
Senin datang kembali, hari ini semua murid akan melaksanakan UAS
untuk semester ganjil. Untuk angkatan si kembar setelah UAS semester ganjil ini
mereka akan liburan semester dan saat masuk semester genap nanti mereka akan
menghadapi berbagai macam ujian.
Selama seminggu sebelum UAS, Fersya sering belajar bareng di rumah
Aries. Jangan tanya kenapa di rumah Aries melulu. Tahulah ya.
Tapi selama seminggu itu juga Farsya dan Niko terus-terusan
mendekati Fersya, mereka berdua terus-terusan minta ikut belajar bareng,
padahal Farsya dan Niko ada di jurusan MIPA berbeda dengan Fersya dan Aries
yang ada di jurusan IPS.
Fersya sudah menolak, tapi yang punya rumah kan Aries jadi semua
keputusan ada pada Aries dan tanpa Fersya duga Aries menyetujui ajakan belajar
bareng itu. Jadi selama seminggu sebelum UAS itu mereka berempat sering belajar
di rumah Aries kadang juga di rumah si kembar.
UAS hari pertama berjalan lancar, seperti yang sudah direncanakan
Fersya dan Aries, mereka akan belajar untuk UAS hari esoknya. Seperti sudah
menduga kalau Farsya dan Niko akan bergabung, mereka berdua mengiyakan saja
saat Farsya dan Niko ingin ikut. Dan kali ini mereka belajar di rumah Niko
karena dari kemarin hanya rumah Niko yang belum dijamah.
Rumah Niko itu ada di depan rumah si kembar, mangkannya Farsya dan
Niko sering berangkat bareng tapi Fersya memilih untuk berangkat atau pulang
sekolah sendiri. Tentu saja karena Fersya tidak ingin menjadi nyamuk, kambing
congek atau sebutan lainnya.
Niko mempersilakan mereka bertiga untuk duduk di ruang tamu. Sebenarnya
untuk Farsya, ia sudah tidak canggung lagi kalau di rumah Niko karena ia cukup sering
main ke rumah Niko. Tapi tidak untuk Fersya dan Aries, walaupun ini bukan
pertama kalinya Fersya berkunjung ke rumah Niko tetap saja karena ia jarang
main ke rumah Niko jadinya Fersya tidak terbiasa dengan rumah ini.
Rumah Niko dan rumah orang tuanya sama saja. Tidak bisa membuat
Fersya merasa terbiasa.
“Rumah Niko sepi ya.”
Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Dari siapa lagi kalau bukan
Aries. Fersya hanya balas mengangguk.
Fersya memang tidak sering main ke rumah Niko, tapi Fersya tahu
kalau kedua orang tua Niko bekerja dan pulangnya cukup malam jadi otomatis
dihari biasa seperti ini rumahnya terlihat sepi. Sebenarnya Fersya dan Niko ini
sama, sama-sama kurang diperhatikan. Tapi entah kenapa Fersya tidak bisa merasa
nyaman setiap kali harus mengobrol dengan Niko.
Tidak lama kemudian Niko datang dengan pakaian rumahnya dan membawa
nampan berisi minuman di tangannya.
Kenapa gue nggak ganti
baju dulu di rumah ya? Bodoh memang, biarinlah nanggung.Batin Fersya.
Mereka berempat belajar di ruang tamu rumah Niko sampai maghrib.
Setelah Aries dan Niko solat di masjid dekat rumah Aries pamit pulang duluan
dan sisalah mereka bertiga di rumah Niko.
Fersya sebenarnya ingin ikutan pulang saat Aries pamit duluan
tadi, tapi ia merasa tidak enak dengan Farsya karena sepertinya Farsya masih
ingin belajar bareng Niko, Fersya juga tidak mungkin meninggalkan Farsya dan
Niko berdua di sini. Bukannya ingin berprasangka buruk, tapi semua hal bisa
saja terjadi bukan?
“Gimana kalau lanjut belajarnya di rumah aja Far?”
Farsya tahu kalau Fersya sudah mulai tidak nyaman semenjak Aries
pulang, tapi ia memutuskan untuk mengabaikannya saja.
“Lo mau pulang Fer?” balas Farsya tanpa melepaskan pandangannya
dari buku yang sedang dibacanya.
Balasan Farsya yang cukup cuek itu sebenarnya bukan hal yang aneh
buat Fersya karena ia tahu kalau Farsya saat ini sedang datang bulan. Tapi
entah mengapa beberapa kali hal itu membuat Fersya sedikit sakit hati.
“Hm”
“Ya udah, pulang aja”
“Nggak mungkinlah gue ninggalin lo berdua doang di sini.”
“Kan lo udah biasa ninggalin gue berdua doang sama Niko, kenapa
sekarang malah protes.”
Farsya tahu kalau perkataannya tadi cukup keterlaluan, tapi moodnya benar-benar jelek hari ini.
Mulai dari ia yang telat mengumpulkan kertas ujian, kehilangan pulpen
satu-satunya dan entah mengapa saat Fersya yang mengganggunya yang sedang
khusyuk membaca membuatnya kesal juga.
