
Sudah tiga hari Fersya di Bandung, mereka tinggal di pondok yang memang sudah disiapkan oleh panitia lomba. Pondok itu tentunya berada dekat dengan tempat acara. Selama acara berlangsung Fersya sama sekali tak memikirkan keadaan rumah dan sebagainya karena acara lomba teater ini benar-benar membuat Fersya melupakan masalah yang sedang terjadi.
Saat hari pertama mereka sampai ditempat acara, teman-teman Ira langsung menaruh barang-barang keperluan untuk pementasan nanti di tempat yang sudah diberitahu panitia acara.
Hari pertama itu sebenarnya hanya untuk beristirahat dan besoknya baru ada perlombaan untuk pementasan drama monolog. Tapi tentu saja untuk peserta lomba tidak ada yang namanya istirahat terlebih saat itu sudah H-1 perlombaan. Fersya yang bukan bagian dari mereka saja bisa merasakan ketegangan dan gugupnya, bagaimana dengan yang melakukan pementasan.
Tapi saat keesokan harinya, saat acara perlombaan itu berlangsung, gugup mungkin masih melingkupi, namun semua itu seakan sirna saat pementasan dimulai. Fersya memang sering menonton drama ataupun film di televisi tapi baru kali ini Fersya melihat pementasan drama monolog secara langsung dan Fersya benar-benar merasa terkesima.
Aries yang saat itu melihat Fersya sangat fokus menonton malah meledek. "Nggak akan ada makanan yang langsung loncat ke mulut lo Fer." kata Aries sambil mengatupkan mulut Fersya yang saat itu ternyata terbuka lebar. Fersya hanya memberi tatapan mautnya pada Aries dan memberi isyarat diam dengan tangannya.
Dan di hari ketiga ini lagi-lagi Fersya dibuat terkesima---kali ini mulutnya tidak terbuka lebar---oleh pementasan drama yang disuguhkan dari setiap peserta. Setelah pementasan selesai, panitia memberikan jam istirahat baru setelah itu mereka akan langsung mengumumkan pemenang untuk perlombaan drama monolog kemarin dan pementasan drama hari ini.
Teater kampusnya Ira tidak membawa pulang piala untuk pementasan drama monolog tapi untuk pementasan drama berkelompok mereka membawa pulang piala juara dua. Saat juri menyebutkan nama teater kampus Ira, bukan hanya Ira dan teman-temannya saja yang terkejut tapi Fersya dan Aries juga sama terkejutnya. Bahkan Aries dan Fersya tanpa sadar berpelukan dan hal itu mengundang ledekan dari teman-temannya Ira. Fersya hanya bisa menunduk malu dan memukul kecil lengannya Aries seakan hal itu terjadi karena kesalahan Aries. Padahal Fersya juga membalas pelukan Aries.
Acara benar-benar berakhir menjelang maghrib dan setelah itu mereka bebas untuk kemanapun karena memang sudah tidak ada kegiatan lagi. Besok mereka akan pulang ke rumah masing-masing.
Ira dan teman-temannya sedang berkumpul dengan teater kampus lain mungkin untuk menambah relasi antar kampus dan hal itu memang diperlukan agar apabila ada informasi tentang lomba atau pementasan mereka mungkin bisa ikut.
Fersya yang bingung ingin kemana karena ia sendirian saja di sini dan ia tidak mengenal satupun kecuali Ira, teman-teman Ira dan Aries. Tapi saat ini orang-orang yang dikenal Fersya sedang sibuk mengobrol dengan yang lainnya.
Saat Fersya memutuskan untuk kembali saja ke pondok dan akan menghubungi Ira melalui chat saat itulah hpnya berdenting. Ada chat yang masuk. Fersya pikir Ayahnya atau kembarannya yang memang selama tiga hari ini lumayan sering menghubungi Fersya sekedar menanyakan kabarnya. Tapi bukan kedua orang itu yang chat dirinya.
From : Mama
Eca mama telf kamu ya?
Ya, chat itu berasal dari Mamanya.
