Genap & Ganjil

Genap & Ganjil
29


__ADS_3

Tulisan STASIUN PASAR SENEN terpampang jelas di depan mereka. Ya, siapa lagi kalau bukan empat serangkai. Hari ini adalah jadwal mereka pergi ke Yogyakarta. Awalnya Aries tidak memikirkan mereka ke sana akan menginap atau tidak dan ada tempat untuk disinggahi atau tidak. Aries hanya mempunyai rencana kalau mereka berempat harus jalan-jalan sebelum mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing.


Oleh sebab itu, Fersya memutukan untuk menghubungi Mbah Putrinya yang memang tinggal di Yogyakarta bersama Mbah Kakung. Mbah Kakung dan Mbah Putri adalah keluarga dari Ayah dan Fersya memang cukup dekat dengan keluarga Ayahnya dibanding keluarga Mamanya.


Ya, dengan alasan yang sama, karena keluarga besar dan Fersya berusaha untuk mengurangi memikirkan hal yang seperti itu Fani lebih memerhatikan Farsya daripada dirinya. Fersya berusaha untuk tidak memikirkan hal seperti itu, karena itu hanya akan membuat perasaannya kesal dan sedih. Sekarang Fersya berusaha untuk melihat sesuatu dengan berbagai macam perspektif agar kejadian lalu tidak terulang lagi.


Mereka segera masuk ke dalam stasiun karena kereta tujuan mereka akan segera berangkat. Ponsel Fersya bergetar menandakan ada pesan masuk, segera gadis itu ambil ponsel yang ada di kantung celananya. Pesan itu dari Mbah Putrinya yang menanyakan sedang berada dimana mereka sekarang dan Fersya jawab kalau mereka baru saja tiba di Stasiun Pasar Senen. Setelah itu Fersya masukan lagi ponselnya ke dalam kantung celana.


Banyak orang yang berlalu-lalang di dalam stasiun ini, Fersya melihat satu persatu orang-orang yang berlalu-lalang itu sampai akhirnya pandangannya jatuh pada sosok lelaki yang ada di samping kanannya ini.


Aries.


Fersya sebenarnya sudah punya jawabannya, tapi entah mengapa Fersya ingin mengulur waktu sedikit saja. Fersya ingin mengambil momen yang pas untuk memberikan jawabannya pada Aries.


Tetiba Aries menolehkan kepala menghadap dirinya, daripada bersikap salah tingkah lebih baik Fersya memberikan senyumnya dan mengalihkan pandangannya. Saat ini Fersya, Aries, dan Niko sedang menunggu Farsya yang sedang ke toilet. Saat gadis itu sudah tiba di hadapan mereka, segera saja empat serangkai itu menaiki kereta dan mencari nomor tempat duduk yang sudah tertera di tiket.


Fersya duduk di dekat jendela, jangan harap kalau di samping gadis itu ada Aries, karena Fersya sudah keburu menarik pergelangan tangan kembarannya agar duduk di sampingnya.


"Kenapa malah narik gue? Grogi?" tanya Farsya.


"Idih ngapain juga grogi" Farsya hanya balas mengedikkan bahunya.


Fersya memangku tasnya dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Seperti tadi, Fersya hanya melihat orang-orang yang sedang melintas, bedanya adalah tidak ada lelaki itu yang bisa ia pandangi. Karena lelaki itu ada di sebrang kursi si kembar.


Tetiba Farsya mencolek bahunya dan mengangsurkan ciki kesukaanya. Ah, lebih tepatnya ciki kesukaan mereka. Fersya mengambil isinya cukup banyak dan menggunakan telapak tangannya sebagai wadah ciki itu.


"Thanks"


Farsya balas tersenyum dan memajukan badannya untuk membisikkan sesuatu pada Fersya, "Lo udah kasih jawaban ke Aries?"


Sambil meringis Fersya balas menggeleng.

