
Akhirnya, hari inipun tiba. Hari dimana Farsya dan Fersya mengikuti Persami. Di Sabtu pagi ini si kembar sudah heboh memeriksa isi tas mereka apakah ada yang tertinggal atau tidak. Apakah mereka sudah rapi lengkap dengan atributnya atau tidak dan sebagainya.
Orang tuanya pun mengingatkan Farsya apakah ia sudah membawa semua obatnya dan dijawab anggukan oleh Farsya. Kemudian orang tua si kembar juga mengingatkan Fersya untuk jaga kakaknya agar tepat waktu minum obatnya.
Hari ini mereka tidak akan berangkat ke sekolah menggunakan angkutan umum, karena Ayahnya akan mengantarkan mereka. Berhubung orang tuanya memang libur dihari Sabtu dan Minggu.
Sampai di sekolah mereka berpamitan lalu cepat-cepat masuk ke sekolah dan langsung baris di lapangan yang sudah lumayan penuh oleh siswa-siswa yang mengikuti Persami. Mereka mencari-cari dimana regu mereka berada.
Berhubung Farsya dan Fersya berbeda kelas otomatis regu mereka berbeda juga. Ternyata yang baru diketahui si kembar, barisan regu saat apel di urut sesuai urutan kelas. Itu berarti Farsya berada di urutan ke-tiga dan Fersya berada di urutan ke-tujuh. Cukup jauh untuk memantau terus keadaan Farsya. Untuk itu mumpung belum mulai apel lebih baik ia kunjungi regunya Fersya untuk titip saudara kembarnya itu.
"Kelas MIPA 3 kan?" tanya Fersya pada salah satu teman kelasnya Farsya.
"Iya, kenapa emangnya Fer?" tanya Anis, orang yang ditanya Fersya tadi.
Ia tahu kalau Fersya adalah kembarannya Farsya. Bukan hanya Anis yang tahu, hampir seluruh warga SMA Sebangsa mengenal si kembar.
"Tolong jagain Farsya ya, karena jarak regu gue sama dia lumayan jauh gue jadi susah buat pantau dia."
"Oh iya, santuy aja. Tadi anak kelasan juga udah suruh dia nggak usah ikut apel kok. Ketua regu juga udah ngomong sama pembina Pramukanya." jelas teman Farsya yang membuatnya cukup lega. Setelah itu ia balik ke barisan regunya karena apel sudah mau dimulai.
Waktu seakan berjalan dengan lambat tak sebanding dengan matahari yang cepat sekali meninggi. Peluh sudah membasahi wajahnya. Bajunya pun sudah penuh dengan keringat juga. Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya apel berakhir dan dilanjutkan dengan kegiatan berikutnya.
Berhubung kegiatan berikutnya masih dipersiapkan oleh anggota inti Pramuka, ia memutuskan untuk mampir ke regu Farsya. Ingin tahu kondisi saudara kembarnya itu. Saat sedang jalan menuju regu saudara kembarnya, tetiba saja ada yang merangkulnya. Tanpa melirik siapa yang merangkulnya tiba-tiba begini, ia sudah tahu kalau pelakunya adalah Aries. Dari wangi parfumnya.
Wangi parfum Aries ini unik banget. Jarang banget ada remaja yang pakai parfum ini, karena kebanyakan yang pakai itu bapak-bapak atau bisa dibilang kakek-kakek? Kata Aries sih, dia emang pakai parfum berdua sama Bapaknya.
"Kenapa nggak beli parfum yang rada murah? Kan banyak tuh, lo bisa beli pake uang lo sendiri." kata Fersya waktu itu.
"Nggak mau aja. Gue juga suka kok wanginya. Soalnya dulu waktu gue kecil, gue suka nunggu bokap buat berangkat ke masjid bareng dan bokap kalo setiap mau solat di masjid pasti selalu wangi, mulai dari situ gue juga suka sama parfum bokap gue." jelas Aries panjang lebar yang membuat Fersya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Tapi tenang saja, Aries pakai parfumnya nggak sebanyak anak cewek pakai parfum kok. Bisa dibilang dia rada tahu diri kalau nggak banyak orang suka wangi parfumnya. Mangkannya cuman orang yang kalau jalan bersisian sama Aries aja yang bisa cium wanginya, itu pun samar-samar. Intinya, nggak ngeganggu penciuman orang deh.
Oh iya, orang tua Aries itu tipe yang asik diajak ngobrol ataupun diajak bercanda. Kadang unik juga, banyak hal-hal yang dilakukan mereka yang menurutnya rada aneh. Tapi unik jadinya.
Kemudian, saat Fersya ingin pulang selepas maghrib, orang tua Aries malah menahannya, bilang kalau pulang habis Isya saja. Fersya hanya bisa tertawa, tapi ia menolak dengan halus karena ia sudah bilang pada orang tuanya akan pulang selepas Maghrib. Orang tua Aries pun membiarkannya pulang dengan menyuruh Aries mengantarnya sampai rumah dan bilang untuk sering-sering main ke rumah.
