
Setelah dua minggu liburan semester yang rasanya kurang sekali, akhirnya semester genap dimulai. Sama seperti sekolah-sekolah lainnya, SMA Sebangsa juga dipenuhi oleh murid dan guru yang melenggang masuk ke dalam gedung sekolah.
Fersya datang ke sekolah bersama dengan Farsya dan Niko. Fersya datang dengan penampilan baru. Ia menepati perkataannya untuk memotong rambut. Kali ini bukan dengan model yang sama, tapi Fersya memberanikan diri untuk mencoba model baru.
Fersya memotong rambutnya dengan model Bob layer belah pinggir.
Saat mereka melewati lapangan olahraga, tiba-tiba Aries datang mengahmpiri. Sepertinya Aries habis main sepak bola sama teman-temannya karena peluh keringat membanjiri setiap wajah dan seragamnya.
"Hai. Kenapa nih orang nunduk mulu?" tanya Aries sambil menunjuk Fersya. Baru Farsya ingin menjawab, Aries sudah lebih dulu melanjutkan perkataannya karena ia sadar kalau model rambut Fersya berbeda dengan sebelumnya. "Eh, udah potong rambut toh. Cakep kok, kenapa malah nunduk?"
"Nah baru gue mau bilang. Cakep kan ya? Tapi Fersyanya belum pede sama tampilan baru dia." kata Farsya menjelaskan.
Aries tidak berkomentar lagi, si kembar dan Niko pun masih diam di tempatnya. Sebenarnya keadaan ini tidaklah canggung kalau saja Aries tidak secara tiba-tiba mengulurkan tangannya kemudian menyelipkan sebelah rambut Fersya ke kuping, rambut yang sengaja ia juntai untuk menutupi wajahnya.
Niko tanpa sadar berdehem untuk mengurangi kecanggungan.
"Far, ke kelas yuk!" ajak Niko karena ia merasa malu dengan situasi ini. Padahal bukan Niko yang diselipkan rambutnya tapi kenapa ia yang malu.
"Eh, hehehe yuk." tanpa berpamitan pada Fersya dan Aries yang masih diam, mereka berdua memutuskan untuk pergi secepatnya dari situasi canggung ini.
Aries dan Fersya yang ditinggal kabur oleh kedua orang itu hanya diam. Mereka masih bingung, Aries yang bingung kenapa tangannya bisa begitu agresif menyentuh rambut Fersya dan Fersya yang bingung dengan perlakuan Aries.
Mulai muak dengan situasi yang seperti ini, Fersya memutuskan untuk memukul lengan Aries dan meledeknya. "Hahaha, dangdut banget sih lo Ris."
Aries hanya cengengesan sambil mengusap-usap tengkuknya.
"Lo cantik kok dengan model rambut apapun, jadi kalo lo mau potong rambut model baru lagi nggak usah malu."
"Udah ah Ris. Merinding gue denger lo muji mulu dari tadi." kata Fersya yang masih sedikit malu akibat perbuatan tadi dan sekarang malah ditambah oleh pujian dari Aries.
"Lah dikira gue setan kali buat lo merinding." dengan candaan Aries barusan membuat keadaan yang masih sedikit canggung tadi hilang.
"Baru masuk udah main bola aja ya Ris." sindir Fersya.
"Biasa, latihan demi meraih citah-citah." Aries mengucakan kata 'cita-cita' dengan tambahan 'h' sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
Fersya yang melihat itu langsung mengambil bungkusan permen di saku kemejanya dan memasukannya ke dalam mulut Aries yang sedang terbuka lebar.
Aries yang merasa mulutnya dimasuki sesuatu oleh Fersya buru-buru ia tutup dan mengeluarkan bungkusan permen yang tadi di masukkan oleh Fersya. Si pelaku sih hanya teratawa dan berlari sambil menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Aries tak terima ia dikerjai begitu saja, jadi ia kejar Fersya yang sedang berlari menghindarinya sampai akhirnya mereka tiba di lapangan belakang sekolah. Aries menangkap pergelangan tangan Fersya dan mulai mengacak-acak rambutnya.
