Genap & Ganjil

Genap & Ganjil
03


__ADS_3

Waktu cepat sekali berlalu, sekarang hari Jum'at. Itu artinya sehari sebelum Persami. Segala sesuatunya sudah disiapkan si kembar dari jauh-jauh hari. Karena ini kali pertama mereka ikut acara itu. Bahkan si kembar sampai ingin membawa koper mereka, namun ditahan oleh Mamanya karena Mamanya bilang persami tidak butuh banyak barang.


Mungkin, memang banyak alat atau snack yang disuruh pembina sebagai syarat kelengkapan kelompok atau diri sendiri. Tapi, lagi-lagi Mamanya bilang jangan terlalu ikuti peraturan yang ada. Cukup bawa yang memang diperlukan saja. Si kembar sih hanya mengangguk saja.


Kejadian dikantin tempo haripun berjalan lancar. Mereka berkenalan dengan Aries yang ternyata kelas 12 IPS 4, bersebelahan dengan kelas Fersya.


Tapi kenapa ia jarang melihatnya diluar kelas, batin Fersya waktu itu.


Farsya pun sempat menanyakan bagaimana Fersya bisa tahu Aries atau kenal Aries. Saat itu Fersya benar-benar panik, karena seperti yang ia bilang bahwa ia tidak ingin Farsya tahu kalau mereka bertemu di taman dekat rumah Aries.


Beruntungnya Aries mengerti gelagat Fersya dan mengatakan kalau mereka sempat berkenalan sebentar di tukang mie ayam dekat sekolah--yang kebetulan juga tempat itu berlawanan arah dengan rumahnya, jadi Farsya tidak melihat mereka. Bagaimana mau lihat, mereka saja tidak bertemu di sana.


Kemudian Farsya yang menanyakan mampir kemana Fersya kemarin sampai-sampai beli mie ayam--seperti yang dibilang tadi, Aries mengarang cerita itu dan Farsya percaya. Ia bilang saja kalau pergi ke rumah Alya yang memang lumayan dekat dengannya--dan satu kelas juga dengannya. Farsya hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Sekarang sudah jam pulang sekolah, sudah lima menit yang lalu bel itu berbunyi, dan seperti biasa Fersya sedang menunggu kembarannya keluar kelas. Ia sebenarnya ingin langsung pulang, karena tidak sabar untuk menunggu besok tiba. Tapi jika ia menunggu di rumah itu akan membuatnya semakin gugup menunggu hari esok.


Jadi sembari menghabiskan waktu, rencananya sampai maghrib seperti waktu itu. Ia memutuskan untuk main ke rumah Aries. Ya, Aries. Aries yang itu. Aries yang datang menghampirinya di taman dan mengatakan 'kabur dari rumah?'. Aries yang datang kepadanya untuk berkenalan lagi di kantin.


Sejak perkenalan ulangnya di kantin dengan Aries waktu itu membuat hubungan mereka semakin dekat. Mungkin Fersya rasa Aries bisa setara dengan Niko yang merupakan sahabat kecilnya.


Aries pun juga sedang di sini bersamanya menunggu Farsya keluar. Fersya ingin bilang dulu pada kembarannya kalau ia mau main ke rumah Aries. Kemudian, Farsya keluar bersamaan dengan sampainya Niko yang juga ingin menjemputnya untuk pulang bersama seperti biasa.


"Far, gue mau main ke rumah si Aris dulu ya. Hehe," bilangnya langsung pada Farsya. Farsya saja belum sempat bilang 'hai' sama Aries.


"Ada acara apa emang?" tanya Niko.


"Kaga ada acara apa-apa. Pengen main aja, biar ngabisin waktu. Kalo gue di rumah aja nanti malah liat jam mulu, terus gue merasa besok tuh kayak lama banget deh." jelasnya panjang lebar.


"Kan bisa lo ngobrol sama Farsya. Lagian si Farsya ditinggal sendiri mulu sama lo. Kasian kali." balas Niko rada kesal.


Fersya yang mendengarnya hanya bisa cemberut. Ia tidak suka bila hal yang diinginkannya dikait-kaitkan dengan Farsya. Karena ujung-ujungnya dia juga yang harus mengalah. Inilah kenapa kadang Fersya tidak suka sama Farsya, karena orang tua mereka dan Niko lebih memprioritaskan Farsya.

__ADS_1


Inilah kenapa si kembar yang seharusnya sedekat nadi, malah jauh layaknya matahari dan bumi.


Melihat Fersya yang cemberut membuat Farsya tidak tega, karena ia juga sudah berjanji untuk membahagiakan kembarannya ini.


"Apa sih elah. Kayak gue nggak punya temen ngobrol selain Fersya aja." balas Farsya. Sebelum Niko ingin menimpali lagi, cepat-cepat ia potong.


"Ya udah, main aja. Nanti gue bilang sama Mama. Tapi jangan kemaleman, besok kan harus berangkat pagi jadi lo harus istirahat yang cukup biar bisa jagain gue."


Mendengar penjelasan panjang Farsya dan juga izinnya membuat senyum di wajah Fersya kembang kembali. Tak urung membuat Farsya dan Aries yang dari tadi hanya menyimak ikut tersenyum.