__ADS_1


"Iiihh, kenapa belum?" gemas Farsya dibarengi dengan pukulan di pundak Fersya.


"Gue nunggu momen yang pas Far. Kan kita udah ada rencana mau kemana aja, nah gue udah tau mau kapan dan dimana gue bakal jawab itu."


"Jangan kelamaan Fer. Kasian Aries."


Fersya memandangi kembarannya dan mengangguk. Fersya melihat Aries yang juga duduk di dekat jendela, sama seperti dirinya. Lelaki itu sedang memejamkan matanya, entah benar-benar tertidur atau tidak. Fersya alihkan kembali pandangannya ke luar jendela. Kereta mulai bergerak dan meninggalkan Stasiun Pasar Senen.


***


Empat serangkai memutuskan untuk menginap selama satu minggu di Jogja. Dan selama tujuh hari itu mereka akan berdestinasi diantar oleh Mbah Kakung si kembar. Sedikit cerita, walaupun Mbah Kakung si kembar ini sudah menginjak usia 70-an, tapi kondisi fisiknya sehat walafiat, bahkan lebih bugar daripada anak muda sekarang.


Hari pertama mereka putuskan untuk pergi ke Tebing Breksi. Tempat itu akan lebih enak jika didatangi saat sore hari dan melihat sunset dari atas tebing. Itu saran dari Mbah Kakung, tapi tentu saja mereka tidak benar-benar berangkat sore, karena takutnya akan macet jadi mereka berangkat agak siangan. Berhubung mereka juga baru sampai di rumah Mbah Kakungnya itu menjelang malam, jadi paginya digunakan untuk beristirahat dan mengobrol.


Destinasi hari kedua, yaitu Goa Pindul. Di sana mereka mencoba ditawari fasilitas yang namanya cave tubing. Mereka menyewa pelampung serta ban tubing untuk mereka duduki, setelah itu empat serangkai diajak menyusuri goa dengan menggunakan ban tubing tersebut.


Selama di sana, si kembar dan Niko sepakat untuk mengerjai Aries dengan menyiraminya dengan air bertubi-tubi sampai yang diusili kesal dan ngambek. Tentu saja itu adalah ide Fersya, sebelum mendapatkan yang manis harus melewati yang pahit dulu bukan? Saat di rumah Mbah Kakung pun Aries masih juga ngambek dan membuat Mbah Putri bertanya-tanya.


Hari ini, hari keempat mereka berwisata ke tempat yang memang sangat ingin Aries kunjungi. Pantai Parangtritis. Pantai yang banyak sekali dijumpai oleh wisatawan, baik lokal maupun asing. Dan mau tahu apa alasan Aries ingin ke pantai tersebut yang omong-omong sepertinya hanya Fersya saja yang tahu apa alasan lelaki itu.


"Pantai Parangtritis terkenal akan sunsetnya yang romantis dan gue mau ke sana bareng sama lo. Kita berdua, tidak memandang satu sama lain, tapi kita memandang pada satu arah, yaitu matahari."


"Terus?"


"Ya udah, gitu aja."


Aries tetaplah Aries, tapi kalian percaya nggak Aries berbicara seperti itu? Kalau tidak, sama Fersya juga tidak percaya. Tapi nyatanya Aries pernah mengatakan hal ini, di telpon saat Fersya menanyakan tempat apa yang ingin dikunjungi lelaki itu saat sampai di Jogja nanti, dan itulah jawabannya.


Sekarang ditemani oleh cahaya oranye dan pemandangan pantai yang menakjubkan. Awalnya Fersya berjalan dengan Farsya, di belakang mereka berdua ada Niko dan Aries. Seolah sudah mengerti, Farsya meminta Niko untuk menemaninya ke tempat Mbah Kakungnya berada.