"Tau nggak sih Fer, ortu gue maksa buat ajak lo main ke rumah lagi. mbak Ira juga nanyain," curhat Aries tetiba.
Fersya sih tertawa saja sebagai jawabannya. Ia sudah tahu itu. Karena mbak Libra atau dipanggil mbak Ira--alias mbaknya Aries--menanyakan kabarnya dan kapan ia akan main lagi ke rumah lewat chat.
Oh ya, orang tua Aries ini cukup unik untuk namain anak mereka dengan zodiak sesuai bulan kelahiran mereka. Kata Aries lagi nih ya, orang tuanya memang suka tentang perbintangan sejak masih remaja.
Tetiba saja ia menghentikan langkahnya, ia baru ingat kalau ingin mampir ke regu Farsya. Eh, karena kedatangan Aries yang kemudian berceloteh tentang orang tua dan mbaknya membuat ia lupa sesaat akan keinginannya itu. Pas dia sudah sadar ternyata mereka ada di koridor menuju kantin.
Belakangan Aries memang sering menghampirinya. Entah ia yang sedang berada di kelas, kantin atau lapangan. Seperti dia selalu tahu dimana keberadaan Fersya. Kayak sekarang ini yang tadinya Fersya ingin mampir ke regu Farsya malah sedikit tertunda karena Aries.
__ADS_1
Kalau sudah membahas Aries entah mengapa membuat dunia Fersya seolah berhenti. Seakan segala sesuatu yang sedang dipikirkannya, diperbuatnya itu tertahan karena sosok ini. Bahkan Niko yang sahabat kecilnya saja tak sampai serakus itu memenuhi otaknya. Kenapa Aries yang baru dikenalnya bisa seperti ini?
"Kenapa deh tiba-tiba berenti?" tanya Aries.
"Gue kan mau samperin Farsya, kok malah ke sini?" bingungnya.
"Lo sih! Ganggu kegiatan gue aja!" lanjut Fersya.
Terheran-heran Aries menjawab, "Lah kok malah salahin gue. Gue pikir emang mau ke kantin."
Tak menggubris ucapan Aries langsung saja ia balik arah dan menuju lapangan lagi dan disusul oleh Aries. Sudah ia bilang kan, kalau ia mau mampir ke regu Farsya.
Saat menuju ke lapangan, Fersya berhenti tiba-tiba lagi. Dan membuat Aries bertanya pertanyaan yang sama lagi.
"Kenapa deh tiba-tiba berenti lagi?"
Fersya hanya diam dengan memandang kesatu arah. Membuatnya kepo apa yang dilihat Fersya sampai mukanya seheran itu.
Bukankah itu Farsya? Pikir Aries.
Tetiba saja Fersya menghampiri gadis itu.
"Far, ngapain di sini?"
Apel sudah selesai dan lanjut ke kegiatan berikutnya. Selagi menunggu kakak pembina mempersiapkan kegiatan berikutnya, Farsya ingin ke lapangan untuk nyusul Fersya. Karena ia tidak ikut apel tadi jadi ia mendekam di UKS selama apel berlangsung.
Sebenarnya ia merasa seperti semua sama saja. Mau dia ikut Persami atau tidak, ia sama saja tidak bisa merasakan apa yang orang lain rasakan.
Dari SD ia jarang sekali ikut upacara karena asma akutnya ini, ia juga mudah lelah jadi tidak pernah merasakan bagaimana rasanya kepanasan saat upacara, mengobrol saat upacara sedang berlangsung, melihat punggung temannya yang berkeringat karena kepanasan dan hal remeh-temeh lainnya.
Jujur, saat orang tuanya mengizinkan mereka untuk ikut Persami, ia senangnya bukan main. Tapi ia lupa akan satu hal, walaupun ia mengikuti acara itu, bukan berarti ia bisa mengikuti semua kegiatannya. Bisa saja ia hanya bisa mengikuti dua atau tiga kegiatan saja. Bisa karena dia yang dilarang pembina karena titipan orang tuanya atau Farsyanya yang sedang tumbang.
Maka dari itu, ia memutuskan untuk nyusul Fersya ke lapangan untuk sekedar ngobrol saja. Karena sedari tadi tidak ada yang menemaninya di UKS.
Saat menyusuri koridor menuju lapangan, tanpa sengaja ia melihat dua orang yang sangat dikenalnya itu.
Niko dan Gilang.
Ada apa? Batinnya.
Ia memutuskan untuk menghampiri mereka, tapi saat ia mendengar namanya disebutkan dalam pembicaraan mereka, Farysa memutuskan untuk bersembunyi di tembok dekat mading yang kebetulan berada didekatnya tadi.
