
Tiga hari setelah tahun baru itu, saat Fersya sedang serius
menjawab latihan soal dari buku SBM yang dibelinya waktu itu, secara tiba-tiba Aries
menghubungi Fersya dan mengajaknya untuk melakukan perayaan tahun baru. Kata
Aries acara ini memang sudah terlambat tapi lebih baik terlambat daripada tidak
sama sekali kan.
Lagipula dua hari lagi mereka akan masuk sekolah lagi dan akan
disibukkan dengan belajar dan belajar, ujian dan ujian. Jadi selagi masih ada
waktu akan Aries gunakan sebaik mungkin.
Sebenarnya Aries tidak hanya mengajak Fersya, tapi Aries juga
mengajak Farsya dan Niko melalui Fersya. Ngerti kan maksudnya?
Fersya sempat bilang pada Aries kalau mungkin si kembar tidak akan
diizinkan karena acara bakar-bakarnya pasti malam, tapi Aries bilang kalau ia
akan menyiapkan bakarannya setelah makan malam, jadi si kembar dan Niko bisa
makan malam bersama dengan Aries dan keluarganya. Setelah itu baru mereka akan
memulai acaranya.
Fersya menyetujui hal itu dan keluar dari kamarnya dan menuju
kamar Farsya. Setelah mengetuk dan mendapat izin masuk dari empunya kamar,
Fersya melihat kembarannya itu sedang duduk di kasur sambil membaca novel
pemberiannya.
Melihat Fersya sudah berada di kamarnya dan menutup pintu
kamarnya, Farsya menghentikan bacaannya sebentar dan bertanya, “Ada apa Fer?”
“Si Aris ngajakin bakar-bakaran di rumahnya.”
“Jam berapa? Kalau malem banget lo tau kan, kita nggak bakal
boleh.” kata Farsya sedikit kuatir.
“Kata Aris sih acara bakarannya selesai makan malem, jadi kita
juga sekalian ikut makan malem di sana.”
“Nggak ngerepotin Aris?”
“Sebenernya gue juga rada nggak enak siii, tapikan dua hari lagi
bakal masuk sekolah terus juga kita bakal sibuk sama segala ujian. Menurut gue
ini bisa jadi refreshing terakhir kita sebelum menghadapi ujian nantinya.”
Farsya mengangguk-angguk, ia setuju akan ucapan Fersya. Tapi
masalahnya meminta izin pada orang tuanya itu tidak pernah mudah. Sudah pernah
tahu saat si kembar meminta izin untuk ikut persami kan? Itu saja baru terwujud
setelah mereka kelas 12. Jadi baik Farsya maupun Fersya agak sangsi kalau
permintaan izin mereka akan diaminkan.
Maka si kembar memutuskan untuk membuat rencana. Pertama, Farsya
duluan yang akan meminta izin pada orang tuanya, lebih tepatnya Mamanya karena
Ayahnya masih bekerja saat ini. Kalau Farsya gagal, maka mereka akan
menjalankan rencana kedua.
Rencana kedua, yaitu Fersya yang akan meminta izin. Rada aneh
memang, harusnya Fersya duluan yang meminta izin karena yang selama ini sering
main ke rumah Aries adalah dirinya dan orang tuanya pun tahu itu.
Tapi kalau Farsya yang ditaruh ke rencana kedua, itu akan jauh
lebih sulit. Bayangkan, Fersya duluan yang meminta izin kemudian Mamanya
mengizinkan karena memang Fersya sudah biasa main ke rumah Aries---walau baru
kali ini main malam-malam, tapi entah mengapa kalau hanya Fersya saja yang
jalan pasti Mamanya akan mengizinkan.
Kemudian Farsya datang setelahnya dan meminta izin untuk ikut juga
dan Farsya tidak diizinkan. Kalau sudah begitu izin Fersya pasti dicabut juga.
Bukannya si kembar berprasangka buruk, hanya saja mereka belajar dari
pengalaman-pengalaman yang ada.
Kalau mereka izin berduapun itu tidak akan berpengaruh. Maka
rencana terakhir, yaitu dengan melibatkan Niko. Farsya sudah menghubungi Niko dan
menyampaikan maksudnya. Tapi Niko malah ingin menghancurkan semua rencana si
kembar.
“Ya udah, sekalian aja
gue samperin kalian. Pasti diizininkan, jadi nggak perlu banyak rencana kayak
gitu. Kelamaan!”
