Genap & Ganjil

Genap & Ganjil
02


__ADS_3

Farsya termenung ditempat duduknya, keluarganya sedang sarapan sekarang. Kemarin saat sudah sampai rumah, ia memutuskan untuk membujuk Mamanya agar mengizinkan Fersya ikut Persami, biarkan saja ia sendiri yang tidak ikut. Karena mereka sudah kelas 12 dan menurutnya ini adalah kesempatan terakhir untuk Fersya menikmati sedikit masa putih abu-abunya.


Namun, saat ia usai mengucapkan semua yang ingin ia ucapkan, tidak ada tanggapan dari Mamanya. Bahkan sampai saat Fersya tiba di rumahpun Mamanya tetap bergeming. Entah apa yang dipikirkan Mamanya. Melihat Mamanya yang masih bergeming sampai saat ini membuatnya pasrah.


"Ma, kita omongin sekarang aja gimana?" tanya Ayahnya tiba-tiba. Hal itu membuat si kembar menghentikan makanya dan menatap kedua orangtua mereka secara bergantian.


"Ngomongin apa yah?" tanya Fersya.


"Kalian minggu depan ada persami kan?" tanya balik Ayahnya yang dijawab anggukan oleh si kembar.


"Mama sama Ayah izinin kalian buat ikut persami." mendengar pernyataan Mamanya, membuat si kembar membelalakan matanya dan tersenyum lebar, tidak percaya bahwa orangtuanya akan mengizinkan mereka ikut acara itu. Terlebih lagi Farsya, ia merasa tidak sia-sia kemarin berbicara mengenai hal ini kepada Mamanya.


"Lagipula Niko juga ikut kan?" lagi-lagi dibalas anggukan oleh si kembar. Masih tidak menyangka bahwa orangtuanya benar-benar mengizinkan mereka ikut Persami.


"Biar nanti Mama bilang Niko buat jagain kalian berdua. Terutama kamu Eca, tolong jagain kakak kamu, ya?"


"Iya ma, iya!" jawabnya bersemangat. Saking semangatnya, ludahnya pun ikut semangat keluar dari mulutnya.


"Iihhh, jorok!" kesal Farsya yang hanya dibalas cengiran.


Selepas itu mereka melanjutkan sarapan mereka. Si kembar melanjutkan sarapannya dengan penuh semangat. Bahkan Fersya sampai nambah. Menurutnya ini adalah awal yang ceria, gembira, dan penuh semangat jadi harus diisi dengan energi yang banyak pula.


***


"Sya!"


Disaat si kembar sedang asik berbincang sembari menuju gedung sekolah, tetiba ada yang memanggil. Fersya sebenarnya tahu siapa yang memanggil dan untuk siapa panggilan itu. Ia nengok ke belakang dengan pandangan sengit dan melihat orang yang tadi memanggil mereka. Orang tersebut sadar dan segera berlari menghampiri mereka.


"Hehe, sorry Fer. Kebiasaan,"


"Sekali lagi gue denger panggilan 'Sya' dari mulut lo, habis lo sama gue." habis ia kesal karena kalau orang-orang memanggil si kembar dengan sebutan 'Sya' otomatis mereka pasti bakal merespon, karena itu penggalan kata terakhir yang ada dinama mereka. Kalau ingin memanggil, mending panggil penggalan depannya saja.


Teman-temannya yang lain juga biasanya memanggil mereka dengan penggalan depannya saja kok. Memang orang ini saja yang bebalnya nggak ketulungan, nggak pernah berubah manggil nama saudara kembarnya ini dengan sebutan 'Sya'. Dia bilang sih biar beda aja manggil si Farsya. Peduli setan dengan sebutan 'Sya'.


"Iya, iya. Lagian juga lo udah tau kan kalo gue manggil Farsya itu dengan sebutan 'Sya'. Kenapa masih dipermasalahin sih." kesalnya balik.


Beruntung sekali si Gilang ini--yang tadi memanggil Farsya dengan sebutan 'Sya'--karena suasana hatinya sedang baik, jadi ia tidak akan terlalu mempermasalahkannya. Karena yang lebih penting sekarang adalah mengisi formulir persetujuan untuk ikut persami. Kebetulan tadi selesai sarapan orangtuanya sempat untuk tandatangan formulirnya. Tinggal Fersya saja yang mengisi biodatanya untuk melengkapi formulir tersebut.

__ADS_1


"Siapa juga yang permasalahin, hih. Berhubung mood gue lagi baik, jadi lo selamat," balasnya dengan penuh cengiran.


"Fer, kalo gitu gue duluan ya. Mau ngisi form dulu, hehe. Lo jangan lupa ngisi juga ya!" lanjutnya sambil berlari menuju gedung sekolah.


"Ashiiaaap!!" balasnya sama semangatnya.


Melihat kelakuan si Fersya yang memang moodnya lagi bagus banget, membuat Gilang bertanya-tanya. Gerangan apa yang membuat Fersya begitu ceria hari ini.


"Lagi kenapa tuh si Fersya? Kesambet ye?" tanyanya iseng dan heran.


Farsya terkekeh mendengar candaan Gilang.


"Kita diizinin ikut persami," mendengar hal itu membuat mata Gilang terbelalak, tak menyangka bahwa kali ini orangtua Farsya mengizinkannya ikut Persami, "mangkannya dia seneng banget." lanjut Farsya menyelesaikan kalimatnya tadi.


"Pantes. Gue turut senang buat kalian." mereka melanjutkan jalan mereka menuju gedung sekolah.


