
Senin sudah tiba dan mulai minggu depan UAS akan dilaksanakan. Walaupun begitu upacara tetap berjalan seperti biasanya.
Koridor sekolahpun ramai oleh siswa-siswi, entah ada yang menuju kelas, toilet, kantin dan sebagainya. Fersya baru tiba ke sekolah 15 menit sebelum bel berbunyi. Sedang Farsya mungkin masih di jalan sama Niko. Sengaja ia tidak bareng Farsya, selain ingin menghindari mereka berdua juga kebetulan ia lupa mengerjakan PR-nya. Maka dari itu, ia datang lebih pagi dari biasanya.
Saat sampai di kelas, ia langsung duduk di kursinya dan meminjam PR Alya untuk diconteki. Jika kalian belum tahu, Alya itu teman sebangku Fersya. Lagi asik menyalin jawaban Alya ke bukunya sendiri tetiba saja ada yang duduk di mejanya.
Fersya yang merasa terganggu langsung menoleh. Ia pikir kalau orang itu adalah Aries, tapi saat yang dilihatnya adalah Niko segala caci makinya ia telan kembali. Lebih baik ia tidak meladeni cowok itu.
Melihat Fersya yang tidak menggubrisnya, ia langsung menarik lengan Fersya tanpa persetujuan cewek itu dan membawanya ke luar kelas. Fersya yang diperlakukan seperti itu tentu saja tidak tinggal diam, ia berusaha untuk melepaskan cekalan tangan Niko padanya tapi Niko hanya bergeming saja.
Niko membawa Fersya ke taman belakang. Sesampainya di sana Fersya langsung melepaskan tangannya dari genggaman Niko dan Niko pun tak berusaha untuk menahannya lagi.
"Ngapain sih lo?! PR gue belom kelar nih!"
Mendengar perkataan Fersya, ia pikir kalau mungkin Fersya sudah tidak terlalu marah dengannya. Tapi bagaimana pun Niko tetap harus meminta maaf pada Fersya.
"Gue mau minta maaf soal kejadian itu."
Sejak dulu Niko dan Fersya memang tidak terlalu dekat. Tidak seperti kedekatan Niko dengan Farsya. Bukan karena Niko yang tidak ingin berteman dengan Fersya, hanya saja kadang-kadang dibeberapa situasi Fersya sering menghindar, entah itu pada Niko dan Farsya atau bahkan keduanya. Niko tidak tahu alasannya apa, semenjak memasuki SMP Fersya perlahan sedikit menjauh dari pertemanan mereka. Maka dari itu, terkadang Fersya terlihat cuek saat ada dia, seperti tidak peduli.
Setelah ia mengucapkan permintaan maafnya, Fersya hanya diam saja. Hal itu membuat Niko salah tingkah. Lebih baik Fersya mencaci maki dirinya daripada diam seperti ini. Tapi, masalahnya Fersya memang lebih sering diam dan itu membuat Niko sedikit frustasi.
Niko sadar kalau sikapnya pada Fersya kadang kasar, karena kerap kali sikap Fersya membuatnya sedikit kesal. Terutama sikap dia pada Farsya. Sempat terbesit pikiran kalau Fersya seperti itu karena iri pada kembarannya. Tapi itu tidak mungkin kan?
"Fer, gue tau perlakuan gue di UKS waktu keterlaluan banget. Nggak seharusnya gue ngedorong lo, nggak seharusnya gue ngebentak dan menyalahkan lo. Lo pasti saat itu juga khawatir sama Farsya, tapi gue malah langsung bentak lo."
Saat Niko bicara tadi Fersya terus-terusan melihat jam yang ada dipergelangan tangan kirinya. Ia sudah muak mendengar omongan Niko. Bukan karena tidak ingin memaafkannya, sungguh ia sudah memaafkan Niko. Fersya juga sudah melupakan dan tidak peduli dengan kejadian itu, toh sudah terjadi. Hanya saja yang membuat Fersya merasa muak adalah, ia kembali diingatkan tentang bentakan Niko di UKS waktu itu dan hal itu membuat Fersya lagi-lagi merasa tertohok karena merasa bersalah. Dan sedih.
Fersya tahu kalau pertemanan antara dirinya dan Niko tidak sedekat antara Farsya dengan Niko. Dan ia sadar kalau ia yang menghindari mereka, karena kerap kali ia melihat Niko lebih nyaman berbincang atau bercanda sama Farsya ketimbang dirinya. Hal itu membuatnya lagi-lagi merasa seperti dinomor duakan, dan Fersya menyadari itu saat masa-masa SMP mereka. Masa dimana pubertas sudah mulai dialami oleh mereka, sehingga perubahan emosi kerap kali hadir dalam diri mereka.
Fersya akui kalau dulu ia sempat suka sama Niko. Maka dari itu, saat melihat Niko yang lebih nyaman sama Farsya, Fersya memutuskan untuk menjaga jarak. Entah dari Niko atau Farsya. Kalau bisa keduanya saja.