Aries tidak peduli dengan tangannya yang lagi-lagi agresif menyentuh rambut Fersya.
"Udah ih, rambut gue jadi berantakan deh!" kesal Fersya sambil merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulah Aries.
"Siapa suruh jail duluan."
Mereka berdua kelelahan karena kejar-kejaran tadi dan duduk di bangku yang menghadap empang. Fyi, SMA Sebangsa memang memiliki empang di dekat lapangan belakang sekolah.
"Nggak kerasa udah mau lulus aja. Andai gue kenal lo dari kelas sepuluh, gue rasa masa SMA gue akan jauh lebih menyenangkan." kata Fersya saat mereka berdua masih asik memandang empang. Fersya mengambil daun kering yang ada di dekatnya dan mulai memainkannya.
"Jangan menyesali sesuatu yang udah nggak bisa kita ulang." Fersya mengabaikan petuah Aries, ia malah memberikan pertanyaan.
"Lo pernah bilang kan waktu kita pertama kali ketemu, kata lo 'Siapa yang nggak kenal sama satu-satunya murid kembar di SMA Sebangsa?'. Berarti sebenernya lo udah tau gue dong, kenapa nggak kenalan dari dulu aja?"
***
Flashback
MOS hari pertama diwarnai berbagai murid baru yang memakai barang-barang aneh. Tas karung goni, topi yang terbuat dari bola, kaus kaki beda warna, dan sebagainya. Walaupun hari pertama tidak membuat para murid baru surut untuk berkenalan, padahal mereka kebanyakan dari sekolah yang berbeda.
Begitu juga dengan Aries, sudah sekitar 10 menit ia tiba di sekolah dan ia juga sudah berkenalan pada banyak orang. Bahkan saat inipun Aries sedang mengobrol dengan teman pertamanya di sini. Rizki, yang ternyata memiliki kesukaan yang sama dengannya. Sepak bola. Mereka bahkan berjanji untuk masuk ke ekskul yang sama nanti dan berharap bisa satu kelas.
"Eh, liat deh. Ada anak kembar, mana cantik banget lagi dua-duanya."
Aries langsung melihat ke arah yang ditunjuk temannya itu. Benar, mereka kembar, miri sekali seakan tak ada celah untuk membedakan mereka. Tapi untung saja salah satunya ada yang berambut pendek, jika sudah berkenalan nanti mereka bisa membedakan si kembar itu.
"Yah, tapi kayaknya yang satu udah ada gandengan tuh." celetuk Bima lagi.
Kayaknya tuh cowok lebih deket sama yang rambut panjang
Kenapa Aries jadi ikut-ikutan bergosip, walau hanya mengatakannya dalam hati, tapi tetap saja.
Aries baru sadar kalau bukan hanya kelompoknya saja yang memperhatikan si kembar, kakak kelas pun banyak juga yang mencuri-curi pandang pada si kembar. Entahlah anak kembar itu tahu atau tidak.
Memang tidak dipungkiri kalau si kembar ini memang cantik, seperti kata Bima tadi. Hanya saja mereka berdua memiliki aura yang berbeda, Aries bisa merasakannya.
Aries melihat si rambut pendek jalan sedikit di depan kembarannya dan cowok di samping kembarannya, seakan menghindari mereka berdua.
__ADS_1
MOS pun dimulai selama tiga hari berturut-turut dan si kembar ketenarannya tidak pernah surut selama tiga hari itu. Banyak yang ingin berkenalan dan ingin menjadi teman mereka, kakak kelas yang cowok pun banyak yang mendekati mereka.
Berbeda dengan kembarannya yang rambut panjang, si rambut pendek sering kali memasang wajah jutek pada kakak kelas cowok yang saat itu berusaha mendekatinya. Maka dari itu, anak-anak cowok lebih banyak mendekati kembarannya yang panjang daripada si rambut pendek.
