
Pulang sekolah si kembar langsung disidang oleh Mamanya. Tahukan maksud sidangnya tuh apa. Mamanya sudah tahu kalau hari ini ada pengumuman hasil SNMPTN. Dengan pertanyaan basa-basi, Mamanya menghampiri si kembar saat Farsya mengucapkan salam. Setelah pertanyaan basa-basinya itu Mamanya langsung to the point bertanya pada mereka saat mereka sudah duduk di ruang keluarga. Bahkan si kembar belum sempat untuk mengganti baju.
"Alhamdulillah, Aca lolos Ma." Fani tersenyum mendengar jawaban itu, ia tahu anaknya akan selalu membuat orang tuanya bangga.
Beralih pandangan, kini Fani menatap Fersya yang sedang menunduk. Fani tidak ingin berpikir negatif kalau mungkin Fersya tidak lolos. Tapi mendengar jawaban kalau hanya salah satu anaknya saja yang lolos SNMPTN membuatnya sedih juga. Bukan karena kecewa pada Fersya, tapi Fani yakin walaupun Fersya menyetujui sarannya untuk kuliah di tempat yang sama dengan kembarannya tapi Fersya juga memasukkan pilihannya di nomor kedua.
Kalaupun Fersya bakal kepilih dipilihan kedua, di kampus pilihannya Fani sama sekali tidak akan mempermasalahkan hal itu. Karena sekarang ini Fani berusaha untuk mengerti maunya Fersya. Tapi mengetahui kalau Fersya tidak lolos SNMPTN yang bahkan di kampus pilihannya sendiri pasti membuat Fersya sedih.
Fani menepuk pelan punggung tangan Fersya bermaksud untuk menyalurkan semangat kepada anaknya itu. "Nggak apa-apa ya sayang, masih ada jalan yang lain."
"Iya Ma, Eca bakal ikut UTBK kok. Tapi Ma," dengan ragu Fersya menatap Mamanya yang masih memegang tangannya dengan lembut. "nggak apa-apa kan kalau Eca ambil pilihan pertama di kampus pilihan Eca?"
Melihat anaknya yang meminta izin atas mimpinya ini membuat Fani merasa bersalah, kenapa Fani harus menghalangi mimpi anaknya ini? Kenapa Fersya harus takut-takut untuk bermimpi? Ini semua karena dirinya.
Fani memeluk Fersya sambil mengelus punggung anaknya itu, "Nggak apa-apa sayang, nggak apa-apa."
"Makasih Ma." Fersya balas memeluk Mamanya. Fersya rasa satu rintangan sudah terlewati, Fersya senang karena akhirnya Mamanya mendukung mimpinya juga.
Sedangkan, Farsya yang melihat kembarannya dan Mamanya yang begitu harmonis membuat Farsya ikut merasa senang. Jujur hal seperti ini jarang sekali, hubungan antara Mamanya dan Fersya biasanya dingin tapi sekarang perlahan mencair, suatu kemajuan yang bagus.
"Aca sini ikutan pelukan."
Farsya tertawa sambil mendekat ke arah Mamanya dan kembarannya itu, "Kayak teletabis aja deh."
***
Fersya pikir satu halangan sudah selesai ia hadapi. Fersya pikir ia hanya harus berjuang saat ujian saja nanti, karena saat itu Mamanya sudah memberi dukungan padanya. Malam harinya Fersya juga sudah bertanya pada Ayahnya dan Ayahnya pun turut mendukung. Biaya pendaftaran sudah Fersya siapkan dari jauh-jauh hari.
Tapi kenapa hari ini, satu minggu sebelum pendaftaran UTBK, saat sarapan pagi yang seharusnya terjadi seperti biasanya malah kacau. Farsya demam ditambah dengan asmanya yang kambuh. Sarapan tidak lagi berlangsung dengan hikmat karena orang tuanya sedang mengantar Farsya ke rumah sakit agar segera ditangani.
__ADS_1
Fersya melihat sendiri bagaimana saudara kembarnya yang berkeringat karena demam ditambah harus meraup-raup oksigen yang mungkin saat itu susah sekali untuk ia jangkau. Fersya memang sudah biasa melihat Farsya yang sedang chaos seperti itu. Tapi disaat bersamaan hal itu tidak pernah menjadi biasa untuk Fersya, bahkan mungkin Farsya dan orang tuanya juga. Setiap hal itu terjadi selalu berhasil membuat ulu hati Fersya sakit. Ia yang sebagai saudara kembarnya saja merasakan hal itu, bagaimana dengan kedua orang tuanya?
