Genap & Ganjil

Genap & Ganjil
27


__ADS_3

Fersya ada di perpusnas sekarang. Perpustakaan Nasional yang ada di Jakarta Pusat dekat daerah Monas. Dan tebak Fersya ke sana sama siapa. Jika kalian menebak Aries, jawabannya salah. Dan jika kalian jawab Farsya, jawabannya salah juga. Farsya kan masih dalam masa pemulihan karena sakit demamnya --- sebenarnya sih lebih karena Mama si kembar yang melarang.


Fersya pergi ke perpusnas bareng sama Niko. Rasanya sudah lama sekali tidak mendengar nama Niko ya. Tapi Fersya mohon maaf untuk penggemar Aries, lelaki itu tidak bisa ikut --- walaupun katanya sih dia pengen banget ikut Fersya sama Niko --- karena harus latihan sama Pak Andre. Selain Fersya dan Niko yang masih harus berjuang masuk kampus impian di UTBK, Aries juga harus meraih impiannya dengan sering-sering berlatih.


Fersya datang ke sana untuk belajar. Ya iyalah, namanya juga perpustakaan, tapi kalau ada yang memiliki niat lain di sana, ya sudahlah itu urusan mereka.


Fersya dan Niko sedang menunggu lift terbuka agar bisa mengantarkan mereka ke lantai yang diinginkan. Selama perjalanan dari rumah menuju perpusnas, bisa dihitung jari seberapa sering mereka terlibat dalam pembicaraan. Saat sudah masuk ke dalam liftpun dan entahlah Fersya harus merasa bersyukur atau tidak, karena lift yang mereka masuki sekarang ini kosong. Hanya diisi oleh mereka berdua.


Selama di dalam lift, Fersya terus-terusan melihat layar kecil yang ada di atas pintu lift. Layar kecil itu menampilkan angka yang terus bertambah seiring lift ini naik. Dan selama melihat layar kecil itu pula Fersya merasa lift ini lambat sekali jalannya, karena mereka belum juga sampai di lantai yang mereka inginkan.


"Lo takut ruangan kecil dan sempit, Fer?"


Niko yang tiba-tiba bertanya padanya membuat Fersya terkejut dan melihat ke arahnya dengan kesal. Niko yang ditatap seperti itu hanya menaikkan kedua alisnya saja, bingung apa yang salah dari pertanyaannya.


"Nggak kok, gue nggak punya Claustrophobia."


Pintu lift terbuka dan mereka segera keluar, menyusuri ruangan dan bersiap mencari buku yang diincar.


"Terus kenapa dari tadi lo liat angka yang ada di atas pintu lift?"


"Ooohh itu, nggak apa-apa kok. Hehehe." Fersya celingukan, sepertinya ini kesempatan untuk Fersya kabur dari suasana canggung ini.


"Hm... kayaknya tujuan kita bakal beda ya, jadi gimana kalo kita pisah aja?"


"Oke." Niko melihat pergelangan tangannya yang dilingkari jam tangan dan melanjutkan ucapannya. "Kalo gitu jam makan siang kita ketemuan di kantin. Tau kan lo tempatnya?"


"Tau kok. Ya udah, gue ke sana dulu ya." kata Fersya sambil menunjuk sisi ruangan bagian kanan. Mereka berpisah di sana.


Fersya harus beritahu kalian kenapa dirinya bisa terjebak di sini berdua saja dengan Niko. Ide ini tidak lain dan tidak bukan dari saudara kembarnya sendiri, Farsya. Entah kembarannya itu lupa atau pura-pura tidak tahu kalau hubungan antara Fersya dengan Niko... bagaimana Fersya harus mendeskripsikannya?


Hubungan Fersya dengan Niko bukannya tidak baik, tapi tidak bisa dibilang baik juga. Ah, pokoknya hubungan Fersya dengan Niko itu canggung, jadi kalau tidak ada Farsya, ya begitu jadinya, seperti sekarang. Entah hanya Fersya saja yang merasa canggung atau Niko juga, tapi Fersya sudah pernah cerita bukan, walaupun Niko itu sahabat kecilnya dan Farsya, tapi Niko lebih sering main sama Farsya ketimbang dirinya. Tidak salah dong kalau akhirnya hanya Niko dan Farsya saja yang dekat hubungannya.


