
Setelah selesai sarapan tadi Fersya langsung menuju kamarnya. Ia lupa kalau belum membuka kado dari Aries. Ya, Fersya tahu ia memang lebih mementingkan kado Aries ketimbang berkumpul bersama orang tuanya di ruang keluarga.
Saat sudah di kamar Fersya menuju meja belajarnya dan mengambil kado berbungkus koran itu. Dibawanya barang itu ke kasur.
Fersya membuka bungkusan koran itu. Seharusnya Fersya sudah tahu kalau kado dari Aries ini pasti spesial. Contohnya, yaitu kado ini dibungkus koran yang jumlahnya ada berapa.
Akhirnya Fersya sampai pada bungkusan kado terakhir, dengan kesal ia membuang bungkusan kado terakhir itu ke lantai. Fersya melihat isi kado yang diberi Aries. Sebuah pulpen dengan penutup berbentuk tas. Fersya bertanya-tanya apa maksudnya dan ia memutuskan untuk menelepon Aries untuk bertanya. Tapi sebelum itu Fersya ingin protes dulu tentang bungkus kado yang menyusahkannya itu.
"Halo, Aris di sini. Ada yang bisa dibantu?"
"ARIIIIIISSSS!!!"
Bukannya membalas Fersya malah berteriak memanggil namanya dan membuat Aries menjauhkan handphonenya dari terlinga. Aries masih ingin mendengar banyak hal di dunia ini, jadi lebih baik ia menyelamatkan kupingnya dulu baru membalas teriakan Fersya.
"FERSYAAAAAA!!!"
"Lo tuh nyebelin banget ya! Masa bungkus kado sebanyak itu sih!"
Aries malah tertawa di ujung telepon sana, membuat Fersya semakin kesal.
"Biar ada usahanya. Biar tau artinya perjuangan dan proses."
"Hm, ya ya ya. Whatever you say." kata Fersya sambil memutar bola matanya. "Eh, tapi tas tuh maksudnya apa sih?"
"Tas?"
"Tutup pulpennya." kata Fersya dengan nada datar.
"Ooooh, kan lo suka jalan-jalan. Jadi tas itu tuh bermakna teman, apalagi kalau lo udah masuk jurusan pariwisata dan sering bepergian pasti kan lo bawa tas. Nah gue harap dengan gue memberikan pulpen tas itu bisa membuat lo nggak lupa untuk bawa tas." jeda sebentar karena Aries tertawa akibat perkataanya tadi dan Fersya lagi-lagi hanya memutar matanya.
"Dan nggak lupa untuk bawa pulpen itu juga."
"Kenapa nggak kadoin gue tas sekalian?"
"Yeee, nggak tau terima kasih lo." Fersya hanya tertawa. "Soon. Pasti bakal gue kasih. Tapi sekarang itu dulu ya, soalnya pas gue temenin lo di gramed waktu itu gue nemuin pulpen itu dan terlihat lucu di mata gue."
"Ewh, bahasa lo menggelikan." mereka berdua tertawa sejenak, kemudian Fersya melanjutkan kata-katanya.
"Nggak perlu kasih gue apa-apa lagi Ris. Cukup doain gue aja semoga gue bisa masuk pariwisata jadi nyokap nggak bisa berbuat apa-apa lagi." Fersya pun tertawa di ujung kalimatnya. Tertawa miris.
"Btw, Fer. Selamat Ulang tahun ya." Fersya tersenyum sambil menggumamkan terima kasih.
Mereka melanjutkan obrolan sampai 30 menit lamanya. Fersya tidak merasakan itu sebelumnya tapi saat ia mengakhiri pembicaraan dengan Aries dan menjauhkan handphonenya dari telinga, baru Fersya sadari kalau telinganya sudah sedikit berdengung dan panas.