Tanpa sadar bel masuk sudah berbunyi. Baru kali ini Fersya merasa senang mendengar bunyi bel masuk, biasanya Fersya paling sebal mendengarnya, kecuali bel pulang sekolah. Mungkin saja bukan cuman Fersya tapi hampir semua murid seperti itu, lebih senang mendengar bel istirahat dan bel pulang sekolah.
"Yah, udah bel masuk Nik. Gue duluan ya, mana belom kelar lagi PR gue. Ganggu aja lo!"
Tanpa mendengar balasan dari Niko, Fersya langsung lari menuju kelas dan siap-siap untuk tadarus habis itu baru upacara dimulai. Sengaja Fersya tidak menunggu jawaban dari Niko karena ia memang ingin menghindar dari Niko.
Baru Niko ingin menahan Fersya sedikit lebih lama lagi, tapi Fersya sudah keburu lari menuju kelasnya. Ia hanya bisa menghela napas. Nanti saat istirahat tiba, Niko akan melangsungkan aksinya lagi. Ia tidak akan berhenti sebelum Fersya memaafkannya.
__ADS_1
"Niko, ngapain kamu masih di sini?! Cepat ke kelas!"
Niko kaget karena baru ingin melangkah menuju kelas, tiba-tiba Bu Siti memergoki Niko yang masih berada di luar kelas. Ia hanya balas nyengir.
Koridor sepi sekali karena hampir semua murid berada di kelas untuk tadarus. Saat melewati kelas Fersya dan melihat cewek itu melalui jendela, lagi-lagi ia hanya bisa menghela napas. Semoga saja saat istirahat tiba, Fersya mau memaafkannya.
***
Bel istirahat pertama sudah berbunyi, perut-perut siswa yang kelaparan sejak tadi seakan ikut berteriak bersamaan dengan bel tersebut. Beberapa siswa ada yang sudah keluar kelas dan menuju kantin walau gurunya masih ada di dalam kelas. Ada juga yang sudah membuka kotak bekalnya, kemudian mengajak teman sebangkunya untuk makan bersama. Lagi-lagi masih ada guru di kelasnya.
Hal itu terjadi di kelas Fersya, tidak menutup kemungkinan sih kalau kelas lain ada yang seperti itu juga. Tapi, saat Fersya melihat kelakuan teman-temannya, ia hanya bisa geleng-geleng kepala. Islah kata nih, semakin senior kamu di suatu sekolah, semakin membangkang saja kelakuannya.
Ya, mana berani juga murid-murid yang masih kelas 10 atau baru masuk SMA sudah kurang ajar begitu sama gurunya.
Seperti biasa, Fersya memang tidak membawa bekal dan dia biasanya bakal ke kantin buat makan. Entah sama Farsya--kalau lagi pengen--atau sama Aries. Itu pun kalau Aries samperin, dia pasti bakal makan di kantin. Tapi kalau tidak di samper, ia males buat makan di kantin sendirian. Walau beli makanannya doang pun juga males, karena pasti ramai banget. Mangkannya, kalau Aries tidak datang ke kelasnya dan mengajaknya ke kanting bareng, Fersya hanya beli jajanan di koperasi sekolah.
Baru diomongin orangnya sudah nongol saja di depan pintu kelas sambil nyengir kayak kambing. Hal itu membuat Fersya sedikit terkekeh.
Sebenarnya ia sedang malas untuk ke kantin hari ini, karena pasti di sana ada Niko dan takutnya Niko masih mau menahannya untuk masalah yang tadi pagi. Ia malas sekali kalau hal itu sampai terjadi.
Fersya mengajak Alya untuk ke kantin bareng, tapi ditolak karena Alya sedang malas, titip saja katanya. Ya, sudah. Ia langsung samperin Aries yang masih menunggu di depan pintu. Saat sudah sampai depan pintu ia melihat Aries yang menatap lapangan. Aries yang tak menyadari kehadiran Fersya membuat Fersya ingin menjahilinya.
Di lapangan itu sedang ada murid yang olahraga, tapi Fersya tidak tahu itu kelas 10 atau 11. Ia hanya tahu anak-anak angkatannya saja.
Aries yang kaget sempat ingin latah tadi, tapi untung saja bisa ditahan.
"Anjir, ngagetin aja lo!" serunya. Fersya sih hanya tertawa saja melihatnya.
"Siapa juga yang liatin cewek. Di sana yang olahraga bukan cewek doang ya, ada cowoknya juga!" lanjut Aries lagi.
"Terus maksudnya lo lagi liatin cowok gitu?" ledek Fersya lagi. Habis senang saja kalau meledek Aries, mukanya selalu lucu.
"Bodo amatlah, Fer!" kesal Aries yang tak ingin ledekan itu makin bertambah.
Fersya yang masih asik tertawa sehabis menjahili Aries, tetiba saja mendengar namanya dipanggil seseorang. Ternyata Niko yang memanggil, ada Farsya juga disamping Niko. Fersya sudah bilang kan tadi kalau ia sedang menghindari Niko, apalagi sekarang ada Farsya juga makin kuat keinginan Fersya untuk kabur secepatnya.
