Genap & Ganjil

Genap & Ganjil
08


__ADS_3

Setelah Fersya berhasil kabur dari Niko, ia jalan dengan terburu-buru di temani oleh Aries yang ada di belakangnya. Fersya sadar kalau Aries dari tadi mengikutinya terus, tapi untunglah Aries tidak berusaha untuk menghentikannya. Mungkin Aries mulai mengerti seperti apa Fersya itu.


Fersya itu tipe yang memendam, kalau marah bukannya berkoar-koar, tapi cuman diam. Sampai sekarang belum Aries tanya kenapa kalau marah malah diam. Lebih enak langsung labrak orangnya aja kan kalau emang marah sama seseorang. Daripada mendem, bikin nyesek doang.


Saat Fersya berhenti di depan papan mading, Aries pun ikut menghentikan langkahnya. Masih bisu yang mengelilingi mereka. Sampai Aries memutuskan untuk mengakhiri bisu itu.


"Nanti pulang mau main ke rumah?"


Fersya berpikir untuk mengiakan ajakan tersebut atau tidak. Fersya kemarin sudah ke rumah Aries untuk bermain, kalau ke rumahnya lagi hari ini ia merasa tidak enak dengan orang tua Aries. Tapi ia juga sedang malas berada di rumah.


Ah, tidak harus ke rumah Aries untuk berlari. Fersya lupa kalau punya tempat lain sebagai pelariannya, walaupun itu dekat sekali dengan rumah Aries, tapi tidak ada salahnya ia berada di sana sampai ia merasa bosan.


"Ke taman aja Ris." balas Fersya sambil berbalik dan menatap mata Aries.


Aris yang kaget karena pergerakan tiba-tiba dari Fersya sedikit salah tingkah. Pasalnya tadi cewek itu membelakanginya, dan tetiba saja berbalik ke arahnya tanpa aba-aba. Aris hanya balas mengangguk.


Setelah itu, Fersya memutuskan untuk ke kelas. Mereka berdua berpisah di kelasnya Fersya dan Aries berjalan menuju kelasnya yang ada di samping kelas Fersya.


Ah, Aries lupa kalau tadi tidak sempat ke kantin dan makan. Ia lapar sekarang, apakah Fersya lapar juga sepertinya. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu istirahat masih ada lima menit lagi, itu berarti Aries masih bisa beli jajanan ringan. Lumayan buat pengganjal lapar.


Aries menuju koperasi---koperasi di SMA Sebangsa tidak hanya menjual alat tulis atau kebutuhan sekolah lainnya, tapi juga menjual jajanan ringan---dan melihat roti yang masih sisa dua. Langsung saja Aries beli kedua roti itu dan menuju kelas Fersya untuk memberikan satu roti yang dibelinya ini.


Keadaan sedikit canggung saat Aries masuk ke kelas Fersya. Perasaan Aries, ia cukup sering main ke kelas Fersya, tapi kenapa masih aja ada teman kelas Fersya yang menatapnya penuh tanya.


Harapan satu-satunya sekarang hanyalah Fersya. Tapi masalahnya, Fersya daritadi hanya membaringkan kepalanya saja di meja. Jadi bagaimana Fersya tahu kalau ada Aries di sini.


Beruntungnya, Alya melihat Aries. Setelah itu Alya menggoyangkan bahu Fersya dengan lembut dan bilang kalau ada dirinya di sini. Walaupun ia tidak mendengar apa yang dikatakan Alya, tapi dari gerakan bibirnya ia tahu.


Fersya menggeliat sedikit dan menampilkan muka juteknya. Ah, Aries jadi merasa kasihan pada Alya. Alyanya sih nggak peduli, karena sudah biasa disuguhi penampakan Fersya yang seperti itu. Karena Fersya memang lebih banyak juteknya ketimbang senyumnya. Jadi sudah biasalah.


Kemudian, tatapan Fersya berganti kepadanya. Masih dengan juteknya ia menaikkan salah satu alisnya. Aries menghampiri Fersya yang duduk di bangku ke empat dari depan. Sampai di samping Fersya, ia langsung memberikan roti rasa keju yang tadi dibelinya.


Rasa kesukaan Fersya. Keju.


"Tadi nggak sempet ke kantin kan. Kebetulan roti di koperasi sisa dua, sekalian aja gue beli buat lo. Dimakan ya, gue cabut dulu bentar lagi bel." kata Aries setelah ia memberikan roti keju itu pada Fersya.


Belum sempat Fersya membalas, Aries sudah jalan menuju luar kelas. Tepat saat sosoknya hilang dari pintu kelas bel masuk berbunyi. Di genggamnya roti pemberian Aries itu dan dilihatnya lamat-lamat.


Alya yang melihatnya hanya terkekeh saja.