__ADS_1
“Terserah lo deh!”
Buru-buru Fersya membereskan buku dan alat tulisnya dengan kesal.
Ia langsung keluar tanpa berpamitan pada Niko maupun Farsya. Niko yang
sedaritadi hanya memperhatikan hanya bisa menghela napas.
“Lagi dateng bulan ya Far?”
Farsya hanya membalas dengan anggukan.
“Ya udah, mending lo pulang istirahat. Lagian kita kan udah
belajar dari siang, kalau lo memforsir tubuh lo nanti malah drop. Gih sana pulang.”
“Cih, ngusir.” sindir Farsya sambil senyum. Melihat Farsya yang
sudah tersenyum lagi membuat Niko ikutan tersenyum.
Kemudian, Farsya membereskan buku dan alat tulisnya dan pamit
kepada Niko. Tidak lupa Farsya menawarkan makan malam bareng di rumahnya yang
di tolak Niko. Kata Niko, Mamanya memasak tadi pagi jadi masakannya bisa
diangetin. Farsya membalas dengan anggukan dan melangkah keluar rumah Niko.
Saat sampai rumah Farsya langsung menuju kamar untuk bebersih
badan dan saat ia melihat kamar Fersya yang tertutup membuatnya teringat
perdebatan kecil tadi. Farsya ingin meminta maaf atas sikapnya tadi, tapi
egonya masih menang jadi ia memutuskan langsung masuk kamar dan bebersih badan.
***
UAS telah usai kemarin, dihari Sabtu ini Fersya tidak punya
rencana sama sekali. Ia tidak bisa main ke rumah Aries hari ini karena nenek
Aries yang ada di kampung sakit, jadi Aries juga harus ikut untuk nengokin
neneknya, mbak Ira pun ikut juga jadi Fersya tidak punya alasan lain kalau
ingin main keluar. Fersya juga sedang malas untuk jalan-jalan sendirian, saat
ini ia butuh teman. Tapi tidak ada yang asik yang bisa di ajaknya jalan.
Di saat Fersya sedang memainkan handphonenya karena bosan, tiba-tiba saja ada yang masuk ke
kamarnya.
Kamar Fersya ini tidak ada apa-apanya dengan kamar Farsya. Dengan
cat kamar berwarna biru laut, Fersya tidak menaruh foto atupun poster di
dindingnya, tidak seperti Farsya yang memiliki banyak poster artis idolanya.
Rak buku Fersya hanya diisi oleh buku sekolah saja, berbeda dengan
Farsya yang rak bukunya penuh dengan buku atau novel yang dibelinya sendiri.
Intinya kamar Fersya ini sederhana sekali dan Fersya nyaman dengan kamarnya
sendiri. Tentu saja kamar sendiri memang jauh lebih nyaman dari apapun.
kembarannya.
Farsya.
Ngapain Farsya ke sini?
Bukannya apa-apa, memang Farsya jarang sekali main ke kamarnya,
mangkannya Fersya heran kenapa Farsya datang. Dinaikkan satu alisnya, Farsya
tak menggubris hal itu ,malah langsung melenggang dan duduk di pinggiran
kasurnya.
“Temenin gue cari buku yuk, Fer.”
Entah itu ajakan atau permintaan, tapi cukup menarik karena Fersya
benar-benar sedang bosan di kamar, ia butuh udara segar setelah satu minggu
terus berkutat dengan kertas.
“Di mana?”
“Gue sih mau cari di sekitar daerah Jatinegara dulu, kalau nggak
ada baru ke Salemba.”
“Ya udah yuk cus!”
Farsya tadinya sempat heran kenapa Fersya tiba-tiba semangat
sekali sama ajakannya karena biasanya Fersya selalu menolak kalau ia meminta
untuk ditemani mencari buku. Ya, yang tadi bukan pertama kali Farsya meminta
Fersya untuk menemaninya, tapi yang tadi merupakan pertama kalinya Fersya
mengiyakan permintaannya.
Si kembar siap-siap untuk pergi, lebih tepatnya Fersya yang sedang
bersiap-siap karena saat Farsya ke kamar Fersya tadi, ia sudah rapi dengan
pakaiannya yang kasual. T-shirt putih yang dimasukkan ke dalam celana jeansnya.
Berbeda dengan Farsya, Fersya memakai t-shirt hitam dipadukan
dengan kemeja kotak berwarna biru hitam yang tidak dikancing beserta celana
jeans hitamnya. Fersya memang suka warna hitam dan biru.
Saat Fersya merasa sudah rapi dengan penampilannya, ia mengambil
tas selempangnya dan turun ke bawah.
Si kembar meminta izin untuk pergi dan orang tuanya bilang kalau
pulang jangan sampai malam dan hanya di-iyakan oleh mereka.
“Nggak capek ya buat ngajak gue.” sindir Fersya saat mereka berdua
sudah ada di dalam busway.
