Genap & Ganjil

Genap & Ganjil
10


__ADS_3

Setelah minggu kemarin disibukkan dengan UAS, minggu ini adalah minggu yang tenang untuk semua murid, tidak ada tugas lagi karena semua tugas sudah selesai sebelum UAS berlangsung, kalau ada yang belum mengumpulkan tugas itu sudah menjadi resiko.


Juga tidak ada remedial. Tidak ada kata remedial setelah UAS di SMA Sebangsa, berbeda dengan UTS yang masih bisa diberi remedial apabila ada nilai di bawah KKM. Walaupun sudah tidak ada tugas atau kegiatan lain, para murid tetap tidak diperbolehkan untuk keluar kelas tanpa izin. Alasannya sih supaya para murid tidak mengganggu gurunya yang sedang menginput nilai mereka ke rapot.


Keadaan setiap kelas sepertinya sama, penuh dengan keributan. Apalagi kelasnya Fersya, kelas 12 IPS 3, yang laki-laki sedang main games yang sedang digandrungi banyak anak remaja jaman now, tidak hanya laki-laki yang perempuanpun juga ikut memainkan games itu, mereka memainkan game itu sambil berteriak-teriak, yang cewek ada yang berkumpul dengan kelompoknya sambil ngerumpi, makan bersama dan make up bersama juga.


Sedangkan Fersya ada dikalangan cewek-cewek yang sedang makan bersama. Ia tadi meminta Mamanya untuk menyiapkan bekal untuknya dan di sinilah sekarang Fersya sedang makan bekalnya bersama dengan Alya dan dua temannya yang ada di belakang meja mereka.


Saat sedang teman-teman kelasnya sedang asik dengan kegiatan mereka masing-masing, tiba-tiba saja ada yang masuk ke kelasnya. Ternyata orang itu adalah Rizki, mantan kapten tim futsal SMA Sebangsa dan anak kelas 12 IPS 4. Ngomongin futsal membuat Fersya jadi teringat Aries.


Sedang apa ya dia?


"Woy Han, sparing futsal yuk sama anak MIPA." kata Rizki sambil berteriak kepada Rehan. Rehan ini teman kelas Fersya yang ikut ekskul futsal.


Kegiatan Rehan yang tadi masih berkutat dengan handphonenya segera terhenti saat mendengar ajakan Rizki. Kemudian Rehan mengajak temannya yang lain untuk ikut main futsal atau tidak dan tidak ada yang menanggapi Rehan sama sekali membuat pria itu misuh-misuh di tempatnya.


Teringat Rizki yang mengajak Rehan untuk sparing futsal sama anak MIPA membuat Fersya berpikir untuk mengajak Alya melihat pertandingan kecil itu setelah makan mereka usai.


"Al, liat sparing futsal nanti yuk!"


"Kuy! Kelarin makan dulu ya, bosen juga gue di kelas mulu." Fersya hanya membalas dengan anggukan lalu tertawa.


Setelah selesai makan, mereka berdua mengajak dua teman mereka yang tadi makan bersama mereka untuk melihat pertandingan kecil di lapangan nanti. Fersya lihat dari jendela kelasnya, sepertinya pertandingan sudah mau mulai karena sudah ada banyak orang di lapangan itu.


Dua temannya itu menolak dan memutuskan untuk tinggal di kelas saja. Fersya dan Alya segera keluar kelas sebelum pertandingan kecil itu mulai.


Saat mereka sudah di luar kelas, mereka tidak mengira kalau pinggiran lapangan sudah cukup ramai oleh siswa yang ingin melihat sparing tersebut. Sepertinya Rizki si mantan kapten futsal sudah meminta izin pada salah satu guru untuk sparing futsal di lapangan karena Fersya melihat yang menjadi wasitnya adalah Pak Andre guru olahraganya.


Ah, Fersya juga melihat Aries di sana. Entah mengapa hal itu membuatnya tersenyum, sebelum terpergok Alya lebih baik Fersya buru-buru menyudahi senyumannya. Nanti bisa-bisa ia diledek sepajang pertandingan.


"Eh, Fer itu kayaknya Farsya deh."


"Oh iya, ya udah yuk!" tangan Fersya menarik tangan Alya untuk mengikuti langkahnya ke arah Farsya.


Untung saja masih ada sisa tempat duduk di samping Farsya, sehingga Fersya langsung duduk di samping kembarannya dan Alya duduk di sampingnya.


"Eh, Fersya. Hai Alya!" sapa Farsya saat tiba-tiba melihat keduanya duduk di sampingnya. Fersya hanya nyengir dan Alya hanya balas mengangguk.


Perhatian mereka tertuju ke lapangan lagi. Pertandingan sudah mau dimulai, saat Fersya melihat siswa-siswa IPS, seperti sebelumnya ia melihat Aries di sana dan saat ia melihat siswa-siswa MIPA tanpa ia duga ada Niko di sana. Niko jarang sekali main futsal, yang Fersya tahu Niko itu anak basket bahkan kerap kali Niko mengajak dirinya dan Farsya untuk bermain basket di lapangan komplek.


