pada Fersya, sungguh Farsya kadang merasakan hal itu. Seperti saat ini, sikap Mamanya terhadap dirinya dan Fersya berbeda. Kadang berbeda.
Mamanya kadang terlalu banyak menaruh perhatian pada Farsya tapi tidak pada Fersya. Mamanya terlalu kuatir akan kesehatan Farsya, ia tahu kalau kekebalan tubuhnya memang lemah terlebih ada asma akut yang dideritanya.
Kerap kali kalau asma Farsya sedang kambuh atau Farsya sedang demam Mamanya terus-terusan mengurusnya dari pagi sampai malam. Farsya rasa tanpa Mamanya sadari, beliau sudah mengacuhkan Fersya.
Ayahnya pun tak banyak membantu menurut Farsya, mungkin karena Ayahnya lebih banyak berada di kantor ketimbang di rumah. Maka dari itu, acara family time ini sebenarnya bagus tapi kenapa waktu lama sekali. Farsya ingin cepat-cepat sore agar mereka segera berangkat.
Farsya tidak tahu orang tua mereka akan mengajak berpergian kemana kali ini. Terlebih besok sudah memasuki tahun baru. Farsya tiba-tiba teringat sesuatu, ia belum mengucapkan selamat ulang tahun pada Fersya.
"Mama sama Ayah udah ucapin selamat ulang tahun ke Fersya?" tanya Farsya.
Orang tuanya berpandangan, tatapan mereka membuat Farsya curiga. Seperti ada yang disembunyikan.
"Mama sama Ayah sembunyiin sesuatu ya?" tanya Farsya penuh selidik.
Lagi-lagi orang tuanya berpandangan dengan tatapan yang mencurigakan. Lalu mereka tersenyum. Rido mengerti maksud tatapan istrinya itu dan mengangguk meminta Fani untuk menjelaskannya saja pada Farsya.
"Mama sama Ayah sebenernya udah beli kue tar buat kalian yang rencananya bakal Mama kasih pas udah sampe sana. Tapi karena kamu udah curiga, ya udahlah berarti kejutannya buat Eca aja."
Penjelasan Mamanya tidak tanggapi dengan antusias oleh Farsya, ia sama sekali tidak masalah jika hanya Fersya yang diberi kejutan. Sepertinya kejutan ini akan menjadi hal yang menyenangkan untuk Fersya.
"Kuenya kapan diambil ma?"
"Jam satu nanti."
__ADS_1
Farsya melihat jam dinding di atas tivi yang sudah menunjukkan jam 11. Ia memutuskan untuk merapikan bajunya sekarang saja jadi nanti siang Farsya bisa ikut Ayahnya mengambil kue.
"Aca rapihin baju dulu ya, ma, Ayah."