Genap & Ganjil

Genap & Ganjil
23


__ADS_3

"Biasa aja kali, nggak usah lari segala. Kangen banget emangnya?" kata Aries saat Fersya sudah sampai di hadapannya. Fersya tidak merespon sama sekali, ia hanya diam berdiri di depan Aries dengan tubuh gemetar menahan tangis dan lapar. Entah mana yang dominan karena Fersya tidak tahu kenapa saat melihat Aries yang ada di hadapannya malah membuat air matanya ingin turun lagi.


Melihat Aries yang ingin bertanya, lebih baik Fersya menyerobok duluan. Saat ini Fersya sedang tidak ingin bercerita ataupun ditanyai sesuatu. "Gue laper."


Speechless dengan perkataan Fersya, Aries hanya tertawa. Aries tahu, saat ini yang Fersya butuhkan hanya ditemani. Aries juga tahu kalau Fersya tidak akan mau makan di rumahnya karena kondisinya yang memang cukup berantakan saat ini, jadi lebih baik ia beli makanan di depan taman dan membawanya ke sini.


Membawa sebungkus kertas nasi dan satu botol air dingin yang langsung diterima Fersya tanpa banyak bicara. Fersya langsung membuka bungkus makanannya dan memakan makanan tersebut dengan lahap. Aries hanya diam memandangi Fersya yang sedang asik makan.


Melihat keadaan Fersya saat ini membuat Aries bertanya-tanya. Sebenarnya Aries sedikit banyak tahu apa yang selama ini Fersya rasakan terhadap keluarganya karena kadang Fersya menceritakan beberapa masalahnya pada Aries. Lagipula Aries pun dapat melihat hubungan antara Fersya dengan saudara kembarnya yang bisa dibilang cukup canggung dan Aries menyimpulkan mungkin saja Fersya memang memiliki masalah terhadap keluarganya.


Tapi sekalinya Fersya bercerita tentang masalahnya pada Aries, jarang sekali Aries melihat Fersya yang sekacau ini. Bahkan jika memang Fersya terlihat kesal sekali terhadap masalahnya itu Fersya pasti menutupinya dengan berpura-pura kesal. Tapi saat ini sepertinya Fersya tidak bisa menahan gejolak emosi yang dirasakannya. Karena seberusaha apapun Fersya menahannya Aries dapat melihat genangan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya, siap untuk jatuh tapi masih ditahan mati-matian oleh Fersya.


Aries dan Fersya mungkin memang baru dekat belum lama ini, tapi melihat intensitas mereka yang cukup sering bersama membuat Aries merasa kalau dirinya dan Fersya sudah cukup dekat. Aries tentu ingin tahu apa yang membuat seorang Fersya yang Aries tahu pandai menahan emosinya jadi tidak bisa untuk membendung emosinya lagi.


Aries pernah dengar, apabila ada orang yang sering mehanan sesuatu biasanya orang itu akan meledak disuatu hari nanti. Apa hari inilah saatnya Fersya sudah tidak bisa menahannya lagi? Bukankah lebih baik langsung dikeluarkan saja daripada ditahan lagi seperti ini? Aries sudah tidak tahan melihat Fersya yang makan sambil menahan tangis seperti ini.


"Fer minum dulu. Habis itu ke rumah gue, mbak Ira masih ada di rumah jadi kalo lo mau cerita-cerita sama dia masih bisa kok. Nih" kata Aries sambil menyodorkan minuman yang ditaruh ditengah-tengah mereka berdua.


Fersya menerima minuman yang disodorkan Aries dalam diam. Mungkin Aries sudah menyadari kalau selama makan tadi Fersya berusaha untuk tidak menangis. Fersya sudah pernah bilang bukan kalau menahan tangisan membuat tenggorokkan sakit. Dan saat ini, Fersya sedang makan sambil menahan tangis tuh tenggorokkan rasanya dua kali jadi lebih sakit, susah sekali untuk menelan makanan.