Fersya melihat hadiah pemberian Aries sebentar, kemudian ia menaruhnya dengan rapi di meja belajarnya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, jadi ia memutuskan untuk merapikan bajunya. Ia memilih baju yang sekiranya cocok untuk bepergian nanti, terlebih ia juga akan merayakan tahun baru bersama keluarganya di sana.
Sebenarnya Fersya tidak tahu di sana yang dimaksud itu di mana karena orang tuanya tak member tahunya. Tapi mengetahui kalau mereka berangkat sore bisa saja tujuan mereka kali ini adalah daerah Puncak, Bogor.
Fersya telah memasukkan beberapa bajunya untuk bepergian nanti, kemudian ia menuju meja belajarnya dan menarik laci yang ada di bawah meja tersebut. Di sana teletak novel yang sudah Fersya beli untuk hadiah Farsya. Novel tersebut telah ia bungkus dengan kertas kado.
Sengaja Fersya taruh di laci meja belajar agar Farsya tidak tahu keberadaan kado tersebut. Walaupun Fersya akui kalau kembarannya itu jarang sekali bertandang ke kamarnya, tapi tetap saja lebih baik ia sembunyikan daripada ketahuan.
Semua hal bisa saja terjadi kan?
__ADS_1
Fersya mengambil kado itu dan memasukkannya ke dalam tas, tak lupa Fersya juga menyembunyikan kado itu dibalik baju-baju yang ia bawa.
Semua hal bisa saja terjadi kan?
Tanpa Fersya sadari jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Kata orang tuanya mereka akan berangkat sekitar jam tiga, jadi lebih baik ia mandi dan mempersiapkan diri.
Setelah selesai mandi Fersya memutuskan keluar dari kamar karena ia merasa bosan. Saat sampai bawah ia tak menemukan Ayah ataupun kembarannya. Hanya ada Mamanya di ruang keluarga.
"Ayah sama Aca kemana ma?" tanya Fersya seraya duduk di samping Mamanya yang sedang menonton drama korea.
Fani kaget melihat kehadiran Fersya, apa yang harus ia katakana pada anaknya. Tidak mungkinkan kalau ia bilang Rido dan Farsya sedang menjemput kue tar untuk Fersya.
"Ehmm, Ayah sama Aca lagi beli snack di mini market."
"Biasanya kalau beli snack sekalian kita jalan ma." Fersya terus memberi serangan pada Fani. Entah mengapa Fersya merasa ada yang disembunyikan Mamanya itu.
Fani bingung harus menjawab apa dan beruntungnya ia tak perlu menjawab hal itu karena suaminya dan Farsya sudah kembali. Dan beruntungnya lagi mereka membawa snack dari mini market jadi Fani tidak perlu panik atau merasa bersalah karena telah membohongi anaknya sendiri. Walaupun Fani sebenarnya merasa sedikit bersalah.
Soal kue tar-nya mereka memang sudah memutuskan untuk tidak membawanya masuk ke rumah dan menyimpannya di dalam mobil.
Orang tua si kembar memutuskan untuk langsung mengambil barang masing-masing dan segera bersiap untuk pergi. Untung saja tadi Farsya sekalian mandi dan ia tinggal mengambil tas di dalam kamar. Tak lupa ia juga mengambil kado untuk diberikan pada Fersya nanti.
Farsya tak akan memberitahu kado apa yang akan dia kasih nanti.
Mereka memulai perjalanan sambil mengobrol. Setelah lelah mengobrol si kembar memilih tidur ditemani lagu yang diputar Ayah mereka. Perjalanan sedikit tidak lancar karena macet tapi orang tua si kembar memang sudah menduga hal ini. Karena mereka memang sengaja agar sampai di sana pada malam hari dan bisa beristirahat sebentar kemudian baru menyiapkan camping yang sudah direncanakan, dilanjutkan dengan perayaan tahun baru sambil melihat kembang api di atas langit.