Baru beberapa detik Fersya terkejut karena chat dari Mamanya, tiba-tiba saja ada telpon masuk. Mamanya benar-benar menelponnya. Fersya bingung apakah ia harus menerimanya atau tidak? Tapi saat melihat chat Mamanya tadi saja Fersya masih merasakan sakit hati dari kejadian itu bagaimana mungkin ia bisa menerima panggilan telpon Mamanya ini.
Tapi Fersya diingatkan oleh pesan Ira untuk tidak menolak panggilan telpon dari Mamanya. Saat itu Fersya sangsi apakah mungkin Mamanya akan menghubunginya tapi sekarang hal itu bukanlah keraguan lagi karena Mamanya benar-benar menghubungi dirinya. Fersya ingin memberanikan diri mengangkat telpon Mamanya tapi terlambat karena panggilan tersebut sudah berakhir.
Fersya pikir Mamanya tidak akan menelonnya lagi. Tanpa berpikir lagi Fersya langsung mengangkat panggilan telpon itu.
__ADS_1
Tidak ada sapaan dari Mamanya saat Fersya mengangkat panggilan itu, entahlah apa mungkin Mamanya sama terkejutnya seperti dirinya sehingga sulit untuk menyapa dirinya. Tapi Fersya juga tidak punya keberanian untuk menyapa duluan. Sudah satu menit mereka hanya diam dan selama satu menit itu hanya diisi oleh napas mereka saja.
"Eca gimana kabarnya sayang?" akhirnya Mamanya lah yang menyapa duluan.
"Baik. Mama sendiri?"
"Mama juga baik sayang." jeda beberapa detik sampai akhirnya Fani melanjutkan ucapannya. "Besok Mama jemput di rumah Aries ya? Boleh?"
"Terserah Mama aja."
"Ya udah." Fersya pikir pembicaraan dengan Mamanya akan berhenti disini, seperti sebelum-sebelumnya, rupanya tidak Mamanya melanjutkan pembicaraan ini sampai 30 menit lamanya dan setelah Mamanya mengakhiri panggilan itu karena ingin menyiapkan makan malam Fersya baru sadar kalau telinganya terasa panas dan adzan maghrib siap berkumandang. Sebaiknya ia buru-buru ke pondok untuk persiapan solat maghrib berjamaah di aula nanti.
Selama perjalanan menuju pondok, pikiran Fersya tak bisa berhenti mengingat percakapannya dengan Mamanya tadi. Entahlah, segala rentetan peristiwa beberapa hari lalu antara dirinya dengan Mamanya meluap begitu saja.
Fersya senang karena biasanya obrolan antara Mamanya dengan dirinya hanya seputar pertanyaan biasa atau perdebatan saja. Tapi kali ini berbeda, mereka berdua saling bertukar cerita dan hal itu membuat Fersya tak bisa untuk berhenti tersenyum.
***
Sebenarnya rencana ini bukanlah rencana yang memang sudah dipersiapkan dari jauh hari, justru rencana ini super dadakan. Fersya semalam memang kembali ke pondok lebih awal dan saat Ira masuk ke kamar sekitar pukul sembilan dan memberitahunya kalau besok mereka akan jogging. Fersya saat itu tentu saja kaget, kenapa tiba-tiba sekali tapi ya sudahlah, apa salahnya ikut jogging.
Dengan keadaan yang masih mengantuk Fersya sudah berada di lapangan pondok untuk berkumpul agar berangkat joggingnya bisa bersama-sama agar tidak ada yang kesasar nanti. Fersya menyapukan pandangannya, sepertinya yang ikut acara jogging ini bukan hanya anak teater Ira saja, karena Fersya melihat beberapa orang yang tak dikenalnya ikut berbaris.
Candra si sang ketua mengkoordinir teman-temannya untuk jogging mengikutinya dan jika ada yang ingin mendahuluinya boleh saja asal berdua atau jangan sendirian. Mereka mulai meninggalkan lapangan pondok itu dan berlari dengan pelan. Di samping Fersya ada Ira, tapi sepertinya langkah kaki Ira lebih cepat daripada dirinya.
"Mbak Ira kalau mau duluan aja, nggak apa-apa kok."