“Iiih! Seenggaknya kan kita pake usaha kita sendiri dulu Nik.”
kata Farsya.
“Tapi bukannya jadinya
aneh kalau misalkan dua rencana kalian itu gagal terus tiba-tiba gue dateng dan
ngajak kalian buat ke rumah Aris? Kesannya kan kalian ngotot gitu.”
“Ya, ini aja gue udah geregetan sama lo Nik.” kali ini bukan
Farsya yang menjawab, melainkan Fersya karena sambungan telepon ini di loudspeaker.
Niko yang mendengar penuturan Fersya hanya memutar bola matanya.
“Udah-udah, Nik lo ikutin aja rencana kita.” Farsya berusaha
mencairkan suasana yang mulai memanas tadi.
“Ya udah, kalo kalian
udah selesai dengan rencana kalian hubungin gue.”
Setelah itu sambungan terputus. Fersya yang masih berada di kamar
Farsya dan tadi ikut nimbrung dalam pembicaraan, berkata “Emang si Niko
nurutnya sama lo doang Far.”
“Ya kaga laaaah.” Fersya hanya mencebikkan bibir sebagai jawaban.
Setelah itu si kembar menjalankan aksinya, dimulai dari Farsya
yang keluar kamar dan menghampiri Fani. Hasilnya? Nihil.
Rencana kedua, Fersya yang sekarang beraksi dan lagi hasilnya
nihil.
__ADS_1
“Saatnya menggunakan rencana ketiga.” kata Farsya. Baru ia ingin
memencet tanda dial pada kontak Niko, Fersya malah menghentikannya. Farsya
memberi mimik tanya.
“Sebelum itu kita siap-siap dulu. Jadi kalau Niko berhasil kita
bisa langsung berangkat.”
“Kalau gagal?” kuatir Farsya.
“Posthink aja dulu. Lagi
juga kalau kita udah cantik terus jemputan juga udah dateng masa Mama masih
nggak ngizinin.” kata Fersya sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Isshh, dasar!”
“Kalo lo udah kelar duluan langsung aja telpon Niko.” yang dibalas
kedipan sebelah mata juga oleh Farsya. Fersya hanya geleng-geleng kepala.
Setelah itu Fersya keluar dari kamar Farsya dan siap-siap di
kamarnya, begitu juga dengan Farsya. Fersya yang sudah selesai duluan langsung
ke kamar Farsya yang ternyata kosong karena Farsya masih ada di kamar mandi.
Farsya sudah rapi dan wangi siap untuk menjalankan rencana
ketiganya. Ia menghubungi Niko yang ternyata sudah siap dan tinggal jalan ke
rumah si kembar. Si kembar tidak mungkin membiarkan Niko sendirian meminta izin
di bawah jadi mereka berdua turun bersamaan dengan Niko yang mengucapkan salam.
Fani mempersilakan Niko masuk dan memanggil si kembar. Saat
melihat si kembar yang rapi sekali berbeda dengan yang tadi ia lihat membuat
Fani bertanya.
“Rapi banget kalian bertiga.” jeda sejenak, Fani berpikir ini
sedikit aneh. Tak lama kemudian ia memahami maksud situasinya. “Oooh, jadi ini
rencana kalian yang ketiga? Langsung dandan yang rapi dan ngajak Niko? Bisa aja
kalian ini. Ya udah Mama izinin, tapi jangan lewat dari jam 10 ya.”
Ternyata tanpa si kembar ataupun Niko yang bersuara Fani sudah
lebih dulu mengerti maksud mereka.
Mereka bertiga jalan menggunakan mobil yang dikendarai Niko, ia
bilang Ayahnya mengizinkan Niko untuk membawa mobil itu asal sampai di sana dan
rumah nanti dengan selamat.
Mungkin kalian sedikit bertanya, kalau si kembar ke sekolah memang
menggunakan kendaraan umum karena tidak diperbolehkan mengendarai kendaraan
sendiri oleh orang tua mereka, beda dengan Niko bisa saja menggunakan motornya
terlebih Niko juga sudah punya SIM. Tapi Niko memilih menggunakan kendaraan
umum bersama dengan si kembar.
Tahulah ya. Biar bisa bareng Farsya.
Pengecualian untuk hari ini, mereka menggunakan mobil karena
mereka akan pulang sedikit malam.
***
Farsya, Fersya, Niko dan Aries sedang mempersiapkan alat dan
otak-otak, jagung dan juga ikan bawal yang sudah disiapkan Aries.