Belum sempat ia mendengar pembicaraan mereka lebih jauh, tetiba saja ada yang mengejutkannya.
"Far, ngapain di sini?"
__ADS_1
Farsya sepertinya terkejut sekali, wajahnya lucu seperti maling yang tertangkap basah.
"Eh, maaf Far. Sini duduk dulu." ajak Fersya yang merasa bersalah karena sudah mengagetkan Farsya tadi.
Melihat Farsya yang sudah sedikit tenang, ia langsung bertanya lagi. "Lagi ngapain di sini, Far? Gue tadi nyariin lo, mau tau gimana keadaan lo."
Farsya berpikir sebentar, apa ia harus jujur atau berbohong saja. Tapi Farsya yakin kalau kembarannya ini pun sudah tahu bahwa tadi ia sedang menguping pembicaraan Niko dan Gilang. Ralat bukan menguping, tapi berusaha menguping. Soalnya belum sempat ia mendengar lebih jauh apa yang sedang dibicarakan Niko dan Gilang, sudah keburu ketangkep basah sama Fersya dan jangan lupakan Aries.
Lebih baik ia jujur saja, "Pas tau apel udah kelar niatnya mau nyamperin lo ke lapangan, eh tetiba gue ngeliat Niko sama Gilang. Pas mau samperin mereka, gue denger mereka sebut nama gue, itu berarti mereka lagi bicarain gue kan?"
Pertanyaan itu dijawab anggukan oleh keduanya. Biarlah Aries juga mendengar, lagipula ia juga sudah lumayan dekat dengannya belakangan ini.
"Ya udah, langsung aja gue ngumpet di balik tembok deket mading. Kan nggak mungkin gue samperin mereka, sedangkan merekanya aja lagi ngomongin gue. Gue mau tau apa yang lagi mereka omongin. Belom sempet gue denger lanjutannya, lo udah ngagetin gue." dumelan Farsya diakhir kalimatnya membuat kembarannya ini terkekeh geli.
Farsya sebenarnya tipe yang jarang ngomong, hanya orang-orang terdekatnya saja yang dibawelin sama dia. Bahkan sama Fersya saja dia jarang dumel kayak tadi, mungkin itu karena sikap Fersya yang kadang sedikit menjaga jarak dari Farsya. Fersya sebenarnya sadar itu, tapi egonya menang dari apapun itu. Membuatnya kadang tak bisa berpikir jernih hanya untuk melihat usaha Farsya.
"Lagian bukan lo banget nguping kayak tadi," ledek Fersya.
"kenapa nggak tanya Niko aja pas mereka udah selesai ngobrol?" lanjut Fersya.
Saat Fersya membicarakan Niko kenapa tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya kalau Niko tadi sedang melabrak Gilang. Kalau memang begitu kenyataannya, dia bakal marah sama Niko karena tujuan dia menceritakan hal itu kepada Niko adalah supaya ia bisa melepaskan sedikit beban pikirannya tentang Gilang. Kalau begini jadinya, ia tidak akan cerita lagi pada Niko.
Melihat gelagat Farsya yang berubah saat ia bertanya tadi membuat Fersya berpikir, ada apa sebenarnya?
"Kenapa nggak kepikiran sama gue ya?" omong Farsya setelah jeda beberapa detik. Jeda beberapa detik yang cukup canggung menurut Fersya karena ia pikir, ia salah bicara tadi.
"Udah kepo duluan sih!" ledek Aries tiba-tiba.
"Eeh, dasar kambing, nyeletuk aja lo!" ledek Farsya balik. Si Aries yang diledeki kambing hanya tertawa saja.
"Yuk, ah balik ke lapangan. Kayaknya kakak pembinanya udah mau selesai," kata Fersya yang diangguki keduanya.
"Oh ya, lo ikut kegiatan yang ini Far?" tanya Fersya sembari jalan menuju lapangan.
"Pas gue liat susunan acaranya sih kegiatan yang ini nggak terlalu berat menurut gue. Tapi kalo gue udah nggak kuat, nggak bakal gue paksa kok." jelas Farsya yang diangguki oleh Fersya.
Keduanya tidak sadar bahwa Aries sudah tertinggal cuku jauh di belakang mereka. Ia berhenti sejenak untuk melihat Niko dan Gilang yang masih terlibat dalam pembicaraan, ia kepo tapi tahu bahwa ia tak cukup dekat dengan kedua orang itu.
"Eh, kambing! Malah bengong, buruan jalan." ledek Fersya yang tetiba juga memanggilnya kambing.
"Kok lo malah ikutan sih Fer." sungut Aries.
"Lah emang bener kan?" balas Farsya.
Kemudian si kembar tertawa.Mentertawakan Aries yang misuh-misuh karena diledek oleh mereka berdua.
__ADS_1