Si kembar masih tertidur saat mereka sudah sampai di salah satu bukit. Orang tua si kembar sebisa mungkin menurunkan barang camping yang ada di bagasi mobil dengan pelan agar anak mereka tidak terbangun. Tidak lupa mereka ambil bungkusan kue tar yang tadi siang di ambil dan segera membawanya ke tempat
Mungkin kalian bingung kenapa si kembar bisa tidak mengetahui keberadaan alat camping di belakang jok mobil yang mereka duduki. Itu karena orang tuanya tidak membiarkan mereka menaruh tas bawaan mereka di bagasi.
Orang tua si kembar sudah selesai dengan alat camping mereka, semua sudah tersusun rapi sesuai rencana. Yang orang tua tidak tahu adalah sebenarnya si kembar sudah bangun beberapa menit yang lalu.
Mereka melihat Rido dan Fani yang sedang menyiapkan tenda. Tadinya Farsya ingin membantu orang tuanya tapi Fersya menahan dan bilang kalau mungkin acara camping ini adalah kejutan untuk orang tuanya, lebih baik mereka mengikuti saja semua rencana keluarganya itu.
Fani mengampiri mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka akan bercamping nanti dan si kembar memutuskan untuk pura-pura tidur kembali agar Mamanya tidak curiga.
Fani membangunkan si kembar dan meminta mereka untuk turun.
"Surprise!!! Family time kali ini kita bakal camping!"
Melihat Mamanya yang begitu senang membuat si kembar juga merasa senang, walaupun mereka sudah tahu hal itu tapi tak menutup kemungkinan kalau mereka takjub juga dengan tema camping yang dilihat di depan mata mereka.
Dua tenda sedang berwarna coklat dan hijau, ada panggangan untuk bakar-bakar nanti, ada meja kecil berisi berbagai macam makanan mulai dari sate sosis, sate otak-otak dan jagung. Kemudian ada karpet di depan dua tenda itu, dan ada lampu-lampu kecil warna-warni di sekeliling tempat itu.
Sepertinya family time tahun ini akan sangat menyenangkan untuk mereka.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Fersya sebenarnya bingung kenapa belum juga ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Baru Aries tadi siang saat ia meneleponnya.
Niko? Jangan harapkan dia, Fersya juga tidak mengharapkan apapun.
Tapi kenapa orang tuanya dan Farsya belum juga mengucapkan selamat ulang tahun padanya, sebentar lagi hari berganti, tanggal berganti, bulan berganti dan tahun juga berganti.
Bohong kalau Fersya tidak mengharapkan ucapan selamat dari Farsya dan orang tuanya. Pada nyatanya ia sangat mengharapkan hal itu. Setau Fersya orang tuanya tidak pernah lupa akan ulang tahunnya. Tahun lalu pun walau memang sedikit terlambat mengucapkannya tapi tidak pernah seterlambat ini. Hal ini membuatnya berasumsi kalau orang tuanya memang lupa untuk mengucapkannya.
__ADS_1
Fersya pikir ini akan menjadi family time yang menyenangkan untuknya. Memang cukup menyenangkan tapi mengingat belum ada satupun dari anggota keluarganya yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya membuat Fersya sedikit sedih.
Fersya masih asik memakan sosis bakarnya yang entah ke berapa, ia tidak sadar kalau kedua orang tuanya dan Farsya sudah tidak ada di dekatnya. Mereka akan segera melaksanakan rencana yang sudah di susun.
Mereka bertiga masuk ke dalam tenda tempat orang tuanya tidur nanti dan membuka bungkus kue tar yang sudah dibeli. Ditaruh lilin-lilin kecil warna-warni di setiap pinggiran kue. Sengaja lilin ini yang dibeli karena lilin ini lilin yang susah untuk ditiup. Itu adalah rencana Farsya.
Mereka sudah siap dengan kuenya dan segera keluar dari tenda. Fersya masih di sana duduk di atas karpet dan masih memakan sosis bakarnya. Sepertinya Fersya baru sadar kalau ia sendirian daritadi karena sekarang cewek itu sedang celingak-celinguk mencari keberadaan mereka.