Aries jadi penasaran kenapa kembarannya yang rambut panjang bisa begitu murah senyum, sedangkan si rambut pendek bermuka jutek.
Waktu terus berlalu, Aries ingin berkenalan pada salah satu dari si kembar itu, terutama si rambut pendek tapi waktu tak pernah memberinya kesempatan.
Sampai akhirnya penentuan kelas yang ternyata Aries sekelas dengan Rizki. Jujur Aries senang sekali, hampir tiap hari ia dan Rizki bermain bola dulu baru pulang, sehingga niatan untuk berkenalan dengan si kembar sempat hilang.
Sampai saat kelasnya dan kelas si kembar berambut pendek harus olahraga bareng karena guru yang mengajar kelas Aries sedang sakit. Tapi lagi-lagi tidak ada waktu untuk berkenalan dengan si rambut pendek.
Time flies so fast, tanpa Aries sadari ia sudah kelas 10 semester genap dan sekarang sedang UAS untuk kenaikkan kelas. UAS hari terakhir. Aries pulang ke rumah dan mendapati mbaknya dan orang tuanya sedang berdebar hebat.
Aries urung untuk masuk ke rumah, jadi ia hanya duduk di teras pojok berharap kehadirannya tadi tidak diketahui oleh orang rumah. Perdebatan itu berjalan cukup panjang, bukan maksud Aries ingin menguping tapi perdebatan itu terdengar sampai teras rumah.
Perdebatan itu menyangku Ira yang ingin kuliah di luar kota tapi tidak diizinkan orang tuanya. Tak lama kemudian Ira keluar rumah dengan linangan air mata. Melihat mbaknya yang seperti itu tidak bisa membuat Aries berdiam diri lebih lama lagi. Dikejarnya Ira dan bertanya mbaknya itu ingin kemana.
Hal yang mengejutkannya adalah Ira bilang kalau ia tidak akan tinggal di rumah untuk sementara waktu. Ira ingin menenangkan pikirannya dahulu. Aries berusaha menahan Ira, tapi Ira tidak peduli dan pergi begitu saja.
Hal itu membuat Aries benar-benar sakit hati.
Ira pergi dari rumah selama satu minggu penuh, selama satu minggu itu juga keadaan rumah tidak baik-baik saja. Karena permasalahan keuarganya itu membuat niatan Aries untuk berkenalan dan berteman dengan si kembar hilang entah kemana.
Sampai masalah itu sudah selesai dan Aries tetap tidak melanjutkan niatanya. Tapi takdir sepertinya suka sekali bermain-main dengannya.
Aries melihat si kembar berambut pendek ada di taman dekat rumahnya. Ia berpikir kenapa si rambut pendek itu bisa sampai ke sini, karena setahu Aries tidak ada teman sekolahnya yang tinggal di daerah ini selaim dirinya.
Tanpa sadar Aries memiliki ide jail, entahlah ide ini dari mana dan keberaniannya dari mana. Tapi saat melihat wajah si rambut pendek yang tidak sejutek biasanya membuat ia menghampiri gadis itu dan mengerjainya.
***
"Ris. Aris. ARIES!!!" panggilan Fersya itu membuat lamunan panjang Aries terhenti.
Fersya memukul lengan Aries dengan gemas, "Kesel banget deh, gue nanya malah didiemin, pake bengong segala lagi. Pokoknya lo utang dua cerita sama gue."
"Dua? Banyak banget!"
"Kan, kan lo lupa! Pertama yang di taman waktu itu. Kedua, ya yang tadi gue tanyain." kata Fersya dengan sedikit penekanan ada kata pertama dan kedua. "Udah deh, gue mau ke kelas. Lupa kan gue kalo belum naro tas. Gara-gara lo nih Ris!"
__ADS_1
Fersya berdiri dan membersihkan rok putihnya agar tidak terlalu kotor. Fersya berjalan meninggalkan Aries begitu saja.
"Lah kan lo duluan yang mulai. Eh, Fer, kok malah ninggalin gue sih! Tunggu woy!"