Genap & Ganjil

Genap & Ganjil
16


__ADS_3

Hampir semua murid kelas 12 SMA Sebangsa sedang disibukkan dengan belajar-ujian-belajar-ujian. Hal ini dilakukan karena mereka akan segera menghadapi Ujian Nasional dan Ujian lainnya untuk masuk ke kampus jurusan yang mereka mau.


Tak terkecuali si kembar, terutama Fersya. Fersya sudah bilang sebelumnya bukan kalau ia akan berjuang habis-habisan di ujian UTBK nanti, jadi pagi-pagi belajar di sekolah untuk UN, pulangnya belajar untuk ujian UTBK nanti.


Fersya sudah tidak bisa seleluasa dulu, pulang bisa main ke rumah Aries atau ke taman dekat rumah Aries. Sekarang tidak bisa seleluasa itu. Bahkan Aries pun sekarang juga disibukkan dengan latihan.


Berbeda dengan Fersya yang berlatih dengan soal, kalau Aries berlatih dengan bolanya. Aries dilatih oleh Pak Andre, guru olahraga mereka.


Walaupun Fersya dan Aries jarang bermain lagi sekarang ini, tapi mereka masih bisa bertemu disaat jam istirahat. Karena sudah seperti jadwal pertemuan rutin, Fersya, Farsya, Niko dan juga Aries, mereka selalu bertemu dan mengobrol di kantin.


Seperti saat ini, dengan pesanan yang sama, itu-itu saja. Soto kedai Umi. Mereka berempat tidak pernah bosan untuk makan soto buatan Umi kantin. Entah apa yang diberikan Umi kantin pada sotonya karena hampir tiap harinya mereka dibuat takjub dengan rasanya.


"Gue nggak ngerti, soto buatan Umi makin hari makin enak aja. Kayaknya gue harus mencuri resep rahasia soto buatan Umi." kata Aries di sela-sela makannya.


"Nggak usah ngawur, plankton aja susah buat curi resep krabby patty, lo lagi yang belum punya pengalaman mau sok-sokan." Fersya memukul sedikit punggung Aries, sehingga membuat cowok itu tersedak dan buru-buru minum.


Dengan memberi pelototan kesal kepada Fersya yang dibalas Fersya dengan memeletkan lidahnya meledek.


Mereka melanjutkan makan dengan damai tanpa adanya perdebatan dari Fersya dan Aries.


"Ris, lo mau masuk jurusan mana?" tanya Niko setelah ia menyelesaikan makanannya.


Aries yang juga sudah selesai dengan makannya, ia mengambil minumnya dulu baru menjawab pertanyaan dari Niko tadi. "Gue nggak kuliah Nik."


Jawaban Aries itu bukan hanya membuat Niko terkejut tapi membuat Farsya yang dihadapan Aries ikut terkejut.


"Kenapa?" pertanyaan ini bukan dari Niko, tapi dari Farsya.


Dengan senyumnya yang sok malu-malu Aries memberitahu kalau ia ingin menjadi pemain Timnas.


"Hilih, sok malu-malu lo. Biasanya juga malu-maluin. Ris, setop pasang muka senyum-senyum sok malu lo. Jijik!" kata Fersya saat melihat Aries yang masih memasang senyum sok malunya.


Lagi, Aries memberikan pelototan kesal pada Fersya.


"Emang seleksinya kapan bro?" kata Niko.


"Seleksinya sih belum tau kapan. Tapi buat pendaftarannya nanti seminggu setelah UN."


"Berarti lo nggak ikut SNMPTN sama SBM ya..." kata Farsya sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Sukses deh buat lo. Semoga segala mimpi, harapan dan cita-cita kita terwujud."


Mereka bertiga mengangguk mengamini dalam hati perkataan Farsya tadi.

__ADS_1


Bel masuk berbunyi, mereka harus balik ke kelas masing-masing dan siap belajar lagi untuk ujian Try Out minggu depan.


