Genap & Ganjil

Genap & Ganjil
26


__ADS_3

Bus yang ditumpangi Fersya beserta Aries dan teman-teman Ira berhenti di tempat yang sama seperti saat mereka berangkat empat hari lalu. Satu persatu keluar dari bus sambil membawa barang sendiri dan alat-alat teater. Tak terkecuali Fersya, sebenarnya Fersya tidak wajib untuk membawa alat-alat teater itu, tapi Fersya juga akan merasa tidak enak jika tidak membantu sama sekali.


Fersya menaruh alat teater yang dibawanya dan segera menghampiri Aries. Dia lelah sekali, ingin cepat-cepat sampai rumah tapi Fersya tidak melihat Aries ataupun Ira. Fersya sih tidak masalah kalau harus pulang sendiri tapi Fersya tidak bisa pulang begitu saja tanpa pamit dan Fersya tidak bisa melakukannya sendiri karena malu.


Baru Fersya ingin bertanya pada salah satu teman Ira---yang omong-omong Fersya lupa siapa namanya---tapi Aries sudah lebih dulu memanggilnya sambil berlari-lari.


"Kemana aja sih? Dari tadi gue cariin lo tau. Gue mau pulang duluan Ris."


"Nah, kebetulan." kata Aries sambil mengatur napasnya dan Fersya berusaha mengeluarkan botol air yang tadi dibeli di Bandung, "Nyokap lo udah nungguin di parkiran." ucapan Aries menghentikan gerakkan Fersya yang hendak memberikan botol air miliknya kepada cowok itu.


Aries yang belum menyadari sikap Fersya yang tiba-tiba diam karena ucapannya malah merebut botol air dari tangan Fersya dan meminum isinya sampai tandas. Fersya tidak peduli air minumnya habis, toh dia sudah mau pulang. Tapi kalau mengingat perkataan Aries tadi bahwa Mamanya sedang menunggu diparkiran membuat Fersya tegang.


Fersya belum siap untuk membicarakan masalah itu lagi, Fersya benar-benar ingin istirahat, langsung pulang dan tidur di kamarnya. Tapi kalau Mamanya menjemput, mungkin Fersya berpikiran negative, tapi Fersya tak bisa pungkiri kalau Fersya belum mau membahas masalah itu lagi.


"Fer," Aries yang sudah selesai meminum air yang diberikan Fersya tadi baru sadar kalau cewek yang ada dihadapannya ini diam saja sedari dia mengucapkan kata itu. "kalau emang lo belum siap ketemu nyokap lo biar gue bilang sama beliau kalau gue aja yang anter lo pulang."


Fersya terdiam, gadis itu bingung harus bagaimana. Fersya tidak ingin pulang bersama dengan Mamanya karena takut akan membahas hal itu lagi, tapi jika dia pikirkan lagi bukankah empat hari ini Fersya sudah cukup lari dari masalahnya? Bukankah sekarang saatnya untuk dibicarakan baik-baik dan berdamai dengan segala keputusan yang ada nantinya? Bukankah sekarang saat untuk Fersya berani dengan keputusannya sendiri?


Setelah cukup lama terdiam dan berpikir akhirnya Fersya mendapat jawabannya. Dengan gelengan dan senyuman Fersya menjawab.


"Nggak, gue pulang bareng nyokap aja."


***

__ADS_1


Di dalam mobilnya, Fersya dan Mamanya hanya diam-diaman saja. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Fersya terlalu canggung untuk memulai percakapan, sedangkan Fani terlalu takut anaknya akan mengabaikan pembicaraan.


Tidak, Fani tidaklah sebodoh itu untuk memulai pembicaraan dengan mengungkit masalah mereka. Bukannya membaik, hubungan yang sudah ditahap kehancuran nantinya malah akan hancur beneran.


Fani hanya ingin berbincang santai saja dengan Fersya, karena selama Fersya pergi ke Bandung empat hari kemarin membuat Fani sedikit banyak sadar kalau dia sudah sangat pilih kasih dengan anaknya yang satu itu.


Saat si kembar pulang sekolah memang biasanya Fani bertanya pada mereka bagaimana kegiatan di sekolah, Fersya yang sifatnya cendrung cuek saat ditanya hanya menjawab sekedarnya saja. Dan disitulah salahnya Fani, bukannya terus memancing Fersya supaya bercerita lebih banyak, ia malah membiarkan begitu saja sampai akhirnya Fani asik mengobrol dengan Farsya.


Kecuali perdebatan mereka, Fani dan Fersya bisa dibilang memang jarang berbincang-bincang santai layaknya perbincangan antara Ibu dan anak. Tapi kali ini Fani punya kesempatan itu, jadi daripada takut lebih baik memberanikan diri bukan?


"Gimana kegiatan di sana? Seru?"