Ternyata membahagiakan orang yang kita sayang sesimple itu, batin Farsya.


Lanjutlah mereka berempat jalan menuju gerbang sekolah. Selepas itu mereka pisah ke arah masing-masing tujuan mereka.


"Seneng banget yang dibolehin main." Kata Aries yang membuat cengiran Fersya yang tadinya sudah lebar, makin lebar. Hal itu membuat Aries terkekeh geli.


Cewek ini lucu banget, batinnya.


"Itu artinya gue nggak bisa bohong."


"Ha? Nggak bisa bohong? Nggak inget di kantin waktu itu." balas Aries yang masih tertawa sambil mengingatkannya akan kejadian di kantin waktu itu. Iya sih, dia memang berbohong sama Farsya, tapi kan...


"Ya udah sih."


"Tuh kan cemberut lagi. Bisa kali mulut lo di jadiin sendok buat gundu."


"Ha? Buat apaan emangnya?" tanya Fersya heran.


"Buat lomba tujuh belasan." balas Aries sambil tertawa. Bahkan ia tertawa sampai menangis. Karena ia membayangkan jika benar mulut Fersya bisa digunakan untuk wadah gundu buat lomba tujuh belasan. Dan itu benar-benar lucu menurutnya.


"Dih nggak jelas dasar!" sebal Fersya yang juga ikut tertawa.

__ADS_1


Kemudian mereka mulai saling mengejek sembari jalan menuju rumah Aries.


***


Disisi lain Farsya dan Niko sedang berada di halte. Menunggu angkutan umum yang menuju rumah mereka. Sembari menunggu, Farsya sedari tadi bimbang ingin cerita atau tidak sama Niko. Tapi setelah dipikir-pikir lagi ia memutuskan untuk cerita ke Niko perihal Gilang.


"Nik, gue mau curhat nih." kata Farsya tetiba membuat lamunan Niko terhenti.


Tadi ia sedang melamun, memikirkan apa yang sedang dipikirkan Farsya sampai wajahnya bingung seperti itu. Tadinya ia ingin bertanya, tapi urung. Biarkan Farsya sendiri yang cerita kalau dia sudah siap, Niko tidak ingin memaksakan kehendaknya. Tak tahunya Farsya memutuskan untuk cerita sekarang.


"Cerita apa? Soal Gilang?" saat Niko menanyakan 'soal Gilang' kepadanya, ia hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, Niko diam menunggu Farsya bercerita.


"Gue nggak tau Gilang serius atau nggak sama gue. Fersya, lo bahkan gue tau awal dia mulai sering ngajak gue ngobrol itu berarti dia mau pedekate sama gue. Gue terima, gue buka kesempatan buat dia supaya semuanya jadi mudah. Gue pun kadang juga main ke rumah dia, lo tau itu kan?" pertanyaan Farsya diakhir kalimat itu tidak mendapat jawaban dari sahabatnya. Tapi Farsya tahu bahwa ia pun juga tidak membutuhkan jawabannya. Itu hanyalah pertanyaan retoris yang tak butuh jawaban.


"Dulu gue beranggapan kalau dikasih kesempatan akan tumbuh rasa suka di diri gue buat dia, dan yah sekarang gue rasa gue suka sama dia. Tapi sampai sekarang dia nggak ngejelasin apa hubungan kita ini."


Semua keluh kesahnya sudah ia tumpahkan pada sahabat kecilnya ini. Yang mendengar sih hanya bisa diam saja. Mengesampingkan Niko yang tidak tahu harus merespon apa, ia juga sebenarnya sedang menata hatinya.


Tidak sering memang Farsya bercerita kepadanya, ia tahu Farsya adalah tipe orang yang memendam semuanya sendiri. Tapi kalau Farsya sudah sampai bercerita itu berarti masalah yang sedang dipikirkannya tak bisa ia bendung sendiri. Tak bisa Farsya biarkan begitu saja.


Sudah dua kali Farsya bercerita tentang Gilang. Pertama saat cowok itu yang mengajaknya main ke rumahnya, sambil kenalan dengan orang tuanya. Dan yang ke dua tentang gantungnya hubungan mereka.


Mana yang lebih sakit menurutnya adalah cerita ke dua ini. Karena ia lebih memilih Farsya yang bercerita dengan menggebu-gebu karena bahagia--walaupun bukan karenanya--ketimbang bercerita dengan lesu seperti tadi.


Masih sunyi yang menyelimuti mereka sampai akhirnya tiba angkutan umum yang menuju rumah mereka. Selama di perjalanan Niko memikirkan cara untuk berbicara dengan Gilang besok perihal hubungannya dengan Farsya.


"Far, gue mampir ke rumah lo bentar ya. Lagi males pulang." omongnya tetiba untuk mengisi sepi yang melingkupi mereka. Karena hanya ada mereka berdua di angkot itu.


Sebenarnya tidak sepi banget karena angkot ini ada speakernya yang dari tadi mengeluarkan lagu dangdut.


"Ya udah," hanyaitu balasan dari Farsya. Niko pun hanya mengangguk sebagai persetujuan.Kemudian mereka terdiam lagi dengan pikiran masing-masing yang juga ditemanioleh musik dangdut.

__ADS_1


__ADS_2