Baru Fersya ingin masuk ke kelas membatalkan niatnya untuk ke kantin, Niko sudah lebih dulu menahannya. Fersya berusaha berontak tapi cekalan ditangannya cukup kuat, sehingga Fersya tidak bisa melepasnya.
Aries yang melihat itu merasa ada yang janggal, ada apa dengan mereka berdua?
__ADS_1
"Lepas dong! Lo nggak liat Fersya kesakitan?!" kesal Aries pada perlakuan Niko terhadap Fersya.
Kemudian, Aries membalas lagi, "Lo udah dorong dan nyalahin Fersya di UKS waktu itu, apa itu kurang?! Belom cukup buat lo?!"
Aries sudah mulai geram, ia mengatakan itu semua dengan setengah berteriak, sehingga teman-teman kelas Fersya serta lalu-lalang siswa di koridor melihat ke arah mereka.
Fersya yang melihat itu langsung bilang pada Niko kalau dibahas di lapangan belakang saja. Karena memang lapangan belakang cukup sepi, tidak terlalu banyak siswa yang ke sana. Niko mengikuti perginya Fersya ke lapangan belakang. Tak urung Farsya dan Aries juga mengikuti mereka.
Saat Farsya mendengar ucapan Aries tadi mengenai Niko yang mendorong dan membentak Fersya di UKS waktu itu, awalnya ia bingung, kemudian Farsya teringat kejadian Persami waktu itu. Kenapa Niko bisa melakukan hal itu pada Fersya. Hal itu membuat Farsya lagi-lagi merasa bersalah pada Fersya. Karena dirinya Fersya sampai dibentak seperti itu oleh Niko. Pantas saja Fersya belakangan ini menghindar darinya.
Saat sudah sampai di lapangan belakang, Fersya hanya memandang Niko dengan alis sebelah kiri terangkat. Tak kunjung mendengar kata dari Niko membuatnya semakin jengah saja. Fersya sudah lapar begini, masih harus menunggu ucapan basi dari orang di depannya ini?
"Lama banget deh! Lo pikir lo doang yang punya urusan?!"
Perkataan Fersya yang ketus itu membuat Farsya sedikit tersentak. Fersya memang orang yang cuek, tapi jarang sekali Fersya bicara ketus seperti tadi, bahkan kalau dia lagi kesal atau marahpun Fersya lebih memilih diam ketimbang mengeluarkan suara.
"Pertanyaan gue masih sama kayak tadi pagi. Maafin gue ya soal kejadian di UKS waktu itu?"
"Kejadian di UKS? Yang mana ya?" tanya Fersya sinis.
Bukannya dia lupa kejadian waktu itu, hanya saja menurutnya kalau ada orang yang ingin meminta maaf tentu saja ia harus tahu apa kesalahannya kan? Bukan minta maaf dengan penjelasan garis besarnya saja, harusnya segala kesalahannya di jabarkan, secara detail kalau perlu.
"Maaf karena waktu itu gue langsung bentak lo, nyalahin lo dan gue kasar sama lo dengan dorong pundak lo. Maaf, Fer." Kata Niko dengan penuh penyesalan.
"Udah, itu aja kan yang mau lo omongin? Fine. Sekarang udah kelar kan? Gue laper, jadi jangan ganggu gue lagi."
Namun, Niko menahannya lagi, "Maksud lo 'itu aja' apa, Fer?"
Fersya benar-benar sudah muak, ia sedang lapar tapi malah ditahan. Di hela napasnya dan dengan jengkel ia menatap lawan bicaranya itu.
"Lo mau apa lagi sih dari gue? Hah?!" disusulnya Niko dan ia bediri tepat di hadapan Niko. Sekarang jaraknya dengan Niko hanya beberapa centi saja.
"Gue udah bilang kan tadi, fine gue maafin lo. Apalagi yang lo permasalahin sekarang?!" ditahannya emosi yang ingin keluar ini. Mendengar nada bicara Fersya yang sedang menahan emosi membuatnya sadar kalau ia salah bicara tadi.
Tak kunjung mendapat jawaban dari lawan bicaranya ini membuat Fersya mendengus sinis. Tanpa pikir panjang langsung saja ia meninggalkan mereka. Aries langsung mengejar Fersya, tadinya sih pengen ngajak ke kantin tapi tidak jadi.
Sepeninggalan Fersya dan Aries, Farsya langsung ke arah Niko dan membrondonginya dengan berbagai pertanyaan. Apa benar yang didengarnya tadi kalau Niko menyalahkan dan berbuat kasar pada Fersya? Kenapa Niko melakukan itu pada Ferysa?
Niko hanya diam saja, dan malah mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Farsya makan di kantin. Farsya pun tak ingin terlalu memaksakan, akhirnya ia setujui ajakan itu. Nanti saja ia tanya lagi saat suasana hati Niko sudah jauh lebih baik. Setidaknya secara garis besar Farsya sudah tahu apa yang terjadi waktu itu.
__ADS_1