Genap & Ganjil

Genap & Ganjil
06


__ADS_3

Esok harinya si kembar pulang di jemput oleh kedua orang tuanya yang ternyata sudah tau tentang kejadian yang dialami oleh Farsya. Entah mereka tahu sampai mana, sampai Farsya yang hanya sesak karena kelelahan atau sampai Fersya yang kelupaan mengembalikan inhaler milik Farsya. Karena saat kedua orang tuanya menjemput si kembar, ekspresi orang tuanya biasa saja. Tapi ekspresi biasa itu menakutkan untuk Fersya, ia takut di abaikan lagi.


Fersya pun sudah meminta maaf pada kembaranya saat apel terakhir selesai, dan Farsya bilang kalau itu sepenuhnya bukan salahnya. Farsya juga bilang kalau dia yang meminta inhalernya dititipkan oleh Fersya berarti dia juga yang harus memintanya kembali.


Tapi yang baru Fersya sadari adalah, saat sampai rumah orang tuanya lebih memperhatikan Farsya ketimbang dirinya. Sebenarnya itu wajar terjadi karena bagaimanapun asma Farsya kemarin kambuh dan pasti dia masih lelah sampai sekarang.


Farsya ditanya, capek atau tidak, pusing atau tidak, lapar atau tidak. Sedang, Fersya tak diberi pertanyaan apa pun.


Eca juga laper ma, Eca juga capek---capek melihat kalian yang tidak peduli sama Eca, batin Fersya merintih.


Sebenarnya Mamanya menanyakan---tidak, mungkin lebih tepatnya memberi sebuah pernyataan kalau Fersya langsung saja ke kamar dan rapikan tas yang dibawanya habis itu istirahat.


Fersya tahu, kalau itu termasuk bentuk perhatian, peduli dan sebuah sayang. Tapi ia ingin lebih, ia ingin seperti Farsya yang ditanyai ini itu. Sungguh rasanya Fersya ingin merasakan apa yang dirasakan oleh Farsya. Sampai kadang-kadang terbesit dalam dirinya andai ia sakit atau memiliki penyakit seperti Farsya akankah orang tuanya akan melakukan hal yang sama padanya seperti mereka memperlakukan Farsya?


Sejak saat itu, ia yang tadinya memang agak tertutup kepada orang tuanya jadi lebih tertutup lagi. Kadang orangtua mereka pun bertanya ada apa dengan Fersya belakangan ini, kenapa sikapnya seperti menghindar atau menjauh dari mereka. Mereka mencoba untuk merangkul Fersya dengan bertanya hal seperti, ingin makan apa, mau cemilan apa, atau hari Minggu mau bertamasya atau tidak. Tapi jawaban Fersya hanya terserah.


Terkadang Fani dan Rido—orang tua si kembar—menyadari kalau mereka suka bersikap tidak adil terhadap si kembar. Fani pun kadang bercerita pada Rido kalau Fersya seperti menghindar dari mereka, terkadang pula Fani memberi alasan kenapa ia kadang tidak adil terhadap anak mereka, karena Fani merasa kalau dirinya belum siap untuk mempunyai anak dua sekaligus.


Bukan Fani tidak bersyukur, tapi dengan keadaan Farsya yang kurang sehat membuat Fani jauh lebih memperhatikan Farsya ketimbang Fersya. Fani sudah mencoba untuk bersikap adil, tapi terkadang ada keadaan dimana ia tidak bisa melakukan itu. Ia akan selalu berusaha untuk bersikap adil pada anak-anaknya, maka dari itu ia harap Fersya mau bersabar sebentar lagi, dan mau mengerti.


Rido sebagai Ayah pun kadang punya pemikiran yang sama, tapi ia juga tidak bisa apa-apa. Karena ia lebih sering berada di kantor ketimbang di rumah jadi kadang ia abai dengan perkembangan anak-anaknya.


Balik lagi ke masa sekarang di mana sudah seminggu berlalu sejak kegiatan Persami dilaksanakan. Semua berjalan biasa saja bagi Fersya. Atau mencoba untuk biasa saja. Ia tahu belakangan ini ia agak menghindari orang tuanya.


Belakangan ini pun orang tuanya kadang bertanya hal-hal kecil yang dulu ingin sekali didengar olehnya, tapi entah mengapa saat ia mendengarnya sekarang dari orang tuanya, semua seperti percuma? Sia-sia? Entahlah Fersya masih merasa badmood sejak hari itu. Childish? Whatever.


Lebih baik Fersya main ke rumah Aries saja, setidaknya Aries bisa membuat moodnya jauh lebih baik walau cuma sementara. Kalau Fersya sudah pulang ke rumah biasanya ia akan kembali badmood. Maka dari itu, di hari Minggu ini ia berniat berkunjung ke rumah Aries.


Saat sudah sampai di depan rumahnya Aries, ia melihat kedua orang tua Aries yang sedang mengobrol di teras. Pasangan itu kemudian menyadari kehadiran tamu di rumah mereka.