"Kalo dipelototin doang tuh roti nggak bakal pindah ke dalam perut lo." ledek Alya sambil tertawa kecil.


"Dibuka lah, terus dimakan. Mumpung Bu Devi belom masuk kelas." perkataan Alya membuat Fersya sadar dan buru-buru membuka bungkusan roti.


"Lo lagi pedekate sama Aris ya?" perkataan Alya membuatnya tersedak roti yang sedang dimakannya ini. Fersya memberikan tatapan juteknya ke Alya, yang ditatap hanya nyengir-nyengir saja. Diambilnya botol minum yang ada di tas dan meneguknya dengan ganas.

__ADS_1


"Ya nggaklah! Aneh-aneh aja lo!"


Lanjut saja ia makan rotinya, mumpung Bu Devi belum datang.


"Tapi, kok lo bisa tau Aris?"


Fersya bertanya pada Alya karena menurutnya Aries bukan siswa populer di sekolah. Tidak seperti Aldo yang memang populer baik di angkatannya atau adik kelasnya. Fersya tidak tahu saja, walaupun Aries tidak sepopuler Aldo, tapi pamornya tidak seburuk itu sampai-sampai banyak yang tidak mengenalnya. Aries kan salah satu anggota tim futsal. Walaupun bukan tim inti dan ekskul futsal sendiri cukup sering mengadakan sparing.


"Abang gue temen kampusnya Mbak Ira. Eh, bukan-bukan. Doi gebetannya Mbak Ira." Alya jadi teringat abangnya yang beberapa minggu lalu membawa Mbak Ira--yang baru ia tahu kalau itu adalah kakaknya Aries--ke rumahnya.


"Oalah, pernah diajak ke rumah dong?"


"Iya, mangkannya gue tau Aris. Walaupun gue rasa banyak sih yang tau Aris. Dia kan anak futsal."


"Ya, terus kalau anak futsal, kenapa?" tanya Fersya heran.


Alya menghela napasnya dan berkata, "Futsal kan cukup sering ngadain sparing dan banyak juga yang nontonin tuh sparing. Jadi mungkin banyak yang kenal sama Aris dari situ. Pas dia masuk kelas tadi aja, banyak yang liatin dia, eh lo nya malah tidur."


Fersya hanya nyengir-nyengir saja. Rotinya sudah tandas dimakan, dan mereka masih asik mengobrol. Bu Devi sepertinya tidak masuk karena sudah lewat 10 menit dari bel masuk tadi, tapi Bu Devi--guru Bahasa Inggrisnya itu belum juga datang.


Teman-teman kelasnya mulai ribut juga karena Bu Devi yang tak kunjung datang. Saat itulah sosok yang ditunggu-tunggu--atau mungkin tidak--datang. Membuat kaget seisi kelas.


Kelas yang tadinya ramai, langsung bisu dalam sekejap.


***


Bel yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Ya, apalagi kalau bukan bel pulang. Para siswa langsung berhamburan keluar kelas, memang rada aneh, seharusnya mereka membereskan peralatan tulis mereka dulu baru keluar kelas. Tapi, mereka sudah membereskan peralatan tulis mereka sejak 10 menit sebelum bel pulang berbunyi.


Gurunya masih menjelaskan dengan lantang, muridnya sudah siap-siap untuk pulang. Mau bagaimana lagi, hanya sedikit yang menganggap sekolah adalah tempat untuk mencari ilmu. Selebihnya, menganggap entah itu tempat bermain, tempat tongkrongan, rumah kedua dan sebagainya.


Farsya yang sedang membereskan alat tulisnya, berhenti sejenak karena handphone-nya berbunyi menandakan ada notifikasi pesan. Saat dilihat nama Fersya yang terpampang di layar handphone-nya langsung ia ambil gawainya dan membuka pesan yang dikirim Fersya.


Fersya bilang kalau ia main dulu ke rumah Aries.


Lagi.


Farsya tahu kalau Fersya hanya sedang menghindar darinya. Teman-temannya berpamitan padanya dan Farsya hanya membalas dengan senyuman, ia masih memikirkan Fersya yang selalu menghindar. Farsya taruh handphonenya di kantong rok dan buru-buru membereskan alat tulisnya. Pasti Niko sedang menunggunya di depan kelas.


"Fersya nggak nungguin lo ya?" tanya Niko saat baru saja Farsya keluar dari kelasnya. Ada sedikit nada sedih disana. Ia hanya menagngguk dengan lesu.


Banyak pertanyaan sudah bercokol dikepalanya, ingin segera ia muntahkan. Tapi, ia tahan dulu, mungkin membicarakannya sambil jalan pulang lebih baik.