Si kembar dan Niko jadi merasa tidak enak karena mereka hanya
membawa minuman soda dua botol besar, tapi Aries memang bilang untuk tidak bawa
apa-apa saat ke rumahnya. Jadi mereka memutuskan untuk membawa minuman saja ke
rumah Aries.
Kalau Niko dan Farsya bertugas mengambil makanan, sedangkan Fersya
dan Aries mempersiapkan alat bakaran. Aries menaruh alat bakaran di dekat pagar
rumahnya agar asapnya tidak masuk ke dalam rumah.
Mereka melakukan acara bakaran di halaman rumah Aries. Yang ikut
hanya si kembar, Niko dan juga Aries saja. Walaupun Ayah dan Ibu Aries serta
mba Ira juga ada di rumah, tapi kata mereka acara Aries ini adalah acara remaja
jadi mereka lebih baik melipir dan tidak ikutan.
Setelah Aries berhasil menyalakan api di alat panggangan, si
kembar memutuskan untuk membersihkan ikan bawal di teras rumah Aries.
Sedangkan, Aries dan Niko membakar sosis, otak-otak dan jagung.
Saat si kembar sedang asik membersihkan ikan bawal, Aries datang
dengan membawa dua piring yang sudah diisi oleh sosis dan otak-otak yang sudah
dibakar.
“Gelas belum dibawa ya?” kata Aries sambil menaruh satu piring ke
dekat si kembar.
“Oh iya, lupa.” Farsya menepuk jidatnya dan terkekeh kecil karena
kebodohannya.
“Ya udah biar gue yang ambil, sekalian kasih ini ke dalem.” kata
Aries sambil menunjuk satu piring lagi yang masih dipegangnya.
Aries melenggang masuk ke dalam rumahnya dan si kembar melanjutkan
pekerjaannya. Tak lama kemudian Aries keluar sambil membawa empat gelas dan
menaruhnya di meja yang ada di dekat si kembar. Sengaja meja itu di taruh dekat
teras agar Farsya bisa langsung mengambilnya tanpa harus berurusan dengan asap.
Setelah itu, Aries kembali dengan alat bakarannya.
Fersya sudah selesai dengan ikan bawal terakhirnya, diambilnya
beberapa ikan yang sudah ia bersihkan tadi beserta mengambil sosis bakar dan
memakannya. Fersya bilang pada Farsya kalau ia mau ke Aries. Farsya yang masih
mengurusi ikan bawalnya hanya mengangguk.
Menggigit habis sosis bakarnya yang tinggal sedikit, Fersya
mencolek Niko dan memintanya untuk bergantian bakar dan menyuruhnya untuk
menemani Farsya di teras rumah. Fersya mengambil alih jagung yang sedang
dibakar Niko menaruh ikan bakar di meja kecil dekat panggangan tersebut.
__ADS_1
Aries yang dari tadi sadar akan kehadiran Fersya hanya diam, ia
masih sibuk dengan jagung yang sedang dibakarnya. Mengulurkan tangan, Aries
meminta Fersya untuk mengambilkan piring berisi ikan yang tadi dibawanya.
Waktunya Aries membakar ikan.
Saat Aries mengulurkan tangan tadi ia sempat melihat Fersya yang
sedang membolak-balikkan jagung bakarnya. Satu yang Aries sadari rambut Fersya
sudah memanjang, dari yang awal bertemu ia melihat rambut Fersya masih sebahu
sekarang rambutnya sudah seketiak. Ternyata waktu sudah secepat itu berlalu.
“Fer, rambut lo udah panjangan aja.”
“Oh ya?” Fersya melihat rambutnya yang terjuntai tanpa hiasan dan
ia baru menyadari kalau yang dikatakan Aries benar. “Iya juga, nanti deh hari
Minggu gue ke potong rambut.”
Fersya ini jarang sekali atau hampir tidak pernah memanjangkan
rambutnya sejak SMP. Alasannya karena Fersya dan Farsya itu kembar identik dan
yang membedakan hanya tanda lahir yang ada di tubuh mereka.
Tapi masalahnya tanda lahir Farsya ada di punggung, sedangkan
tanda lahir Fersya ada di perut. Kan tidak mungkin untuk membedakan mereka
berdua harus dengan melihat tanda lahirnya dulu, jadi sejak saat itu Fersya
memutuskan untuk berambut pendek.
