Genap & Ganjil

Genap & Ganjil
20


__ADS_3

"Kalo gitu lo aja yang jadi pacar gue."


Fersya mematung, berpikir apa benar Aries yang berbicara seperti ini? Apa Aries serius berbicara seperti ini? Bagaimana ya, Fersya takutnya geer aja gitu. Ya, kalian tahulah ya bagaimana hubungan Fersya dan Aries itu. Fersya selama ini selalu menganggap Aries sebagai sahabatnya, walau dia tidak memungkiri kalau ada sedikit rasa yang berbeda pada Aries.


Apa rasa yang sedikit berbeda ini bisa dibilang sebagai rasa suka?


Tapi kalau memang Aries mengajaknya untuk berpacaran, kenapa tidak romantis sama sekali?


Mengesalkan!!!


"Fer, bercanda kali ah! Hahaha, muka lo itu lhooo, ya ampuuuun!!" Aries tertawa sambil memukul-mukul pahanya dengan kencang.


Dengan kesal Fersya memukul Aries dengan tasnya.


Berharap?


Tentu saja. Aries tadi mengatakannya dengan serius, namun beberapa detik kemudian dengan mudahnya dia cuman bilang kalau itu bercanda?


"Ampun Fer, ya ampun segitunya. Emang lo anggap omongan gue tadi serius? Lo beneran mau gue ajakin pacaran?" kata Aries lagi dengan serius. Tidak mempedulikan ucapannya tadi Fersya yang sempat berhenti memukul Aries, kemudian melanjutkannya akibat ucapan cowok itu sendiri, jadi jangan salahkan Fersya.


"Lo ya!! Ini tuh hari ultah lo, kok malah jadi gue sih yang dikerjain mulu. Kesel!!! Lagian nih ya, kalo lo emang bener mau ajakin gue pacaran, yang kayak tadi tuh nggak romantis banget, apa-apaan ngajakin pacaran di pinggiran empang begini. Langsung gue tolak tanpa ba-bi-bu."


"Uluh uluh yang kesel, hahahaha. Iya deh lain kali kalo gue mau nembak lo lagi, gue bakal nembak di tempat yang bersejarah buat kita."


"Udah deh Ris, jangan dangdut mulu. Capek gue, mending lo cobain tuh parfum. Suka nggak wanginya?"


"Oh iya, makasih ya parfumnya. Kalo habis pasti bakal gue cari samaannya. Gue cobain dulu." Aries menyemprotkan parfum itu ke pergelangan tangannya dan menciumnya.


Fersya bertanya dengan menaikkan dua alisnya dan Aries balas mengangguk, ia suka dengan wangi parfum yang diberi Fersya ini.

__ADS_1


Parfum yang Fersya ini bukanlah parfum yang mahal-mahal banget, parfum ini sering Aries lihat di iklan-iklan. Ibunya pun sempat menyarankan Aries untuk membeli parfum itu untuk dirinya sendiri, tapi saat itu Aries benar-benar suka dengan parfum yang Ayahnya pakai untuk ke Masjid, jadi ya begitulah.


Mereka berdua terdiam sambil memandang empang yang ada dihadapan mereka. Waktu benar-benar cepat sekali berlalu, UN sudah selesai mereka lalui, tinggal menunggu pengumuman hasil SNMPTN dan tentunya untuk Fersya, ia harus tetap belajar walau UN sudah berlalu.


Aries pun harus sering-sering latihan bola agar mimpinya bisa tercapai, tapi tiba-tiba terpikir oleh Aries bagaimana kalau mimpi yang mereka impikan tidak tercapai?


"Fer, andai... mimpi lo nggak tercapai apa yang bakal lo lakuin?"


Mendengar pertanyaan yang cukup berat itu membuat Fersya menghela napasnya. Fersya tidak bisa asal menjawab. Sebenarnya pertanyaan Aries ini kadang juga mampir ke pikiran Fersya. Tapi selalu Fersya sangkal dengan belajar karena ia tidak mau hal itu sampai terjadi.


Tapi saat mendengar ini dari orang lain membuat Fersya berpikir kalau, "Manusia emang bebas berencana, tapi keputusan selalu ada di tangan Tuhan. Kalau memang mimpi kita bukanlah takdir kita, setidaknya kita sudah berjuang dan mengusahakan apa yang kita mau bukan? Setidaknya kita sudah pernah bermimpi dan melakukan yang terbaik yang lo bisa.


Tidak tercapainya mimpi bukan berarti kita menyerah, seperti kata gue tadi. Tuhan selalu punya cara indah-Nya sendiri. Mungkin aja mimpi kita nggak tercapai, tapi siapa yang tau kalau nasib kita di masa depan nggak jauh beda kayak mimpi kita. Jadi jangan takut, jangan takut kalau mimpi kita nggak akan tercapai. Terus bekerja keras dan percaya sama diri sendiri kalau kita tuh bisa buat meraihnya."


Jeda sejenak, Fersya melanjutkan sambil tertawa. "Kumat lagi deh Fersya Teguhnya."