“Nggak akan pernah.” balas Farsya sambil terkekeh dan tanpa sadar
__ADS_1
Fersya juga ikut terkekeh.
Saat si kembar sampai di halte yang dituju, mereka berdua segera
turun dan menuju pasar Jatinegara.
“Kita kemana dulu?” tanya Fersya.
Sebenarnya Farsya belum pernah cari buku di daerah Jatinegara, ia
lebih sering cari buku di toko buku besar yang ada di daerah Matraman atau di
Salemba. Tapi kata Anis di daerah Jatinegara banyak buku bekas yang bagus-bagus
dan kebetulan Farsya juga sedang mencari beberapa buku lama yang mungkin saja
sudah jarang ada di toko buku besar sekalipun.
Farsya balas dengan cengengesan sambil menggeleng. Membuat dahi
Fersya berkerut.
“Lah macam mana itu. Terus ini kita mesti kelilingin seluruh
pasar?”
“Buat apa ada banyak orang kayak gini kalau nggak kita gunain buat
bertanya?” Fersya hanya balas dengan anggukan.
Mereka berdua mulai masuk ke dalam pasar. Farsya melihat kiri dan
kanannya, melihat apakah ada toko buku di sana, sedangkan Fersya hanya menatap
lurus kedepan kadang ia melihat orang-orang yang sedang mengobrol, pembeli dan
penjual yang sedang melakukan penawaran.
Sebenarnya Fersya bukan tipe orang yang suka ke pasar atau
berbelanja, karena satu; ia tidak pandai menawar, dan yang kedua; Fersya pusing
melihat banyaknya dagangan yang ada di pasar, sehingga membuatnya bingung untuk
membeli apa. Jadi ia memutuskan untuk melihat lurus ke depan atau melihat
orang-orang yang ada di pasar ini.
Saat mereka rasa tidak akan ada toko buku di sini, Farsya
memutuskan untuk bertanya pada salah satu pedagang. Setelah Farsya tahu dimana tempatnya,
mereka melanjutkan perjalanan mereka.
“Gue mau beli minum dulu. Lo mau minum apa?” tanya Farsya. Ia
melihat pedagang minuman di depan sana dan Farsya juga sudah haus daritadi jadi
sekalian saja ia tawari Fersya.
“Air putih aja, tapi jangan yang dingin.”
Farsya hanya membalas dengan symbol tangan membentuk huruf O.
Fersya memutuskan untuk mencari tempat duduk di sekitaran pedagang minuman itu,
saat ia sudah menemukannya dan duduk di sana, Fersya melihat kembarannya yang
sudah selesai membeli minuman dan sedang celingukan mencari dirinya. Fersya
tertawa dalam hati, lucu juga melihat Farsya yang kelimpungan begitu.
Tidak tega melihatnya yang terus-terusan mencarinya dan belum juga
menemukannya, Fersya memutuskan untuk melambaikan tangannya agar Farsya dapat
melihatnya.
“Ih! Nggak bilang-bilang kalau mau cari tempat duduk.” kesal
Farsya saat sudah sampai dihadapan Fersya. Farsya langsung memberikan minuman
yang dipesan Fersya tadi.
“Hahaha! Maaf deh, tadi tuh gue udah liat lo selesai beli minuman
tapi pas liat muka lo yang bingung cari gue tuh lucu banget.” balas Fersya
sambil tertawa dan segera menerima minuman yang tadi dikasih Farsya.
Farsya balas dengan memukul kecil lengan Fersya.
Mereka mengistirahatkan kaki dan tenggorokkan mereka dahulu baru
melanjutkan perjalanan. Saat sudah menemukan toko buku, Farsya langsung masuk
kedalam dan dengan cepat menghilang dibalik rak-rak buku.
Fersya hanya menunggu di luar toko buku. Jika ditanya Fersya pegal
atau tidak, jawabannya tidak karena ia selalu suka jalan-jalan, apalagi saat
ada yang menemani. Kesannya jones sekali ya Fersya ini.
Setelah menunggu sekitar 30 menit, yah ternyata Fersya baru tahu
kalau Farsya bisa selama itu untuk memilih sebuah buku saja. Yap, Farsya keluar
dengan membawa sebuah buku dan sebuah cengiran di wajahnya. Melihat itu membuat
Fersya ikutan tersenyum.
“Lanjut Salemba atau pulang?”
“Pulang aja Fer, capek gue.”
Fersya membalas dengan anggukan dan tawa. Mereka jalan menuju
halte dan menunggu busway tujuan mereka datang. Saat busway itu datang mereka
masuk dan Fersya melihat masih ada satu tempat duduk di bagian wanita.
“Duduk di sana Far. Capek kan lo?”
“Lo gimana?”
“Santai, gue diri di samping lo.”
Hari ini memang melelahkan untuk Farsya, tapi mengesampingkan
semua itu, hari ini adalah hari yang menyenangkan untuknya dan Farsya berharap
ini juga hari yang menyenangkan untuk Fersya.
__ADS_1