“Model yang sama?” kata Aries sambil membalikkan ikan bawal yang sedang dibakarnya.
“Lo ada ide nggak?” tanya Fersya penuh minat. Selama ini Fersya
kalau potong rambut selalu dengan model yang sama.
Blunt bob.
Fersya ingin mencoba model lain, tapi ia tidak pede dengan
wajahnya. Apakah cocok untuk model lainnya atau tidak. Memang sih kata orang
kalau tidak dicoba tidak akan pernah tahu seperti apa jadinya. Tapi keberanian
Fersya tidak sebesar rasa tidak percaya dirinya.
“Gue mah nggak ngerti soal potongan rambut.”
Fersya tertawa dan mengangguk-angguk. “Lo ngertinya cuman bola ya
Ris.” kata Fersya menyindir. Aries hanya cengengesan sambil menaruh ikan bakar
yang sudah matang ke dalam piring baru.
Fersya yang sudah selesai dengan jagung bakarnya juga menaruh
jagung itu di piring baru lagi karena Aries sudah membawa piring berisi jagung
yang sudah penuh tadi dan piring berisi ikan bakar ke dalam rumahnya.
Sambil menunggu Aries kembali dari dalam rumahnya, Fersya
mengambil ikan yang belum di bakar dan kemudian membakarnya.
“Ini sisa ikannya Fer.” kata Niko sambil menaruh sisa ikan yang
sudah selesai dibersihkan ke meja kecil didekat panggangan.
“Oke. Oh ya, ambil nih jagung bakarnya, kasih ke Farsya.” kata
Fersya sambil menunjuk jagung bakar yang dibakarnya tadi.
“Tadi udah di kasih dua biji sama Aris, jadi yang itu lo makan
aja.”
“Oke, oke.”
Niko meninggalkannya dan kembali menemani Farsya di teras. Tak
lama kemudian Aries datang sambil membawa dua buah gelas berisi soda dan
menyodorkannya ke arah Fersya.
Ditaruhnya sebentar alat panggangan ikan tersebut dan meminum soda
yang tadi diberikan Aries. Rasanya lega sekali karena tanpa Fersya sadari ia
sudah haus dari tadi, tapi karena keasikan membakar makanan ia jadi lupa untuk
minum.
Fersya menaruh minuman sodanya dan melanjutkan bakaran ikannya.
Sudah dua ikan yang ia bakar malam ini dan Fersya sudah merasa lelah. Ia
memutuskan untuk memberikan sisa ikannya kepada Aries untuk dibakar. Dan yang
dilakukan Fersya sekarang hanya mengipasi ikan yang sedang dibakar Aries.
“Oh ya Ris, udah bilang sama ortu lo soal pilihan lo?”
Aries menengok sebentar dan melanjutkan fokus pada ikan bakarnya.
“Udah, dan mereka nggak mempermasalahkan hal itu. Seperti yang gue bilang
sebelumnya, yang penting gue tanggungjawab sama pilihan gue sendiri.” jeda
sejenak. “Ternyata gue nya aja yang overthinking.”
“Mangkannya kalau apa-apa tuh diomongin dulu.” kata Fersya
menyindir.
“Ngaca.” Aries balas menyindir. Fersya sih hanya tertawa saja.
“Berarti tinggal sering-sering latihan terus siapin berkas buat
daftar dan seleksi ya.”
“Yap.”
“Kalo lo udah jadi pemain inti dan tanding di Liga Inter, beliin
gue tiket duduknya ya. Gue nggak mau nonton di rumah.”
“Dih beli sendiri lah!” Aries menaruh ikan bakarnya yang sudah
matang ke piring. Sisa satu ikan sekarang.
“Dasar pelit!” kata Fersya sambil menjulurkan lidahnya meledek.
Aries hanya tertawa menanggapi. Ia melanjutkan fokusnya pada ikan
yang sedang dibakarnya.
Ikan terakhir tadi sudah matang, Aries membawa piring yang penuh
ikan itu ke teras dan Fersya mengikutinya sambil membawa dua gelas miliknya dan
Aries.
Di teras Farsya dan Niko sedang asik ngorbol sambil makan, Aries
dan Fersya ikut nimbrung dalam obrolan. Mereka membahas apa saja yang bisa
dibahas juga Fersya dan Aries yang terus saja mengeluarkan candaan, sehingga
__ADS_1
suasana sangat ramai di rumah Aries.
Ramai oleh tawa mereka berempat.