"Tumben si Niko ikut main futsal." tanya Fersya kepada Farsya.


"Dipaksa sama si Aries."


"Oooh, gue kira cuman si Rizki doang yang keliling sekolah ngajakin sparing, taunya si Aries ikutan." Fersya membalas sambil mengangguk.


"Gue jadi curiga kalau yang ngajak sparing itu si Aris." lanjut Fersya mengutarakan pemikirannya.


"Hahaha! Sama, gue juga berpikir gitu tadi pas si Aris ngotot minta Niko buat ikutan main futsal."

__ADS_1


"Sudah gue duga." keduanya tertawa bersama.


"Ada Niko sama Aris, gue mau tanya sama kalian, terlepas dari kelasnya siapa yang kalian dukung?" tanya Alya tetiba. Tadi Fersya sempat melupakan kehadiran teman sebangkunya itu. Maafkan Fersya ya Alya.


Si kembar saling berpandangan sesaat, kemudian merek cengengesan dan dengan bangganya mereka mendukung pilihan mereka masing-masing.


"Jelas Aris lah!" kata Fersya.


"Niko lah!" kata Farsya.


Alya tertawa dan membalas. "Sudah gue duga. Semoga nggak akan ada perang saudara sepanjang pertandingan."


Mereka berdua tertawa menanggapi gurauan Alya. Yang mereka tidak tahu adalah ternyata kata semoga itu tidak terjadi. Pada nyatanya si kembar mulai berdebat siapa yang akan menang saat Aries berhasil mencetak gol pertama untuk kelas IPS dan itu berlangsung sampai pertandingan selesai. Pertandingan itu dimenandi oleh kelas IPS dengan skor 3-2.


***


SMA Sebangsa sedang ramai dikunjungi para orang tua murid dan murid itu sendiri. Hari ini adalah pembagian rapot untuk semester ganjil dan setelah pembagian rapot ini sekolah akan libur selama dua minggu.


Untuk kelas 12 semester genap nanti mereka akan disibukkan oleh banyaknya ujian dan persiapan pendaftaran SNMPTN. Maka dari itu murid kelas 12 tidak bisa sepenuhnya bebas untuk berlibur selama dua minggu nanti.


Tapi siapa yang akan peduli, libur tetaplah libur. Dan kata libur digunakan untuk beristirahat bukan belajar, seperti lirik lagu Tasya Kamila yang judulnya 'Libur Telah Tiba'.


Libur telah tiba


Libur telah tiba


Simpanlah tas dan bukumu


Lupakan keluh kesahmu.


SIMPANLAH TAS DAN BUKUMU, jadi tidak usah belajar selama liburan. Begitulah setidaknya pemikiran Fersya tapi sepertinya untuk kali ini tidak akan berlaku lagi.


Entah mengapa ia akan menduga setelah pembagian rapot ini orang tuanya akan bertanya pada Fersya dan Farsya mengenai jurusan kuliah dan Fersya merasa Mamanya akan memintanya untuk memilih jurusan yang sama dengan Farsya agar ia bisa menjaga kembarannya itu.


Maka dari itu, Fersya sudah merencanakan untuk berjuang di SBMPTN nanti karena ia berharap pemilihannya di SNMPTN nanti apabila benar terjadi seperti yang diduganya, Fersya berharap ia tidak akan diterima. Tidak bersyukur? Masa bodo orang lain mau bilang apa karena untuk kali ini Fersya ingin berjalan di jalannya sendiri, ia ingin terbang dengan sayapnya sendiri.


"Ca, ayok maju. Nama kamu udah dipanggil tuh." kata Rido---Ayah Fersya.


Kalau bagi rapot Fersya yang mengambil memang Ayahnya, sedangkan Farsya yang ambil rapotnya adalah Mamanya. Fersya sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu tapi kadang ia penasaran kalau Mamanya yang ambil rapotnya akan seperti apa reaksinya pertama kali saat wali kelas Fersya memberitahu perilakunya selama ini di kelas.


Wali kelasnya pun sudah hapal sekali dengan Ayahnya dan Ayahnya juga sudah hapal sekali dengan perilaku Fersya yang pasif di kelas. Jadi saat Bu Mirna mengatakan itu lagi Ayahnya hanya tersenyum.


Tidak ada pembicaraan berarti, seperti biasanya. Diisi oleh wejangan Bu Mirna agar Fersya nanti bisa lebih aktif lagi karena itu penting saat kuliah nanti, Ayahnya yang hanya mengangguk dan mengatakan akan member wejangan tambahan pada Fersya. Dan setelah itu selesai, mereka keluar dari kelas dan segera menuju kelas Farsya.


Seperti biasanya lagi Ayah dan anak itu duduk di kursi depan kelas 12 MIPA 3, kelas Farsya. Tapi yang berbeda kali ini adalah Ayahnya yang tetiba menanyakan jurusan kuliah yang diinginkan Fersya.