"Fersya! Ngapain di situ? Masuk sayang." kata Ibunya Aries.

__ADS_1


"Hehe, habis nggak mau ganggu yang lagi pacaran." goda Fersya sambil melangkah masuk.


"Ah, bisa aja." balas Rini--Ibu Aries--dengan malu. Bayu--Ayah Aries--pun ikut nimbrung dengan obrolan mereka berdua.


"Kalo gitu, sana gih masuk. Katanya nggak mau ganggu Om sama Tante pacaran." ledek Bayu.


Fersya hanya cengengesan. Setelah ngobrol-ngobrol sedikit dengan orangtuanya Aries, ia izin untuk masuk ke rumah ingin bertemu Aries. Orang tua Aries hanya mengangguk dan mereka melanjutkan obrolan yang mungkin tertunda karena kehadirannya tadi.


Saat sudah masuk ke dalam rumah Aries---jujur Fersya merasa ia jauh lebih nyaman di sini daripada rumahnya sendiri--ia melihat Ira sedang mengaduk sebuah adonan.


"Mbak Ira!" sapanya riang.


"Lagi bikin apa?" lanjut Fersya setelah sampai di samping Ira dan duduk di sampingnya.


"Eh, ada Fersya. Bikin bolu buat cemilan, mau bantu?"


"Sure." balasnya semangat.


"Cemburu yaaa!" ledek Ira.


"Dih apaan sih!" lalu kakak beradik itu saling lempar ledekan lagi sampai-sampai Fersya tertawa kencang.


Fersya bersyukur karena Aries menghampirinya waktu itu. Sehingga, disaat-saat ia merasa kalut seperti ini ia tidak akan jalan tanpa arah lagi karena Fersya sudah punya tujuannya sekarang.


Yaitu, Aries.


Bukan, maksudnya rumah Aries.


Setelah bolu itu jadi, Ira pamit sebentar kepada Fersya, karena ingin memberikan bolu itu pada orang tuanya.


Sepeninggalan Ira, baik Aries ataupun Fersya tidak ada yang bersuara, keduanya asik memakan bolu yang ada di depan mereka.

__ADS_1


"Bolu bikinan Mbak Ira enak banget." Fersya memecahkan hening dengan memuji bolu buatan Ira.


"Mbak Ira emang jago masak. Kayak Ibu, tapi tetep masakan Ibu paling the best!" balas Aries.


"Jadi pengen cobain bolu buatan Ibu."


Fersya memang memanggil Ibu Aries dengan sebutan 'Ibu' karena itu permintaan Rini sendiri. Fersya juga merasa lebih nyaman kalau panggil Ibu daripada tante.


"Biasanya Ibu buat bolu kalo lagi pengen aja. Sama sih kayak Mbak Ira, karena kebetulan ini hari Minggu dan Mbak Ira lagi nggak ada kegiatan jadi dia buat bolu." cerocos Aries panjang.


Fersya baru sadar sekarang kalau Aries ini memang rada cerewet anaknya. Setara kali sama anak cewek, pikir Fersya. Ibunya banget, kalau mbak Ira kebalikannya. Sama orang yang dia rasa udah nyaman aja mbak Ira bakal ngomong panjang lebar.


"Hm, kalau lo main lagi ke rumah. Nanti gue bilangin Ibu buat bikin bolu buat lo, gimana?" tawaran Aries yang sangat menggiurkan, tanpa pikir dua kali Fersya langsung mengiakan.


Setelah menghabiskan satu Loyang kue bolu, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman depan gang rumahnya Aries. Sesampainya di taman, mereka tidak langsung duduk di gazebo atau pun ayunan yang sekarang ini sedang kosong.


Tumben sekali taman ini sepi, batin Fersya.


Setelah berkeliling sebentar, mereka memutuskan untuk duduk di gazebo yang sama saat mereka pertama kali bertemu.


"Waktu itu gue dateng ke taman ini karena kebetulan. Bener-bener kebetulan, karena seperti yang lo bilang waktu itu kalau gue nggak tau daerah ini. Tanpa sadar langkah gue yang nggak ada tujuannya waktu itu menuntun gue ke sini. Menuntun gue ke tempat yang buat gue," jeda untuk beberapa detik karena Fersya memikirkan kosa kata apa yang cocok untuk menggambarkan taman ini baginya.


Inilah satu kata yang terpintas di otaknya, "nyaman."


"Gue bersyukur banget bisa ketemu lo di sini, Ris."


Aries hanya tersenyum sebagai tanggapan, ia pikir Fersya sudah selesai dengan sesi curhatnya, ternyata belum. Bukan curhat melainkan bertanya pada Aries.


"Oh iya, gue sebenernya udah penasaran. Kenapa waktu itu lo samperin gue terus sksd dan tiba-tiba tanya nggak jelas lagi."


Lagi-lagi Aries hanya tersenyum sebagai jawaban, ia akan memberitahu itu nanti.

__ADS_1


"Senyum doang dari tadi. Sok kalem lo!" kesal Fersya.


__ADS_2