Baru saat Fersya melihat ke belakang dan melihat kedua orang tuanya beserta Farsya yang sedang memegang kue membuatnya sedikit terkejut dan langsung berdiri. Mereka menyanyikan lagu ulang tahun untuk Fersya.
"Selamat ulang tahun, sayang." kata Mamanya.
"Selamat ulang tahun, nak." kata Ayahnya.
Dan yang terakhir, Farsya mengucapkannya sambil mengangsurkan kue tar tersebut kehadapan Fersya. "Selamat ulang tahun, Fer."
Fersya tersenyum dan tanpa menunggu lagi ia langsung meniup lilin yang ada di atas kue itu. Tapi tak semudah itu, dua kali ia tiup tidak juga padam. Fersya sudah dikerjai sebanyak dua kali hari ini.
Orang tuanya dan Farsya hanya tertawa melihat Fersya yang masih berusaha memadamkan lilin tersebut. Kemudian, Rido memutuskan untuk membantu anaknya dan lilin berhasil dipadamkan.
Fersya mengucapkan terima kasih sambil memeluk orang tuanya dan juga Farsya. Mereka duduk kembali di atas karpet, Fani mengambil pisau kue yang sudah dibawa dan memotong kue tersebut.
"Fer, ini" Farsya memanggilnya dan menyodorkan kado padanya.
Fersya teringat kalau ia juga belum memberikan kado untuk Farsya, padahal kado itu sudah ia bawa dan sekarang masih bersarang di tasnya.
Bukannya langsung mengambil kado itu Fersya malah berdiri, "Bentar."
Fersya keluar sambil membawa bungkusan kado berebentuk kotak dan juga langsung mengangsurkannya kehadapan Farsya.
Mereka berdua tertawa dan mengambil kado mereka masing-masing. Fani yang melihat itu memilih meninggalkan si kembar berdua dan menemani suaminya yang sekarang sedang membakar jagung.
Mereka membuka bungkusan kado masing-masing dan keduanya sama-sama terkejut dengan isi hadiahnya.
"Tas?"
"Novel?"
Tanya si kembar bersamaan. Kemudian mereka berdua tetawa bersama. Si kembar tahu kesukaan saudaranya masing-masing.
Fersya mungkin tidak tahu pasti novel apa yang sedang diinginkan kembarannya, tapi melihat Farsya yang sangat senang melihat novel pemberiannya membuatnya merasa dihargai.
Begitupun sebaliknya, walaupun tas bukanlah barang atau benda kesukaannya tapi seperti kata Aries tadi kalau tas akan menjadi temannya saat ia diterima dijurusan pariwisata nanti. Secara tidak langsung tas ini adalah doa dari Farsya agar ia bisa masuk dijurusan pariwisata. Fersya benar-benar akan belajar dengan maksimal dan berjuang di SBM nanti agar bisa masuk jurusan yang diinginkannya.
Orang tuanya datang menghampiri si kembar. Sang Ayah membawa piring berisi jagung bakar dan sang Ibu membawa petasan.
Mereka berempat duduk menghadap langit malam yang penuh bintang dan juga bising petasan yang sedari tadi menemani mereka. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam, mereka segera menyalakan petasan tersebut dan Fersya mengacungkan tinggi-tinggi petasan tersebut.
Isi petasan tersebut keluar dan terbang ke atas langit menampilkan kerlip-kerlip indahnya di langit. Isinya terus keluar seakan tidak ingin kalah dengan kerlip yang lain.
Saat petasan mereka habis, satu keluarga itu memutuskan untuk duduk diam sambil memandang langit yang semakin banyak dipenuhi kerlip petasan dan juga bintang.
Mungkin ini sedikit telat, tapi si kembar tetap berteriak.
"SELAMAT TAHUN BARUUUU!!!"
__ADS_1