"Mungkin lo merasa nggak nyaman dengan bercerita ke gue, gue juga tau kok kalau lo lebih sering curhatnya ke mbak Ira daripada gue,"


"Jadi maksudnya lo lagi merajuk gitu sekarang?" Fersya memotong ucapan Aries.


"jadi mangkannya gue saranin kita ke rumah gue aja biar lo bisa cerita sama mbak Ira. Tapi kalo lo emang belum siap ya udah, disini aja dulu." Aries sama sekali tidak menggubris sindiran dari Fersya tadi dan malah melanjutkan ucapannya yang terpotong karena Fersya.


"Kayaknya gue malu-maluin banget kalo di sini terus dengan keadaan gembel kayak gini lagi."


"Kayaknya setiap lo ke taman ini tuh selalu gembel ya." kata Aries menyindir.


"Apaan maksud lo?"


"Lah lupa? Waktu hari pertama kita ketemu di sini 'kan lo gembel banget. Muka keringetan sambil makan keripik singkong kayak orang kelaperan terus sekarang..." Aries tidak melanjutkan perkataannya tapi malah melihat Fersya dari atas sampai bawah dengan gaya seorang designer sedang menilai penampilan modelnya.


"Dasar lo ya!!!" Fersya hanya bisa membalas dengan kata itu sambil memukul lengan Aries dengan kencang. Aries mengaduh-aduh karena kali ini pukulan Fersya sungguhan bikin sakit. Sepertinya memang benar kalau orang emosi tenaganya dua atau mungkin tiga kali lebih besar daripada kekuatan biasanya.

__ADS_1


Melihat Aries yang berusaha untuk menghibur dan tidak memaksanya untuk bercerita membuat hati Fersya menghangat.


"Udah enakan? Mau ke rumah sekarang?" tanya Aries. Fersya balas mengangguk.


***


Kebetulan sekali mbak Ira dan Ibu Rini sedang ada di teras jadi Aries tidak perlu memanggil mereka berdua. Tapi untuk Fersya hal ini bukanlah keuntungan untuknya, mungkin Fersya memang cukup sering bercerita pada mbak Ira ataupun Ibunya Aries, tapi melihat keadaanya saat ini yang bisa dibilang kacau dengan mata sembab seperti bola pimpong dilengkapi pakaian yang basah karena keringat, air mata dan ingus yang bercamur jadi satu. Mungkin benar kata Aries kalau ia terlihat seperti gelandangan.


Rini yang pertama kali melihat mereka langsung menyusul saat melihat penampilan Fersya yang kacau itu. Rini ingin bertanya tapi ada baiknya jika mereka bicarakan di dalam rumah saja.


Fersya yang sudah duduk di sofa hanya diam sambil memilin-milin jari tangannya. Ibu Rini, mbak Ira dan Aries sedang melihatnya saat ini yang untungnya tidak ditambah dengan Ayahnya Aries, hal ini cukup membuatnya merasa terintimidasi.


Rini yang mengerti mengisyaratkan Aries untuk ke dapur bersamanya. "Ibu bikini minum sama cemilan dulu ya. Hayuk Ris bantu Ibu di dapur."


"Siap Bu!!" kata Aries sambil memberikan sikap hormat kepada Ibunya. Rini yang melihat tingkah laku anaknya itu hanya geleng-geleng kepala. Lagipula Rini sudah terbiasa dengan anaknya yang memang gesrek itu.


Sekarang di ruang tamu ini tinggal tersisa Ira dan Fersya. Ira sedari tadi melihat gerak-gerik Fersya, ia sebenarnya tidak ingin memaksa gadis itu untuk bercerita tapi melihat penampilannya yang menurut Ira tidak seperti biasanya membuat Ira berpikir mungkin saja Fersya ke sini tanpa meminta izin pada orang tuanya dulu.


Dengan mengeluarkan hpnya dari saku celana, Ira mengirim pesan pada Aries untuk menghubungi orang tua Fersya agar mereka tidak kuatir anaknya ada dimana.


"Kalo Fersya udah siap cerita ke mbak bilang aja ya, mbak bakal disini tungguin Fersya." Fersya mengalihkan pandangannya dari pilinan jarinya ke arah Ira.