Jadi melenceng deh, balik lagi, Fersya bakal ceritain kenapa Fersya bisa berakhir di sini berdua saja dengan Niko.


***


Fersya sedang belajar di kamarnya. Tinggal menghitung minggu menuju pelaksanaan UTBK dan tinggal menghitung hari menuju pendaftaran UTBK. Kabar baiknya adalah baik Fersya maupun Mamanya sudah tidak berdebat lagi soal kampus ataupun jurusan yang diinginkan Fersya.


Bukan mengalah, tapi Fani benar-benar berusaha untuk mengerti dan mengikuti keinginan anaknya. Fersya merasa senang sekaligus terharu. Dan yah, tahu-tahu saja kembarannya itu menyarankan Fersya untuk belajar bersama Niko saja. Berdua.


Tentu saja Fersya menolak, lebih baik Fersya belajar sendiri ketimbang belajar bersama Niko. Tapi sayangnya, Niko sudah tiba di depan rumahnya dengan pakaian rapi. Farsya yang tahu kalau sahabat kecilnya itu sudah tiba di depan rumahnya langsung menghampiri Niko di depan rumah.


Lalu Farsya memanggilnya dan menyuruhnya ke sana.


"Lo beneran minta Niko buat belajar bareng gue?" dan jawaban Farsya hanya mengangguk saja dengan polosnya.


"Buruan gih sana, siap-siap! Niko udah siap nih."


Fersya melirik ke arah Niko, dan yang ditatap hanya mengangkat kedua alisnya saja. Fersya menghela napas dan berbalik masuk ke rumah. Masuk ke dalam kamar dan hanya mengganti celana tidur dengan celana jeans saja. Untungnya Fersya sudah mandi jadi tidak perlu terlalu lama untuk bersiap.


Fersya pamit sama Mamanya dan berjalan keluar rumah. Ternyata di sana masih ada Farsya yang sedang mengobrol dengan Niko. Kalau begitu, kenapa tidak Farsya saja yang menemani Niko belajar. Terkadang saudara kembarnya ini memang berhasil membuatnya kesal.


Dan begitulah akhirnya, Fersya dan Niko segera berangkat naik motor Niko dan selama perjalanan itu percakapan hanya diisi oleh pertanyaan basa-basi saja.

__ADS_1


***


Fersya sudah menemukan buku yang dicarinya, ia segera mencari tempat duduk terdekat dan mencatat apa-apa saja yang penting dan perlu ia catat. Hampir satu jam Fersya berkutat dengan bukunya, sampai akhirnya ada panggilan telpon dari seseorang. Fersya berharap kalau yang menelpon adalah Aries, tapi rupanya Niko yang menelponnya.


Fersya sudah tahu maksud Niko menelponnya, jadi Fersya mematikan panggilan telpon itu tanpa harus menjawabnya lebih dahuli. Fersya merapikan buku catatan dan buku yang dipinjamnya. Berjalan ke arah rak tempat Fersya mengambil buku pinjamannya.


Setelah menaruh buku itu, Fersya keluar dari ruangan dan berjalan menuju kantin. Sesampainya di kantin, Fersya celingukan mencari dimana keberadaan Niko, tapi Fersya tak menemukannya. Baru Fersya ingin menghubungi Niko, ada yang memegang bahunya.


"Gue pikir lo udah sampe duluan di sini."


Bukannya menggubris perkataan Fersya, Niko malah berjalan menuju meja kantin dekat jendela yang kebetulan kosong. Kantin ini cukup ramai orang, karena sekarang memang sudah jam makan siang.


Fersya menaruh tasnya di dekat tempat duduknya dan melihat Niko. Niko juga balik menatapnya. Fersya menghela napas, mereka berdua tidak bisa diam-diaman terus seperti ini. Lebih tepatnya Fersya yang sudah tidak tahan untuk diam-diaman saja seperti ini.


"Lo mau makan apa? Biar gue yang ke kedai."


"Justru gue lagi nunggu lo. Biar gue aja yang ke kedai. Lo mau makan apa?"