Tapi bukan berarti Fersya setuju atas usul Mamanya yang saat itu pulang setelah mengantar Farsya ke rumah sakit yang omong-omong harus dirawat beberapa hari karena demamnya yang tinggi. Saat Mamanya pulang untuk mengambil beberapa baju Farsya dan Fersya yang menanyakan bagaimana keadaan kembarannya, saat itulah Mamanya melayangkan permintaan yang membuatnya tak bisa berkata apa-apa.
"Sayang kamu ambil kuliah yang sama di tempat Aca ya? Mama khawatir sama kesehatan dia sayang, Mama takut kalau ini terjadi lagi nggak ada yang bisa tolongin Aca. Nggak apa-apa kalau nggak dijurusan yang sama, yang penting satu tempat jadi kamu bisa sering ngawasin Aca, ya sayang ya? Ini terakhir kalinya Mama minta sama kamu, Mama janji."
Saat mendengar hal ini Fersya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Fersya tahu maksud Mamanya tapi ia mencoba untuk menyangkal. Semua perkataan Mamanya terngiang-ngiang bahkan sampai Mamanya pamit sambil memeluk dan mencium pangkal kepalanya untuk menemani Farsya di rumah sakit.
Mamanya bilang kalau Ayahnya tidak akan menginap di rumah sakit, jadi Fersya tidak perlu kuatir. Tapi bukan itu yang Fersya pikirkan saat ini, bukan itu yang menjadi fokusnya saat ini. Permintaan Mamanya lah yang mengalihkan semua, bahkan tanpa Fersya sadari dirinya sudah terisak di sofa ruang keluarga yang sedang didudukinya.
***
Hari mulai sore, air mata Fersya memang sudah tidak keluar lagi, tapi ia masih bergeming ditempatnya. Ayahnya tadi bilang kalau ia sudah arah pulang dan membawa makanan kesukaan Fersya. Tapi kali ini Fersya tidak akan mudah untuk dibujuk dengan makanan, kalaupun nanti akan disuapi Ayahnya, Fersya rasa ia juga tidak akan luluh semudah itu.
Jujur saja Fersya sedih mengetahui saudara kembarnya sedang terbaring sakit di rumah sakit, tapi bukan berarti Fersya harus menjadi korban untuk situasi ini bukan? Fersya tidak menyalahkan Farsya, sama sekali tidak tapi rasa irinya timbul lagi. Apa yang harus Fersya lakukan agar satu saja kemauannya didengar dan didukung Mamanya itu.
Fersya mendengar suara mobil, sepertinya Ayahnya sudah sampai. Masih bergeming di tempatnya Fersya menunggu kedatangan Ayahnya, Fersya berharap bisa mendapat dukungan dari Ayahnya. Untuk saat ini memang hanya Ayahnya lah harapan satu-satunya.
Maafkan Fersya yang sepertinya dengki sekali pada kembaran sendiri.
Tanpa pikir panjang Fersya langsung menuju kamarnya saat kedua orang tuanya itu datang menghampiri. Ayahnya memanggil-manggil namanya dan menghentikannya sebelum Fersya menaiki anak tangga pertama.
Dan tanpa diminta lagi-lagi air mata Fersya jatuh. Fersya pikir air matanya sudah habis, tapi sepertinya stok air matanya masih banyak.
"Kenapa sayang, Fersya kenapa nangis, hm?" Ayahnya memeluk dirinya yang menangis dan memanggil namanya bukan memanggil nama panggilan yang biasa Ayahnya pakai. Hal itu membuat tangisan Fersya makin deras. Fersya berusaha mati-matian untuk menahan isakan tapi hal itu malah membuat tenggorokkanya sakit.
Rido menatap bertanya pada istrinya yang hanya terdiam di dekat sofa. Fani sadar kenapa Fersya menangis seperti itu, tapi Fani merasa permintaanya tadi tidaklah salah, bukankah anak kembar biasanya selalu bersama, bukankah akan lebih baik jika si kembar selalu bersama?
Rido bingung kenapa anaknya menangis dan istrinya yang terlihat menyembunyikan sesuatu. Rido rasa Fersya menangis ada hubungannya dengan sikap istrinya sekarang.
__ADS_1
"Duduk dulu ya sayang? Kita makan bareng, Ayah suapin."
"Nggak mau, Eca nggak mau disuapin, Eca cuma mau Mama nggak ngatur hidup Eca lagi." dengan terbata Fersya menjawab.