Sudah menjadi rahasia umum bila Gilang sedang pedekate sama Farsya, hampir satu setengah tahun kalau tidak salah karena Gilang mendekatinya saat awal-awal masuk kelas 12. Sedangkan sebentar lagi UAS akan dilaksanakan. Farsyapun sadar kalau Gilang sedang pedekate padanya. Maka dari itu, ia benar-benar memberi Gilang kesempatan untuk mendekatinya agar segalanya jadi mudah. Tapi, sampai sekarang masih belum ada kejelasan dari Gilang. Entah dia ingin berpacaran dengannya atau hanya ingin berteman dengannya layaknya Niko.


Ingin sesekali bertanya, namun urung karena waktu yang tidak pernah memberinya kesempatan juga karena ia ragu untuk bertanya. Ia ragu kalau apa yang akan ditanyakannya nanti perihal status mereka, ternyata tidak sesuai harapan Farsya.


***


"Asik banget ngobrolnya, sampe lupa ngajak." sindir Fersya.


"Seneng banget yang udah diizinin ortunya ikut Persami, padahal mah banyak murid yang nggak mau ikut, tapi kalian malah mau ikut. Emang aneh kalian berdua tuh." balas Niko yang tidak peduli akan sindiran Fersya.


"Itu karena kita belum tau dan ngerasain gimana ikut Persami. Percuma juga diceritain beribu kali sama lo atau temen yang lain. Kalo kita belum ngerasainnya sendiri, belum puas." balas Fersya panjang. Farsya yang sudah ada bersama Niko tadi hanya bisa tertawa kecil melihat perdebatan itu. Sudah biasa soalnya.


Setelah itu mereka ngobrol-ngobrol lagi sembari menunggu antrian kios sotonya Umi--makanan yang biasa mereka beli--sedikit longgar. Melihat antriannya mulai sepi, Niko keluar dari obrolan dan jalan menuju kios Umi untuk memesan soto mereka.


Ditinggal Niko tak membuat si kembar berhenti berceloteh, jarang-jarang Farsya bisa ngobrol sepanjang ini dengan kembarannya. Karena biasanya Fersya akan menghindar dengan memainkan handphonenya. Hal ini cukup membuatnya senang karena sudah lama ia tidak ngobrol santai seperti ini dengan kembarannya. Untuk itu ia berjanji akan membuat Fersya selalu ceria dan bahagia.


Lagi asik ngobrol tetiba saja ada yang duduk di samping Fersya, ia pikir Niko sudah kembali dari memesan makanan mereka. Mangkannya ia tidak menengok sedikitpun. Melihat Farsya yang berhenti berbicara dan memandang penasaran pada orang di sampingnya ini membuat Ferysa mau tidak mau nengok ke samping juga.


Ia pikir Niko yang di sampingnya, pantas saja Farsya berhenti berbicara karena yang di sampingnya ini bukan Niko. Tapi ia merasa familiar dengan wajah lelaki di sampingnya ini.


Sepertinya aku pernah bertemu dengannya, tapi dimana? Batin Fersya.

__ADS_1


Ah, ia tahu! Lelaki di sampingnya ini adalah orang aneh di taman kemarin. Iya, Fersya bilang aneh karena kemarin saat di taman ada yang samperin dia terus tiba-tiba dia bilang 'kabur dari rumah?'. Aneh kan? Padahal mereka baru bertemu kemarin.


Aries namanya.


Aries hanya terkekeh melihat wajah penasaran Fersya saat melihatnya tadi, dan wajahnya yang seakan mengatakan 'oh' saat sudah ingat dengan dirinya.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Fersya jutek.


"Ya, mau makanlah." dibalas dengan tidak kalah juteknya.


"Maksud gue, ngapain lo duduknya di sini? Kan ada meja lain."


"Lo kenal sama dia Fer?" tanya Farsya yang daritadi penasaran.


"Tau siapa, tiba-tiba dateng nggak jelas."


"Dih, bocah. Okay, gue bakal ulang perkenalannya. Kebetulan ada kembaran lo juga, sekalian lah ya."


"Lah, sok akrab banget bocah." dibalas sengit lagi oleh Fersya. Ia hanya takut kalau Aries akan memberi tahu Farsya kalau kemarin ia ke taman. Kan belum tentu Farsya tahu taman mana. Kalau ia tahu Fersya ke taman dekat rumah Aries yanh jaraknya lebih jauh daripada rumah, bagaimana. Memang sih Fersya bilang akan mampir ke suatu tempat tanpa memberi tahu dimana tempatnya. Tapi tetap saja, ia tidak mau sampai Farsya tahu.


"Justru itu, biar akrab kita kenalan,"


Fersya yang tadinya ingin menimpali omongan Aries jadi tertahan karena Niko yang sudah datang dengan tiga mangkuk soto di tangannya. Ia terkejut melihat satu orang tambahan di meja mereka. Ditaruhnya tiga mangkuk soto itu ke meja.


"Ngapain lo di sini Ris?" Tanya Niko.


"Ris?" tanya Farsya.


"Namanya Aris." jelas Niko pada Farsya.


"Kok lo tau, Nik?" tanya Farsya yang heran Niko mengenal yang namanya Aris ini.


"Dia anak futsal, Far."


Farsya membalas dengan ber-oh ria.


"Ralat, nama panggilan gue emang Aris. Tapi nama gue yang sebenarnya adalah Aries." jelasnya meralat perkataan Niko tadi saat mengenalkan namanya.

__ADS_1


"Dih, nggak ada yang nanya." ledek Fersya. Aries sih hanya bisa misuh-misuh saja yang dibalas tawa oleh Farsya dan Niko, Fersya pun ikut tertawa. Tak urung membuat Aries ikut tertawa juga.


__ADS_2