"Ya udah. Hm..." Fersya melihat-lihat kedai yang ada di sebelah kanan sana. Sebenarnya Fersya sudah lama tidak makan mie, tapi Fersya juga lagi laper banget.


"Gue pop mie sama nasi aja."


"Pop mie nih? Dari sekian banyak kedai yang nyediain makanan enak lo mau mie?" tanya Niko sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Yeee, lo nggak tau apa kalau mie itu salah satu makanan terenak di dunia. Udah enak murah lagi."


"Setuju sih sebenarnya. Hahaha."


"Kalo gitu gue samain kayak lo aja. Lo mau minum apa?"


"Air putih aja."


Niko mengangguk dan berjalan menuju kedai dekat pintu masuk kantin. Kedai itu menjual jajanan seperti ciki, biskuit, wafer dan sebagainya. Seperti mini market. Fersya menunggu Niko membawa pesanannya sambil bermain hp.


Fersya ingin menghubungi Aries, ingin bertanya apa yang sedang lelaki itu lakukan saat ini. Sudah makankah, atau masih latihan sama Pak Andre. Okay, Fersya tidak tahu sejak kapan perasaannya terhadap Aries jadi berkembang seperti ini.


Awalnya Fersya hanya menganggap Aries sebagai sahabatnya saja, tapi lama kelamaan ditambah dengan sikap Aries yang kadang buat jantung Fersya berdegup tidak normal membuat Fersya merasa galau. Tapi sekarang sepertinya Fersya sudah tidak mau menutupi perasaannya sendiri.


Bukan, Fersya bukan mau menyatakan perasaannya pada Aries. Fersya tidak akan pernah melakukan itu, kecuali pada keadaan yang terdesak seperti Aries yang menjauhinya. Jika hal itu terjadi, Fersya akan menarik Aries kembali dengan menyatakan perasaannya. Untuk saat ini biarkan hanya dirinya dan Tuhan saja yang tahu bagaimana perasaan Fersya untuk Aries.


Fersya masih bengong sambil menatap layar hpnya yang gelap sampai Niko datang membawa nampan berisi dua Pop Mie rasa Soto, sepiring nasi dan dua botol air mineral.


"Thanks." ucap Fersya sambil mengambil Pop Mie miliknya dan menyendok nasi ke dalam pop mienya. Tidak ada percakapan selama acara makan itu. Niko duluan yang menghabisi makanannya dan segera mengambil sebotol air yang masih ada di atas nampan yang dibawanya tadi, kemudian menenggaknya hingga isinya bersisa setengah botol.


Niko menunggu Fersya sambil bermain hpnya, lelaki itu sedang chatan dengan Farsya. Sedari tadi, Farsya terus-terusan bertanya soal Fersya. Niko sudah bilang kenapa tidak chat sendiri saja, tapi Farsya bilang ia tidak ingin mengganggu belajar saudara kembarnya itu. Saat disindir kalau Farsya malah mengganggu belajar Niko, wanita itu malah mengirim emot cengir saja.


"Habis ini ngapain lagi?" perhatian Niko teralih dari hpnya ke Fersya, sebelum membalas perkataan Fersya, Niko mengirim balasan singkat kepada Farsya dulu.


"Hm... pulang?"


"Ya udah, ayok."


"Sabar dulu aja kali Fer. Kayaknya dari tadi tuh lo nggak betah banget sama gue."

__ADS_1


Fersya yang tadinya sudah mencangklongkan tasnya ke pundah harus menurunkannya lagi dan mencebirkan bibirnya ke arah Niko.


"Habis dari tadi tuh canggung banget, ya gimana gue mau betah."


Bodo amat deh, mending Fersya jujur ajakan?


"Gue iri sama lo."


"Ha? Tiba-tiba?"


"Nggak tiba-tiba kok. Dari dulu sebenernya. Gue iri karena lo punya sudara jadi lo nggak bakal merasa kesepian. Gue iri sama lo yang bisa mengutarakan apa keinginan lo."


Fersya tahu Niko belum selesai berbicara, tapi ada beberapa yang harus Fersya koreksi. "Memang enak punya saudara, apalagi kembar tapi tentu aja yang nggak enaknya adalah disaat lo dan saudara kembar lo ini berbeda banget dan orang tua lo membandingkan lo berdua. Okay, kalau soal itu gue udah nggak terlalu pusingin, karena dunia ini memang tentang perbandingan bukan?