"Aku berantem sama Mama mbak." dan berlanjutlah cerita Fersya sarapan pagi yang kacau itu sampai Fersya bisa berakhir di sini dengan keadaan yang seperti ini. Lagi Fersya mengeluarkan air matanya saat menceritakan kejadian yang terjadi belum lama ini. Lagi setiap kata yang dikeluarkan mulutnya untuk menceritakan kejadian itu membuat hati Fersya tergores karena Fersya harus diingatkan kembali akan kata-kata kasarnya pada Mamanya.


Beruntungnya Ira hanya mendengarkan ceritanya tanpa menyela sedikitpun. Dulu Fersya menginginkan sekali sosok seperti Ira yang siap mendengarkan keluh kesahnya dan sekarang di saat Fersya sudah menemukan sosok itu Fersya benar-benar bersyukur sekali.


Selesai dengan ceritanya, tangisan Fersya tak juga kunjung berhenti. Ira mendekatkan tubuhnya dan memeluk Fersya sambil mengusap-usap punggungnya.


"Mbak tau kamu belum puas nangisnya, jadi keluarin aja Fer nggak apa-apa. Kalau kamu ingin meraung, meraung aja. Jangan ditahan-tahan, sakitkan nahan tangisan kayak gitu? Kalau kamu malu tundukin aja wajah kamu ke bahu atau dada mbak, buat baju mbak basah juga nggak apa-apa kok." Ira mengatakan itu masih dengan mengusap-usap punggung Fersya dengan lembut.


Ira berharap dengan usapan itu bisa menyalurkan kenyamanan untuk Fersya. Agar Fersya bisa melepaskan semua bebannya tanpa ada sisa. Setelah Ira mengatakan hal itu Fersya langsung dan membenamkan wajahnya di bahu Ira sambil menangis dengan sesegukan, benar apa kata Ira tadi menahan tangis itu sangat menyakitkan. Tidak hanya untuk tenggorokkannya tapi juga hatinya.


Ira mengeratkan pelukannya pada Fersya dan mengusap punggung gadis itu sampai ia merasa sedikit tenang. Setelah Fersya sudah selesai dengan tangisannya Ira melepaskan pelukan dan menangkup wajah Fersya yang penuh dengan air mata dan menghapus air mata yang masih berusaha keluar dari mata Fersya yang sudah sembap seperti bola pimpong itu.


"Udah lumayan enakan?" tanya Ira sambil mengambil tisu dan air putih yang tadi diantar Ibunya saat Fersya masih menangis tadi. Untungnya Rini mengerti dan membiarkan Ira yang berbicara pada Fersya.

__ADS_1


Saat Aries mendapat pesan dari Ira tadi, cowok itu langsung memberitahukannya pada Ibunya. Saat itu Rini langsung meminta Aries untuk menghubungi orang tua Fersya dan biarkan Rini yang bicara pada orang tua Fersya.


Dan benar saja dugaan Ira kalau orang tua Fersya sedang mencari anaknya itu. Sebenarnya Rini tidak ingin ikut campur tapi melihat kondisi Fersya tidak seperti yang biasanya ia lihat Rini tidak bisa untuk tidak ikut campur karena ia sudah menganggap Fersya seperti anaknya sendiri.


Rini memang belum pernah bertemu apalagi mengobrol dengan orang tua Fersya, begitupun sebaliknya dan sepertinya Fersya juga tidak pernah memberitahu orang tuanya itu. Tapi untung saja Rido yang tadi memperkenalkan diri sebagai Ayahnya Fersya bersikap kooperatif dan mau menceritakan duduk permasalahannya.


Setelah Rido selesai dengan semua ceritanya Rini hanya bisa terdiam. Apa yang terjadi pada Fersya tidak beda jauh dengan yang dialami anak pertamanya itu jadi Rini bisa sedikit paham apa yang dirasakan orang tua Fersya dan Fersya sendiri.


Rini meminta izin pada Rido kalau besok Fersya akan ikut anaknya ke Bandung selama empat hari untuk melihat acara teater anaknya itu dan membiarkan Fersya menginap malam ini di rumahnya.


