
Ternyata meminta maaf tidak pernah semudah itu. Tidak semudah itu saat kita harus meminta maaf pada orang yang benar-benar berarti untuk kita dan malah kita kecewakan. Bukan mau Fersya untuk bersikap kasar pada Mamanya kemarin, Fersya benar-benar terbawa emosi.
Selama ini Fersya selalu menahan emosinya saat sedang berdebat dengan Mamanya karena ia tahu kalau emosinya tidak bisa ia tahan pasti akan seperti kemarin jadinya. Fersya akan menyakiti hati Mamanya dengan perkataanya.
Saat ini meja makan terasa lebih suram daripada kuburan, sepi sekali. Biasanya kalau Fersya habis berdebat dengan Mamanya, Farsya yang biasanya mencairkan suasana besoknya. Tapi sekarang Farsya ikut-ikutan diam dan keadaan ini semakin membuat Fersya merasa bersalah. Terlebih Mamanya saat ini menyiapkan sarapan kesukaannya.
Roti bakar isi telur.
Biasanya Mamanya selalu memberi sarapan nasi goring, tapi kali ini Mamanya malah menyiapkan sarapan roti bakar isi telur kesukaannya seakan mengajak Fersya untuk berdamai. Kalau sudah begini Fersya tidak bisa diam lagi hanya dengan menikmati sarapannya saja.
"Dimakan Eca." kata Mamanya dengan lembut.
Fersya mengambil sarapannya perlahan dan memakannya dengan perlahan pula. Ayahnya dan Farsya telah selesai dengan makanannya. Entah disengaja atau tidak tapi mereka berdua seakan bersekongkol untuk meninggalkan Fersya berdua saja bersama Mamanya di ruang makan.
Ayahnya beralasan kalau ia akan ada rapat sebentar lagi jadi terburu-buru. Farsya sendiri bilang kalau hari ini gadis itu berangkat bareng dengan Niko.
Jadi maksudnya tuh Fersya harus berangkat sendiri gitu?
Memang sih, biasanya juga Fersya yang ninggalin Farsya, sekarang malah kebalikannya. Sepertinya karma sedang berjalan untuknya saat ini.
Fersya menyelesaikan makanannya dan meminum susu putih yang sudah disiapkan Mamanya juga. Fersya melihat jam, masih cukup waktu untuknya meminta maaf pada Mamanya sebelum ia harus berangkat nanti.
Menarik nafas untuk menenangkan dirinya yang gugup. Sekali lagi, kenapa meminta maaf sesusah ini. Baru Fersya ingin mengeluarkan suaranya, tapi tertahan karena ucapan Mamanya.
"Eca," kata Mamanya lembut sambil menggenggam tangan kanannya. "maafin Mamanya ya sayang?"
Kenapa harus Mamanya duluan yang bicara, kenapa susah sekali untuk Fersya mengucapkan kata maaf. Padahal ini salah dirinya yang sudah menyakiti hati Mamanya.
Menggelengkan kepala dan berusaha menahan genangan air matanya yang sudah mulai bergumul di matanya itu. Fersya ingin mengucapkan maaf saat ini tapi tenggorokkannya tercekat karena menahan tangisan.
Tidak, Fersya tidak bisa membiarkan Mamanya menunggu lagi.
Dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi Fersya menjawab, "Seharusnya Eca Ma yang minta maaf. Maafin Eca ya Ma?"
Mamanya itu balas mengangguk dan langsung memeluk dirinya. Fersya sudah tidak bisa menahan isakan tangisnya lagi, masa bodo nanti saat di sekolah matanya akan sembab dan mungkin saja menjadi perhatian teman-temannya.
"Maafin Mama juga ya sayang? Mama sama sekali nggak bermaksud seperti itu sama kamu."
__ADS_1
Fersya mengangguk, Mamanya mengeratkan pelukannya dan Fersya balas memeluk Mamanya dengan erat juga seakan mereka berdua sedang mencari ketenangan dan kekuatan dari pelukan itu.
Fani melepaskan pelukan mereka berdua dan melihat wajah putrinya yang penuh dengan air mata.
"Ssshhh, udah." kata Fani menenangkan putrinya itu sambil menghapus air mata yang masih juga mengalir di wajah cantik putrinya, tak lupa ia juga menghapus air matanya sendiri.
"Karena Ayah sama Aca udah berangkat duluan, Eca Mama yang anter ya?" Fersya hanya balas mengangguk.
Mungkin bukan maksud Mamanya juga untuk bersikap tidak adil padanya, tapi Fersya harap Mamanya akan setuju dan mengizinkan Fersya untuk kuliah di tempat dan jurusan yang Fersya mau.
***
Bagaimana ini?
Fersya lupa membungkus kado buat Aries, sedangkan ini sudah hari terakhir UN yang artinya hari ini adalah hari ulang tahunnya Aries. Fersya juga sudah chat Aries malam sebelumnya kalau setelah ujian nanti selesai Aries jangan pulang dulu ada yang ingin Fersya bicarakan.
Sebenarnya Fersya hanya ingin memberi kadonya saja sih, tapi sambil ngobrol-ngobrol sama Aries juga sepertinya tidak apa-apa, mengingat selama ujian yang mereka hadapi belakangan ini membuat mereka jarang mengobrol.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada telpon dari Aries dan itu membuat Fersya makin kelimpungan. Panggilan telpon itu telah berakhir sebelum Fersya menjawabnya, tapi Aries menelponnya lagi.