"Kamu mau kuliah dan jurusan apa nanti nak?"


Fersya terdiam sebentar, apakah lebih baik ia beritahu Ayahnya saja. Sebelum menjawab pertanyaan Ayahnya ia menghela napas terlebih dahulu.

__ADS_1


"Eca sih rencananya mau di Malang ambil jurusan Pariwisata yah." kata Fersya sambil menatap Ayahnya.


"Kok 'sih'? Kenapa nggak yakin nak?" tanya Ayahnya lagi.


Kali ini Fersya terdiam cukup lama karena jujur ia tidak tahu harus bilang apa. Sampai akhirnya suara Mamanya menyelamatkan Fersya yang sedang bingung untuk menjawab pertanyaan Ayahnya.


Sepertinya kata 'menyelamatkan' bukanlah kata yang tepat karena saat sampai rumah nanti Mamanya yang akan bergantian bertanya, tidak hanya pada Fersya tapi juga sama Farsya.


Dan benar saja saat sudah sampai rumah, Mamanya langsung meminta mereka duduk di ruang keluarga dan sidangpun dimulai.


"Kalian mau masuk kuliah dimana nak?" tanya Mamanya.


Farsya yang lebih dulu menjawab, "Aca udah ada rencana kuliah di Depok ma."


Sekarang Mamanya menatap dirinya meminta jawaban.


"Eca mau di Malang ma." entah mengapa Fersya menjawab itu sambil menunduk seakan takut jawabannya akan membuat Mamanya marah.


"Malang? Itukan jauh sayang. Kenapa nggak cari di sekitar sini aja kayak Aca? Kalau perlu di tempay yang sama kayak Aca juga nggak apa-apa. Memangnya kamu mau jurusan apa sampai ke Malang begitu sayang?"


"Eca mau masuk Pariwisata ma."


Fersya mulai memberanikan diri untuk menatap mata Mamanya karena tadi ia sempat lihat Ayahnya yang mengangguk padanya. Itu artinya Ayahnya mendukung Fersya bukan? Walaupun sampai saat ini Ayahnya belum juga membantu Fersya bicara tapi dari anggukan tadi sudah memberinya semangat untuk memperjuangkan keinginannya.


"Memangnya kampus yang di Depok itu nggak ada jurusan Pariwisata?" tanya Mamanya lagi.


"Ada sih ma, tapi itu vokasi, jadinya D3 bukan S1. Dan ujian masuk vokasinya tuh beda lagi ma, kalo emang aku ambil yang vokasi itu berarti aku nggak ikut SNM dan SBM dong?"


"Ya udah kalau gitu kamu ikutin aja ujian vokasi itu atau nggak kamu cari kampus di Jakarta yang ada jurusan Pariwisata kan bisa sayang."


Fersya sudah meduga itu tadi, bagaimanapun Mamanya ingin ia satu sekolah lagi dengan Farsya. Dari SD, SMP, SMA dan sekarang Universitas. Fersya tidak ingin orang tuanya menuntunnya lagi, Fersya merasa bahwa ia sudah mempunyai pilihan yang diyakininya dan ia memilih untuk memperjuangkan itu.


"Tapi Eca maunya di Malang ma. Lagian kampus itu juga bukan di Jakarta tapi di Depok."


Fersya mulai menatap Mamanya dengan kesal. Ridopun menegur anaknya itu agar tidak kelewatan batas. Fersya bisa memalingkan muka sambil cemberut.


Fersya pikir Ayahnya akan membantunya untuk mencapai tujuannya, tapi daritadi Ayahnya hanya diam saja. Membuat Fersya makin kesal saja.


"Seenggaknya kan kalau Depok masih bisa pulang pergi nak, sedangkan Malang kamu harus ngekos di sana. Nggak ada yang jagain kamu di sana. Mama nggak mau sampai terjadi sesuatu nantinya kalau kamu jadi di sana."


Hati Fersya sedikit menghangat karena kepedulian Mamanya itu, tapi ia tetap memutuskan untuk mendebatkan hal ini pada Mamanya.


"Eca udah gede ma, udah bisa jaga diri. Eca pasti juga punya temen di sana yang bisa jagain Eca."


"Mama tetep nggak setuju. Kamu cari kampus di sini atau di tempat yang sama aja sekalian bareng Aca."


Fersya memutuskan untuk langsung naik ke lantai dua dimana kamarnya berada, lebih baik ia menjernihkan pikirannya dulu. Kalau Fersya melanjutkan perdebatan ini bisa jadi yang keluar dari mulutnya akan menyakiti hati orang tuanya, terutama Mamanya.


Farsya memandang kepergian Fersya dalam diam. Saat perdebatan itu mulai berlangsung tadi, ia tidak tahu harus melakukan apa karena Farsya merasa apa yang dikatakan Mamanya ada benarnya. Kalau Fersya di Malang sana, siapa yang akan menjaga, kalau ada yang terjadi di sana baik Farsya maupun orang tua mereka tidak bisa langsung datang ke sana.

__ADS_1


__ADS_2