
Fersya berpamitan dengan Ayah, Mama, dan juga kembarannya. Saat ini Fersya sedang ada di salah satu sekolah yang dijadikan tempat untuk tes UTBK. Fersya siap-siap dari semalam, mempersiapkan kertas pendaftaran, alat tulis, dan sebagainya.
Semangat, dukungan, serta doa mereka ucapkan dan Fersya merasa sangat berterima kasih. Walaupun sempat ada drama yang terjadi, tapi setidaknya itu bisa dijadikan pelajaran. Fersya berjalan memasuki sekolah itu dan mencari-cari dimana ruangannya berada. Tanpa disangka Fersya melihat orang yang dikenalnya di depan sana. Berjarak 100 meter darinya.
Baru Fersya ingin memanggil orang itu, tapi tertahan karena suara dering ponselnya yang tetiba saja berbunyi. Ada nama Aries disitu. Rasanya sudah lama sekali Fersya tidak berbincang dengan cowok itu. Bahkan bertemu saja sudah jarang. Masing-masing dari mereka sibuk, Fersya yang sibuk belajar dan Aries yang sibuk dengan latihannya bersama Pak Andre.
"Halo, Ris."
"Halo, Fer. Buset dah canggung amat mentang-mentang udah lama nggak ketemu."
Yaaa, seharusnya Fersya sadar. Aries tetaplah Aries. Tapi Fersya suka, karena Aries bukanlah orang yang mudah berubah begitu cepat.
"Ngapain lo nelpon?"
"Gue di rumah lo nih Fer. Tapi rumahnya kosong."
"Ngapain ke rumah gue? Ortu sama si Farsya anterin gue tes UTBK, baru aja gue sampe."
"Justru itu. Ah elah, gue kesel sama diri gue sendiri."
"Dih, nggak jelas bocah." Ferysa tertawa kecil. Tidak peduli apakah orang-orang melihatnya atau tidak.
"Gue tuh mau ucapin semangat sama kasih sesuatu buat lo!"
"Pasti lo kesiangan? Ya kan?"
"Hehe, tapi ya udah deh. Semangatnya gue kasih lewat telpon aja, tapi kalo sesuatunya gue mau kasih langsung ke lo. Kira-kira lo kelar jam berapa?"
"Hm... sekitar habis dzuhur sih Ris. Emang lo mau kasih apaan sih?"
"Ada deeeh pokoknya. Ya udah, karena keseringan lo yang ke taman deket rumah gue, jadi kita ketemuannya di taman deket rumah lo aja gimana?"
"Dzuhur? Siang-siang? Tengah hari bolong? Gila ya, panas kali Ris." kata Fersya sambil melihat cuaca yang cerah sekali hari ini.
"Lebay deh Fer. Gue doain semoga hari ini cuacanya adem, nggak panas dan nggak mendung."
"Ya-ya-ya-ya terserah lo deh. Ya udah kelar ini gue langsung ke sana. Gue cabut dulu ya, udah mau masuk nih kayaknya."
"Eeehhh, ntar dulu."
Fersya yang tadinya sudah memisahkan telpon dari kuping, kembali ia dekatkan.
"SEMANGAT YA FERSYA!!!!"
Panggilan itu berakhir begitu saja. Belum juga Fersya membalas, sudah keburu Aries matikan panggilannya. Ada-ada saja memang, tapi Fersya rindu suasana seperti tadi. Fersya rindu ribut-ribut tidak jelas dengan Aries. Fersya rindu menjahili Aries.
Fersya rindu Aries.
***
Ujian UTBK sudah selesai, segala usaha dan upaya sudah ia lakukan, jadi tinggal menunggu hasilnya saja nanti. Entah kabar baik atau buruk hasilnya nanti, semoga saja itu menjadi suatu hal yang terbaik untuk Fersya.
Fersya sedang menunggu jemputan di luar gerbang dan Fersya melihat orang itu lagi. Oh ya, Fersya lupa kalau awalnya Fersya ingin menyapa orang itu tadi sebelum ujian dimulai, tapi karena ada telpon dari Aries, Fersya jadi lupa.
Mumpung mobil orang tuanya belum terlihat, lebih baik Fersya menghampiri orang itu.
"Niko." panggil Fersya sambil menepuk pundah Niko pelan.
__ADS_1
"Eh, Fersya. Lo ujiannya di sini juga?"
Fersya mengangguk.
"Nunggu ortu?" tanya Niko.
"Kenapa? Mau ketemu Farsya?"
"Gue nggak tanya soal Farsya."