Tinggalah Fersya dan Aries saja. Fersya duduk di pinggir pantai sambil memandangi matahari yang mulai meninggalkan peraduannya. Langitpun mulai berubah warna menjadi keunguan. Aries menyusul duduk di samping kanan gadis itu, sama-sama memandangi matahari.

__ADS_1


"Aries," Fersya menyebut nama Aries dengan benar, gadis itu mengambil napas sejenak dan melanjutkan ucapannya. "ayo kita coba."


Itulah jawaban Fersya atas pertanyaan Aries.


***


Mbah Kakung dan Mbah Putri mengantar mereka sampai Stasiun Yogyakarta. Yang tadinya mereka hanya membawa tas saja, sekarang masing-masing dari mereka membawa tas jinjing hasil buah tangan dari jalan-jalan di sekitaran Malioboro dua hari yang lalu.


Ada banyak buah tangan baik yang mereka beli dari uang sendiri ataupun dari Mbah Putrinya. Titipan untuk anaknya di sana. Mungkin, bawaan mereka bertambah berat tapi hati mereka sedikit lapang karena sudah menikmati keindahan alam selama empat hari penuh.


Tapi, bagi Fersya yang memang suka sekali jalan-jalan, empat hari tidaklah cukup untuknya. Maka dari itu, Fersya berdoa semoga saja hasil UTBK-nya memuaskan dan Fersya tidak akan menyesal dengan pilihannya sendiri.


Mereka berempat mencium punggung tangan Mbah Kakung serta Mbah Putri dan segera berpamitan dengan keduanya. Sebelum memasuki stasiun si kembar memeluk nenek dan kakeknya itu. Seperti orang tua pada umumnya, baik Mbah Kakung ataupun Mbah Putri sama-sama memberi wejangan kepada si kembar.


"Hati-hati di jalan ya. Kalau sudah sampai langsung kabari, Mbah juga titip salam buat orang tua kalian. Jaga diri kalian baik-baik dan akur terus ya." itulah kata Mbah Kakung.


"Di dalam persaudaraan wajar kalau ada pertengkaran, tapi Mbah Uti harap kalian bisa menyelesaikan masalah apapun yang datang pada hubungan kalian. Saling menjaga adalah kuncinya. Mbah Uti tau kalau kalian kembar, secara fisik kalian sama, tapi setiap orang memiliki cirinya masing-masing. Jadi," Mbah Putri menggenggam kedua tangan si kembar dengan kedua tangan keriputnya.


"Berusaha untuk saling menjaga dan mengerti ya. Tidak perlu harus, cukup berusaha saja. Oke? Sana masuk stasiun, pacar-pacar kalian udah pada nunggu tuh."


Niko dan Aries yang sedang menunggu si kembar di pintu masuk segera melambaikan tangannya saat Mbah Putri dan si kembar menoleh ke arah mereka.


Farsya yang baru sadar apa yang Mbah Putrinya bilang tadi langsung memberengut, "Apasih Mbah Uti, Eca doang tuh yang pacaran."


"Sama Niko?" kali ini Mbah Kakung ikut nimbrung dalam obrolan.


"Sama Aris lah." sadar kalau ucapannya terkesan kesal, Farsya buru-buru berdeham dan memeluk Mbah Putri serta Mbah Kakungnya, kemudian meninggalkan Fersya.


"Cemburu itu dia Mbah." kata Fersya yang berbisik ke Mbah Putrinya agar orang yang dimaksud tidak mendengar ucapannya. Mbah Putri dan Mbah Kakung menganggukkan kepala sambil tersenyum penuh arti.


"Hati-hati ya Fersya." kata Mbah Putri sambil mengelus pelan kepalanya.

__ADS_1


"Iya Mbah Uti." Fersya memeluk nenek dan kakeknya itu, lalu mencium kedua punggung tangannya lagi dan berpamitan. Mereka berempat melambaikan tangan ke arah Mbah Kakung dan Mbah Putri, lalu masuk ke dalam stasiun.


__ADS_2