Panas-dingin, baik-jahat, cakep-jelek. Itu semua tergantung pandangan orang masing-masing, jadi gue berusaha menghargai itu, walau itu menyakiti hati gue. Dan soal mengutarakan keinginan, gue nggak tau kenapa lo harus iri dibagian itu karena jujur, mau gue utarain keinginan gue ataupun nggak itu nggak ada ngaruhnya. Tapi syukurnya itu dulu, sekarang ortu gue udah lebih terbuka sama keinginan gue."


"Itu yang gue maksud." balas Niko. Fersya hanya mengerut bingung.


"Ada beberapa anak yang nggak bebas mengutarakan keinginannya Fer. Contohnya gue. Apa ya... gue merasa nggak pernah dapet kesempatan buat utarain itu. Lo tau ortu selalu berangkat pagi pulang malem. Berangkat disaat gue masih molor dan pulang disaat gue juga udah molor. Dimana kesempatan gue untuk berpendapat? Nggak ada. Walaupun lo sering ditolak karena keinginan lo itu, seenggaknya lo udah mengutarakan keinginan lo kan? Nggak ada lagi yang dipendam."


Fersya menghela napas dan menaruh punggungnya di sandaran kursi. Kenapa pembicaraan ini jadi berat banget.


"Tiba-tiba banget ya gue cerita sama lo?"


"Ha? Nggak kok, santai aja. Cuman, gue nggak tau harus menanggapinya kayak gimana, karena situasi kita beda."


"Haaa... apa gue harus kabur dari rumah biar ortu sadar?"


"Nyindir gue?"


"Lhooo emang lo pernah kabur dari rumah?" jeda sejenak, lalu Niko melanjutkan perkataannya. "Ooohhh, jadi yang empat hari ke Bandung itu salah satu acara kabur dari rumah? Ih pinter banget kaburnya sekalian wisata."


Fersya hanya mencebikkan bibirnya saja, kesal karena disindir Niko.


"Tapi jangan coba-coba kabur dari rumah deh Nik, bukannya tenang malah nyesel nantinya."


"Loh kenapa emangnya?"


"Ya 'kan lo pergi tanpa izin orang tua."


Niko hanya membuang pandangannya ke arah jendela, melihat pemandangan di luar gedung.


"Serius gue Nik. Kesempatan itu selalu ada selagi lo hidup, kapanpun, dimana pun pasti ada. Tinggal lo aja nya sadar nggak kalo itu kesempatan buat lo, atau lo nya mau ambil atau nggak kesempatan itu. Sama kayak tadi, lo pasti kalau mau pergi kemanapun izin ortu dulu kan? Sebenernya itu kesempatan buat lo, tapi lo aja yang nggak sadar."


Fersya mencondongkan tubuhnya ke arah Niko, melipat kedua tangannya ke atas meja. "Setau gue keluarga lo selalu meluangkan waktu di hari Minggu kan? Itu Family time kalian kan? Jadi gunain kesempatan itu buat utarain keinginan lo, gue yakin orang tua lo bakalan ngerti. Emang lo pengin apaan sih?"


"Lo tau kalo nyokap anak farmasi terlebih bokap dokter dan emang keluarga besar gue tuh turunannya dokter semua, tapi gue sama sekali nggak minat di situ. Mau gue paksain sampe kapanpun tetep nggak bakal nyangkut di gue. Dan ortu secara nggak langsung memang mendeklarasikan kalau gue juga harus mengikuti jejak mereka, tapi gue nggak mau."


Fersya menghela napas dan memulai lagi sesi konselingnya. "Ambil waktu Family time lo buat bahas masalah itu. Walaupun mungkin ujungnya bakal ribut kayak gue, seperti yang lo bilang tadi seenggaknya lo udah merasa lega dan nggak ada yang harus dipendam lagi."


Fersya melihat layar hpnya yang juga belum ada notif apapun dari Aries, lalu memasukan hpnya ke dalam kantung celana jeansnya.


"Cabut yuk, dah mendung tuh keburu hujan."

__ADS_1


__ADS_2