
Pagi-pagi sekali Rini sudah membangunkan Fersya untuk mandi sekalian solat subuh agar Fersya dan Aries tidak telat sampai kampusnya Ira. Mereka berdua akan ke sana dengan menggunakan motor dan menginapkan motor tersebut di kampus Ira selama empat hari.
Fersya sebenarnya bingung akan memakai baju apa untuk berangkat nanti karena Fersya memang tidak membawa apa-apa saat ke rumah Aries kemarin. Rini menyarankan Fersya untuk memakai baju Ira saja dulu dan Ira juga sempat menelponnya saat ia sudah selesai solat, sama seperti kata Rini, tidak apa-apa jika Fersya ingin memakai bajunya. Dan haruskah Fersya juga membawa tas dan baju Ira untuk empat hari kedepan? Rasanya tidak tahu diri sekali dirinya ini.
Fersya ingin bertanya apa ia harus membawa tas dan baju Ira juga pada Rini tapi Fersya terlalu takut dan malu. Untungnya Rini seolah mengerti apa yang sedang Fersya khawatirkan karena saat Fersya keluar kamar Ira---fyi, Ira mengizinkannya untuk tidur di kamarnya---dan menghampiri Rini yang sedang membantu Aries menyiapkan barang-barang bawaannya saat itulah Rini bilang kalau Fersya tidak perlu bawa apapun.
Fersya sempat bingung, kalau Fersya tidak membawa apapun bagaimana ia akan mengganti bajunya nanti di Bandung?
Saat itulah Fersya tahu kenapa Rini bilang seperti itu, saat Aries sedang menstarter motornya dan Fersya sedang menggemblok tas bawaan Aries sambil mengobrol dengan Rini, saat itulah ia mendengar suara yang sangat dikenalnya.
"Assalamualaikum, permisi Bu Rini." Ayahnya datang sambil menenteng tas sekolahnya yang sepertinya berisi pakaiannya.
"Oh, Waalaikumussalam, masuk Pak Rido."
"Nggak apa-apa Bu Rini saya di sini aja."
"Fersya maaf ya, bukan maksud Ibu buat ikut campur tapi memang ada baiknya kalau orang tua kamu tau kalau hari ini kamu pergi. Sana samperin Ayah kamu." kata Rini sambil mendorong pelan punggung Fersya dan mengambil tas bawaan Aries yang tadi sempat digemblok Fersya.
Fersya menghampiri Ayahnya dengan perlahan, gadis itu masih sedikit kecewa, marah, sedih? Entahlah saat melihat dan tahu kalau Ayahnya ada di sini membuat Fersya ingat kejadian kemarin yang berusaha Fersya hapus. Mungkin marah dan kecewanya Fersya tidak sebesar pada Mamanya tapi tetap saja kalau mengingat kemarin Ayahnya yang hanya diam tak melakukan apapun turut membuat Fersya kecewa.
Saat Fersya berada di pekarangan Aries tadi Fersya merasa bahwa di dalam sana ramai sekali tapi kenapa saat Fersya sudah sampai dihadapan Ayahnya rasanya sunyi sekali.
"Eca udah sarapan?" Fersya hanya balas dengan anggukan.
Fersya terkejut saat Ayahnya tiba-tiba saja memeluk dirinya dan mulai mengelus pelan kepalanya. Masih dengan keterkejutannya Ayahnya berbicara.
"Maafin Mama sama Ayah yang nggak bisa ngertiin Fersya ya? Sama sekali bukan maksud Mama ataupun Ayah bersikap seperti itu sama kamu sayang. Ayah tau baik kamu ataupun Mama kamu sekarang ini belum siap untuk ketemu satu sama lain, jadi Ayah harap ke Bandung ini bisa menjadi obat buat kamu. Baik-baik ya di Bandung, terus kabarin Ayah." Ayahnya melepas pelukannya dan menatap ke samping Fersya yang rupanya sudah ada Aries dan Ibunya di sana.
"Aries Om titip Fersya ya?"
"Siap Om." balas Aries sambil memasang sikap hormat.
Rido memberikan tas Fersya yang tadi ditaruh di dekat kakinya dan juga memberikan sebungkus plastik berisi snack jajanan kesukaan Fersya. Fersya hanya bisa menerimanya dan bilang terima kasih.
"Ayah..." dengan takut-takut Fersya memanggil Ayahnya.
"Kenapa sayang?"
__ADS_1
"Gimana keadaan Aca Yah?"
"Aca udah jauh lebih baik, untung aja kamu ingetin Ayah, dia nyesel dan sedih karena nggak bisa nganterin kamu, Aca juga titip oleh-oleh sama kamu, paling bentar lagi dia chat kamu." Fersya hanya mengangguk.
"Ayah nggak kasih tau Farsya soal kemarin?" bukannya menjawab Ayahnya malah mengelus kepalanya dan berbincang sebentar pada Rini dan Aries, kemudian pamit. Ayahnya membunyikan klakson dan Fersya mengantar kepergian Ayahnya dengan lambaian tangan.
Sebenarnya Fersya juga ingin bertanya bagaimana kabar Mamanya tapi ego lebih menguasai dirinya dari apapun jadi pertanyaan itu hanya ia simpan sendiri yang mungkin akan mengendap sampai empat hari kedepan. Karena Fersya tidak tahu dan tidak ingin berharap kalau Mamanya akan menghubunginya dan bertanya kabarnya.
***
Fersya dan Aries sudah sampai di kampus Ira dan Aries sudah tahu harus di taruh dimana motornya. Ternyata parkiran motornya tidak jauh dari tempat Graha Mahasiswa dimana teman-teman Ira sedang berkumpul untuk sarapan di sana.