Fersya balas dengan tersenyum geli. Sepertinya Niko masih mengira kalau Fersya sama seperti dulu, yang mudah iri pada saudaranya, mudah kesal pada saudaranya. Tapi Fersya yang sekarang sudah berubah, walaupun tidak sepenuhnya. Merubah sesuatu itu tidak instan dan Fersya berusaha untuk menikmati prosesnya saja sekarang.
"Kalo tanya soal Farsya juga nggak apa-apa kali Nik. Udah nggak sensi lagi kok gue."
Niko hanya diam dan menatap Fersya. Fersya mendengus.
"Nggak, bukan gitu maksud gue. Maaf ya gue suka kasar sama lo, apalagi pas kejadian persami itu."
"Ya elah Nik. Yang udah berlalu biarlah berlalu. Lo, gue dan orang lain yang terlibat itu nggak salah. Jadi udahlah, forget it."
Jeda sejenak yang diisi hanya dengan menatap jalan yang ramai oleh manusia beserta kendaraannya.
"Gimana soal keputusan lo?"
"Kabar baik."
Fersya tersenyum. "Baguslah. Eh, itu kayaknya mobil ortu deh. Lo pulang naik apa? Dijemput juga? Kalau nggak bareng aja."
"Nggak usah, dijemput ortu juga kok."
"Hoho. Benar-benar kabar baik yaaa. Ya udah, gue duluan."
Fersya hanya mengacungkan jempol dan buru-buru menyebrang. Sehabis ini, Fersya sudah ada janji dengan seseorang. Ia akan bertemu orang itu di taman dekat rumahnya. Jadi saat sudah sampai komplek perumahannya, Fersya meminta Ayahnya untuk menurunkannya di taman.
Tentu saja orang tuanya dan Farsya bertanya, tapi Fersya jelaskan saja kalau ia sudah ada janji di taman itu. Fersya turun dari mobil dan melihat orang itu sedang duduk di salah satu gazebo dan memunggunginya.
Taman ini berbeda dengan taman yang ada di daerah rumah Aries. Tidak ada permainan untuk anak-anak seperti ayunan, perosotan atau yang lainnya. Tapi taman ini punya air mancur dan sisanya adalah rumput beserta bunga-bunga dipinggiran jalan. Nikmat untuk berpiknik sore hari.
Mengingat taman yang ada di daerah rumah Aries membuat Fersya jadi rindu Ibu, Ayah juga Ira. Sudah lama Fersya tidak bertemu mereka juga sudah lama Fersya tidak bertemu orang itu. Fersya jadi membayangkan kalau nanti ia diterima di universitas yang ada di Malang sana, bagaimana hubungannya dengan orang itu nanti.
Fersya tahu hubungannya dengan orang itu tidaklah lebih dari sekedar teman, atau belum ke tahap selanjutnya. Fersya sadar kalau ia suka dengan orang itu dan Fersya juga tahu orang itu juga memiliki rasa yang sama. Tapi kalau suatu saat nanti hari itu akan tiba, Fersya tidak tahu harus bagaimana.
Fersya menghela napas.
"Aries."
***
"Tiket kereta?" kata Fersya setelah gadis itu menanyakan hal apa yang ingin diberikan Aries padanya. Ternyata tiga buah tiket kereta menuju Yogyakarta dan jadwal keberangkatannya tiga hari dari sekarang.
Aries mengangguk, "Sebenarnya gue udah rencanain ini dari tahun baruan kemarin. Karena kita bakal berada di jalan kita masing-masing nanti, kita bakal jarang ketemu karena kesibukan masing-masing dan sebagainya. Mangkannya, gue merencanakan ini sebagai kenang-kenangan kita. Lagipula kita juga belum pernah jalan-jalan berempat kan?"
"Berempat?" Ferysa awalnya bingung, tapi ia cepat mengerti setelahnya. "Oooohh, kita yang lo maksud itu, gue, lo, Farsya sama Niko."
"Ya iyalah. Jangan bilang lo membayangkan kita cuman pergi berdua doang?"
Pertanyaan Aries itu telak sekali. Fersya memang sempat memikirkan hal itu, dan Aries yang menyerangnya dengan telak itu membuat muka Fersya jadi kemerah-merahan karena malu. Fersya harus menyelamatkan diri.
__ADS_1
"Idih geer banget lo. Lagian ya, kalo lo mau ajak mereka juga harusnya dikasih langsung lah."
"Iya deh."
Fersya hanya balas dengan membuang muka dan melipat tangannya ke depan dada. Gadis itu melepas lipatan tangannya dan melihat tiga tiket yang masih digenggamnya itu.
"Nginep atau langsung pulang?"