Fersya yang sedang bertengkar dengan pikirannya sendiri, saat salah satu pikirannya bilang untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu lalu pikirannya yang satu lagi mengatakan kalau belum siap, pertengkaran batin itu sebenarnya masih awet sampai saat Fani memecahkan keheningan dan membuat Fersya yang memang belum siap menjawab dengan tergagap.


"Ehhh, seru kok Ma. Hehehe."


"Mama dulu pernah ikut teater, seru deh. Bener kan? Apalagi pas pementasan tuh rasanya semua capek dan usaha yang udah dikeluarin nggak berasa. Asik aja di atas panggung, salah sedikit, bodo amat penonton mana tau kita ada salah kata atau gerakan. Salah banyak, bablas aja jangan sampe kacau di panggung karena hal itu. Kalau Mama inget dulu, bener-bener seru sih, baik dari prosesnya ataupun pas lagi pementasannya."


"Mama pernah ikut teater?"


"Pernah." mobil yang dikendarai Fani berhenti, bukan karena mereka sudah sampai rumah tapi karena lampu merah sedang menyala.


Mendengar Mamanya yang pernah ikut teater membuat rasa penasaran Fersya timbul. "Pentasin apa aja Ma?"

__ADS_1


Lampu merah sudah berubah menjadi hijau, jalanan cukup lancar setelah lampu merah tadi selancar pembicaraan Ibu dan anak yang ada di dalam mobil ini. Mereka asik berbicara sampai tanpa sadar mereka sudah sampai di rumah.


Fersya mengambil tasnya yang ada di jok belakang mobil dan keluar dari mobil. Fersya urung untuk masuk rumah duluan, ditunggu Mamanya yang sedang memasukkan mobil ke dalam garasi dan setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah bersama.


"Assalamu'alaikum, Eca pulang!" bukan Fersya yang ngomong tapi Mamanya.


Ternyata Ayahnya dan Farsya sudah ada di ruang tamu seakan memang sedang menunggu kepulangan Fersya. Hal itu membuat perasaan Fersya menghangat.


"Udah sehat Far?"


"Udah kok."


Farsya merentangkan tangannya, Fersya mengerti maksud tindakan Farsya itu. Apalagi kalau bukan pelukan. Ya, tanpa sadar Fersya rindu dengan rumah ini, walaupun rumah ini jarang memberi kenyamanan untuknya bagaimanapun rumah sendiri tetaplah yang ternyaman.


Tanpa sadar Fersya rindu atmosfer yang ada di rumah ini. Mungkin Fersya jarang ikut kalau orangtua dan kembarannya sedang berkumpul, tapi karena mungkin sudah biasa hanya melihat mereka berbincang santai membuat Fersya rindu. Dulu Fersya iri sekali dan kesal karena mereka selalu berkumpul tanpa adanya Fersya.


Tapi sekarang Fersya sadar kalau selama ini baik orangtuanya atau Farsya selalu mengajak dirinya untuk ikut bergabung, tapi Fersya selalu menolak karena pikiran negatif Fersya yang berpikir kalau mereka tidak butuh Fersya. Pada dasarnya pikiran buruk itulah yang selalu menghantui dirinya dan membuat dirinya merugi.


Dilihatnya satu-persatu anggota keluarga di rumah ini. Ayahnya yang walaupun jarang ada di rumah karena pekerjaannya tapi berusaha untuk mendukung dirinya. Mamanya yang walaupun sering berdebat dengannya tapi tak bermaksud lain, Fersya rasa itulah bentuk kasih sayang Mamanya pada dirinya.


Dan Farsya. Jika ditanya apakah Fersya iri dengan kembarannya itu? Jawabannya sebenarnya tidak. Fersya tidak iri pada Farsya hanya saja Fersya iri pada keadaan yang selalu mendukung Farsya. Fersya merasa bersyukur karena memiliki saudara seperti Farsya. Bisa saja Farsya menjauhi dirinya karena sikapnya yang lebih banyak kasarnya daripada manisnya pada Farsya. Tapi dari semua sikap dan perlakuannya pada Farsya tak pernah sekalipun Farsya bertanya apalagi menjauh. Farsya selalu ada untuknya.


Mungkin orangtuanya menomor duakan dirinya karena keadaan Farsya. Tapi cukup satu orang yang selalu menomor satukan Fersya, yang selalu memprioritaskan Fersya. Tentu saja dia adalah saudara kembarnya sendiri. Farsya.

__ADS_1


Mungkin sekarang sudah bertambah, orangtuanya dan juga Aries. Aaahhh, pasti kalian kangen dengan cowok tengil satu itu. Sama Fersya juga kok, padahal baru tadi siang Fersya masih bareng Aries sebelum akhirnya harus pulang karena Fersya sudah lelah.


Ngomong-ngomong, Aries lagi apa ya?


__ADS_2