***


Ujian Try Out akan berakhir beberapa menit lagi. Seluruh murid kelas 12 sedang serius mengerjakan soal mereka. Ada beberapa yang sudah selesai dan memilih tidur sambil menunggu bel berbunyi. Ada juga yang masih sibuk mengerjakan soal yang entah masih banyak yang belum diisi atau tinggal beberapa soal lagi.


Entahlah, syukurnya Fersya sudah menyelesaikan soalnya 15 menit sebelum bel. Sisa lima menit lagi bel akan berbunyi, banyak dari teman-temannya yang mulai panik. Untunglah kerja kerasnya untuk belajar seminggu sebelum TO membuahkan hasil. Walaupun Fersya tidak tahu apakah hasil TO-nya nanti bagus atau tidak, ia memilih untuk percaya pada kerja kerasnya.


Seperti kata pepata, usaha tak pernah mengkhianati hasil.


Bel berbunyi, muka-muka lega dan penyesalan bersatu di tiap kelas. Tapi mereka tidak bisa langsung pulang ke rumah karena akan ada penyuluhan mengenai tata cara pendaftaran SNMPTN di aula sekolah.


Acara dimulai dengan cepat dan selesai dengan cepat juga. Tinggal murid kelas 12 mendaftar SNMPTN dan memilih kampus serta jurusan yang diinginkan. Sebenarnya untuk mendaftar SNMPTN bisa dilakukan di sekolah atau di rumah.


Kebetulan juga teman-teman si kembar banyak yang mengisi di sekolah, maka dari itu si kembar sedang berkumpul di lapangan belakang sekolah dan duduk di taman baca dekat empang.


Apakah ada Aries dan Niko?


Oh, tentu saja ada. Dimana ada si kembar di situ pasti ada Aries dan Niko.


Si kembar dan Niko sudah siap untuk membuka link LTMPT dan mendaftar SNMPTN. Aries yang sebenarnya tidak memiliki kepentingan bilang kalau ia hanya ingin memberi dukungan pada teman-temannya dan ikut merasakan euphoria deg-degan karena pendaftaran SNMPTN.


Fersya memang sudah bilang kalau ia akan berjuang habis-habisan di ujian UTBK nanti, tapi saat hari pendaftaran SNMPTN tiba, perasaan untuk memperjuangkan pilihannya di SNMPTN timbul.


***


Flashback


Satu minggu sebelum ujian Try Out dilaksanakan, saat keluarga si kembar sedang makan malam bersama. Kebetulan Ayah si kembar pulang cepat dan bisa makan bersama istri dan anak-anaknya.


Saat mereka semua sudah selesai dengan makanan masing-masing, tiba-tiba Fani memulai pembicaraan. Kali ini tanpa basa-basi, Fani langsung menanyakan atau lebih tepatnya memberi pernyataan pada Fersya.


"Kamu mau kan satu kampus sama Aca. Nggak perlu satu jurusan nggak apa-apa kok sayang." tentu saja pernyataan itu ditujukan untuk Fersya.


"Ma..." Rido memegang lengan istrinya bermaksud agar hal itu dibicarakan nanti saja. Tapi sepertinya Fani tak menghiraukan maksudnya itu karena Fani malah melanjutkan perkataannya lagi.


"Di sana juga ada jurusan pariwisata kan Eca. Nggak apa-apa kamu nggak ikut SNMPTN, masalah biaya buat pendaftaran SBM nanti Mama semua yang atur, yang penting kamu satu kampus sama Aca ya?"


Fersya yang belum minum setelah ia menyelesaikan makanannya tadi jadi tidak berniat untuk melanjutkan niatnya itu.


"Kenapa sih Ma? Kenapa harus bareng Aca lagi?" tanya Fersya sambil menunduk. Ia tidak berani untuk mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Mamanya. Ia takut air matanya akan keluar.

__ADS_1


Setiap kali perdebatan yang menyangkut dirinya, Fersya dan Ayahnya hanya diam saja. Walaupun Ayahnya tadi sedikit mengintrupsi, tapi itu hanya sekali saja. Selebihnya hanya diam. Entah mereka tidak berani membatah Mamanya atau mereka tidak terlalu peduli pada Fersya.