Rido awalnya sempat terkejut karena Fersya sama sekali belum memberitahunya tapi Rini berusaha meyakinkan Ayahnya Fersya ini kalau anak pertamanya akan menjaga Fersya dengan baik. Rido sempat berpikir sebentar dan akhirnya menyetujui hal itu. Mungkin untuk saat ini memang itulah yang terbaik. Fersya bisa menenangkan pikirannya dan istrinya bisa fokus pada penyembuhan Farsya dulu.


Rido bukannya bersikap pilih kasih, ia mengerti saat ini kedua orang yang disayanginya sedang sama-sama sakit terhadap perbuatannya masing-masing, jadi ada baiknya jika mereka menyembuhkan diri mereka dahulu baru bertemu lagi nanti.


Rido bilang kalau ia akan mengantarkan tas berisi baju ganti besok pagi ke rumah Rini. Setelah itu sambungan telepon terputus. Aries yang dari tadi hanya diam menyimak apa yang Ibunya bicarakan akhirnya melayangkan pandangan bertanya yang malah diacuhkan oleh Ibunya. Rini memilih untuk memberikan air putih saja pada Fersya.


Balik lagi ke keadaan Fersya yang sudah berhenti menangis walaupun masih sesegukan. Ira masih mengusap punggung Fersya dengan pelan menunggu Fersya benar-benar sudah tenang.


Setelah Fersya berusaha untuk mengatur napasnya agar tidak sesegukan ia menatap Ira. "Udah lumayan legaan mbak."


"Syukur deh kalau gitu. Sekarang mau dengerin mbak?" Fersya mengangguk.


"Kamu tau, kejadian kamu itu mirip sama mbak. Mbak juga pernah ngalamin apa yang kamu rasain dimana Ibu sama Ayah nggak setuju kalau mbak kuliah di luar kota. Saat itu mbak bener-bener marah dan kecewa sampai mbak berantem sama Ibu dan akhirnya mutusin buat keluar dari rumah. Saat itu mbak nggak pulang selama seminggu dan menginap di rumah sahabat mbak selama seminggu juga.


Selama tiga hari mbak putus kontak sama Ibu, lebih tepatnya mbak yang nggak mau menghubungi dan menerima panggilan dari Ibu tapi mbak nggak juga nemu jawabannya, nggak juga merasa tenang, nggak juga merasa baik-baik aja.


Saat itu mbak sadar kalau lari bukanlah pilihannya. Mbak tau yang kamu bawa saat ini bukan hanya kekecewaan terhadap Mama kamu tapi juga kekecewaan terhadap diri kamu sendiri."


Apa yang Ira katakan benar-benar membuatnya tertohok karena apa yang Ira katakana itu benar. Mungkin Fersya sudah merasa lega sekarang karena semua yang dipendamnya sudah ia ceritakan pada Mamanya. Tapi rasa lega itu tak bertahan lama karena Fersya dihinggapi rasa bersalah karena ucapannya pada Mamanya.


"Mbak nggak akan nyuruh kamu untuk pulang, mbak cuman mau saat Mama kamu menghubungi kamu nanti jangan kamu abaikan. Mbak harap empat hari kedepan bisa membuat kamu merasa lebih baik dan bisa menerima semua masalah yang sedang kamu hadapi. Jadi saat pulang nanti kamu bisa menghadapi itu dengan berani.


Ira menepuk pelan puncak kepala Fersya, "Mbak berangkat duluan malam ini ke kampus, kamu berangkatnya besok pagi sama Aries dan buat baju ganti pake aja baju mbak dulu. Mbak tinggal dulu ya, mau siap-siap berangkat."


Ira meninggalkan Fersya sendirian di ruang tamu itu, ia memandang hpnya yang ada di meja dan bertanya apa mungkin Mamanya akan menghubunginya nanti?

__ADS_1


Ah, lebih tepatnya apa Mamanya masih sudi menghubungi anak yang sudah menyakitinya ini?


__ADS_2