Ira berpikir sebentar. Ira memang tidak terbiasa dengan tingkat kecepatan Fersya yang cukup lambat menurutnya. Ia menyusuri pandangan ke depan dan belakangnya, melihat apakah ada orang yang dikenalnya atau tidak. Saat itulah ia melihat Aries di depannya, hanya berjarak tiga pasangan saja darinya.
"Aris!!!" si Aries yang dipanggil Ira langsung memutar arah larinya dan menghampiri Ira. Fersya sudah tahu maksud Ira saat mbaknya Aries itu memanggil adiknya.
"Tukeran tempat Ris, mau kan lo?"
Tanpa disangka-sangka Cindy yang ternyata ada di belakang mereka nyeletuk, "Mau banget lah pasti, kesempatan masa nggak diambil, ya nggak Ris?" Cindy mengucapkan itu sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Ya udah, gih sono mbak."
"Kok gue malah diusir, dasar adik tidak tahu diri." kata Ira sambil memberi cubitan kecil di pinggang Aries. Aries yang mendapat serangan berjingkit karena cubitan Ira itu. Setelah Ira berpindah ke tempat yang tadi ditempatinya, Aries pun menyamakan langkah kaki Fersya.
"Kemaren gue liat lo lagi telponan, sama nyokap?" Fersya hanya menjawab dengan anggukan.
"Udah baikan?"
"Entahlah, mungkin?"
"Mungkin?"
"Iya, karena kan gue sama nyokap udah diem-dieman selama dua tiga harian dan tetiba nyokap telpon kemarin. Dan kemarin memang kita ngobrol cukup lama, cuman gue nggak mau mengira-mengira kalau kita udah baikan."
"Kalo menurut lo sendiri?" Fersya bingung maksud Aries apa? Menurutnya pertanyaan Aries tidak ada hubungannya sama apa yang dikatakan Fersya barusan.
"Menurut lo sendiri, lo udah memaafkan nyokap lo?" pertanyaan Aries itu cukup membuatnya berpikir. Apa Fersya sudah memaafkan Mamanya? Apa Fersya masih marah pada Mamanya?
"Apa sih Ris, pertanyaan lo nggak nyambung sama sekali." akhirnya yang keluar dari mulut Fersya adalah kesinisan.
"Emang, gue cuman pengen lo mempertanyakan diri lo, apa lo udah memaafkan kesalahan nyokap lo dan diri lo sendiri?" kata-kata terakhir itu Aries ucapkan dengan sedikit tekanan.
"Nggak perlu lo kasih tau jawabannya ke gue, karena pertanyaan dan jawaban itu emang bukan buat gue, tapi buat lo Fer. Jadi tanyakan sama diri lo sendiri, biar nanti pas lo pulang dan ketemu nyokap lo, lo nggak akan berusaha untuk menghindar lagi dan rasa sakit lo nggak akan sesakit sebelumnya. Mungkin gue sok bijaksana dan ikut campur tapi entah kenapa gue merasa berhak untuk itu." setelah itu Aries mengacak-acak rambutnya dan berlari duluan.
"Kak Cin, tolong temenin Fersya ya. Lelet sih lo Fer, gue duluan."
Fersya yang tadinya masih terkejut akibat ucapan dan tindakan Aries tadi segera tersadar saat Aries mengejeknya. Dengan kesal Fersya melayangkan tendangan yang pastinya tidak akan kena ke Aries karena cowok itu sudah jauh dari jangkauannya.
"Serius banget sih pembicaraan kalian kayaknya, tapi kok Aries sampe ngelus-ngelus kepala kamu ya?" ohh, tentu saja Cindy pasti melihat apa yang dilakukan Aries tadi dan tidak akan melewatkan kejadian barusan.
"Bukan ngelus kak Cin, tapi ngeberantakin. Udah ah aku duluan ya kak." baru Cindy ingin menahan Fersya agar jangan jogging sendirian, tapi sepertinya itu tidak perlu karena tepat di depan sana sudah ada lapangan yang tadi mereka tempati untuk berkumpul.
Gagal deh godain Fersya.
__ADS_1