"Fersya kenapa ngomongnya kayak begitu, hm?" Ayahnya melepaskan pelukannya dan menangkup wajahnya yang berlinang air mata. Ayahnya itu menghapus air mata yang terus-terusan jatuh dan dengan kasar Fersya menepis tangan Ayahnya.
"Mama bilang nggak apa-apa waktu Eca tanya apa boleh Eca kuliah di sana, tapi kenapa sekarang cuma gara-gara Farsya sakit Mama jadi berubah pikiran? Eca capek Ma harus selalu ada dibayang-bayang Farsya. Farsya itu udah gede, udah bisa jaga diri dia sendiri Ma." Fersya berkata sambil menatap Mamanya, Rido yang mendengar walaupun hanya sepotong dari Fersya mulai mengerti duduk permasalahannya.
Fani yang tidak percaya bahwa anaknya yang satu lagi malah menggampangkan penyakit yang diderita saudara kembarnya itu. Dengan emosi yang tersulut Fani menjawab, "Cuma gara-gara sakit kamu bilang? Kamu liat sendiri tadi seberapa chaosnya keadaan kembaran kamu dan kamu bilang kalau itu cuma? Kamu nggak tau seberapa takutnya Mama tadi sama Farsya dan kamu berani-beraninya bilang penyakit Farsya itu cuma?
Ya, Farsya memang sudah besar tapi kamu tau saat persami itu aja dia kambuh padahal ada kamu disitu, gimana nanti pas dia kuliah sendiri, nggak ada yang jagain. Kalau terjadi apa-apa dengan Farsya Mama nggak tau apa Mama masih bisa menjalani hidup atau nggak."
Secara tidak langsung Mamanya menyalahkan Fersya atas kejadian persami waktu itu, Fersya sadar betul memang dirinya ceroboh sekali waktu itu, tapi kenapa Mamanya malah mengungkit hal itu lagi. Dengan perasaan sakit hatinya Fersya membalas.
"Gimana kalau terjadi sesuatu dengan Fersya, apa Mama bisa menjalani hidup seperti biasa?" dengan tertawa miris Fersya melanjutkan, "Fersya capek Ma harus selalu menjadi alasan untuk Farsya. Apa Fersya ada hanya untuk Farsya? Apa Fersya hidup hanya untuk Farsya? Hidup Fersya punya Fersya Ma, Fersya ini manusia yang punya keinginan, mimpi, dan harapan. Tapi semuanya kosong dan nggak ada gunanya kalau Mama nggak dukung Fersya. Fersya harus apa biar Mama ngerti? Apa Fersya harus sakit juga kayak Farsya?"
Mungkin air mata Fersya sudah berhenti saat berbicara tadi, tapi sebagai gantinya adalah setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat hatinya tergores. Karena Fersya sadar betul setiap kata yang dikeluarkannya juga pasti menyakiti hati orang tuanya.
Tentu hal itu bukanlah keinginan Fersya, ia juga tidak ingin menyakiti hati orang tuanya seperti ini. Tapi Fersya benar-benar sudah tidak tahan lagi, rasanya isi perut Fersya ingin keluar dan ingin memuntahkan semua kekesalan, keresahan, kemarahan, kekecewaan dan entah emosi apa lagi yang bisa menggambarkan muntahan Fersya saat ini.
"Fersya!" Ayahnya menegur dirinya, tapi saat ini Fersya tidak peduli sama sekali dan melanjutkan ucapannya.
"Fersya cuma mau untuk kali ini aja biarin Fersya bebas dari belenggu Farsya."
Mamanya hanya diam, Ayahnya pun begitu. Entah apa yang merasuki Fersya, gadis itu langsung mengambil handphonenya yang ada di sofa dekat Mamanya dan melenggang keluar rumah.
Tidak ada yang menghentikan Fersya, entah harus senang atau sedih. Senang karena saat ini Fersya memang butuh sendiri dan sedih karena kedua orang tuanya tak berusaha untuk menghentikan langkahnya.
Dengan tangannya yang gemetar karena belum makan siang dan sehabis menangis tadi Fersya mengambil hp dikantung celananya dan menekan nomor seseorang yang baru beberapa hari lalu menelpon Fersya karena kakaknya ingin mengajak Fersya ke acara lomba teaternya itu. Saat itu Fersya tidak berniat untuk ikut tapi sekarang Fersya berubah pikiran.
__ADS_1
"Ris tawaran mbak Ira masih berlaku?" tanya Fersya saat teleponnya sudah diangkat.