Aries yang mendengar itu jadi ikutan tertawa. Berusaha mengingat dan meresapi apa yang Fersya bilang tadi. Aries memang sempat takut akan mimpinya sendiri. Aries merasa mimpinya ini terlalu tinggi, Aries takut kalau tidak bisa menggapainya ia akan jatuh dengan begitu kencang dan membuatnya sakit.


***


"Sya."


Suara itu membuat Farsya berhenti. Panggilan yang mengingatkannya pada satu orang. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan orang itu.


Saat ini ia sedang ada di koridor sekolah, bersiap-siap untuk pulang. Biasanya ia pulang bersama Niko atau Fersya, tapi kedua orang itu sedang tidak bisa menemaninya pulang. Niko ada perkumpulan bersama teman-teman basketnya, sedangkan Fersya, entahlah mungkin sedang bersama Aries.


Farsya tidak membalikkan badannya, biarkan saja orang itu yang berjalan ke hadapannya. Entahlah, sejak malam persami waktu itu Farsya dan orang itu memang tidak berhubungan lagi. Baik melalui chat, ataupun sekedar menyapa di sekolah.


Bukan maksudnya untuk bersikap keanak-anakkan seperti itu, tapi mengingat situasi mereka yang memang lebih baik untuk tidak bertegur sapa, jadi Farsya lebih baik menjauh demi kedamaian hatinya.

__ADS_1


"Mau ngobrol sebentar?" Farsya mengangguk. Gilang berjalan duluan, menentukan tempat yang nyaman untuk mereka mengobrol.


Gilang berhenti di gazebo dekat mading dan duduk di sana. Menepuk sisi sampingnya yang masih kosong, meminta Farsya untuk duduk di sana.


Farsya bertanya kenapa Gilang harus memilih tempat ini. Kenapa harus di dekat mading yang mengingatkannya tentang malam itu. Farsya daritadi diam saja, tak bicara satu patah katapun.


Yang pertama, Farsya merasa terkejut kenapa Gilang memintanya untuk mengobrol setelah sekian lama mereka bersikap seperti tidak saling kenal. Okay, mungkin ini akan menjadi obrolan biasa saja, obrolan antar teman. Tapi masalahnya hubungan antara Farsya dan Gilang tidak pernah menjadi biasa saja sejak lelaki itu berusaha untuk merebut hatinya, kemudian Farsya sudah mulai jatuh dan tiba-tiba saja lelaki itu memutuskan hubungan yang bahkan tidak jelas itu dengan dalih LDR.


Persetan dengan LDR.


"Gimana kabar lo Sya?"


"Baik, seperti yang lo liat." jawab Farsya dengan juteknya.


"Baguslah." Gilang diam sejenak, lelaki itu sedang memilah kata yang baik untuk disampaikan kepada Farsya.


Gilang tahu sekarang Farsya bukanlah siapa-siapa untuknya jadi penting tidak penting untuk memberitahukan ini pada Farsya. Tapi, dulu Farsya pernah menjadi seseorang yang begitu penting di hidupnya, khususnya masa remajanya ini. Bahkan sampai sekarang pun Gilang masih menyimpan perasaan pada Farsya. Tapi Gilang tahu ada seseorang yang lebih baik daripada dirinya dan bahkan orang itu selalu ada di samping Farsya.


"Dua minggu lagi gue berangkat ke Aussie. Ya... gue bakal kuliah di sana. Jadi jaga diri lo baik-baik ya di sini."


Melihat Gilang yang berusaha memperbaiki hubungan mereka membuat Farsya merasa jahat. Mungkin memang lebih baik untuk mereka berdua berteman saja.


"Seharusnya gue yang bilang sama lo. Jaga diri di sana, soalnya banyak godaannya." mendengar candaan Farsya membuat Gilang tertawa, ia bersyukur Farsya sudah bisa sedikit bersikap seperti biasanya.


"Gue bakal selalu ingat kata-kata lo." setelah itu obrolan mereka berlangsung cukup lama. Farsya merasa sudah lama sekali tidak mengobrol dengan Gilang, ia pikir akan canggung kalau berlama-lama ngobrol dengan Gilang, ternyata tidak. Farsya merasa seperti mengobrol dengan teman lama.


Ternyata bukan hanya Fersya dan Aries atau Niko dan teman-teman basketnya yang sedang menghabiskan waktu hanya sekedar mengobrol saja. Farsya dan Gilang juga, dengan obrolan mereka ini setidaknya hubungan mereka jadi lebih baik dari sebelumnya.


Mereka sadar kalau ini adalah kesempatan yang mungkin akan sulit mereka dapat di masa depan karena mereka akan mulai sibuk dengan dunia masing-masing, sibuk dengan tugas masing-masing dan sibuk dengan urusannya masing-masing.

__ADS_1


Hidup ini memang seperti itu, akan ada pertemuan dan perpisahan. Orang-orang akan selalu datang dan pergi, tapi pasti ada beberapa orang yang akan tetap tinggal, entah di hati kita, pikiran kita ataupun hidup kita.


__ADS_2