Ah, sudahlah angkat aja dulu
"Lebay lo, baru juga nggak gue angkat telponnya sekali, tapi lagaknya kayak gue nggak angkat telpon lo berkali-kali."
"Yeee, bodo. Buru deh sini, masa gue di deket empang sendirian sih. Nanti dikira penjaga sekolah."
"Lah bukannya lo emang penjaga sekolah ya? Pulangnya aja sekarang barengan sama penjaga sekolah."
"Itu kan karena gue harus latihan buat seleksi nanti. Emang lo dimana sih? Lama banget."
"Masih di kelas, hehe. Tunggu di sana sebentar ya Ris, gue mau ke kantin dulu sebentar." Setelah Aries menjawab dengan deheman saja ba-bi-bu lagi Fersya segera memutuskan sambungan telpon itu.
Saat berbicara dengan Aries tadi entah mengapa pikirannya terlintas untuk ke kantin. Di kantin Fersya langsung ke kios Soto Umi. Fyi, Di SMA Sebangsa walaupun sedang ada ujian kantin tetap berjalan seperti biasa karena banyak guru Sebangsa yang juga membeli makanan di kantin.
"Umi, ada koran nggak?" Umi yang sedang mengaduk kuah sotonya menengok saat ada suara yang sangat dikenalnya itu.
"Eh, ndok Fersya. Ada kok koran. Buat opo to?"
__ADS_1
"Ada deh Umi." kemudian Fersya memajukan tubuhnya untuk membisikkan sesuatu. "Urusan remaja Umi."
Mengambil koran yang ada di bawah meja tempat menaruh termos nasi, Umi mencebikkan bibirnya. "Dikira Umi nggak pernah muda." Fersya yang mendengar kekesalan Umi hanya terkekeh saja.
Umi bertanya berapa koran yang dibutuhkan Fersya yang dijawab hanya butuh satu lembar saja. Mengambil satu lembar kertas koran itu Fersya berjalan menuju meja di depan kios Umi untuk membungkus kadonya di sana.
Umi yang melihat itu langsung menghampiri pembeli langganan sotonya ini.
"Oalah buat kado to." seakan tidak sadar dengan apa yang diucapkannya, tetiba saja Umi menepuk jidatnya. "Oh, iya hari ini ulang tahunnya Aris ya?"
"Loh Umi tau hari ini ulang tahunnya Aris?" tanya Fersya sambil membungkus kado untuk Aries.
"Yo tau lah ndok. Kamu kayak nggak tau Aris aja."
"Pasti Aris sendiri yang ngasih tau hari ulang tahunnya." kata Fersya sambil tertawa mengingat sifat Aries yang rada absurd itu.
"Benar sekali." Umi balas sambil tertawa juga.
Fersya sudah selesai dengan acara bungkus-membungkusnya dan berpamitan pada Umi. Umi sotopun menitip salam ucapan selamat ulang tahun untuk Aries yang dibalas dengan anggukan oleh Fersya.
Karena hari ini adalah ujian terakhir, jadi masih banyak murid yang berada di sekolah. Mungkin alasan mereka masih menetap di sekolah tidak jauh berbeda dengan Fersya. Ingin mengobrol saja.
Jika kalian belum tahu, walaupun SMA Sebangsa adalah SMA swasta tapi tingkat belajar dan persaingannya cukup tinggi. Maka dari itu, setiap ada ujian, murid Sebangsa sudah biasa kalau bersika ambis. Jadi hari terakhir ujian itu menjadi angin segar bagi murid Sebangsa. Mungkin tidak hanya bagi murid Sebangsa saja, tapi bagi setiap murid di Indonesia.
Melihat Aries yang duduk menghadap empang di depannya membuat Fersya ingin menjahili cowok itu. Berjalan dengan perlahan-lahan dan sampai di belakang tubuh Aries. Rencana Fersya yang ingin menjahili Aries dengan mengejutkannya gagal. Bukannya Fersya yang mengejutkan Aries, tapi malah Aries yang mengejtukan dirinya.
Dengan kesal Fersya duduk di samping Aries. Aries yang memang sudah mencium bau-bau kejahilan Fersya saat ia melihat pantulan Fersya di air empang yang sedang dipandangnya tentu tidak tinggal diam. Aries sudah menjadi korban dengan menunggu Fersya cukup lama di lapangan belakang ini dan Aries tidak ingin menjadi korban lagi.
"Jangan gegayaan deh mau jailin seorang Aris." Fersya sih hanya memandang sinis Aries.
Fersya melepaskan tas dari pundaknya dan mengambil kado untuk diberikan ke Aris. Disodorkannya kado tersebut kehadapan Aries.
"Makasih Fer. Pake repot-repot segala." kata Areis sambil mengambil kado dari tangan Fersya.
"Nggak repot kok. Nggak serepot lo yang ngebungkus kado sampe berlapis-lapis." Fersya masih mengingat betul kekesalannya saat membuka bungkusan kado dari Aries itu.
Mendengar sindiran Fersya Aries hanya tertawa dan segera membuka bungkusan kado yang diberi Fersya tadi. Aries sudah penasaran apa isi kado itu. Saat melihat sebuah kotak dengan tulisan merk parfum yang sering dilihatnya di tv membuat Aries menghadap Fersya dan bertanya kenapa Fersya memberi Aries sebuah parfum.
__ADS_1
"Gue kasian sama yang jadi pacar lo nanti, belum tentu ada yang setahan gue sama bau parfum lo yang sekarang ini."
"Kalo gitu lo aja yang jadi pacar gue."