Saat mengetahui Aries dan Fersya yang sudah sampai, Ira pamit sebentar untuk menghampiri muda-mudi itu.
"Sarapan bareng yuk, masih banyak tuh makanannya." tidak, Ira tidak berbicara pada Aries tapi berbicara pada Fersya dan hal itu membuat Aries kesal.
"Yang adiknya mbak Ira tuh Aries apa Fersya sih? Kesel dede" kata Aries sambil mencebikkan bibirnya.
"Ngomongnya kayak gitu lagi mbak usir kamu ya." kata Ira sambil memelototkan matanya.
Dan benar saja teman-teman Ira terutama yang cowok langsung mendekat ke Aries dan memeluknya layaknya teman lama. Tapi semua kekhawatiran Fersya tidak beralasan sekali karena saat Fersya juga sudah didekat teman-teman Ira, mereka semua menerima Fersya dengan sangat gembira dan hal itu membuat Fersya jauh lebih nyaman dari sebelumnya.
Ira memperkenalkan Fersya sebagai sahabat Aries sekaligus adik Ira dan Fersya merasa bangga entah untuk alasan apa. Semua teman-teman Ira melakukan perkenalan di depan mereka semua yang sedang sarapan demi Fersya. Kenapa Fersya bisa bilang begitu karena hanya Ira saja yang membawa orang luar dalam acara kampusnya ini.
Sebelum mereka naik bus, teman-teman Ira yang Fersya tebak sepertinya pengurus perjalanan ini menjelaskan susunan acara dari hari ini sampai pulang nanti. Untuk Fersya dan Aries tadi diberitahu jika ingin membantu silakan tapi mereka menyarankan Fersya untuk diam dan menonton saja salama acaranya berjalan. Iya, hanya Fersya saja yang ditawari seperti itu, kalau Aries wajib membantu mereka. Fersya tertawa mendengarnya karena ia tahu mereka hanya sedang menjahili Aries. Sepertinya Aries sudah menjadi bagian dari keluarga mereka juga.
Semua barang yang diperlukan sudah masuk ke dalam bis, begitupun Fersya yang juga sudah duduk manis dibangku dekat jendela, entahlah siapa yang akan duduk bersamanya nanti karena Fersya sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.
Fersya melihat Aries yang masih ada di luar sedang berbicara pada seorang lelaki yang sepertinya teman Ira. Fersya ingin tahu apa yang sedang dibicarakan Aries karena sepertinya serius sekali.
"Liatin siapa Fer?" Fersya terkejut sekaligus malu seperti ketahuan sedang mengintip seseorang. Saat Fersya menengok ternyata itu Cindy temannya Ira.
Cindy ini salah satu teman Ira yang paling supel sepertinya, walaupun banyak yang mengajak Fersya mengobrol tapi Cindy jauh lebih sering mengajaknya mengobrol dan hal itu membuat Fersya mudah untuk mengingat Cindy.
"Liat Aris ya?" ledek Cindy. Fersya hanya cengar-cengir saja. Bagaimana lagi Fersya sudah tertangkap basah. Walaupun teman-teman Ira masih banyak yang di luar tapi Iranya sendiri sudah ada di bis saat Fersya tak sengaja melihatnya ada di bangku sampingnya lagi, jadi Fersya tak bisa berkelit.
Daripada Fersya hanya cengengesan saja lebih baik Fersya bertanya siapa yang sedang diajak ngobrol oleh Aries. "Kak Cin, yang lagi ngobrol sama Aries siapa?"
__ADS_1
"Ooh, Candra ketua teater kampus ini. Aries emang deket sama Candra karena dia tuh mantanya Ira." oh, kabar yang menarik.
"Kira-kira lagi ngomongin apa ya?"
"Entahlah, emangnya kenapa Fersya mau tau?"
"Nggak apa-apa kok kak."
Dari situlah obrolan mereka berlanjut sampai Cindy menembakkan pertanyaan yang cukup mengejutkan untuknya. "Fersya sama Aris pacaran ya?"
"Ha? Nggak kok kak, cuma temen kok." kata Fersya sambil menyilang-nyilangkan tangannya di depan wajahnya karena malu.
"Yah, kasian banget si Aris dianggap temen doang." kata Cindy dengan mimik muka dibuat sedih. Fersya tahu kalau Cindy hanya sedang menggodanya saja.
"Apa sih kak Cin."
Setelah itu Aries masuk bersama dengan Candra dan itu dimanfaatkan Cindy untuk menggoda Fersya lagi. Saat melihat Aries yang berjalan melewati bangku mereka, Cindy bersiul dan itu sukses membuat Aries nengok ke arah Cindy.
"Kenapa kak Cin?"
"Ah, nggak apa-apa kok Ris. Mau duduk di sini?"
Aries sempat melirik Fersya yang sedang pura-pura bermain hp, kemudian menjawab, "Nggak deh kak, Aris di belakang aja."
"Okay." kata Cindy sambil mengedipkan sebelah matanya. Aries yang sudah tahu kalau Cindy orangnya jahil jadi Aries diamkan saja dan berjalan menuju bangku belakang.
Candra mengkoordinir teman-temannya dengan baik dan mereka akan segera berangkat menuju Bandung tapi sebelum itu mereka semua yang ada di bis berdoa terlebih dahulu agar dari berangkat sampai pulang selamat dan acaranya berjalan dengan lancar.
Bis mulai meninggalkan kampus, tatapan Fersya mengarah pada jalanan dan saat itulah Fersya merasakan getaran di saku celananya.
From : Farsya
Lo dah jalan Fer?
Gue minta moci pas lo pulang yaaa
Be careful my twins, see you
__ADS_1