Kerap kali Fersya merasa sudah kebal dengan hal ini, tapi kerap kali juga Fersya tidak bisa merasa tidak baik-baik saja saat hal seperti itu terjadi lagi.


Mamanya tidak juga menjawab, entah apa yang dipikirkan Mamanya itu.


"Apa karena penyakit asmanya Aca? Ma, Aca udah gede, dia udah bisa jaga dirinya sendiri. Lagipula bukan berarti Eca satu kampus sama Aca, jadinya Eca bisa terus jagain Aca." kali ini Fersya tidak menunduk lagi. Ia beranikan diri untuk menatap mata Mamanya.


"Kalau kamu satu kampus sama Aca kan siapa tau bisa sering ketemu, terus kalau jadwal kalian lagi samaan kalian bisa berangkat dan pulang bareng. Jadi Mama nggak perlu terlalu kuatir sama Aca."


Perkataan Mamanya itu cukup membuatnya sakit hati. Fersya ingin bilang apakah Mamanya hanya kuatir pada Farsya saja? Apakah Mamanya tidak kuatir padanya?


Lagi, Fersya memutuskan untuk menahan semua perasaannya ini dan memilih untuk langsung pergi ke kamarnya. Menutup pintu kamarnya dengan kencang dan menangis di balik bantalnya.


***


"Lo nggak perlu turutin kata Mama Fer. Lakuin apa yang lo mau." perkataan Farsya tidak hanya membuat Fersya terkejut karena lamunanya dihentikan tapi juga membuatnya tertohok.


Walaupun Farsya tidak membela atau mengatakan apapun padanya waktu itu, tapi Farsya selalu mendukungnya tanpa sepengetahuan Mama atau Ayah mereka. Farsya selalu berusaha mengerti dirinya, kenapa Fersya tidak melakukan hal yang sama untuk kali ini?


Farsya memberinya senyum menenangkan. Fersya berpikir mungkin ada baiknya ia mempertimbangkan perkataan Mamanya.


Memang kalau ingin mendaftar SNMPTN tidak bisa memilih jurusan yang gelarnya D3, harus S1. Sedangkan Fersya tidak mungkin melewatkan kesempatan ini, lagipula ia masih ada satu cadangan jurusan yang diingkannya selain pariwisata.


Fersya membalas senyum kembarannya dan segera mengetik nama kampus dan jurusan. Setelah selesai ia menaruh handphonenya.


"Lho Fer, lo nggak naro jurusan Pariwisata dinomor satu?" kata Aries yang membuat Farsya terkejut.


Farsya mengambil handphone Fersya dan melihat kalau yang dikatakan Aries benar. Diurutan pertama tertera nama UI Kehutanan dan diurutan kedua UB Pariwisata. Farsya menatap ke arah kembarannya itu, meminta penjelasan Fersya.


Fersya hanya tersenyum dan berbisik nanti. Farsya membiarkannya, biar ia tagih di rumah nanti.


Fersya sebenarnya tidak terlalu menaruh harap pada kedua kampus itu, karena ia sadar diri, nilainya tidak terlalu cukup untuk masuk dua kampus ternama itu. Berbeda dengan ujian UTBK nanti, karena nilai yang dipakai adalah nilai UTBK yang artinya Fersya masih punya kesempatan untuk masuk dijurusan dan kampus impiannya itu.


Satu-satunya jalan ya dengan belajar dengan giat.


Aries sudah memasang tatapan bertanya, sama seperti Farsya tadi. Sedangkan Niko hanya menatap bingung padanya. Mungkin Niko tidak diberitahu Farsya tetang masalah ini.


Tanpa ba-bi-bu lagi Fersya memilih untuk kabur. Ia bangkit dari bangkunya dan berjalan menuju pagar sekolah.


"Lho kok malah kabur sih Fer." kata Aries sambil menggerutu. "Gue lupa kalau Fersya emang suka banget kabur-kaburan. Nggak heran kalau dia mau ambil jurusan pariwisata. Gue susul Fersya dulu ya! Bye guys!!!" kata Aries pada dua sejoli yang masih duduk di tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2