"Sebebasnya aja. Lagipula kalian udah kelar ujian kan? Tinggal tunggu pengumumannya aja, nah sembari nunggu itu mending refreshing kan?"
"OKAY!!!" teriak Fersya tiba-tiba, "Nanti gue kasih dua tiketnya ke mereka. Oh iya, lo kapan mulai seleksinya?"
"Sekitar satu bulan lagi."
Setelah itu mereka berdua hanya diam. Fersya memandangi langit yang hari ini cerah sekali, cuaca yang melambangkan perasaan Fersya saat ini. Tanpa Fersya sadari, sedari tadi Aries memandangi wajah Fersya.
Perasaan mereka benar-benar terhubung. Tadi pagi Fersya sempat berpikir bagaimana hubungannya dengan Aries setelah mereka berpisah untuk meraih impian mereka. Saat ini Aries juga sedang memikirkan hal yang sama.
Aries ingin menyatakan perasaannya jadi takut karena nantinya akan ada jarak diantara mereka. Aries jadi menyesali keadaan dimana ia baru mengenal Fersya saat kelas 12 ini. Seandainya Aries mengenal Fersya lebih awal pasti tidak akan seperti ini jadinya. Aries tidak akan bingung dan ketakutan untuk memiliki hubungan dengan Fersya.
Aries pernah bertanya pada Ira dan mau tahu apa tanggapan Ira?
"Berarti kamu nggak percaya sama pasangan kamu. Mbak tau kamu mau nyatain perasaan kamu sama Fersya kan? Tapi karena kamu baru dekat sama dia pas sekarang-sekarang ini kamu jadi ragu. Aries kalo kita nggak pernah mencoba, kita nggak akan pernah tau akan terjadi seperti apa. Jadi dari pada bimbangnya kelamaan, mending kamu coba dan bairkan waktu yang menjawab."
Dan sekarang yang Aries pikirkan adalah apakah sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyatakannya?
Aries sudah berpikir ribuan kali dari kemarin-kemarin dan belum menemukan jawabannya sampai sekarang. Masih asik dengan memandang wajah Fersya, tiba-tiba saja wajah yang dipandang malah memandangnya balik dan membuat Aries terkejut. Tapi entah kenapa Aries tak bisa mengalihkan pandangannya dari Fersya dan berakhirlah mereka yang saling memandang.
Aries sudah menemukan jawabannya. Sebelum Fersya mengalihkan pandangan dari matanya, lebih baik Aries katakan sekarang.
"Fer, kita emang baru kenal beberapa bulan ini, terlebih kita juga mesti pisah nanti pas lo keterima di Malang nanti. Jadi..."
Fersya suda tahu apa yang ingin disampaikan Aries dan gadis itu menunggu lanjutan dari Aries, tapi kenapa lama sekali cowok itu melanjutkan kata-katanya.
"Jadi?" Fersya sudah tidak sabar untuk mendengar kelanjutannya.
"Mau coba jalanin hubungan sama gue walau nanti kita dipisahkan jarak?"
Bukannya menjawab Fersya malah tertawa.
"Kok malah ketawa sih?" kesal Aries.
"Habis bahasa lo tadi tuh bukan lo banget. Jadi lucu tau nggak." Fersya melanjutkan tawanya. Aries juga jadi ikut tertawa.
Mereka berdua tertawa sampai --- entah siapa yang memulai --- tanpa sadar tangan mereka saling menggenggam. Fersya yang pertama kali sadar kalau tangan mereka saling menggenggam dan segera melepaskan tautan tersebut.
Keadaan menjadi canggung dan Aries menambahinya dengan berkata, "Jadi?"
Saat ini Fersya sedang gelut dengan pikirannya sendiri, disatu sisi Fersya ingin, tapi disisi lain Fersya takut. Hubungan Fersya dengan Aries sudah terjalin baik sejauh ini dan Fersya tidak mau apabila gadis itu menerima dan kemudian hari mereka putus. Hubungan yang tadinya baik jadi renggang dan tidak ada komunikasi sama sekali. Fersya tidak menginginkan hal itu.
Fersya rasa ini adalah jawaban paling bijak yang bisa Fersya kasih ke Aries. "Lo mau kasih gue waktu nggak Ris?"
Aries mengangguk, "Take your time, Fer. Gue bakal tunggu."
Jawaban yang singkat memang dan tidak biasanya Aries menjawab singkat seperti itu. Tapi saat Fersya melihat mata Aries, ada ketulusan di sana. Aries benar-benar akan menunggu jawaban dari Fersya dan Fersya tidak bisa membiarkan Aries menunggu terlalu lama.
"Gue bakal kasih jawabannya pas hari keberangkatan, gimana?"
__ADS_1
"Okey."