Mereka jalan berbarengan ke luar gerbang, saat sampai dekat gerbang Farsya melihat sosok yang sangat dikenalnya. Itu saudara kembarnya. Farsya ingin langsung menghampiri Fersya tapi ia urungkan. Karena ia tahu kalau Fersya sedang menghindari darinya, terutama cowok disebelahnya ini. Jadi percuma kalau Farsya menghampirinya, yang ada malah dicuekin.


Farsya melirik ke arah Niko, pandangan Niko lurus ke arah Fersya. Farsya melihat binar penyesalan di mata Niko, membuatnya tak bisa menahan gejolak pertanyaan yang sudah bercokol dari tadi.

__ADS_1


Tanpa aba-aba Niko yang sedang memandang Fersya dan berkubang dalam nestapanya dibuyarkan oleh pertanyaan Farsya yang sebenarnya tak ingin ia dengar. Karena begitu pertanyaan itu keluar dari mulut cewek di sampingnya ini, Niko merasa semakin tersudut, merasa semakin bersalah.


"Apa bener lo lakuin hal itu sama Fersya?"


Niko tahu apa yang dimaksud dengan 'hal itu' sekarang hanya perlu menyusun kata yang tepat untuk menjelaskannya ke Farsya.


"Kita omongin di halte aja ya, sambil nunggu angkot."


"Nggak! Kita nggak bakal pulang sebelum lo jelasin semuanya ke gue."


Melihat Farsya yang mulai keras kepala, mau tidak mau ia mengiakan keinginan cewek di sampingnya ini.


"Okey, tapi kita ngobrolnya di halte aja. Ayo!"


Tanpa menunggu reaksi Farsya, Niko langsung menggenggam tangan Farsya dan menuntunnya ke halte dekat sekolah.


Saat sudah sampai halte, Farsya hanya diam dan memandang Niko dengan pandangan menagih.


Niko langsung menceritakan apa yang terjadi saat Farsya sedang tak sadarkan diri di UKS waktu itu. Niko yang menunggu di UKS bersama dengan Gilang, ia yang geram karena kehadiran Fersya dan teringat inhaler Farsya yang ada di Fersya, ia langsung menyalahkan dan mendorong bahu Fersya karena kalap, Fersya yang hanya diam saja ditodong seperti itu.


Kemudian, Aries yang ternyata ada bersama Fersya dan kemarahannya makin menjadi, Aries yang membela Fersya dan Fersya yang tetiba keluar ruangan bersama dengan Aries.


Ia benar-benar menceritakannya dengan detail tanpa kurang apapun. Ia bercerita sambil menunduk, tak berani menatap lawan bicaranya. Sedangkan, Farsya hanya mendengarkan dari tadi dan merasa tidak bisa berkata apa-apa. Menurutnya, apa yang telah dilakukan Niko saat itu benar-benar keterlaluan.


"Kenapa lo bisa ngelakuin hal sejahat itu sih, Nik? Fersya cewek dan dia kembaran gue. Dan lo dengan seenaknya ngedorong dia."


Farsya mendengus dengan kesal, tidak menyangka sahabat kecilnya bisa berbuat seperti itu pada kembarannya. Padahal Niko juga sahabat kecil Fersya.


"Gue bener-bener minta maaf, Far. Gue pun udah berusaha buat minta maaf sama Fersya, tapi lo liat tadi kan gimana reaksi dia."


"Lo tau? Fersya mungkin marah sama lo, tapi dia lebih marah sama dirinya sendiri."


"Maksud lo?" tanya Niko heran.


"Ucapan lo di UKS waktu itu buat dia merasa bersalah sama dirinya sendiri. Lo tau? Pas pulang dari kegiatan itu dia emang minta maaf sama gue, tapi setelah itu dia diem. Dia makin cuek sejak hari itu, makin menjauh sejak hari itu dan gue bertanya-tanya kenapa. Ternyata," Farsya tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Dihirupnya udara yang terasa semakin tipis disekitarnya ini, dan lanjut berkata lagi.


"Fersya tuh orang yang sensitif, Nik. Kadang dibentak dikit aja sama ortu dia langsung diem. Dia nggak nangis cuma diem dan itu bisa berhari-hari."


"Sekali lagi maafin gue, Far."


Tak ada jawaban dari Farsya. Keheningan menyelimuti mereka sampai angkutan umum yang menuju rumah mereka tiba. Saat di dalam angkotpun mereka hanya diam, tak saling bicara. Namun, Niko sering kali melirik ke arah Farsya. Niko ingin memulai pembicaraan lagi, tapi ia sadar lebih baik seperti ini dulu.


Mereka masih tak salingbicara sampai di depan rumah Farsya. Cewek itu langsung mengucapkan salamperpisahan dan masuk ke dalam rumahnya tanpa menunggu balasan dari Niko. Iahanya melihat punggung Farsya yang perlahan hilang ditelan pintu dengan helaannapas.

__ADS_1


__ADS_2